
Aku ingin jadi istri Om, gimana caranya?
Artha membaca proposal dari satu divisi dengan seksama. Lalu mengernyit dan mencoret bagian yang tidak sesuai dengan pena merahnya.
Aku ingin jadi istri Om, gimana caranya?
Lalu Pria itu mengambil map selanjutnya, dan membaca isinya dengan serius. Lagi-lagi ada yang tak sesuai, dia cros selembar dan tutup mapnya.
Aku ingin jadi istri Om,
Artha beralih ke map yang lain, lalu membaca isinya. Surat Pemberitahuan.
Lalu ia pun menandatanganinya, sebagai tanda kalau ia sudah membaca dan harap diteruskan ke divisi terkait.
Aku ingin jadi istri Om,
Ingin jadi istri Om
Jadi istri Om
"Astagaaaaaa!" Keluh Artha sambil menelungkupkan dahinya ke meja. Ia benar-benar tidak bisa konsentrasi bekerja! Bayangan bidadari berkulit selembut sutra, dengan dada seindah Dewi Venus mengatakan kalau ia ingin menjadi istri Artha.
Dari seluruh wanita di dunia ini, amat sangat jarang ada yang minta jadi seorang istri. Sebagian besar hanya menyindir-nyindir supaya segera dinikahi atau menunggu saja si pria inisiatif melamar. Malah ada juga yang memberi ultimatum berisi pilihan, nikahi aku sekarang atau putus saja.
Tapi yang ini terang-terangan bilang kalau dia mau jadi istriku! Wanita jenis apa ini?!
Dan kenapa aku tidak segera menjawab?! Bodoh sekali aku! Malah bilang 'tolong beri aku waktu'!
Hey Mr. connor, kamu sudah menciumnya dan meremas dadanya, Dasar Bejat! Kau anggap dia apa?!
Kalimat-kalimat semacam itu bergumul di kepala Artha. Kedua tangannya saling terkait ditempelkan ke dahinya. Wajah menunduk ke meja.
Mata terpejam memikirkan Wana.
Terus terang saja, ia tidak menangkap ekspresi marah di raut gadis itu saat bilang 'tolong beri aku waktu'. Namun yang menjadi kegalauannya adalah, ekspresi Wana tampak kecewa dan sedih.
Setelahnya Wana hanya bilang, "Oh, maaf Om, aku lagi-lagi egois. Lupakan saja dulu," dan Wana pun mengambil kaosnya yang tercecer di lantai, mengenakannya dan tarik selimut sampai menutupi kepalanya.
Artha pamit pulang setelah itu, tapi Wana tak merespon.
Entah kenapa, di dirinya yang pengecut ini tak terbersit ide untuk merayu Wana kembali atau sekedar memeluk gadis itu. Yang mana, dari malam sampai pagi ini, ia jadi merasa sangat bersalah.
Karena tak bisa tidur, sejak pukul 5 pagi, Artha sudah datang ke kantor dan menyibukkan diri di ruangannya yang kini sudah bersih.
Artha merasa menjadi pecundang. Pria paling bajingan di seluruh dunia.
Gadis impiannya minta menjadi istrinya, dan Artha terkesan menolak. Padahal ia hampir lupa diri menyentuh sosok perawan itu.
Saat yang lain tak diizinkan mendekat, Artha mendapat keistimewaan. Sekarang, ia malah seperti membuang Wana.
Jadi, mulai sekarang, saat bertemu Wana nanti, apabila Wana sudi melihatnya lagi, Artha akan mengganti sikap pengecutnya dengan memperlakukan Wana bagaikan seorang Ratu.
*
*
Sementara itu di lantai 4.
Pagi-pagi Wana sudah muncul di kantor. Ia tak bisa tidur, jadi ia datang pukul 6 pagi.
Jam segitu lantai 4 masih sepi penampakan manusia. Jadi Wana masuk ke ruang ganti dan bertemu dua orang wanita paruh baya yang sedang mengobrol di sana. Mereka berdua mengenakan seragam Cleaning Service. Kelihatannya baru selesai untuk sesi shift malam.
Hati Wana sedang galau, jadi wajahnya tampak sedih. Sudah begitu, matanya sembab akibat menangis semalaman.
Kedua wanita di depannya menghentikan obrolannya sambil menatapnya lekat-lekat.
"Selamat pagi," sapa Wana ke mereka berdua dengan ramah.
"Eh, pa-pagi Bu," balas kedua ibu-ibu itu.
Dia dipanggil 'Bu'. Wana menghela napas. Ini pasti gara-gara Chandra sudah memperingatkan semua orang kalau Wana adalah orang istimewa di sana. Apalagi keberadaan Artha yang jarang terlihat malah berlaku ramah pada Wana.
Wana pun berjalan ke lokernya untuk berganti pakaian. Sudah ada tiga seragam OG dan apron merah yang kemarin ia coba di dalam lokernya.
"A-anuuu, Bu Wana, Ya?" salah seorang ibu-ibu mendekatinya dengan ragu.
"Ya bu? Tak usah panggil 'ibu', saya ini masih anak kuliahan loh Bu," kata Wana mencoba akrab.
"Kami semua sudah diberi aturan oleh Pak Chandra untuk hal itu, Bu," si ibu berkata begitu, namun dengan raut wajah yang jelas-jelas penasaran sekaligus mengejek Wana.
"Oh begitu, ya?" Wana mengenakan apronnya dan mengikat rambutnya ke atas. "Padahal saya hanya tidak sengaja kenal Pak Artha, lalu akhirnya bekerja di sini,"
Raut wajah ibu Cleaning Service jelas-jelas mencibir, tapi dia tak mengatakan apa pun. Tapi Wana bisa membaca sikap si ibu yang kurang bersahabat.
"Bu, jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang saya. Posisi saya saat ini ada di hierarki paling bawah, loh," sahut Wana.
"Ih, Mbak Yu, bener kan! Kalo dia ini simpanan Pak Artha pasti sudah dijadikannya sekpri seperti Pak Chandra!" Tegur ibu-ibu satunya yang berada di belakang ibu cleaning service.
Mendengar itu Wana mencibir.
Menyebalkan! Batinnya.
Nyatanya, Wana saat ini memang merasa kalau Artha hanya memanfaatkannya untuk sepasang dada ranum bibir perawannya. Hal yang cukup langka.
Ia harus memberi batasan untuk Artha mulai sekarang.
"Iya benar, jadi ya saya ini sama saja seperti ibu-ibu ini. Hanya jobdesknya dibedakan," kata Wana.
"Katanya situ punya jobdesk khusus hanya boleh membersihkan ruangan Pak Artha," cibir si Ibu
"Iya, karena saya siangnya harus kuliah. Jadi hanya diberi tugas untuk ruangan beliau. Setelah itu shift saya selesai. Ini permintaan kakak saya ke Pak Artha sih,"
"Memang kakaknya kerja di mana?"
"Di Jade Building And Construction, Bu"
"Jabatan kakaknya udah tinggi pasti ya?! Itu perusahaan elit juga, masuk 12 Naga juga!"
"Eeeh, mungkin ya. Setara Kepala Divisi,"
"Lah iya pantesan, kakak situ temennya Pak Artha jadi kerja bisa enak. Ya kita yang kalangan bawah ini harus capek-capek berkeringat kerja pagi pulang malam!" gerutu si Ibu.
"Ah, biar saja! Aku kan sudah lama kerja di sini! Aku ini sudah 15 tahun kerja, sejak Pak Chandra dan Pak Birawa masih jadi karyawan baru! Statusku ini sudah karyawan tetap, nggak bisa disingkirkan semudah itu!"
"Lah Mbak Yu, justru karena situ sudah lama di sini, lah kok masih di posisi bawah saja nggak naik-naik. Itu kan berarti keberadaanmu tak ada artinya sebenarnya, berulah bisa saja 15 tahun sia-sia langsung pecat! Kalah sama yang 2 hari tapi cantik,"
Wana bukannya tersinggung malah ngakak.
Entahlah ada apa dengannya. Bisa jadi dia stress.
Omongan julid yang blak-blakan malah membuatnya terhibur, seperti nonton sinetron anak tiri secara life.
"Lah, masih muda udah gila," gumam si ibu-ibu.
"Hadoooh pagi-pagi udah dapet pencerahan!" seru Wana riang. "Eh, aku ada kupon sarapan di kantin Direktur loh, yuk makan sama-sama. Mumpung sepi masih pagi, belum ada customer jadi nggak mencolok kalau kita kesana,"
"Dapat dari mana?!"
"Minta sama Pak Artha,"
"Lah kok dikasih? Mata-mata nih kamu ya?!"
"Yaaaa, punya wajah cantik ya dimanfaatkkan saja," Wana menyindir ucapan yang barusan ia dengar, "Tapi ya rugi kalo nolak ajakanku loh bu, makanannya kan enak-enak di sana. Beda sama kantin karyawan! Siapa tahu bisa dibungkus buat orang rumah yakan?!" Rayu Wana.
Kedua ibu-ibu saling bertatapan.
"Lah ayok lah," desis keduanya akhirnya.
Wana cekikikan sambil berjalan keluar ruangan, diikuti ibu-ibu julid yang mulutnya nyinyir.
Karena buat Wana, julid tapi blak-blakan lebih bisa dipercaya daripada di depan ramah, tapi dibelakang lidahnya bercabang.
*
*
Kantin Direksi, hanya ada pegawai yang mulai menata makanan di etalase. Memandang Wana dengan heran.
"Aku nggak nyolong kartu loh, aku dikasih," sembur Wana ke si waitrees.
"Tapi... kamu kan..." Waitress menatap penampilan Wana dari atas ke bawah.
"Kartunya memang atas nama Nirmala Dierja," Gumam si Waitress. Wana mengangguk sambil menunjuk name tagnya,
"Tapi ada QQ Arthasewu Connor," sambung si Waitress memandang curiga ke Wana.
"Kok bisa ya?" tanya si waitress lagi.
* FYI : QQ (Qualitate Qua) adalah kode yang biasa digunakan Bank untuk tabungan anak yang belum berusia 17 tahun. Dalam hal ini QQ adalah nama wali yang sah bertanggung jawab terhadap kepemilikan tabungan anak. Biasanya orang tua atau wali yang ditunjuk pengadilan. Jadi untuk melakukan penarikan, si anak harus mendapat persetujuan dari QQnya walaupun tabungan itu atas namanya.
"Ya kenapa nggak bisa," Wana menyeringai. Reaksi si waitress sudah ia prediksi sebelumnya.
"Kayaknya saya harus laporan dulu ke atasan," Si Waitress tetap tidak percaya.
"Halah ribet banget sih mau makan aja!" Mak Ajeng (salah satu ibu-ibu julid teman baru Wana) mengomeli si waitress.
"Kalo situ nggak kasih, nanti malah dilaporin Pak Artha, situ mau?! Si Mbaknya ini staff khusus loh!" Sembur Mak Lastri (ibu-ibu julid satunya). "Khusus ruangan Boss Besar," sambungan.
"Bersih-bersih ruangan dan mungkin bisa jadi bersih-bersih yang lain yang kita nggak tau," sambung Mak Ajeng sambil melirik Wana dengan sinis.
"Iya, bersihin aib," gumam Wana penuh kekesalan, teringat aktifitas kemarin.
"Loh iya toh nduk? Aib opo toh?!"
"Aku udah disumpah mati kesamber geledek kalo bilang-bilang, yang jelas malesin lah Mak," kata Wana.
"Lah berarti kowe iki sial loh jadi karyawan,"
"Iya, kerjaan setara Chandra Birawa tapi gajinya gaji OG. Hahahaha!"
"Hahahahaha!!"
"Untung aja kerja cuma setengah hari," timpal Wana. "Jadi aku pantes toh makan enak?!"
"Ya pantes dooong!"
"Udah sini paketannya, 3 yak!" Kata Mak Lastri ke Waitress. "Jangan lupa bungkusan buat dibawa pulang, roti, kek, sop-sopan kek,"
"Eeeh, iya Bu, sebentar," tergopoh-gopoh si Waitress masuk ke dalam untuk mengambil baki.
Wana tersenyum sumringah. Akhirnya harinya ceria lagi. Memang, cara merayu ibu-ibu itu sederhana. Bikin saja mereka senang dengan makanan enak dan bisa dibungkus buat pulang.
Akhirnya, Wana dan dua Mak Julid sukses Breakfast Cantique, (Mak Ajeng sempat memasukkan beberapa kantong Teh Dilmah dan bungkus gula aren ke seragamnya buat persediaan di rumah) di ruangan kantin VIP dengan suasana elegan khas cafe mehong.
Mereka akhirnya berbincang mengenai gosip terhangat di kantor itu sambil sarapan.
Dan karena kedua Mak-Mak memang orang lama yang kerja di sana, jadi mereka tahu semua rahasia terdalam di kantor.
Satu-satunya orang yang menurut mereka misterius, justru adalah si Big Boss, Artha. Karena jarang muncul dan tingkah lakunya agak nyentrik, tak bisa ditebak.
Gosip malah lebih banyak berasal dari Duo Herder yang kata si Mak-Mak Julid ngganteng-ngganteng cucok dijadiin calon mantu.
Setelah satu jam kemudian,
"Udah jam segini aja, aku bersihin ruangan Boss dulu ya, mumpung masih pagi dia belum dateng. Segan aku kalau ketemu," kata Wana sambil melihat ke jam tangannya.
"Alat bersih-bersih di lantai 4 ya nduk, di ruang service,"
Dan Wana pun segera pamit dan berlaku dari kantin.
"Eh,bukannya Boss udah dateng ya Mbak Yu? Aku liat mobil orennya di basement," Kata Mak Lastri.
"Loh kapan datengnya?"
"Subuh tadi,"
"Walah,"
Dan mereka berdua menatap punggung Wana yang menjauh dengan prihatin.