
"Bagaimana?" tanya Artha sambil membetulkan letak dasi kupu-kupunya.
"Bagaimana apa?" tanya Chandra yang sedang duduk santai sambil menyesap Champagne.
"Penampilan saya dong, apalagi?!"
"Oh, dikira mau bahas kenaikan jabatan. Saya jadi Direktur, gitu,"
"Kamu mau jadi Direktur?"
"Nggak Pak, maaf,"
"Kenapa nolak? Kalau mau bisa saya usahakan,"
"Selama Direktur masih di bawah Pak Artha, saya menyerah Pak. Lebih baik saya pindah ke Yudha Mas,"
"Huh! David Yudha kan dikuasai istrinya. Sama saja kamu kerja di bawah Susan Tanudisastro," gerutu Artha sambil memperbaiki ikatan rambutnya.
"Paling tidak bisa lihat yang cantik-cantik lah, dan nggak berewokan,"
"Ck! Saya juga bisa ganteng kalau cukur,"
"Saya nggak brewokan masih bisa ganteng tuh," Chandra menggoda Artha.
"Saya akui kamu ganteng kalau kamu nanti berani menikah," kata Artha sambil menyeringai.
Chandra mengangkat Champagnenya. "Kemungkinan hanya di catatan sipil Pak, kami tidak mengadakan resepsi karena usia kandungan Stela sudah masuk minggu ke 5,"
Artha mengangguk mengerti. "Kamu butuh apa?"
Chandra mengangkat alisnya, "Tanya saya Pak? Tumben,"
"Ya sudah kalau tak butuh apa-apa,"
"Bukannya begitu, saya hanya tak ingin memanfaatkan moment bahagia untuk adegan palak-memalak,"
"Ya kan saya yang bertanya,"
"Boleh tidak saya jadi Kepala Cabang saja?"
"Tidak,"
"Ish!" gerutu Chandra. Tadi nanya, begitu diberikan jawaban malah ditolak. Gimana sih bapak satu ini, kok mood-mood-tan!
"Saya masih butuh kamu, Chandra," gumam Artha.
"Saya butuh ketenangan batin,"
Artha menghela napas panjang, "Terkadang ujian senantiasa menyerang insan untuk memperlihatkan seberapa pantas ia meraih surga,"
"Yang minum siapa yang mabok siapa," gerutu Chandra sambil kembali menyesap Champagnenya. "Saya ke aula dulu deh, siapa tahu ada yang mau nerima CV saya,"
Artha tak menjawab gurauan Chandra dan hanya mengagumi dirinya yang berbalut tuxedo mahal di cermin. Kalau Bira boleh saja dia melanglangbuana, tapi kalau Chandra, inti dari segalanya, tidak akan semudah itu ia lepaskan.
Dan sepertinya Chandra juga tahu kemampuannya. Jadi pria itu minta pindah.
*
*
Matius 19:5-6 “Dan Firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Sebab itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Artha menggenggam jemari Wana dan menatapnya dengan sendu. Dalam hatinya Pria itu membatin.
Cantiknya engkau, bidadariku.
Dengan adanya momentum sakral ini, kuikrarkan cintaku yang tulus dan ikhlas,
Menjaga jiwa dan ragamu sepenuh hati,
Senantiasa membuat hati dan pikiranmu nyaman setiap hari bersamaku,
Dengan ini aku berjanji.
Dan Arthasewu Connor, si pria dingin, berucap,
“Nirwana Dierja, Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Dan Wana pun menitikkan air matanya. Terharu dan senang, sekaligus malu dan tersentuh.
Pria di depannya ini, setelah mengalami banyak kejadian absurd bersamanya, yang sebagian besar memalukan, rela menjaganya. Rasanya tidak dapat dipercaya.
Namun tiba-tiba, saat waktunya giliran Wana yang mengucapkan Janji Pernikahan, tiba-tiba lidah Wana seakan tercekat.
Tiba-tiba otaknya merespon berbeda. Semua terasa berputar di labirin.
Gadis itu menunduk ke bawah, melihat tangannya yang termanicure sempurna dengan rangkaian berlian tertempel di ujungnya, juga gaun putihnya yang berkilauan.
Ini dimana?
Tiba-tiba ia bertanya dalam hati.
Ini sungguhan?
Bukan acara drama?
Bukan akting?
Begitu tanyanya ke dirinya sendiri.
Apa sih yang ia sesali? Bukan, lebih ke apakah Artha masih waras mau menikahinya? Gadis yatim-piatu yang tingkahnya slengean, tak yakin akan dirinya sendiri akan menjadi istri dan ibu yang baik, yang masih ingin bersenang-senang menikmati dunia, yang senantiasa berucap apa adanya dan cenderung tidak beradab.
Apakah pria di depannya ini tidak akan menyesal mengucapkan janji pernikahan barusan?
Wana tak kunjung menjawab janji pernikahan.
Sehingga Artha dan Pendeta saling lirik.
"Kenapa?" tanya Artha was was.
"Kenapa aku? Kamu bisa dapatkan semua wanita yang kamu inginkan," tanya Wana.
Hadirin mulai ramai dan kaget.
"Di saat seperti ini kamu baru bertanya?" kata Artha.
"Aku baru sadar kalau ini bukan mimpi!!" Wana rupanya mulai diserang sindrom panic attack. Beruntung ia tidak pingsan seperti saat pertama Artha menciumnya. Atau... tampaknya kalau tidak segera ditangani Wana akan pingsan beneran.
Dan Artha tidak tahu harus marah atau ketawa. Masalahnya wajah Wana benar-benar panik, seperti baru sadar kalau dialah yang berada di depan altar.
Biasanya mungkin dia duduk di bangku, jadi tamu undangan. Atau bridesmaid.
"Ini beneran kan ya??" Wana tampak menoleh ke kiri dan kanan dengan bingung.
"Bukan ini prank," goda Artha.
"Jadi selama ini aku di Prank?!" Wana semakin panik.
Artha terkekeh senang melihat tingkahnya. "Ya nggak lah, kamu tahu sendiri mana aku punya waktu buat ngerjain orang. Dan lagi ngapain aku bayar pesta sebesar ini cuma buat nge-prank?! Rugi bandar!" Artha berdiri sambil berkacak pinggang.
Calon istrinya ini tampaknya memiliki pesona yang tidak akan membuatnya bosan seumur hidup dengan tingkahnya yang absurd.
"Jadi ini beneran?!" seru Wana.
Artha pun memeluk Wana dengan sayang. "Iya sayang, ini sungguhan. Dan aku cinta kamu. Aku memilih kamu menjadi istriku, partner seumur hidupku, tujuan utama kebahagiaanku, dan harapan bahwa kamu pun merasakan hal yang sama,"
Terdengar gumaman hadirin yang merasa adegan itu sangat romantis. Tak sangka Pria seperti Artha bisa berucap hal semanis itu.
Akibatnya, beberapa istri tampak melirik suaminya dengan sinis.
Si suami hanya bisa bilang : Pengantin baru memang begitu, tunggu 5 tahun pernikahan udah bobo belakang-belakangan. Disenggol nge-hiss kayak kucing yang ikan asinnya mau direbut.
Dan sang istri hanya bisa bilang : makanya, ngisi shopeepay jangan pas diminta aja, sekali-kali kejutan gitu. (eh, curcol).
"Astaga... om, astaga..." tangan Wana yang membalas pelukan Artha terasa dingin dan gemetar.
"Dan mulai sekarang panggil aku Pak Suami, jangan Om lagi,"
Dan hadirin pun terdengar berdehem menahan kekehan. Mungkin mau ketawa takut disomasi.
Kecuali Kevin yang suara ngakaknya terdengar di ujung ruangan. Tapi kelihatannya mulutnya langsung disumpal sama Nirmala. Karena setelah itu semua menjadi hening.
(Disumpal pakai apa, hayooo?!)
Dan berakhirlah kehebohan itu, Wana pun minum air mineral yang mungkin sudah dicampur air suci karena senyumnya langsung sumringah. Memandang Artha berbinar. Artha mengulangi Janji Pernikahannya dan Wana membalasnya sambil terisak bahagia.
Happy ending?
Berlanjut ke season 2 yaaaa.