
Sementara itu di lain tempat,
Nirmala menekan handle pintu depan rumahnya, lalu mengernyit.
Tidak terbuka,
Lagi-lagi tidak terbuka.
Terkunci dari dalam.
Ia celingukan ke kanan dan kiri.
Tak ada orang.
Ini baru Pukul 19 tidak mungkin semua orang di rumah sudah tidur. Mobil suaminya ada di garasi, dan... ada sandal wanita yang tak ia kenal di area rak sepatu samping pintu.
Siapa?
Ada tamu?
Bukannya Nirmala sepolos itu, tapi ia sudah menikah dengan Jaka selama 9 tahun. Walaupun selalu berjibaku dengan omelan mertua yang ikut tinggal bersamanya perihal ia tidak kunjung memiliki anak, namun selama ini Jaka, suaminya, selalu mendukungnya. Walaupun...
Walaupun Nirmala tahu di belakangnya Jaka memiliki banyak pacar lain.
Namun Nirmala masih bisa bersabar karena selama ini Jaka selalu mengutamakannya. Dalam hati wanita itu, ia juga merasa bersalah karena tidak menjaga kesehatan rahimnya dengan baik. Hasil tes memang menunjukan kalau Nirmala dalam kondisi sehat, dengan tuba palopi yang bersih dan indung telur yang sehat.
Nirmala merasa ia kurang berdoa, sehingga Tuhan belum mempercayakan amanahNya.
Namun akhir-akhir ini... pintu rumahnya sering sekali terkunci, seakan tak ingin menerima Nirmala. Lubang kuncinya berbeda dengan anak kunci yang dimilikinya seakan sengaja diganti.
Dari awalnya tengah malam, saat Nirmala terpaksa bekerja lembur. Akhirnya Nirmala menginap di hotel terdekat, paginya ia baru bisa masuk rumah untuk mandi, berganti pakaian dan kembali bekerja.
Lambat laun terkunci di saat belum terlalu larut seperti hari ini. Kalau ia pulang lewat dari jam 18, pasti terkunci.
Rasa sesak dalam hatinya, ia indahkan. Ia tak ingin berpikiran macam-macam terhadap keluarga suaminya. Hanya mereka keluarga yang Nirmala punya selain Wana adiknya.
Jadi ia memutuskan untuk bertahan, walaupun ia tahu tingkahnya itu sangat bodoh.
Keluarga, adalah yang utama baginya, karena ia yatim piatu dan tidak ada saudara lainnya. Bagi wanita yang berjuang sendirian hampir sepanjang hidupnya, memiliki keluarga adalah kemewahan baginya, walaupun menyakitkan.
Jadi, Nirmala memesan taksi online, dan memutuskan untuk ke kost-an Wana, adiknya.
*
*
“Sarah,” wanita berperawakan mungil namun wajahnya terlihat sinis dan judes. Ia mengulurkan tangannya ke depan hidung Kevin dan sedikit menggerakkan jemarinya, memperlihatkan cincin batu mulia besar di jari tengahnya.
Kevin mencerna beberapa saat mengenai apa yang harus ia lakukan berikutnya. Bukannya ia tidak mengerti harus apa, ia tahu kalau ada wanita mengulurkan tangan ke arahnya dengan model begitu pasti ingin buku jarinya dicium dengan romantis, kan?!
Terus terang saja, Kevin bukan gentleman dan malas kalau harus berperilaku ala novel romantis jaman klasik semacam itu.
Tapi demi... cuan.
Akhirnya ia menyerah.
Ia raih juga tangan kurus kering si Tante Sarah, dan ia kecup perlahan punggung tangannya sambil tersenyum menggoda. Wangi manis yang kuat, ala mbak-mbak yang pakai parfum beli di Indoapril.
Terdengar ******* pelan dari Tante, tampaknya wanita itu terkesima dan senang dengan perlakuan Kevin.
“Saya Kevin, Tante,” kata Kevin memperkenalkan diri.
Tante Sarah menatap Kevin dari atas ke bawah,
Ganteng banget ternyata, Pikir si Tante. Mungkin tak sia-sia aku bayar 20 juta untuk dua jam. Tapi lihat dulu staminanya, kalau beberapa kali dorong udah gol, sama aja bohong.
Dan akhirnya, dengan memasang mode ksatria memperlakukan Baginda Ratu, Kevin pun membuka pintu ruang karaoke VIP dan mempersilahkan Tante Sarah masuk duluan.
Skip (takut nggak lulus sensor).
“Huf,” Kevin menghela mengatur napasnya dan duduk di sofa sambil meluruskan kakinya.
Lalu ia terkekeh.
Memang lebih enak kalau dengan yang postur tubuhnya lebih kecil. Gampang diangkat-angkat walaupun tulang semua, kesana-sini tajam.
Si Tante mengelus pipi Kevin sambil tersenyum puas. Kevin menatapnya sambil tersenyum juga, mereka sama-sama puas. Terutama saat ini dompet Kevin tebal jadi bisa membelikan ibunya gelang emas yang kemarin dengan serius dilihat ibunya berkali-kali di etalase toko mas di pasar.
Ternyata nggak begitu enak untuknya. Lebih enak gaya biasa, karena harus effort agar pasangan tidak terkilir, jadi fokus sedikit terganggu.
Lumayan lah variasi dan dari erangannya si tante lumayan nyaman. Pikir Kevin.
“Baru kali ini saya bercinta dengan fun, kamu hebat,” kata Tante Sarah.
“Makasih Tante,”
“Yang lain tidak ada yang bisa mengimbangi saya. Dari awal mereka meremehkan saya, dipikir badan saya kurus kecil mungil begini sekali dua kali dorong udah keok. Akhirnya mereka yang tumbang duluan. Apalagi suami saya, hitungan detik udah tepar,” omel si Tante.
Bodo amat, Batin Kevin.
“Kalau bukan karena suami saya duitnya banyak udah dari kemarin saya tinggalin,”
Pingin ngerokok boleh nggak sih di sini? Batin Kevin sambil melihat ke atap mencari blower.
“Tapi saya juga curiga suami saya punya selingkuhan, soalnya jatah belanja saya akhir-akhir ini berkurang. Awas aja kalo ketahuan punya pelakor, tak cakar-cakar mukanya!” omel Tante Sarah.
Lah, ini kita juga lagi selingkuh, bukan? Tapi sekali lagi, Bodo Amat lah! Pikir Kevin.
“Habis ini kamu mau kemana?” tanya Tante.
Mau tau aje lu, dasar kepo! Mau mabar lah mau ngapain lagi?! Gerutu Kevin dalam hati.
Tapi ia tetap menjaga kesopanan dengan tersenyum semanis dan sesendu mungkin, berharap si Tante percaya kalau Kevin ada ‘crush’ padanya.
“Ibu saya minta ditemenin nonton drakor,” jawab Kevin, berharap si tante nggak mengajaknya main lagi atau ke tempat-tempat berbahaya seperti rumahnya atau goa semedi tengah laut.
“Wah, kamu anak yang berbakti juga ya ternyata,”
“Ayah saya sudah tidak ada, jadi saya usahakan selalu ada untuk ibu saya. Termasuk pekerjaan ini saya lakukan juga untuknya,” kata Kevin.
Padahal bohong sih, dia jadi gigolo murni buat senang-senang. Foya-foya, hedonisme, dan kepuasan seksualnya.
“Duh, saya jadi kesengsem beneran sama kamu nih,” gumam Tante Sarah.
“Jangan Tante, saya pacarnya banyak. Nanti Tante malah kecewa,” sahut Kevin cepat. Ia tidak suka direpotkan dengan urusan percintaan.
“Ya sudah pasti pacar kamu banyak, punya kamu gede, stamina kamu prima dan kamu ganteng banget,” kata Tante Sarah.
Harusnya Kevin bangga dipuji. Kenapa ini malah was-was ya?! Jangan sampai si tante jadi lengket padanya.
“Kalau begitu, saya pamit ya. Jamnya udah habis, saya masih ada klien yang lain,” kata Kevin, Ini juga bohong, alasan biar cepetan pergi dan mabar sama Kasep.
“Yaaah, padahal saya mau traktir kamu makan,”
“Maaf ya Tante, lain kali booking saya lagi lewat mami aja,” kata Kevin sambil beranjak dan mengenakan pakaiannya.
*
*
Done.
Ketik Kevin ke whatsap Mami.
"Good," balas Maminya, disertai screenshot transferan. "Ajak Tante Sarah ke lantai 3, kita mau toast,"
"Toast buat apa?" tanya Kevin.
"Ulang tahun gue lah!" balas Mami.
Kevin mengernyit, "Kok lo nggak ngomong kalo ulang tahun?"
"Lah kemarin kan udah gue bilang, ada pesta ulang tahun Dewi Tunggullangit di club!"
"Lah iya si Dewi Tanggul, tapi lo nggak ngomong kalo lo juga ulang tahun, Mam!"
"Dasar abege lemootttt!!" balas Mami disertai icon kesal.
Lah kenapa jadi ngomel?! pikir Kevin bingung.
"Yuk, kita ke bar, katanya Jeng Dewi mau toast," kata Tante Sarah.