
Setelah Kasep dan keluarga Farida datang, Nirmala dan Kevin memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit dan berjalan-jalan di mall terdekat.
Selama ini mereka belum pernah berjalan santai berduaan. Tadinya memang banyak pertimbangan seperti canggung jadi tontonan atau bahan pembicaraan orang-orang sekitar. Namun untuk saat ini setelah semua keadaan membaik, Nirmala sudah tidak peduli lagi.
Yang penting Kevin berada di dekatnya.
Saat di mobil menuju ke arah mall, Nirmala melirik Kevin yang dengan tenang duduk di kursi penumpang sambil menatap keluar jendela.
Hanya duduk dengan manis dan kedua tangan berada di atas kedua pahanya, seperti anak penurut yang sedang merenungi banyak hal.
Pandangan matanya sedikit menerawang, membuat Nirmala tergoda untuk mengelus pipinya karena sangat jarang Kevin bersikap sekalem itu.
“Sayang...” panggilnya.
Kevin agak terkaget, menoleh dengan tatapan bertanya ke arah Nirmala, namun tak ada kalimat yang keluar dari bibirnya. Tampaknya ia memang belum sepenuhnya terkoneksi dengan dunia nyata.
“Kamu capek?” tanya Nirmala.
Kevin tersenyum dan meraih jemari Nirmala, lalu ia kecup perlahan dan ia genggam dengan erat. Senyum di bibir pemuda itu sepenuhnya mengatakan tanpa suara kalau ia memang capek.
“Atau kita pulang saja?” tanya Nirmala lagi.
“Nggak usah, aku butuh sedikit refreshing,” kata Kevin.
Refreshing di tempat keramaian tampaknya sedikit aneh. Tapi bagi Kevin, ia butuh melihat banyak orang untuk menghibur hati.
Ia sebenarnya resah.
Yang lain-lain sudah lega, namun ternyata timbul masalah baru...
Apakah ia siap menjadi seorang ayah?
Ia bahkan tidak terlalu mengenal ayahnya yang meninggal saat ia masih kecil. Yang ia ingat adalah ibu yang kerap kerepotan dan panik mengatasi semua permasalahan ayahnya. Jadi di pikirannya saat ini,
Apakah kalau aku menjadi seorang ayah, aku akan merepotkan Nirmala dengan segala persoalan absurd yang sering kuhadapi? Bahkan anakku nanti juga akan terkena imbasnya.
Kenapa timbul pikiran seperti itu?
Bagi Kevin, situasi yang dihadapinya saat ini sudah mirip dengan adegan masa kecilnya saat ia melihat beberapa wanita datang ke rumah meminta ibu menyerahkan ayah yang sedang bersembunyi. Seingat Kevin waktu itu, gerombolan wanita itu adalah anak dari berbagai Bos dan Juragan, pakaian mereka tampak glamor dan mahal, dan mereka minta Ibu bercerai dari ayah.
Setelah itu Kevin tidak ingat lagi apa yang mereka katakan ke Ibu karena Ibu langsung mengusir mereka.
Sekarang saja Nirmala yang membereskan semua kekacauan, dengan sabar mendampinginya di saat-saat terburuk. Berpisah dengan wanita itu bagaikan neraka.
Kevin takut kalau ia akan merepotkan Nirmala.
Tapi ia belum ingin memberitahu Nirmala kegalauannya. Jadi ia butuh mengalihkan pikirannya ke hal lain.
Kalau mereka pulang, Nirmala akan dengan cepat tahu kalau Kevin sedang galau.
“Mala,” panggil Kevin. Sekarang panggilannya sudah tanpa ‘jabatan’ Tante.
“Hm,”
“Aku pingin belajar nyetir mobil,”
Nirmala belum respon. “Hem,” gumam wanita itu kemudian.
“Nggak keren banget aku duduk di kursi penumpang,” gerutu Kevin.
“Dari tadi kamu mikirin itu?” Nirmala merasa heran bagaimana mungkin pemilik wajah tampan sejagad insecure hanya gara-gara dia duduk di kursi penumpang. Tapi Kevin memang memiliki sifat selalu ingin menyenangkan orang yang dia sayang. Dan ‘diladeni’ tidak ada dalam kamusnya.
“Nggak juga sih,”
“Iya, nanti belajar nyetir, asalkan..”
“Asalkan?”
“Jangan pakai mobilku,”
“Loooh?”
“Iya aku nyicil mobil ini 5 tahun, Sayang. Males aja kalau kamu baret-baretin,”
“Dih, udah negatif thinking duluan. Belum tentu aku baret-baretin, siapa tahu aku langsung bisa,”
“Ya nggak mungkin langsung bisa, Lah... Ini beda dengan naik motor,”
“Ya udah aku pinjem mobil Kasep aja,”
“Mobil Kasep itu... bukannya yang bekas mikrolet itu ya?”
Kevin menyeringai, “Seru kan?!”
“Ya tetap saja harus hati-hati, Kevin,” Nirmala terdiam, berikutnya ia berujar, “Aku pikir-pikir dulu deh,”
“Aku perlu tau riwayat detail mobil Kasep. Sudah mengangkut berapa ratus penumpang, pernah terlibat kecelakaan atau tidak, ganti Olinya berapa tahun sekali, Uji KIRnya masih berlaku atau tidak, terus itu kendaraan ilegal atau sah? Maksudnya dia nggak nyolong mobil itu dari kerusuhan kan?”
Kevin melongo sambil menatap Nirmala.”Kamu ribet banget deh...” gumam Kevin.
“Kevin, semua orang juga tahu kamu itu ceroboh. Jadi aku harus pastikan kamu tidak kenapa-napa,”
“Aku bukan anak kecil,”
“Kamu anak kecil buatku,”
“Terus kamu sekarang merasa jadi ibuku?”
“Ya ini hanya pendapatku yang lebih berpengalaman menjalani hidup lebih lama dari kamu, kau tahu kesulitan menyetir mobil, aku tahu tidak enaknya saat terlibat masalah di jalan raya,”
“Itu kan memang resikonya, aku kan pengendara motor yang secara notabene lebih bahaya dari mobil,”
“Menyetir mobil berbeda dari menyetir motor, karena nyawa penumpang juga ada di tangan kamu,”
“Ya kamu pinjemin aja mobil kamu kalau kamu merasa aku nggak aman naik mobil Kasep,”
“Kamu bisa rekomendasiin aku mobil lain yang lebih aman kamu naiki,”
“Nggak ada,” Kevin mulai kesal.
“Ya udah nggak usah belajar nyetir,” ujar Nirmala mulai emosi.
“Pokoknya tau-tau aku bisa nyetir,” gerutu Kevin.
“Awas kamu jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu dariku!”
“Ini cuma perihal nyetir mobil, bukan merencanakan perampokan! Dari dari Korlantas Polri, tercatat sebanyak 146.046.666 kendaraan yang beredar di seluruh wilayah Indonesia per Januari 2022! Itu berarti banyak sekali orang menyetir kendaraan! Nyetir mobil bukan hal langka!”
“Terserah kalau orang lain, aku tak peduli! Pokoknya kalau aku menilai mobil itu tak aman, kamu nggak usah belajar nyetir! Juga tempat belajarnya harus yang aman!
“Tempat aman versi kamu hanya di atas kasur kamu,”
“Kamu daftar aja ke sekolah menyetir!”
“Cupu bener ngapain aku harus daftar ke sekolah menyetir?!”
“End of discussion!”
“Eh, belum End! Bentar dulu!”
Oke... pertengkaran receh mereka sebagai pasangan sudah dimulai. Dengan Gap besar antara Nirmala yang keibuan dengan segala kecemasan yang seharusnya tak perlu VS Kevin yang jiwa mudanya masih keluyuran tanpa identitas.
Tapi, terhadap Kevin, Nirmala menunjukan jati diri yang sebenarnya. Wanita itu lebih ekspresif.
Saat menghadapi mantan suami, Jaka mau bungee jumping terbalik saja Nirmala tidak protes. Memang ada perasaan cemas yang cukup besar, tapi saat Nirmala mengeluarkan pendapatnya ke Jaka, pria itu marah besar. Setelah itu apa pun yang Jaka lakukan, Nirmala hanya mendukung saja.
“Udah sampai Mall, Nih! Mau keluar atau gimana?” gumam Nirmala sambil merengut.
“Terserah,”
“Nggak usah pakai kode, kamu bukan cewek!”
“Kalau aku bilang terserah ya terserah! Lagian aku udah males,” Kevin membuang muka ke arah luar jendela. Kayak bocah yang ngambek nggak dibeliin Yupi.
Nirmala diam.
Menghitung kesabaran sampai 10.
Lalu,
“Ya udah keluar, sambil aku mikir mau ngebolehin kamu belajar nyetir mobil atau nggak,” sahut Nirmala
“Aku nggak butuh persetujuan kamu, aku cuma bilang aku ingin belajar nyetir, nggak minta pendapat,” gerutu Kevin.
“Jangan keras kepala, Kevin!” seru Nirmala.
“Aku bukan anak yang bisa kamu larang-larang!”
“Ya sudah, sudah sudah!! Kalau kamu belajar nyetir mobil, aku belajar nyetir moge! Gimana?!” seru Nirmala.
Kevin terdengar memekik pelan, ia menarik napas dan tertahan di dada. Tampaknya ia shock. “Aku...”
Lalu cowok itu terdiam. Berbagai bayangan ‘kalau ini-kalau itu’ menari-nari di otaknya.
“Ayo keluar, aku juga mau mikirin kasih kamu izin nyetir motor atau nggak,” kata Kevin akhirnya.
Dan, akhirnya malam itu mereka berkencan di Mall. Dengan kening berkerut karena memikirkan masalah kendaraan.