Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Wana Si Pemikat


Tanpa mengetahui yang terjadi pada kakaknya, Wana santai saja menjalani malam itu.


Sebelum mandi, ia duduk di pinggir ranjang sambil memilin-milin rambutnya.


Berpikir.


Mengenai Leo.


Wana menggigit bibirnya memaki Leo dalam hati.


Tanpa tahu kalau Stela darah dagingnya, dia menjelek-jelekan Artha. Sesumbar kalau Artha adalah pria jahat yang memperlakukan Stela seenak hati, padahal Leo sendiri ternyata ayah kandungnya.


Setelah itu, pikiran Stela beralih ke Yuni.


Kalau sudah mantan, dan salahnya sendiri karena selingkuh, kenapa Yuni masih tetap membuntuti Artha? Apa karena tunjangan? Kemana harga diri wanita itu?!


Kalau sampai Artha tahu yang sebenarnya, apa tidak stress tingkat tinggi tuh si Yuni?!


Dalam hatinya, Wana malah mendongkol.


Aku harus melindungi Om Artha dari Yuni! Begitu tekadnya.


Jadi apa yang akan dia lakukan agar Artha semakin bucin padanya?


"Nonton drakor dulu buat referensi," gumam Wana.


*


*


Tips dan trik menghadapi wanita dari masa lalu pasangan kita (Request Pembaca, hehe) :


Kalau si Om gelagatnya kelihatan sudah masa bodo amat : santuy aja nggak usah dibahas.


Kalau si Om gelagatnya masih care banget sama mantan, tapi dia juga nggak mau ninggalin kamu : kasih pilihan, mau maju apa mundur, pilih dia atau aku, dan kasih denda gede kalo melanggar.


Buat apa buang-buang waktu? Hidup itu singkat Shaay!


Kalau kalian sudah terlanjur menikah dan punya anak tapi paksu tetap care sama mantan : Nonton Layangan Pedot. Di sana banyak tips untuk mengancam suami biar nggak kemana-mana. Jangan lupa kerahkan siskamling buat jaga-jaga kalo Paksu ketahuan datengin rumah mantan.


Hubungi Kevin untuk retas GPS hapenya paksu.


Trik :



Nggak usah datengin si mantan... Sendirian. Pasti kalah. Mending sekalian bawa ormas aja. Ormas Istri-istri Anti Pelakor.



Datangi dengan sopan, kalau si pelakor kelihatannya kaya dan berkuasa, siapa tau sekalian bisa malak Dior.


Kalau dia biasa aja, serang dengan pasal-pasal.




Perawatan lah ya.




Usahakan kamu bisa masak, kalo perlu kamu belajar sama ahlinya. Jangan sampe gara-gara memasak, penampilan kamu jadi kayak mbok-mbok karena kecapekan berdiri terus, kepanasan karena deket kompor dan kecipratan minyak goreng ikan.


Coba liat Chef Farah Queen, saking ahli dan terbiasa dengan masak memasak, setelah selesai dia tetap cantique. Jadi, dia itu cantik karena biasa.




Bisa jadi sambil masak dia juga bisa maskeran pake bengkoang. Setengah buat bikin tekwan, setengah buat dimuka.



Selalu ingat pepatah wanita bule. 'Don't let your men leave home with hunger and horny.'


(Jangan biarkan si paksu keluar runah dalam keadaan Lapar dan Haus.. Eh, disini haus dalam tanda kutip yak, haus dibelai maksudnya, haha)



Karena yang penting bagi pria adalah pinggang ke bawah.


Coba lihat,


Kebanyakan pria suka sepak bola, kan? Yap! Pinggang ke bawah yaitu k****l. Kaki Ketekel. Sip!



Sering-seringlah aerobik atau olahraga disambi dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, biar kurusan dan body ala gitar Spanyol. Kan nyesek kalo ada situasi macam begini :



Istri : Pah, daster istri solehot yang bagus yang mana? (nunjukin 2 buah gantungan daster baru)


Suami : dua-duanya bagus (tapi mata nggak ngeliat ke depan, fokus buka situs onlyfens di hape)


Istri : (kesal dan memutuskan untuk bug*l aja) kalo sekarang, bagus nggak pah?


suami : (karena merasa terganggu akhirnya ngeliat ke depan) Ya Ampun Mah, bajunya disetrika dong!




Kalau 1 sampai 5 sudah kesampaian, sudah maksimal dengan perubahan yang signifikan tapi si Om tetap care sama yang lain, selidiki apakah ada perjanjian di belakang yang kamu nggak tahu.




Kalau nggak ada perjanjian, coba lihat di rumah si mantan ada genderuwo nggak? (Biasa, hal mistis di negara +62 sih selalu ada, contohnya pelet)




Kalau nggak ada hal mistis juga, coba lihat jangan-jangan si Om baek-baekin mantan soalnya lagi ngerayu biar nggak usah nyicil hutang.




Author udah mandek idenya. Mohon bantuan netizen.




*


*


"Hai Om," sapa Wana saat pagi itu dia menelpon Artha.


"Tumben telepon duluan," jawab Artha.


"Hari ini ada rencana?"


"Mau golf sama rekanan,"


"Jam berapa?"


"Nanti malam,"


"Pagi sampe sorenya lowong nggak?"


"Mau ngapain, sayang?"


Wana merinding. Langsung deg-degan karena dipanggil 'sayang'.


"Pingin jalan-jalan sambil ngopi,"


"Hem, mau ke daerah Pluit aja? Aku baru buka restoran di sana, tapi belum pernah coba malah udah viral di instagram,"


"Oke Om,"


Dari semalam sambil nonton drakor, dirinya sudah mempersiapkan banyak hal agar Om Artha-nya terkesima.


Di antaranya, maskeran 3 jenis, skinkeran, berendem di bak pake sabun yang busanya banyak. Sebentar lagi ibu kosnya paling protes kenapa tagihan air kosannya melonjak. Ya gimana dong, di kamar mandinya cuma ada bak mandi, bukan bathtub.


Lalu creambath mandiri, hair mask, minum teh saffron minta ke tetangga kosan sebelah, waxing seluruh badan (yang ini juga dibantu tetangga kosan sebelah) dan yang pasti, telpon Kevin pagi harinya.


"Lemari lo berantakan mana bisa gue milihin?!" keluh Kevin saat pagi itu mereka video call-an. Terlihat kalau Kevin sedang di area kampus negeri di daerah Depok, kemungkinan sedang seminar mahasiswa baru atau tebar pesona.


"Lu... Lolos SMBPTN ya?" gumam Wana sambil melirik ke latar belakang background Kevin.


Cowok itu hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum tipis. Tipis tapi menyebalkan kayak sok-sok'an. "Gue lulus di sini dan yang di Bandung,"


"Gue nggak tau harus ngiri atau kesel,"


"Jangan memendam kesal, nanti tiba-tiba lo kesengsem sama gue,"


"Gue anti celap celup club,"


"Gue juga anti miskin bokek club,"


"Anyway, setelah gue cari tahu tampang si Yuni Bahana (minta fotonya sama Chandra), tante seksi tapi biasa aja sebenarnya. Menang di perawatan,"


"Untuk ukuran tante-tante awal 50 tahunan dia lumayan masih kenceng sih, kerutannya juga samar,"


"Kenapa sih lo cari yang lebih tua? Yang lebih muda kan banyak,"


"Bawel dan banyak tuntutan, terus baperan dan cengeng. Ogah,"


"Lu sebenernya mother complex ya Kev?"


"Coba ambil setelan yang warna cream itu. Gue bukan mother complex. Nyokap gue kalem, beda sama klien gue yang rata-rata suka curhat berjam-jam,"


"One piece HnM nih, tapi gue jarang pake soalnya bagian dada terlalu terbuka,"


"Lo pake aja tengtop di baliknya. Mau ke daerah Pluit kan? Panas di sana, itu baju pas karena lengannya panjang biar lo nggak keling. Pake jeans yang slim ya. Ada bra yang tanpa tali nggak?"


"Ada. Tasnya gimana?"


"Kayaknya nggak cocok pake tas ya, ada dompet yang muat semuanya nggak? Biasanya rata-rata emak-emak bawa gituan ke pasar tuh. Muat hape, kartu, lipstik, kaca, kayak emak gue kalo ke warung agak jauhan dia bawa gituan,"


"Yang ini bukan? Warna putih, tapi,"


"Ya lo pake sepatu putih aja biar matching, yang flat ya biar simple. Coba lo pake semua, gue pingin liat,"


Setelah beberapa saat mix n match akhirnya didapat hasil yang cetar berbarengan dengan dimulainya acara mahasiswa baru Kevin.


"Gue masuk aula dulu yak!" pamit Kevin.


"Kev, kalo pas Ospek lo dibotakin gimana?"


"Ya gue kabur, nggak jadi ngampus di sini,"


"Dasar sok ganteng,"


Akhirnya Wana pun bersiap-siap menunggu jemputan Om Artha.


*


*


Sambil nunggu jemputan, mari kita beralih keeeee... Pasangan lain. Chandra dan Stela.


"Hei," Stela sudah ada di depan pintu rumah kontrakan Chandra pagi itu. Chandra yang baru bangun tidur, rambut acak-acakan, tampang semrawut dan jutek banget, menyipitkan mata melihat Stela yang fresh dan tersenyum menggoda.


"Saya lagi nggak mood liat kamu," gumam Chandra sambil menutup pintunya.


"Hih! Chandra ih!" gerutu Stela sambil menahan pintu dan masuk ke dalam rumah. Chandra hanya lanjut berjalan ke area dapur untuk membuat kopi. "Hari ini liburan kan? Jalan-jalan yuk, ngerasain restoran papa yang baru, yang di Pluit,"


"Males," gumam Chandra sambil mengaduk kopi.


Stela memeluk Chandra dari belakang, "atau mau di rumah aja?" tangan cewek itu menggoda Chandra dengan menyusup ke balik celana karetnya.


Chandra menepisnya dan menghindar, "Saya lagi PMS," katanya sambil berjalan ke arah sofa ruang tamu untuk menonton tv. Stela merengut sambil mengikutinya.


"Hem, mana pernah kamu nggak PMS? Tiap hari jutek, ramah cuma sama Papa aja,"


"Kamu salah tuh, jutek cuma sama kamu aja, yang bener,"


"Kenapa sih?"


"Nggak tau,"


Stela nekat duduk di pangkuan Chandra dan menangkup kedua rahang pria itu, lalu mencium bibir pria itu.


Wangi kopi yang baru diseduh, suara tv yang samar-samar, detik jam yang terdengar pelan, derit sofa, juga suara des-ahan keduanya saat bergerak perlahan di atas sofa, mewarnai pagi mereka selama beberapa saat.


"Kita lihat apartemen kamu saja, aku sudah dapat yang sesuai sisa budget yang dititipkan Pak Artha. Tapi memang untuk bayar meintenance bulanannya kamu harus mulai bekerja sambil kuliah," kata Chandra saat mereka selesai menumpahkan hasrat.


"Benarkah? Ih cepet juga kamu carinya!"


"Lokasinya dekat dengan restoran baru Pak Artha, setelah lihat-lihat, kita bisa mampir makan siang di sana,"


"Oke!" sahut Stela dengan bersemangat.


Chandra mengamati pasangan barunya. Sebenarnya Stela manis kalau kalem begini. Entah darimana dia mengadaptasi sifat angkuhnya yang biasa ditonjolkannya. Padahal hal tersebut malah menjadikannya bahan gunjingan orang-orang.


Mungkin perlahan Stela bisa berubah.


Apa kujadikan pacar saja? Tapi aku malas ikut-ikutan konflik keluarganya. Bagaimana ya? Pikir Chandra galau.