
Pagi itu, menjelang siang sebenarnya, Artha memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak karena ia harus menarik napas panjang, dan menghembuskannya setelahnya. Ia tidak habis pikir, hari libur begini seharusnya ia santai di rumah setelah kemarin mengalami meeting malam yang panjang, walau pun terbantu dengan adanya Nirmala. Namun di usia setua ini, hari libur ya seharusnya duduk di taman sambil ngopi, menikmati cerutu dan sepiring pisang goreng.
Bukannya duduk tegang gara-gara melihat Dewi turun dari langit!
"Hai Oooom!" sapa Wana riang setelah di dalam mobil dan mencium pipi Artha secara tiba-tiba. Unpredictable. Karena biasanya dia masuk mobil dengan tampang cemberut khasnya atau muka blo'on polosnya.
Yang sekarang, Artha disambut wajah semanis malaikat Gabriel yang turun ke bumi menyampaikan titah Tuhan.
Artha hanya diam tertegun, tak tahu harus apa.
Ingin bertanya 'kenapa kamu' takutnya malah merusak mood Wana. Mau berkata 'habis berbuat kenakalan apa lagi kamu' takutnya mereka malah berdebat.
"Yuk, berangkat, sayang!" kata Wana akhirnya.
"Hm," gumam Artha sambil menstarter mesin mobilnya.
Sepanjang jalan Wana bercerita mengenai drakor favoritnya dan Artha hanya diam mendengarkan. Kalau tak salah ada kata-kata Pulau Jeju, tiram, ayam goreng wijen, kimchi. Terus terang saja, lidah Artha lidah barat, lebih familiar dengan steak dan pasta. Ia tidak terlalu suka yang berbau rempah dan pedas.
"Om? Bosen ya denger ceritaku? dari tadi cuma dehem-dehem aja," kata Wana.
"Nggak bosen. Dengerin kok," kata Artha pelan.
"Bener? Coba ulangi aku tadi ngomong apa?"
"Mau napak tilas Hometown bla bla bla,"
"Hometown Cha Cha Cha!"
"Iya, itu lah,"
"Tumben Om nggak bosen, padahal aku sengaja cerita yang kira-kira kamu nggak tahu, biar kamu bawel," desis Wana sambil tersenyum curiga.
Hal itu membuat Artha langsung menengok. Untung saja lagi lampu merah. "Ha?" sahut pria itu. Jadi daritadi dia dijebak sama bocah?
"Kamu kenapa?" tanya Wana curiga. "Dari tadi pagi tegang terus. Aku ganggu ya? Kamu ada kerjaan mendesak pagi ini atau ada hal pribadi yang ingin kamu lakukan tanpa aku?"
Tampaknya gadis di sebelahnya ini semakin cerdas dan mulai meniru sifat licik Artha. "Coba tebak?" sahut Artha tak mau kalah.
"Hm, aku cantik ya?" desis Wana.
Artha diam saja. Sudah jelas IYA. dan hari ini karena matahari bersinar cerah, binar mata dan kilau kulit Wana malah menambah silau mata Artha. Harusnya pakai sunglasses saja tadi untuk mencegah radiasi glowing.
Diamnya Artha memberi pertanda bagi Wana kalau pria itu mengakui. Wana semakin gencar menggoda. "Banyak yang mau aku bicarakan hari ini, makanya aku ajak kamu jalan pagi-pagi. Karena topiknya lumayan serius dan butuh mood bagus, " Wana mendekat dan memeluk lengan Artha, lalu mengusapkan pipinya, seperti kucing sedang merajuk minta udang goreng padahal di piring udah ada ikan cuek.
Artha menarik napas panjang lagi.
Dia tegang. Terutama di bagian sensitifnya.
Kali ini benar-benar mengeras, karena dada busung Wana menempel erat di lengannya.
"Jadi saking seriusnya dan kemungkinan aku bakal kesal, kamu menggodaku lebih dulu, begitu?" gumam Artha.
"Begitulah,"
"Bikin hal nakal apa lagi kamu?!"
"Ih, yang nakal kali ini bukan aku. Aku hanya pengadu. Mau mengadukan seseorang yang nakal!"
"Hooo... jadi apa yang akan kamu lakukan?"
"Jalan-jalan, dong! Kita makan yang kamu suka ya, aku traktir!"
"Kamu traktir? Memang kamu punya duit?!"
"Ish ish ish, aku kan tiap bulan dkasih jajan sama kak Mala, aku udah tabung nih! Pokoknya hari ini aku traktir,"
"Oke, dengan syarat,"
"Apa?"
Artha merogoh kantong celananya. "Pake, jangan dilepas lagi selama kamu mengaku sayang aku,"
Kalung berlian yang sudah diberikan Wana ke Gwen. "Duh, ini kan buat bayar hutang Gwen!" keluh Wana sambil merengut.
"Jangan bayar hutang pakai barang yang kubelikan dong! Bayar sendiri pakai hasil kerja keras kamu," Artha menyembunyikan kenyataan bahwa hutang Wana ke Gwen sudah ia lunasi, tapi ia masih ingin melihat Wana setiap hari di ruangannya dengan seragam OG, Apron dan gagang pel di tangannya.
Wana mengenakan kalung itu kembali, "Kan niatnya biar cepat selesai," gerutunya. Tapi ia akui, kalung berlian di lehernya tampak sangat cantik.
"Kamu masih ingin Hermes?" tanya Artha.
"Nggak, aku sebenarnya nggak suka tas yang begitu-gituan,"
"Kemarin kamu sampai kesusahan gara-gara itu,"
"Itu lebih ke rasa sakit hati gara-gara Stela,"
"Hmm,"
"Aku jenis yang suka tas berkualitas tapi bisa awet dipakai dalam waktu lama. Kalau tas branded modelnya kan itu-itu aja Om, mahal di hak cipta merk. Aku pikir modal buat bikin tasnya juga nggak semahal harga di outletnya. Juga, aku kurang suka tas yang bikinnya menyiksa makhluk hidup,"
"Jadi kamu akan bertahan dengan ransel kamu?"
"Kemarin aku menemukan uang seribu logam yang ada gambar pohon kelapanya di selipan kantongnya. Kebayang kan betapa penuh kenangannya tas itu? Aku sampai peluk itu tas, minta maaf karena pernah berniat mempensiunkannya, Om! Semua gara-gara Stela!" gerutu Wana.
Artha terkekeh sambil mengangguk. Sebenarnya, dia malah bangga dengan Wana. Pacarnya itu, bukan wanita biasa yang mudah tergiur kekayaan. Yang penting bagi Wana adalah nyaman di dirinya. Selama ini Artha juga bertanya-tanya, kalau ditelisik, pakaian Wana yang selama ini digunakan sehari-hari dari bahan biasa saja, tapi saat dikenakannya jadi tampak seperti barang mahal.
Contohnya sekarang, hanya kaos warna pastel berlengan panjang, jeans, sepatu flat dan tas kecil sederhana. Tapi dia tampak sangat manis dengan gaya casualnya. (Siapa dulu dong stylishnya! Hihi)
Malah diam-diam, Artha merasa insecure karena gaya dandanannya sekarang bossy banget. Pikirannya, hari ini mau mengunjungi restoran barunya, jadi dia harus tampil agak resmi. Dia mengenakan jas dengan kaos oblong di dalamnya. Jeans berwarna senada dengan jasnya dan sepatu kets semi kulit dari Balenciaga. Rambut perak panjangnya dia gelung ke atas.
"Kamu hari ini keren, berasa aura gelapnya," kata Wana.
Oke, tak usah ganti baju. Pikir Artha lagi.
Akhirnya tibalah mereka di area jualan outdoor. Di sana terdapat banyak barang-barang lucu dijual sebelum masuk ke area mall. Biasanya pengunjung singgah ke sini setelah bersepeda atau joging sekedar cuci mata dan ngemil.
Angin pantai menerpa rambut Wana, gadis itu menguncir rambutnya menjadi ponytail. Membuat Artha menelan ludahnya karena melihat tengkuk Wana yang bebas. Ingin rasanya ia raup area itu dengan lidahnya.
"Yuk?" Wana mengulurkan tangan meminta digandeng.
"Nggak malu gandengan sama Om-om?" pancing Artha.
"Kan sama-sama single, buat apa malu?! Kecuali aku merebut laki orang,"
Artha terkekeh setuju. Jadi ia meraih tangan lentik Wana dan mereka berjalan beriringan.
Sepanjang jalan, Wana dengan gulali raksasanya dan Artha yang menatap tajam ke depan, dilirik banyak orang. Bukannya menjauh, Wana malah memeluk lengan Artha dengan posesif dan balas menatap orang-orang yang melirik mereka.
Artha merasa seperti dijaga cihuahua, imut, gemetaran, bawel, dan kalau sudah menggigit susah lepas.
Ingin rasanya ia cepat sampai restoran agar bisa menanyakan mengenai tingkah laju Wana saat ini, tapi tampaknya gadis itu sedang ingin menikmati suasana jalan-jalannya.
"Udah makin panas nih, kamu nggak takut item? Sayang suntik putihnya,"
"Benar juga, yuk ke mall!" Kata Wana.
*
*
"Jadi, ada apa?" tanya Artha sambil melipat kedua lengannya di depan dada dan menatap Wana dengan serius.
Wana yang lagi jutek karena melihat harga menunya selangit, sepaket sejutaan, sudah termasuk appetizer, main course dan desert, menoleh ke Artha.
"Ini restoranku, jadi gratis," tambah Artha saat melihat raut wajah Wana seakan dia tahu sumber kegalauan gadis itu.
"Benar juga! Lah aku lupa!" seru Wana langsung berubah ceria. Lalu melambaikan tangan ke salah satu waitress, "Saya juga pesan cake yang ini dan ini,"
Artha hanya mencibir melihat tingkahnya. Tapi setidaknya, Wana sudah bersikap biasa lagi.
Lalu pria itu pun menunggu penjelasan Wana.
"Hm?" tanyanya lagi.
Wana tampak malu-malu dan tersenyum dengan canggung. "Om, heeeem... Sekarang Om masih berhubungan dengan Yuni Bahana?"
Wajah ramah Artha berubah menjadi muram. Lalu pria itu pun memicingkan matanya, "Nggak usah sebut-sebut nama itu, darimana pula kamu tahu nama lengkapnya?!"
"Ih, kok jadi sewot. Aku kan cuma pingin tahu kenapa kamu masih care sama Stela,"
"Memangnya aku terlihat masih care sama Stela?" Artha malah balik bertanya.
"Kamu memberikannya tunjangan rutin, semilyar sebulan,"
"Kalau itu mengganggumu, akan kuhentikan,"
"Ya nggak usah sampai begitu jugaaa, bisa-bisa aku dilabrak Stela,"
Artha menghela napas, dan duduk bersandar, berusaha santai di kursi makannya.
"Aku sudah mengklaim urusanku dengan Yuni selesai 5 tahun yang lalu. Dia sudah tidak bisa ditolerir lagi. Saat Stela lahir sebenarnya aku sudah ingin melamarnya. Tapi... " mata Artha tampak menerawang.
"Tapi?" gumam Wana bertanya.
"Dia kepergok olehku, dengan pria berbeda," Wajah Artha semakin muram.
Wana menipiskan bibirnya, dia merasa kasihan pada Artha.
"Dan besoknya lagi, dengan pria berbeda dengan yang kemarin. Minggu depan beda lagi, bulan depannya beda lagi, sampai aku ragu apakah Stela anakku atau bukan,"
Wana hampir saja memberitahu Artha mengenai hasil DNA, tapi ia tiba-tiba diingatkan kalau itu porsi Chandra Birawa. Bisa semakin mencurigakan dan pasti akan ada banyak pertanyaan kalau seandainya Wana yang malah memberitahu.
"Aku memutuskan untuk berpisah dengannya setelah beberapa tahun bertahan dengan tingkah lakunya. Dia protes dan menuntutku. Menunjukan hasil DNA kalau Stela benar-benar anakku dan aku harus bertanggung jawab. Kami bahkan sampai berseteru di pengadilan. Itu kejadian sekitar 5-6 tahun lalu,"
Wana ingat kalau hasil DNA yang pertama ternyata palsu. Tapi dia diam saja. Sekali lagi, sudah disepakati kalau menjelaskan hal itu adalah porsi Chabir.
"Lalu apa yang diputuskan pengadilan?"
"Keputusannya dimenangkan olehku karena hasil tes dianggap tidak valid, tidak ada cap Asli, walaupun dokternya sudah bersaksi bahwa itu laporan asli," Artha menunduk menatap minuman di depannya.
"Namun aku tetap merasa bertanggung jawab atas keperluan Stela. Anak itu tidak salah apa-apa. Dia tidak harus menanggung dosa ibunya. Jadi kutunjuk Chandra sebagai wali dan konsultan keuangannya, dia yang mengatur segala pengeluaran Stela, uangnya dariku. Tujuannya agar Yuni tidak kebagian tunjangan dariku. Tapi tetap saja, Stela pasti memberikan beberapa rupiah ke ibunya. Aku sudah masa bodo dengan hal itu, yang penting aku terlihat bertanggung jawab,"
Wana mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Artha.
Dingin.
Saat bercerita mengenai hal ini, Artha pasti sedang membuka luka lama, dan itu pasti sangat menyakitkan sebenarnya.
"Aku sudah tidak mencintainya lagi, kuharap kamu percaya padaku," Artha menatap Wana dengan sendu. Berharap gadis itu mempercayainya.
Wana pun mengangguk, "Aku hanya tidak ingin pernikahan kita nanti dinodai oleh perasaan yang menggantung. Makanya kutanyakan hal ini,"
"Kamu harus tahu kalau aku menemukan cinta yang lain, yang lebih indah. Itu kamu," kata Artha.
Senyum tersungging di bibir Wana, "Maaf kalau aku membuatmu sakit barusan. Aku juga mencintai kamu,"