Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 39


“Jadi semuanya habis, Kev?” gumam Agus sambil menorehkan pilox ke dinding apartemen Kevin.


Kevin mengangguk lesu.


“Barang-barang gue terserahlah, tapi paling tidak, gelang nyokap gue aja yang balik,”


“Menurut lo itu preman teman-temennya Ijal?”


“Sudah pasti!”


“Sudah lapor Pak Komandan?”


“Sudah, juga sedang dalam proses penyelidikan. Tapi gue diomelin Pak Suraji katanya seharusnya biarkan polisi memeriksa dulu baru gue bisa ambil barang-barang dan pindahan. Lah habis gue kan juga takut kelamaan tinggal di sana!”


“Masih untung lo nggak tewas, Kev,” kata Agus sambil menepok-nepok bahu Kevin.


“Itu juga kata Pak Suraji. Yang penting guenya sehat,”


“Terus... gue nginep di sini yak!” kata Agus dengan tatapan berharap.


Kevin mengernyit. “Boleh aja sih, tapi kenapa? Yang ada lo gue mintain tolong angkut-angkut loh,”


Agus mendekat sambil berbisik, “Sehariiii saja gue pingin sendirian, bro. Dari kemarin diikutin Dian melulu. Gue serasa punya khodam! Beraaat punggung gue nih!”


Kevin hanya mencibir, "Kenapa jadi punggunng lo yang berat? Emang dia minta digendong?!"


"Bukan, berasa mikul beban tanggung jawab,"


"Segitunya?!"


“Kevin, kamu pesen CCTV?” Chandra datang sambil menenteng beberapa kardus.


Pria itu baru saja dari lobi untuk membeli beberapa barang keperluan di apartemen Kevin.


“Ih, sudah datang yaaaa, cepet juga yak!” Kevin dengan bersemangat menghampiri Chandra dan mengambil tumpukan kardus di tangan pria itu.


“Buat apa’an sik CCTV segitu banyak?” tanya Kasep yang sedang istirahat ngemil di sofa sambil nonton tv.


“Ck!” Chandra hanya berdecak, karena ia tahu maksud Kevin membeli peralatan pengintaian.


“Hem... biar gue merasa lebih aman saja,” Kevin berdehem sambil tersenyum penuh arti.


Ya sudah pasti mengintai Nirmala yang sekarang berada tepat di depan unitnya lah! Apa lagi, coba.


Memang miris.


Berdekatan tapi tak bisa mendekat.


Lebih miris lagi saat Chandra melihat peralatan pengintaian Kevin ada yang ukuran micro dan dilengkapi dengan kamera. “Lama-lama kamu bisa kena pasal tentang penyadapan,” gumam Chandra pelan.


“Sssst!” desis Kevin.


*


*


“Aku nggak boleh ikut nginep?”


“Enggak!” seru Kevin dan Kasep berbarengan. Agus sembunyi di belakang mereka berdua.


“Gue yang sudah punya bini aje nggak segitunya lengket kayak lo, Diaaaan,” kata Kasep.


“Kita mau Pijamas Party, No Girls allowed,” kata Kevin.


“Aku bisa bantu masak-masak,” kata Dian.


“Ngga usah, masakan lo rasanya kayak arang,” kata Kevin.


“Mending gue yang masak, walopun kadang nasi nggak mateng dan suka ketuker antara Sasa sama gula,” kata Kasep.


“Kopi dicemplungin Sasa itu sudah paling ajib rasanya, sampe muter pala gue!” umpat Kevin mengingat masa lalu saat mereka masih kinyis-kinyis.


“Aku juga bisa bantu bersih-bersih,” Dian masih tak menyerah.


“Kita mau pijamas party, bukan nginem,” kata Kevin.


“Yaaah, kak Keviiin,” Dian mulai merajuk.


“Lo pulang sana, minta maaf sama nyokap lo karena berbuat aneh-aneh. Jangan nginep di rumah Agus melulu!”


“Aku sudah dianggap anak sama Emak,” kata Dian.


“Dia bahkan punya kamar pribadi di rumah gue. Padahal gue saja masih sekamar sama adek gue,” kata Agus.


“Terserah, pokoknya sana pulang! Kita mau mabar sambil nostalgia...”


Ting Tong!


Ting Tong!


Semua langsung diam.


Pintu apartemen Kevin ada yang nge-bel dari luar.


Chandra yang memang paling dekat dengan pintu, menghampiri dan mengintip dari lubang intip pintu. Lalu terkekeh,


“Hei, Kev... Bu Nirmala tuh!”


“Heh?!” seru Kasep dan Agus.


“Siapa Bu Nirmala?!” tanya Dian.


“Anjrit!! Jrit! Jrit! Jrit! gimana nih !!” Kevin langsung kalang kabut,


“Kenapa Tante Nir bisa ada di...” gumam Kasep dan Agus bingung.


”Gimana! Gimana!!” Kevin jadi mondar-mandir tak jelas.


Lalu dia melihat Dian.


Dan mendorong cewek itu ke depan pintu, “Kalo lo akting jadi penghuni unit gue, gue cium pipi lo!” bisik Kevin.


Muka Dian langsung merah, Jelas dia masih ada crush ke Kevin.


Agus hanya memperhatikan dari jauh dengan bertanya-tanya kenapa Kevin bisik-bisik ke Dian.


“Oke Kak,” sahut Dian senang.


Dan dia sambil melenggang riang membuka pintu apartemen.


“Iyaaaaa?” Sapanya.


Sementara Kevin dan lainnya sembunyi di balik pintu.


“Kenapa saya jadi dibawa-bawa sih?” gerutu Chandra yang mepet tembok tertekan tiga bocil labil.


“Ssssttt!” desis Kevin.


*


*


“Hai, Saya penghuni unit seberang,” sapa Nirmala ramah.


Dian tertegun menatap Nirmala. Dalam hatinya,


Wah, cantik banget! Auranya keibuan! Batin Dian jadi langsung insecure.


“A-a-anuuu, Iya Tante! Salken!” kata Dian.


Cewek itu melirik Kevin yang sedang memberi instruksi lewat secarik kertas bertuliskan : Tinggal sama kakak saya!


“Ini salam kenal dari saya, maaf hanya seadanya,” Nirmala menyerahkan kantong kertas berisi toples kue kering.


“Makasih Tante,” wangi manis langsung semerbak dari dalam kantong kertas.


“Kamu lagi renovasi? Grafitinya bagus,” Nirmala melirik ke dalam apartemen Dian.


“Hehe, iya tante itu kerjaan kakak,” kata Dian tergagap.


“Oh, kamu tinggal sama kakak kamu?”


Dian hanya diam. Karena mengangguk berarti bohong. Jadi lebih baik diam saja.


“Kalau butuh bantuan jangan sungkan ya, kita kan bertetangga. Ini nomor hape saya,” Nirmala menyerahkan kartu namanya ke Dian.


Dian menatap kartu nama yang diberikan Nirmala, lalu memicingkan mata dan melirik ke arah Kevin.


Kevin sedang mengintip di sela-sela pintu sambil melihat ke arah Nirmala. Tampak tatapan cowok itu begitu mendamba.


Lalu terbersit rasa cemburu dalam hati Dian. Pada awalnya memang cewek itu suka ke Kevin.


Apa hubungan Kak Kevin sama Tante ini ya? Baru kali ini aku lihat wajah Kak Kevin seperti tersipu begitu. Pikir Dian curiga.


“Makasih ya Tante, tapi aku balikin saja kartu namanya. Heeem kalau boleh,” Dian meringis ke arah Kevin. Terlihat kilatan cahaya yang tampak jahil.


“Kalau boleh Tante jangan sering-sering berhubungan sama kami. Kakak saya agak psikopat, dia pecinta BDSM dan korbannya biasanya tante-tante. Tante lihat grafiti itu? Ada makna tersembunyi di sana yang menunjukkan kalau dia pecandu se-ks, kadang dia culikin cewek yang seumuran tante ini buat diiket terus ditetesin lilin. Jadi demi keselamatan Tante, lebih baik kita nggak saling bicara,”


“Hah?” desis Nirmala kaget.


“Jangan kuatir, tante. Saya nggak apa-apa kok. Walopun kakak saya ada kecenderungan menyimpang, tapi dia baik sama saya. Sudah ya Tante, makasih kuenya. Daaaag!”


Dan dia menutup pintunya, meninggalkan Nirmala yang ternganga di koridor.


Juga Kevin dan yang lain yang melongo, masih di balik pintu.


Menatap Dian sambil bengong.


“Huh! Sudah uzur begitu apa cantiknya sih? Mending aku yang masih muda...” gerutu Dian sambil duduk di sofa, makan kue kering dari Nirmala.


“Hyaaa!” Kevin berteriak, “Kurang ajar dasar Kunti dicatok!!” Seru Kevin frustasi, sambil maju berniat menoyor kepala Dian.


Kasep dan Agus mencegah Kevin maju, “Sabar Kev!!” seru mereka.


“Lepasin! Gue mau noyor jidatnya!! Dia bilang apa tadi?! Gue dikatain kecenderungan menyimpang!!”


“Kendalikan diri lo Keeevvv!!” Kasep susah payah menahan Kevin.


“Lah memang bener, toh,” dengus Chandra sambil terkekeh.


Dian buang muka sambil mengamati sunset di depannya.


Bibirnya menyunggingkan senyum puas karena setidaknya dia sudah bisa balas dendam atas penolakan Kevin terhadapnya. Walaupun sudah pasti cium pipinya hangus.