Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Ngambek Teroooossss


Artha menatap Stela tanpa ekspresi, lalu ke dua orang cowok yang ada di sebelah Stela, mengira-ngira yang manakah Risman yang di-crush Wana. Lalu pria itu menatap Wana. Mencari tahu dari tatapan Wana sebuah sinyal, tapi nihil.


Wana sibuk makan ( hehe).


Gadis itu sedang berusaha menguasai emosinya. Nggak lucu kalau meledak ditengah-tengah adegan sinetron. Baginya, Stela sama menyebalkannya dengan Gwen. Bisa-bisanya sahabatnya itu tak percaya dengannya.


Dan yang paling menyebalkan dari semua ya sebenarnya Artha. Reaksi pria itu terhadap permintaan Wana benar-benar TIDAK ROMANTIS (capslock terbang, udah bukan ikan terbang lagi).


Tahu nggak sih Om, walaupun sepele, menye-menye dan memang terkesan gombalisme, wanita itu usia berapa pun suka dirayu, dialem, dipuji-puji kau yang tercantik terindah ter ter ter... Kalau perlu berlutut sambil mempersembahkan bunga sepatu metik pinggir jalan. Sambil bilang : Adinda, maukah kamu menikah dengan Kakanda?


Ini sih, ngomong ayo nikah udah kayak terpaksa, gara-gara ogah kecipratan air pel-an!


Tau gitu siram semua seember ke mukanya! Hih!


Wana sampai-sampai menekan garpunya yang dipakai untuk menusuk telur mata sapi saking kesalnya.


Lalu kalem makan lagi.


"Papa, kalau aku boleh tahu, ada hubungan apa dengan si Eig... Eh, Wana?" tanya Stela takut-takut.


Wana masih cuek. Biar saja itu urusan Bapak-anak. Toh Wana juga sudah memperkirakan hal ini akan terjadi saat Stela tahu. Karena hal ini juga, tadinya Wana enggan mendekati Artha.


Ya tapi perasaannya tidak bisa dibohongi.


Dia juga jatuh cinta dengan si Om judes!


Walaupun sebenarnya seru sih melihat raut wajah Stela yang pucat.


"Wana pacar Papa, sebentar lagi kami akan menikah," kata Artha.


Terdengar pekikan kaget Stela dan Gwen.


Mereka masalahnya juga mengenal Artha sebagai investor terbesar di kampus tercinta ini, yang baru saja digembar-gemborkan Stela.


Gila ini sih!! Ternyata Wana berhasil! Waaaaah, apa gue ikutin aja ya jejaknya. Modalnya cuma 25juta buat nge-gaet Om-om kaya!


Begitu pikiran Gwen dengan mata berkilat-kilat.


Tapi Si Omnya Wana kok ganteng yak?! Nemu dimana dia?! Pikir Gwen lagi. Karena setahunya, konglomerat jarang yang ganteng. Yang ganteng biasanya malah motivator atau sales kartu kredit.


"Apa Pah?!" Stela meminta konfirmasi. Ia menatap Wana seakan Wana virus. Kemungkinan sumpah serapah sudah tercipta di benaknya. Bisa jadi sekarang dia menuduh Wana mengenakan pelet, pelaris, atau open BO. Pokoknya kegiatan rendah semacam itu.


Ya sebenarnya prosesnya memang nyerempet-nyerempet bahaya sih.


"Kamu sudah dengar barusan," desis Artha tegas. Judesnya keluar. Artha memang benci basa-basi dan hal drama.


Dan saat ini, kebetulan dia sedang jatuh cinta sama drama queen juga. Makanya dia nggak butuh adegan drama lain, bisa-bisa ubannya berubah jadi item.


"Tapi, bagaimana bisa?" Stela semakin panik.


"Panjang kalau diceritakan," kata Artha.


"Aku udah selesai makan. Ayo ke pameran, tapi jangan kelamaan jam 3 aku ada asistensi," sahut Wana sambil bersiap menegak teh manisnya.


No jaim-jaim girl.


"Itu kenapa kalung kamu ada di situ?!" tanya Artha sambil menatap tangan Gwen.


"Eh, saya cuma lihat-lihat kok Om," Gwen langsung cepat tanggap saat menyadari kalau kalung berlian yang tadinya akan dipakai melunasi hutang adalah pemberian Artha. Sudah pasti nilai jualnya jauh lebih tinggi daripada hutang Wana.


"Itu aku kasih ke Gwen untuk melunasi sisa hutangku ke dia," kata Wana.


"Hah?" dengus Artha. Pandangannya bagai tak percaya kalau Wana sampai melakukan hal itu.


"Kan kamu berikan ke aku? Mau aku apakan juga terserah aku kan?" Wana melenggang dari sana masih dengan wajah merengutnya.


Artha mengambil kalung dari tangan Gwen.


"Berapa sisa hutangnya?" Bisik Artha.


"Eh? 25juta Om,"


"No rek kamu?"


"Hem..." Dan Gwen pun memberikan nomor rekeningnya.


"Papa, bagaimana denganku?" tanya Stela kuatir.


"Kamu tanya ke Papa?"


"Ya ke siapa lagi?"


"Dari situ kamu tahu artinya kan?" Artha balik bertanya.


Ia yakin Stela sudah cukup usia untuk mengetahui maksud teguran yang Artha berikan.


Lalu setelah semua selesai, Artha pun mengejar Wana yang ngambek.


*


*


Tips ke 9 (eh, atau 10 ya? Lupa!) : Bagaimana kalau pacar kamu adalah Om-Om seusia bapakmu?


Pastikan stok sabar, penuh.


Yakinlah cinta akan menyatukan kalian berdua selamanya. Ingat film Twilight, Edward Cullen (90) dan Bella Swan (17) terpaut 73 tahun. Walau salah satu dah jadi vampir, yang satunya ikutan juga jadi vampir.


Plis, jangan tanya eyang vampir apa kabar, Otor nanti galau.


Trik :


- Pelajari benar-benar akta cerai dengan istri pertama. Terutama harta gono-gini diantara mereka. Jangan sampai kamu terseret hal yang merepotkan hanya karena jatuh cinta.


- Jangan ikut campur masalah rumah tangga si Om. Yakinkan saja beliau kalau kamu selalu ada untuk memeluknya dengan kondisi wangi dan lembut.


-Nggak usah minta ini itu disamakan dengan priviledge istri pertama. Sudah pasti semua butuh proses. Kalau si Om sayang kamu, dia juga akan ngeh kok dengan kebutuhan kamu.


- Kamu bukan pelakor, kalau si Om statusnya sudah duda di Pengadilan Agama. Kalau dia punya istri siri, segera akhiri cinta kalian. Itu berarti kamu tepuk tangan cuma sebelah alias tepuk tangan sama angin. Pegel doang, bunyi nggak.


- Kalau si Om punya anak yang seusia kamu, tetaplah bersikap baik tapi jangan juga ngotot mendekat ingin diterima. Sudah pasti awalnya kamu akan dicibir dan dipandang jijik. Coba bayangin bapak kamu sendiri adegan di ranjang dengan wanita muda seusia kamu. Kan jadinya mual.


Makanya, slow aja, santuy. Tetep senyum, kalo diajak ya ikut, kalo nggak diajak ya jalan-jalan sendiri.


-Yang penting dari yang penting, TETAPLAH CANTIK BERCAHAYA. Silaukan semua dengan pesonamu. Buat semua berpikir : Ya pantes si Om jatuh cinta.


Rumus baku. Kecantikan dari luar bisa dibuat-buat, kecantikan dari dalam bisa diusahakan.


Wkwkwkwkwk. Stay positif, kecuali positif penyakit.


*


*



"Wana," Artha berhasil menyusul Wana dan menggandeng tangannya.


"Wana pelan-pelan dong, kamu kenapa sih?" keluh Artha.


Sementara banyak mahasiswa yang langsung menghentikan aktivitas mereka dan menonton drama pagi secara live.


Wana berbalik sambil pasang tampang marah, "Jujur! Kamu mau nggak nikah sama aku?!"


Artha menghela napas.


"Kan tadi aku bilang Iya,"


"Tapi itu kan karena kudesak! Sebenarnya kamu gimana?"


"Kamu nih gimana sih? Kalo kujawab nggak siap nanti kamu marah-marah, kujawab iya kamu ngomel. Aku bingung maunya kamu gimana!"


Wana diam.


Lalu menghela napas.


"Bener juga sih,"


Lalu melanjutkan perjalanannya menuju parkiran.


"Wana, plis dong jangan ngambek terus. Aku pusing,"


"Aku juga pusing. Butuh eskrim,"


"Hah?"


"Sama obat maag kayaknya," Wana pun langsung belok ke arah warung terdekat. Mau beli paddlepop dan promag.


"Ampun deh, begitu punya calon istri tingkahnya udah kayak mertua," keluh Artha sambil menggaruk kepalanya.