Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 51


Pagi hari yang cerah, di hari Senin.


Hari dimana pejuang rupiah mencari nafkah di tengah hecticnya kondisi ekonomi negara ini.


Keadaan hari itu biasanya orang-orang super sibuk.


Terutama...


Kevin yang dari kemarin seharian nungguin Nirmala keluar dari unitnya. Dan pagi ini, Nirmala pergi ke kantor saat Kevin masih tidur.


Sebagai morning person, Nirmala terbiasa bangun pagi dan ke kantor jam 6 pas. Hari ini, wanita itu malah pergi ke kantor jam 5.30. Saat Kevin masih di alam bawah sadar.


Setelah tahu kalau Nirmala pergi duluan tanpa sempat bertemu, Kevin tiduran di ranjangnya sambil bermuram durja, dan malah ketiduran lagi.


Kalau saja Pak Frans Darling tidak mengiriminya pesan singkat : meeting jam 9 bahas pendirian Amethys University, tolong dibantu slide presentasinya. Kevin pasti ke kantornya jam 12 siang.


"Kita meeting dengan Jade Construction ya Kev, jangan lupa kamu tulis nama yang hadir dalam slide sambutan," kata Pak Darling saat bertemu Kevin di lobi kantor.


Bocah itu dalam posisi tidak sempat menyisir rambut, kantong mata menghitam, baju kusut asal pakai.


“Hem? Baik Pak,” jawab Kevin pelan sambil tersenyum letih.


"Kamu butuh kopi hitam nggak?" tanya Pak Frans.


"Hem, butuh Pak, nanti saya bikin sendiri," suara Kevin rendah, terdengar capek.


Pemuda itu berdiri di samping Pak Frans Darling, matanya menatap layar tv di depannya yang berada di sebelah lift, tapi pandangannya kosong.


"Tampang kamu seperti orang lagi putus cinta," tembakan langsung, dari Pak Darling.


Kevin melirik Pak Darling dan menghela napas.


"Marisa apa kabar, Pak?" Kevin mengalihkan perhatian. Mereka berdua masuk ke dalam lift.


Pak Frans menyeringai, "Semakin cantik luar dalam,"


"Ck!" gumam Kevin. "Imposible, cewek bawel begitu tingkah laku jarang berakhlak. Kayaknya Pak Darling udah dihipnotis, ato jangan-jangan dia pake pesugihan, "


"Haha, kalo dia nggak pakai, saya yang pakai pelet buat tarik dia,"


Astaga, ada bapak-bapak bucin. Kenapa mirip sama Om Judes sih?! Gerutu Kevin dalam hati.


“Kamu sudah kenal Marisa lama ya, Kev?”


“Cuma sejak masuk di SMA Sincostangen aja. Saya populer di kawasan sana sejak sebelum masuk sekolah karena dari SMP tukang tawuran terganteng, sementara dia tukang bully yang baru kelas 10 udah diangkat jadi Ketua Osis. Kami sama-sama terkenal jadi ya akrab dengan sendirinya,”


"Memangnya kamu tidak tertarik dengan Marisa? Saya lihat kalian sangat akrab. Jangan-jangan di belakang saya diam-diam menjalin hubungan terlarang,"


Kevin langsung tegang. Kok straight to the point begini si Pak Darling?! Gawat dah...


Ia pun mencebik, teringat masa lalunya bersama Marisa. Dipikirnya, kalau Pak Frans Darling sampai kepincut sih, wajar saja. Karena teknik Marisa sudah profesional. Tapi terus terang saja, bercinta tanpa saling suka, setelah itu yang ada hanya rasa penyesalan.


“Akrab karena sama-sama butuh aja Pak, kalo kondisi normal sih saling lempar granat,” sahut Kevin.


Pak Darling tertawa. Dia menganggap hubungan pertemanan Kevin dengan kekasihnya lumayan unik. Sementara Kevin merasa geli sendiri mengingat tingkahnya di masa lalu.


"Lagipula, saat ini saya sudah punya pacar, Pak," kata Kevin.


"Oh ya?! Orang mana? Satu kampus?"


"Hem... Usianya jauh lebih tua dari saya. Sekarang kerja di Jade Construction,"


"Namanya siapa? Barangkali saya kenal,"


"Nirmala. Nirmala Dierja,"


"Hah?! Kamu serius Kev?! Bu Dierja? Dia terkenal di sini,"


"Iya, dia kepala divisi marketing,"


"Nanti kita mau meeting sama Pak Danar Sanjaya, dan biasanya Bu Dierja diajak ikut. Kalau tak salah namanya ada di daftar tamu,"


Mata Kevin langsung berbinar.


"Pak Darling,"


"Ya?"


"Punya jas cadangan nggak?"


"Hehe, punya kok,"


Tanpa Kevin tahu, saat ia dan Pak Darling berbincang di lift, Geng Zorro juga ada di sana, mendengarkan dengan seksama.


Sehingga, setelah Pak Darling dan Kevin keluar dari lift, di dalam kotak besi berukuran sempit itu, Geng Zorro langsung heboh.


"Did you hear that, Gaes?! Denger nggak woooyyy!! Gosipnya valid woooyyy!!"


"Obviously! Terdengar sangat jelas sekali!"


"Gue langsung anxiety dooong!"


"Mental disorder, bestieeee! Patah jadi dua hati gue!"


"Ini mah bakalan bikin gue mood swing seharian, lawan kita itu Kepala Divisi Marketing Jade Construction! Janda kaya yang cakepnya MasyaAllah!"


"Wait, just wait..." Zahra merendahkan suaranya. Semua diam mendengarkannya. "Gimana... Kalo ternyata Kevin terpaksa berpacaran dengan Bu Dierja. Ini cuma dugaan gue loh yaaa. Gimana kalo sebenarnya Kevin cuma ngincer duitnya. Masuk akal nggak sih Kevin rela pacaran sama tante-tante yang usianya dua kali lipat?! Di sekitarnya tuh cewek-cewek cakep loh, kayak gue! Malah dia cari yang bekasan macam Bu Dierja kan nggak mungkin,"


"Hm, bisa jadi. Mungkin dia terpaksa,"


"Ini harus diselidiki lagi Gaes. Kita harus bikin Kevin putus dan milih salah satu dari kita, kecuali Ridwan,"


"Lah kenapa gue disingkirin?!"


"Lo nggak masuk hitungan, bukan muhrim,"


"Loh kalo dia ada orientasi beda, ya gue bisa masuk circle lah!"


"Bentar! Ini udah lantai berapa?!"


"Halah, lantai 50! Lu ngapain ke lantai Direksi? Setor nyawa?!"


"Kelewatan! Makanya jangan ngobrol teroooos! Dah mau jam 8 ini. Gue ogah disindir-sindir Pak Jo melulu!"


"Permisi, ya..." Seseorang di belakang mereka, mengenakan hoodie hitam dan tas ransel meminta jalan untuk lewat.


Semua diam dan memberi jalan.


Pria itu keluar dari lift dan menuju ruang Presdir.


"Siapa tuh?"


"Paling kurir paket,"


"Udah cepetan pencet tombol turun, gue mulai bipolar!"


"Halah!"


*


*


Meeting kali ini dihadiri oleh petinggi dari Amethys Tech dan Jade Construction sebagai pengembang dari proyek pembangunan Universitas Amethys Tech, turut hadir.


Nirmala Dierja, sebagai Kepala Divisi Marketing diperlukan untuk ikut menghadiri final session karena pada awalnya, Jade Construction ditunjuk sebagai pengembang karena proposal dari Nirmala. Jadi bisa dibilang, kerjasama kali ini adalah hasil jerih payah Nirmala.


Tapi entah kenapa, mulai dari keluar mobil, sampai menapaki lobi gedung Amethys, semua orang menatapnya.


Mungkin kalau tatapan biasa, ia bisa berasumsi 'oh, mungkin karena mereka mau tahu siapa yang datang'. Tapi ini tatapan sinis. Menghujam ke arahnya. Dan yang menatapnya sinis kebanyakan para wanita.


Nirmala mengetes asumsinya dengan mulai berjalan melambat sehingga ia tertinggal di belakang.


Tidak ada yang menatap Bosnya ataupun Windy sekretaris Bosnya, semua jelas-jelas menatapnya, memperhatikannya, melihatnya dengan tajam. Ekstra bisik-bisik sambil meliriknya.


Nirmala mulai bertanya-tanya dan tidak percaya diri.


Bu Susan menyambut rombongan dari Jade Construction di depan lift Direksi. Raut wajahnya tersenyum tapi sikapnya masih tetap angkuh.


"Danar Sanjaya," wanita itu berkacak pinggang sambil tersenyum sinis saat melihat Bosnya Nirmala menghampirinya. "Akhirnya kamu keluar juga dari kandang emas. Saya sudah bosan melihat Windy melulu,"


Windy, Si sekretaris dari Jade Construction, melipir ke belakang Bosnya berharap tubuh tingginya tersembunyi. Tapi apa daya, sepatu hak tingginya membuat tubuhnya yang memang sudah 180 cm jadi menjulang 190cm. Siapa yang bisa menutupi badan setinggi itu?


Dan sudah berulang kali Windy mendapat sindiran keras dari Bu Susan saat menggantikan Bosnya mengikuti meeting, akibat ia tidak menguasai materi meeting. Sejak itu dia lumayan malas bertemu Bu Susan.


"Bos hadapi sendirilah kalau ada meeting dengan Bu Susan, saya kibarkan bendera putih! Habis meeting sama beliau, pulang-pulang saya makan banyak karena kesal. Bos kan tahu sendiri metabolisme tubuh saya berbeda! Bisa-bisa saya tak muat lewat kusen pintu!" Omel Windy kalau ia baru pulang dari meeting.


Akhirnya, karena bosan diomeli sekretarisnya terus, Bos Danar Sanjaya, Presdir Jade Construction, yang tadinya introvert dan jarang keluar kandang, menyerah menghadapi koleganya sendiri.


Sambil menyeringai ia pun meraih tangan Bu Susan dan mencium punggung tangannya ala sesama bangsawan eropa jaman pertengahan kalau bertemu di pinggir kali.


"Kalau kamu lagi-lagi menolak bertemu kami langsung sih, namanya keterlaluan ya, padahal perusahaan kamu yang dipilih untuk jadi developer kami. Sekalian saja itu Bu Dierja menggantikan posisi kamu,"


Nirmala, yang dari tadi berdiri di sebelah Windy berdehem.


"Saya khusus keluar dari sangkar karena Bu Susan yang menghendaki loh," Bos Danar mencoba merayu Bu Susan untuk meredakan kekesalan wanita keturunan Uyghur itu.


"Huh! Kamu kesini langsung kan karena mendengar suami saya juga akan hadir, dasar penjilat..." gerutu Bu Susan sambil balik badan masuk lift.


Bos Danar terkekeh mengakui, lalu mengikuti Bu Susan.


Sementara Windy menyenggol-nyenggol Nirmala, "Bu Dierja...


Terasa nggak kalau dari tadi semua natap tajam ke situ?"


"Ke saya?" Nirmala pura-pura kaget.


"Iya, ke kamu,"


"Masa sih Bu Windy?! Duh, saya dosa apa yaaaa," keluh Nirmala sambil menarik lengan Windy dan buru-buru ikutan masuk ke dalam lift. Jadi rupanya Windy pun menyadari tingkah laku aneh orang-orang di gedung itu.


*


*


Sebenarnya, dari tadi Nirmala berdoa supaya tidak bertemu Kevin.


Dan setelah meyakinkan dirinya sendiri kalau ia tidak akan bertemu Kevin, karena Kevin hanya staff, dan meeting kali ini dihadiri pejabat, Nirmala pun bersedia mendampingi Bos Danar ke gedung Amethys.


Namun, doanya tidak terkabul.


Saat tiba di ruang meeting, saat pintu besar itu terbuka, yang pertama kali dilihatnya adalah sosok itu.


Kevin Cakra kesayangannya,


Sedang berdiri di sana dengan gaya santainya. Postur tubuhnya agak membungkuk karena tinggi badannya dan usahanya untuk setara dengan lawan bicaranya. Kedua tangannya di kantong celana, rambut acak-acakan, dan deretan anting di telinga kirinya.


Kali ini ia mengenakan kemeja dan jas hitam yang tidak dikancingkan. Tampak kontras dengan celana jeans hitam robek-robek dan sepatu kanvas yang ia kenakan, tapi malah memberi kesan badboy.


Nirmala menatap Kevin.


Lalu menghela napas berat.


Kevin menatap Nirmala.


Pak Frans Darling menatap Nirmala, Kevin, Nirmala, Kevin lagi, Nirmala Lagi, lalu ia cengar-cengir nggak jelas.


Nirmala kembali menatap Kevin. Jutek dan judes, lalu membuang muka dan menyibukkan diri dengan dokumennya.


Kevin saat menyadari kalau ngambeknya Nirmala tidak main-main, akhirnya menghela napas lagi dan pura-pura sibuk dengan laptopnya.


Bu Susan duduk paling ujung sambil menyilangkan kakinya dengan anggun.


"Kita mulai saja duluan ya. David lagi di atas, lagi sibuk sama merchandise yang ia rancang sendiri,"


"Merchandise Bu?" tanya Pak Frans.


"Iya, untuk peluncuran game bikinan Kevin,"


"Hah? Sampai dibikinin merchandise bu?!" Kevin kaget.


"Ya kalau mau peluncuran jangan setengah-setengah, kita juga lagi casting buat cosplaynya nih. Saya nunjuk bintang tiktok dari Inggris buat jadi brand ambassador, didatangkan kesini..."


"Njiir!"


"Jangan ngomong jorok,"


"Puji Tuhan,"


"Ini maksudnya, gamenya yang bikin timnya Kevin, begitu?" tanya Bos Danar.


"Yang bikin konsep dan rancangannya si Kevin, atas lisensi dari kami. Yang pasti ada tim dibalik itu juga, bisa puluhan orang yang terlibat. Tapi main corenya ya si bocah gendeng ini," desis Susan sambil melambaikan tangan seakan tak peduli.


Bos Danar tertegun sambil menatap Kevin.


Dan pria itu pun berpikir.


Secara penampilan, tampak Kevin masih sangat muda. Gaya bicara dan tingkah lakunya juga tidak tertata. Wajahnya tampan, lebih ke cantik kalau Bos Danar pikir. Dengan tampang indonya yang berhidung mancung dan bibir merahnya.


Pipinya bahkan masih bisa tampak kemerahan akibat terkena cahaya mentari pantulan dari jendela.


"Kevin, berapa umur kamu?" tanya Bos Danar.


"Eh, anuu... 19 tahun Pak,"


"Wah! Eksploitasi anak,"


"Hey hey hey! Enak saja eksploitasi, udah dapet KTP!" seru Bu Susan.


"Kan belum 21 bu, belum bisa nonton film Hub," Bos Danar terkekeh.


"Halah! Kalo Kevin sih udah pakar dunia belok! Kamu tau sendiri pergaulan anak zaman sekarang," gerutu Bu Susan.


"Tapi hebat juga semuda ini sudah jadi game developer," gumam Bos Danar.


"Sekaligus Creator,"


"Wow, itu sih namanya bakat,"


Kevin hanya diam sambil berlagak mengutak atik slide 4Dnya.


Tiba-tiba tenggorokannya kering, tapi dia tak ingin minum.


Kembali ia melirik Nirmala.


Wanita itu sedang mengutak atik ponselnya.


Lalu Kevin pun menghela napas berat.


"Makanya kami berharap Kevin mau menjadi mahasiswa tahun pertama di Amethys Tech University, untuk promosi," Kata Pak Darling.


"Saya terserah Bu Dierja saja, beliau marketingnya," kata Bos Danar. "Menurut saya sih menarik ya kalau ada pakar yang berkuliah di sana seakan prestasinya hasil belajar di sana padahal sih sudah punya bakat dari lahir,"


"Nggak usah sarkas, Danar!" Bu Susan melempar pulpennya ke Bos Danar. Pria itu hanya mengelak sambil terkekeh.


"Ih, kalo Bu Susan ngambek, jadi saya benar dooong,"


"Ya kalau benar, terus mau apaaaaa?!" tantang Susan.


"Jangan galak-galak dong, Bu. Pantas Mbak Windy nggak kuat,"


Windy langsung menyandung dengkul Bosnya dari bawah meja supaya pria itu diam.


Bos Danar hanya menyeringai jahil sambil menahan sakit ditendang Windy.


"Kevin sudah bilang akan bergabung dengan Amethys University dengan loyalti ini-itu," kata Bu Susan. Lalu wanita itu menatap tajam ke arah Kevin, "IYA KAN KEV??" suaranya dalam dan penuh paksaan.


Kevin menelan ludah tanda gugup, "I-iya Bu. Saya relakan jaket kuning kebanggaan saya,"


Pak Darling terkikik, "Kalau Kevin masih ragu mungkin Bu Dierja bisa membujuk Kevin supaya bergabungnya lebih ikhlas. Kan kalian pacaran, jadi bisa bicara dari hati ke hati,"


Senyum Nirmala langsung lenyap.


Ia seketika menoleh ke arah Kevin dan menghadiahi cowok itu tatapan tajam.


Kevin langsung menunduk salah tingkah.


Nirmala memicingkan mata, otomatis ia menuduh Kevin lah yang menyebarkan berita kalau mereka berpacaran, sehingga ia dihujani tatapan tajam di lobi tadi.


Ya nggak salah juga sih, karena memang Kevin yang memberitahu Pak Darling, tapi ia tidak menyebarkan ke orang-orang segedung.


Kaki Kevin tremor di bawah meja. Naik turun guncang-guncang dengan kecepatan cahaya karena gugup.


Bu Susan, Bos Danar dan Windy ternganga.


"Pantesan dari tadi Bu Dierja disinisin sama cewek-cewek di lobi, ternyata..." Bisik Windy ke Bos Danar.


"Kok mau sih kamu?" tanya Bu Susan dengan mode nyinyir on.


Nirmala menggigit bibirnya karena langsung merasa sakit hati. Usianya dan Kevin memang terlampau jauh, hal itu membuat penampilan mereka jadi timpang kalau bersanding.


"...Bu Dierja? Kok mau kamu sama si edan satu ini?! Si bocah kan orangnya ribet banget, mana tingkahnya sering nggak jelas. Kadang sok galak kadang sok pinter, seringnya sih bego-bego nyebelin. Kewalahan dong kamu menghadapi tingkahnya yang suka moodswing?!"


Semua diam.


"Dih, Busan kayaknya benci bener ama gue..." gerutu Kevin. Pelan tapi kedengeran.


Nirmala menyeringai.


Tadinya ia berpikir Bu Susan berbicara ke Kevin.


"Yaaa hahaha, begitulah bu, tingkahnya absurd dan tak bisa ditebak. Tapi saya masih bisa tahan kok bu,"


"Saya heran loh ya, Bu Dierja ini kan sikapnya anggun, kalem dan cantik sekali. Bisa lah cari yang lebih dewasa dan sudah mapan. Kamu malah rela jadi pacar bocah ingusan. Kalo katanya orang lain, si Kevin ganteng lah kiyut lah, menurut saya sih malah biasa aja yaaa,"


"Ya itulah makanya gue suka kuatir kalo diambekin beginiiii," gumam Kevin pelan, tapi herannya semua orang mendengar.


Dan dia pun sadar kalau bisikannya kedengaran.


Lirik kanan


Lirik kiri


Lirik ke Nirmala.


Semua sedang menatapnya.


Dengan berusaha santai, ia berdiri dan menuju ke dispenser, bikin kopi.


Sambil tersenyum manis, tentunya. Berharap semua bisa mengalihkan perhatian ke hal lain.


"Selamat Pagi, semua,"


Akhirnya semua menoleh ke arah suara berat di ambang pintu.


Pak David Yudha,


Dengan penampilannya yang casual dan sangat santai, seakan baru saja selesai joging keliling komplek.


Masalahnya, dia pakai Hoodie, jeans, dan ransel ala-ala anak Citayam Fashion Week ngumpul di SCBD. Harajuku style.


Semua mata mengikuti Pak David Yudha yang masuk memakai hoodie hitamnya,


Keadaan hening. Hanya Bu Susan yang terkekeh melihat suaminya berpenampilan santai.


Lalu Kevin menyadari satu hal.


Dan pemuda itu pun berseru memecah keheningan.


“Wooooo!!!” ia berlari menghampiri Pak David dan membelai hoodie yang dipakai petinggi 12 naga itu. “Ini Valcott Reindeer!! Ini kan Ketua Rakhasa! Gilaaaa hoodienya udah jadi!! Kereeeennn!!”


“Gimana? Kita rancang hoodie yang kalau dipakai oleh orang seumuran saya, masih bisa tampak kelihatan muda dan keren,” Pak David merentangkan tangannya dan berputar perlahan.


“Ahh!! bagus bangeeeettt!!” Kevin sangat senang karena tokoh rancangannya untuk game besutan Amethys Tech terlukis di hoodie Pak David.


“Ada ranselnya juga, menurut saya sih bagus,”


“Ada ranselnya juga?! Mana Paaak???”


“Dan sepatunya akan kerjasama dengan Adidas, tapi belum jadi,”


Kevin menggantung ransel di punggungnya dan berkaca di jendela, “Njir, ganteng maksimal!” serunya senang. “Ini modelnya ajib, Pak!”


“Dari bahasa kamu yang acak-acakan sih saya nangkepnya bagus ya, kalau begitu bagaimana kalau diperbanyak untuk give away dulu, lalu dijadiin merchandise di acara peluncuran?”


“Serius?! Malu gueeee! Tapi boljug lah! Njir si Valcott, setelah sekian lama lo cuma berkubang di angan-angan gue, sekarang lo nangkring di dada bidang 12 Naga. Emang bawa hoki lo Cott!” seru Kevin terharu.


Pak David sampai berdehem mendengarnya.


“Saya juga punya hoodienya warna pink fanta buat perempuan,” Kata Bu Susan, “Gimana kalau hari ini kita bagikan ke karyawan, untuk dipakai besok. Sekedar promosi ke masyarakat,”


“Eh? Secepat itu? Memang sudah cetak berapa?” tanya Kevin.


“Baru 10.000 lembar sih, itu saja sampai membuat Nona Dias ngomel-ngomel karena kami inginnya semua jadi sempurna dalam waktu seminggu,”


“Hah?! Sebanyak itu tapi cepet banget!! Jadi nggak enak sama vendornya, Bu,”


“Ada Danar kok, buat penangkal omelan Nona. Liat aja dari cakaran di pipinya, pasti semalam dia jadi bahan pelampiasan...”


“Ehem! Susan,” Pak David kembali berdehem sambil merapikan kemejanya.


“What?! Kan itu kenyataannya,” Susan menaikkan bahunya sekilas.


Bos Danar cuma mengelus-elus belakang lehernya, tanda kalau ia tak nyaman dengan percakapan ini.


Kevin mengenakan hoodie yang tadi dipakai Pak David dan kini mengagumi dirinya di kaca jendela. Extra gaya-gaya ala angkat pedang.


“Enak ya kalau masih muda, dibikinin beginian saja bisa senang,” kata Pak David sambil duduk di meja meeting.


“Padahal dari tadi dia tegang karena pacarnya juga di sini,”


“Ohya, siapa?”


Semua menatap Nirmala yang kini salah tingkah.


“Oh... kamu yang tadi pagi diomongin di lift karyawan,” Pak David mesem-mesem sambil menatap Nirmala.