Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 15


Dan pagi hari pun menjelang.


Semalaman tidak bisa tidur karena sakit pinggang, Kevin meminta bantuan ibu untuk menempelkan 4 lembar koyo cabe di punggung dan pinggangnya, lalu memesan taksi online untuk berangkat ke sekolah. Tidak mungkin dalam keadaan begitu dia naik motor besar. Bisa pulang tadi malam saja sudah merupakan keajaiban.


Tak lupa ibunya menghangatkan makanan yang tadi malam dibawa Kevin pulang dari mall untuk bekal ke sekolah.


Di tengah jalan ia baru teringat kalau hari ini ada latihan SNMPTN, semacam tes untuk persiapan menghadapi ujian masuk ke perguruan tinggi bagi siswa Sekolah Menengah Atas agar saat mendaftar dan menghadapi hari H tidak gugup lagi mengisi soal.


Tapi Kevin bahkan ragu ia mau masuk universitas, karena ia ingin bekerja dulu. Baginya, kehidupan kampus hanya membuang-buang waktu karena ijazah bisa didapat dari mana saja, yang penting skil dan kemampuan bekerja. Sialnya, masuk ke dunia kerja di perusahaan bonafit butuh ijazah setingkat universitas, kalau hanya ijazah SMA walaupun SMA Unggulan tetap saja jabatannya akan rendah, untuk dipromosikan ke staf ahli akan merambat pelaaaaan sekali seperti kukang naik ke pohon, kebanyakan berhenti karena galau.


“Anak-anak,” Bu Ida tampak berkeliling di sepanjang barisan komputer sambil mengamati siswanya. Para biang keladi keributan.


Lulusan tahun ini dirasa berat baginya yang sudah berusia 45 tahun, karena ada Kevin dan teman-teman gilanya. Bukan masalah mereka jago di garis depan tawuran, masalahnya mereka berandal tapi otak mereka encer.


Entahlah mereka langganan dukun yang mana biar soal jawaban terisi sempurna.


Kelas yang dimasuki Kasep, Agus dan Kevin adalah Kelas Unggulan, semacam Kelas Percontohan yang dirancang bagi siswa berbakat yang diprediksi akan mengharumkan nama sekolah.


Kalau mereka bertiga sampai terjaring kasus tawuran dan ditahan polisi, dilema juga bagi Bu Ida untuk memberikan skors, karena akan berakibat fatal ke reputasi sekolah yang dipimpinnya.


Memang tidak semuanya pintar di semua mata pelajaran, namun di beberapa mata pelajaran lain mereka cukup handal.


Contohnya Kevin, Matematika, Fisika, Kimia, dan semua ilmu pasti yang membutuhkan rumus adalah keahliannya. Tapi kalau sudah dihadapkan ke soal yang membutuhkan penjabaran, seperti ilmu sosial dan sejarah, dia langsung down. Pokoknya pasti ketiduran saat melihat jajaran kata-kata yang panjang. Apalagi kalau ada kata ‘Sebutkan dan jelaskan alasan...’ sudah diprediksi akan tidak sadarkan diri sampai ujian selesai.


Agus sebaliknya, Ilmu Pasti justru adalah kelemahannya. Ditanya rumus dasar Sin Cos Tangen saja, otaknya bisa error. Padahal baru rumus, belum soalnya. Tapi herannya, untuk Biologi dan Kimia dia ada di peringkat 5 besar. Mungkin di masa depan anak itu akan jadi dokter.


Sedangkan Kasep, keahliannya adalah hafalan, nilainya melejit di sosiologi, ekonomi, hukum politik dan geografi. Kalau beradu argumen dengannya bisa bikin spaneng dengan penjabaran pasal-pasal yang dia tahu, bisa jadi dia rancang sendiri itu pasal, saking banyaknya. Rasanya mustahil dia bisa ingat sebanyak itu. Seandainya suatu saat tertilang polisi, Bu Ida malah kasihan sama polisinya, karena pasti yang berhadapan dengan Kasep adalah komandannya untuk mengimbangi kemampuan ‘berdiskusi keras’ Kasep.


Malas juga membayangkan anak sekampret itu jadi pengacara di masa depan.


Kelas di sekolah Kevin tidak dibagi berdasarkan Jurusan. Semua anak memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai hal, program ini dicanangkan pemerintah untuk percontohan, dan sekolah Kevin adalah percobaannya. Jadi, tidak ada Jurusan IPA atau IPS, semua tumplek di satu tujuan.


“Kerjakan dengan hati-hati, dan perintahkan otak kalian untuk standby di soal ini. Jangan memikirkan hal lain selain soal ujian, biarlah Tuhan yang mengatur urusan lain. Kasep nggak usah pura-pura pinjam pulpen ke kelas lain, soal ujian tinggal tekan keyboard, buat apa butuh pulpen? Kevin, jangan pura-pura pergi ke wc padahal kamu ngerokok di belakang masjid, dan Agus ... please jangan bengong. Sesaji untuk khodam kamu sudah disediakan, kamu bengong pun nggak bakal kesurupan,” kata Bu Ida tegas.


“Kalo pingin pipis bagaimana?” gumam Kevin sambil merengut. Masalahnya jam pertama adalah sesi soal Bahasa Indonesia. Kevin benar-benar takut kalau matanya akan otomatis langsung shutdown. Macam komputer yang VGA dan RAMnya nggak sinkron, pets! Mati sendiri.


“Ini,” Bu Ida mengangkat botol air mineral kosong dan meletakkannya di meja depan. “Lakukan di pojok ruangan. Nggak usah alasan punya kamu nggak muat. Kecuali siswi, siswa tidak boleh ke toilet. Mengerti?”


Walaupun Bu Ida sudah tahu punya Kevin memang tidak muat, tapi bidikan ke lubang botol kan bisa dikondisikan. Lagi pula bu Ida sudah tahu kalau alasan ke toilet memang hanya untuk refreshing dan pelarian.


“Latihan SNMPTN kali ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi kalian, karena SNMPTN tahun ini masih di kategorikan berdasarkan jurusan IPA atau IPS sedangkan sekolah kita tidak ada penjurusan. Nanti pendaftaran jurusan akan disesuaikan dengan nilai kalian di latihan soal. Mengerti anak-anak? Berdoa dulu untuk kelancaran pengerjaan, ingat mencontek adalah tindakan pengecut,”


Ceramah Bu Ida ditutup dengan helaan napas anak-anak yang bernada putus asa.


Baru saja membuka soal pertama, otak Kevin langsung restart.


*


*


"Duuuhhhh," keluh Kevin.


Posisinya sekarang tiduran menyamping di lantai koridor sekolah dengan kepala disangga tas, dan sebelah tangannya ngemil nasi dari kotak bekal.


Makan sambil tidur miring terpaksa dia lakukan karena tiba-tiba dia sangat capek.


"Aku letih Ya Tuhan," keluhnya lagi.


"Baru juga tes Bahasa Indonesia, belum yang ekon..." ucapan Kasep terhenti karena Kevin langsung menendang betis Kasep.


"Nggak usah diingetin, sok jago. Liat besok yang Matematik, nya-ho lu! Gue kaga mau kasih contekan!" gumam Kevin kesal.


"Ih sensi. Lagi PMS lu ye, ngambekan,"


"Dah diem, makan nih!" Kevin menyodorkan kotak bekalnya. Tanpa banyak tanya Kasep langsung mengambil gorengan ayam dan menggigitnya dengan lahap.


"Enak, lu beli di mana?" tanya Kasep.


"Gue beli semalem di mall, pagi diangetin lagi sama nyokap,"


"Hem, jualan beginian tuh untungnya gede ya?Kalo nggak dapet kerjaan gaji UMR, buka usaha beginian aja kali ya. Berapa modalnya ya?" gumam Kasep sambil mengamati ayam goreng di tangannya yang sudah setengah dia gigit.


Kevin langsung duduk tegak. Letihnya langsung hilang diganti dengan rasa kuatir, menatap sahabatnya itu.


"Lu... Siapa yang lu hamilin, Sep?" tanya Kevin dengan wajah panik.


Kasep menatap Kevin dengan tercenung.


"Dari mana lu tahu?" tanya Kasep.


"Ha?"


"Eh?"


"Gue nggak tau, filing,"


"Hm,"


"Beneran?"


"Serius lu nggak tau, Kev? Serius itu cuma feeling lo?"


"Anjay, ya iya lah pikiran gue langsung ke situ! Lu masih muda, masih sekolah, tukang tawuran pula, tiba-tiba drastis kepikiran cari kerja bahkan bikin usaha. Orang lain masih pusing mikirin mau kuliah dimana! Apalagi kalo bukan ada beban yang harus lo tanggung di belakang?!"


"Ya siapa tahu memang gue mau meringankan beban orang tua," Kasep mengangkat bahu sekilas.


"Anak kayak lo emangnya mikirin orang tua? Bokap lu aje lu bentak..." sahut Kevin.


Kasep hanya mencibir membenarkan ucapan Kevin. Dia memang anak kurang ajar, dan Kevin sepenuhnya benar.


Ia pun melirik Kevin dan menghabiskan ayam gorengnya. Lalu menyeruput teh kotaknya dan duduk bersandar di tiang.


"Jangan bilang-bilang Agus, ntar heboh," bisik Kasep.


"Gue bisa bantu apa?"


"Bantu doa aja,"


"Masalah keuangan? Modal usaha?"


"Itu entar aja, belum tentu juga keluarga dia nerima gue yang kayak gini. Keluarga gue nggak melarat-melarat amat sih. Lagipula dia cuma bilang belum haid 2 bulan, siapa tahu cuma kondisi tubuhnya yang berbeda," Kasep memejamkan matanya sambil kembali bersandar.


Mendadak, seluruh beban di tubuh Kevin menghilang.


Kasep memiliki masalah yang lebih serius daripada hidup Kevin. Masalah orang dewasa yang lebih rumit harus dipikirkan dengan seksama dibandingkan masalah cinta-cintaannya Kevin.


Begitu pandai Kasep menyembunyikannya selama ini, dibalik tingkah berandal anak itu.


"Siapa aja yang tahu selain gue? Gue nggak pernah ngeliat pacar lo,"


"Bukan pacar,"


"Terus siapa?"


Kevin menatap ke arah pandangan Kasep. Ia pun menduga cewek Kasep ada di gerombolan adik kelas yang sedang berada di koridor seberang mereka.


Salah satu dari mereka yang sedang menutupi kegundahan hati dengan tawa dan canda, padahal hati ini rasanya ingin bunuh diri karena sesal yang berkelanjutan.


"Sep," desis Kevin, "Lo harus lindungin dia sebisa lo, kasih yang terbaik. Dia pasti juga lebih down dari lo. Masih banyak jalan buat dia seperti kejar paket C atau kursus. Yang penting lo lulus dari sini dengan nilai bagus, tinggal dikit lagi Sep soalnya buat dapet ijazah SMA. Jadi lo bisa cari kerja. Jadi kasir kek, OB kek, yang penting jangan jadi preman!" kata Kevin.


"Iya, pikiran lo dan gue sama," Kasep menggaruk kepala botaknya. "Pasti ada jalan sih, cuma gue kasihan aja sama dia,"


"Bilang ya Sep kalo butuh bantuan gue," kata Kevin.


Kasep pun mengernyit dan menoleh ke arah Kevin dengan curiga.


"Selama ini, dari mana lu dapet duit sebanyak itu? Sekarang lo jarang ngumpul kalo malem, tau-tau besoknya punya hape baru aje," sahut Kasep. "Lu jadi peliharaan tante-tante ya?!"


Kena telak!


Tapi bukan Kevin namanya kalo tak bisa berkelit.


Kevin pun mencondongkan tubuhnya ke Kasep dan berbisik,


"Gesek-gesek badan ke tembok rumah Haji Sueb," bisiknya ke Kasep dengan mimik muka jahil.


"Ha?"


Kevin terkekeh, "Mau tau aja sih lo," dan kembali berbaring di lantai.


"Siaul," gumam Kasep sebal.


"Kak Kevin?" Sebuah suara bening mengalihkan pandangan mereka.


Dian sudah berdiri di dekat Kevin sambil menatap cowok itu dengan pandangan mendamba. "Ada waktu nggak? Aku mau ngomong,"


"Nggak ada, 10 menit lagi masuk ruangan buat tes,"


"Aku tahu loh, rahasia Kak Kevin," desis Dian.


Kevin diam.


Ya iya lah Dian pasti tahu, itu tandanya Mami sudah memperingatkan Dian agar tidak macam-macam dengan 'anak buah' nya.


"Kalau boleh, nanti sore habis tes, kita ketemu dulu ya kak di depan kelasku. Pulang bareng," sahut Dian lagi.


"Kalau gue males gimana? lagian gue juga ada urusan nanti sore,"


Kevin tidak takut diancam. Jelas tidak takut, Kevin memegang kartu AS Bu Ida. Lagipula, tidak ada bukti konkret mengenai aktivitas Kevin di luar sekolah.


Dian pun kehilangan senyumnya.


Kevin akhirnya menghela napas. Ia merasa Dian harus diusir dengan metode keras atau cewek itu akan terus mengganggunya.


Jadi Kevin pun bangkit dan berdiri lalu merangkul bahu Dian dan menggiring cewek itu menjauhi kerumunan.


Kasep sempat melihat keduanya dengan curiga, namun cowok itu memutuskan masa bodo saja dengan kelakuan Kevin.


Karena kalau memang mendesak, pasti Kevin akan bilang sendiri.


Sampai di halaman belakang sekolah dekat gudang, area yang jarang ada orang, namun ada beberapa pasangan yang berpacaran di sana (ehm!) Kevin pun mendesak Dian ke dinding.


"Gue nggak tertarik sama lo," desis Kevin.


"Tapi aku suka kak Kevin,"


"Masih banyak cowok lain yang lebih ganteng dan kaya,"


"Cowok lain udah aku dapetin,"


Kevin mengernyit.


"Gue suka orang lain,"


"Siapa, kak?"


"Yang jelas dia bukan cewek yang hidupnya tergantung dari duit bokapnye kayak elu," Kevin menoyor dahi Dian, "Kan gue udah bilang, gue nggak tertarik sama anak kecil, nyusahin, ngerengek terus kerjanya kayak lo, susah lepasnya! Udah tahu gue bosenan,"


Dian menarik napas dengan gemetar, sepertinya dia menahan amarah.


"Daripada sama elo mendingan gue lakuin sama Mami lo, yang jelas-jelas dadanya lebih gede, udah gitu lebih kaya, lebih berpengalaman dan jelas lebih cantik," gerutu Kevin.


Mental Dian langsung jatuh ke paling dasar relung hati.


Matanya seketika berkaca-kaca.


Saat melihat reaksi Dian, Kevin merasa sudah cukup ia membully Dian.


Apa boleh buat, cewek itu sulit diatur.


Tidak seperti Marisa dan kawan-kawan yang sering membantunya, sehingga Kevin bisa memberikan tubuh sebagai imbalan jasa, Dian dianggapnya belum berguna. Dan cenderung akan menyusahkan hidupnya.


Sekarang saja keberadaan cewek itu sudah mengesalkan, apa lagi nanti.


"Udah ya Non, jangan ganggu lagi. Urusan kita selesai sampai di sini. Lo ganggu gue lagi, gue aduin ke Bu Dewi. Ngerti? Mending lu cari Sugar Daddy aja biar tahu nikmatnya hidup," Kevin berlalu sambil tersenyum sinis.


Meninggalkan Dian yang menatapnya dengan nanar.


"Lu apain anak seleb?" tanya Kasep saat Kevin kembali dan duduk di sebelahnya.


"Ck, gue jadi ngomong hal menyakitkan, kan! Ya gimana kepaksa, dia ganggu gue terus!" gerutu Kevin. "Rasanya kayak gue ngehina nyokap gue sendiri, ngerasa berdosa banget dah gue," cowok itu mengacak-acak rambutnya yang model dari sananya sebenarnya sudah ikal acak-acakan.


Untuk cowok yang sifat dasarnya lembut seperti Kevin, memaki perempuan bukan hal favoritnya. Hal itu semata-mata dilakukan untuk membela diri. Lebih baik pahit diawal daripada nantinya ia sendiri tersiksa, begitu prinsipnya.


"Ngomong kasar lu ye, pasti," gumam Kasep.


"Cewek nggak tahan kalo dibilang saingannya lebih cantik. Apalagi kalo masalah body shaming, dia sensitif dan langsung insecure," kata Kevin sambil memasukan kotak bekalnya yang sudah habis tandas dimakan Kasep. "Tapi gue nggak tahu lagi gimana cara ngusirnya,"


"Ya udah lah, itu resikonya Dian," kata Kasep sambil menepuk-nepuk punggung Kevin memberi semangat dan merangkulnya.


Sebenarnya tindakan Kasep sudah biasa dilakukan.


Tapi tiba-tiba ingatan Kevin langsung lari ke kejadian kemarin. Ke sosok maskulin tapi beloknya si Jo.


Kevin pun langsung berdiri dan menepis lengan Kasep dengan kasar.


Sampai-sampai Kasep melotot karena kaget.


"Apa?!" sahut Kasep.


"Eeeeeer..." gumam Kevin. Bulu di sepanjang lengannya langsung meremang. "Jangan pegang-pegang gue, gue ke toilet dulu!" dan ia pun kabur dari sana.


"Apa sih kampret nggak jelas!!" seru Kasep kesal.