Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 7


Nirmala masuk ke dalam apartemennya dalam keadaan letih. Wanita itu meletakkan kunci mobilnya di atas kabinet dan tas tangannya di sebelahnya, lalu ke arah kulkas untuk mengambil jus jeruk kemasan.


Cairan kekuningan pekat tersebut ditumpahkannya ke dalam gelas kaca, lalu Nirmala pun menegaknya. Air dingin dan manis langsung memenuhi tenggorokannya.


Lega rasanya.


Lalu ia berdiri di tengah ruangan dan melayangkan pandangan ke segala arah.


Di sinilah ia berada sekarang, apartemen. Insentif yang ia terima dari proyek Artha cukup untuk membeli apartemen seluas 33 m2 di kawasan Jakarta Utara full furnish pula! Mungil namun cukup untuk ia sendiri, dan masih banyak sisanya.


Dalam hati ia merasa sangat bersyukur akan berkah Tuhan yang tidak meninggalkannya saat merasa sendirian. RencanaNya memang selalu lebih hebat.


Manusia boleh saja menangis atau mengeluh saat menghadapi persoalan hidupnya, namun harus selalu ingat bahwa masalah yang datang adalah bagian dari RencanaNya. Justru masalah yang datang yang diluar nalar dan logika manusia, adalah pertanda bagi manusia kalau Tuhan itu ada, dan selalu ada. Kehebatannya untuk mengatur hidup dan mati manusia dengan sekali jentikan jari. Kun Fayakun kalau kata Orang Muslim. Dan Nirmala sepenuhnya setuju dengan itu.


Berkas perceraiannya sudah masuk ke Pengadilan Negeri. Dan sejak Nirmala mengabarkan berita itu ke HRD untuk memutus Asuransi Kesehatan Jaka yang ikut dicover kantornya, banyak sekali pria yang menggodanya. Nirmala hanya sejengkal untuk menyandang status ‘Janda tanpa anak’ yang penampilannya memikat.


Nirmala tidak berusaha tampil seksi, tapi dadanya memang lumayan besar. Cupnya D dan tubuhnya langsing, sehingga kesannya membusung. Sekitar 10 tahun lalu ia memang sangat gemuk, cenderung obesitas. Nirmala diet habis-habisan karena akan menikah dengan Jaka. Saat Nirmala sudah kurus, dadanya tidak ikut mengecil. Sementara sisa kulit yang menggantung ditheraphy dan dihilangkan melalui operasi plastik. Gaun putih impiannya pun bisa ia kenakan, dan para tamu terkesan dengan perubahan drastis Nirmala.


Kenapa Nirmala susah payah?Karena Jaka banyak yang suka.


Penampilan Jaka bagaikan eksekutif muda sukses walaupun ia sebenarnya pengangguran. Kerjanya mengutak atik motor besarnya, lalu off road ke luar daerah bareng teman-temannya, kadang ia juga trail ke gunung, sering ia mengulas mengenai tempat-tempat alami yang jarang dikunjungi manusia. Dan sebagian besar videonya tanpa baju atas. Menampilkan undakan perut seksinya.


Nirmala berusaha mengimbangi semua itu. Ia bekerja keras, gajinya habis untuk Jaka. Ia hanya staff rendahan waktu itu. Penghasilannya dua kali lipat UMR, tapi sering untuk makan saja harus indomie telur nasi.


Jaka sering meninggalkannya travelling, Nirmala memakluminya karena pria itu tidak bekerja. Panas rasanya melihat komentar-komentar di instagram Jaka, sebagian dari cewek-cewek seksi dengan gaya vulgar yang lidahnya tak sopan. Tapi dengan jumlah follower yang lumayan, Jaka bisa membantu perekonomian keluarga.


Walaupun sedikit, dan tidak tetap jumlahnya.


Untung saja Nirmala sudah diangkat menjadi karyawan tetap.


Dalam hatinya saat melihat apartemen barunya ini, ia pun merasa untuk apa rumahnya ia pertahankan? Toh kalaupun ia dapatkan kembali, ia tidak akan sudi tinggal di sana lagi. Hanya akan membawa kenangan buruk!


Jaka ternyata kerap membawa pacar-pacarnya ke rumah mereka, sementara Nirmala harus kerja lembur bagai kuda. Jijik rasanya kalau membayangkan ranjang hangat mereka ternyata bekas dipakai 'main' dengan perempuan lain di siang harinya.


Mungkin rumah itu akan ia jual saja agar tidak terjadi konflik berkepanjangan.


Kini semua itu sebentar lagi akan berakhir.


Babak baru kehidupan Nirmala akan dimulai.


Tapi,


Rasanya sendirian, dia mulai kesepian.


Apalagi dia termasuk introvert. Tidak memiliki banyak teman untuk hangout.


Juga ... Hasrat seksualnya belum tersalurkan. Rasanya emosi memuncak saat melihat pasangan yang bergendangan tangan di jalan. Atau saat menonton film-film romantis. Iri melandanya, dan nafsunya memuncak. Nirmala tidak tahu kemana harus mencari pelampiasan.


Ponselnya berdenting, notifikasi pesan singkat dari customernya.


"Bu Nirmala, sepertinya saya tertarik dengan aset yang ditawarkan kemarin. Saya akan bayar cash termasuk biaya notarisnya. Namun karena minggu depan saya ke Amerika, bisakah proses sertifikatnya dipercepat?"


Nirmala tersenyum senang.


Rasanya capeknya langsung hilang. Dari rumah yang ditawarkan, Nirmala menerima 1,5% sebagai fee. Dan harga rumah yang akan dibeli senilai lima miliar.


"Besok saya ke kantor Bu Dewi boleh? Kita bicarakan teknisnya bersama Notaris," kata Nirmala membalas pesan customernya.


*


*


Nirmala dengan wajah ceria membereskan dokumen yang selesai ditandatangani customernya.


Bu Dewi, customernya kali ini adalah selebritis papan atas. Suaminya pengusaha muda yang lumayan sukses.


Ia membeli rumah kavling di area Cibubur untuk ditempati tantenya. Dan Hebatnya, Bu Dewi membelinya dengan cash.


Tampak kacamata Dior jutaannya bersinar terkena pantulan cahaya. "Bu Nirmala sudah berkeluarga?" tanyanya basa-basi. Mereka sedang santai selepas transaksi jual beli rumah, dan Notaris sudah pergi untuk mengurus administrasi di BPN setempat.


"Owh! Sori," desis Bu Dewi. "Sejak kapan menjanda?"


Kepo amat sih, gerutu Nirmala dalam hati. "Sedang dalam proses di Pengadilan Negeri,"


"Sudah siap menjalin hubungan lain? Nggak trauma sama laki-laki kan?"


"Hem, trauma sih Bu sebenarnya. Karena saya sangat mencintai mantan suami, tapi pelakornya sudah hamil duluan,"


"Wah wah wah," Bu Dewi melepas sunglassesnya dan menatap Nirmala dengan prihatin. "Itu sih disaster,"


"Begitulah, jadi terbayang kan bagaimana traumanya saya?"


"Hem, Bu Nirmala kesepian tidak? Saya bisa sediakan tanda terima kasih,"


"Hah?"


Dan, terjadilah tukar menukar nomor telepon pribadi beberapa saat kemudian (selama ini mereka berkomunikasi menggunakan nomor telepon bisnis). Cepat sekali prosesnya.


Bu Dewi mengirimkannya sebuah foto anak laki-laki, kelihatannya berusia belasan tahun. Katanya harganya paling mahal tapi servisnya paling oke.


Nirmala boleh membookingnya setengah harga kalau merasa kesepian.


Dan semua ini rahasia.


Nirmala sampai terperangah tak bisa berkata-kata.


Saat pulang kantor pun, Nirmala menatap foto pemuda itu. Tampang bengalnya bagaikan terpatri di ingatan Nirmala.


Membuat wanita itu langsung dihadapkan dengan fantasi liar yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.


*


*


“Kevin!!” Seru Wana saat melihat Kevin bersama Agus dan Kasep keluar dari lift barang. Gadis itu langsung memeluk Kevin sampai cowok itu mengeluarkan keluhan ‘ugh!’ saking antusiasnya. “Malaikat penyelamat gue!” seru Wana sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kevin.


“Sesak, Dasima!” keluh Kevin sambil berusaha membebaskan diri.


“Duuh, kakak seneng banget ngeliat kamoooh!” Wana mencubit kedua pipi Kevin dengan gemas.


“Kakak? Gue bukan penjual henpon di ITC! Boleh henponnya kakaaaaaa,” gerutu Kevin sambil menepis tangan Wana.


Sementara Kasep dan Agus menatap Wana dengan pupil mata membesar, bagai terkesima.


“Wow, cantik banget!” bisik Kasep ke Agus.


“Si Kevin kenal dari mana sih yang gini-ginian?!” gerutu Agus ke Kasep.


“Secantik ini aja masih dia jutekin, gue bingung seleranya Kevin tuh yang kayak apa,”


“Sekelas Aminah aja masih dia mainin, yang sekelas Siluman Ular Putih begini dia tepis-tepis, gue juga bingung Sep,”


“Homo kali dia?”


“Kalo homo seganteng Kevin gue juga bakalan tergoda kali,”


“Hoy!” Kasep memukul kepala Agus untuk menyadarkannya.


“Lah! Salah dimana gue?!”


“Ya lu bener tapi gak usah diomongin!”


“Dih!”


“Ayo sini cepetan, kita kerja. Bisik-bisik julid melulu!” kata Kevin.


“Kuy!” seru Agus dan Kasep berbarengan.