
Nirmala membawa Jaka ke sebuah cafe kecil yang berada di samping pintu masuk aula gedung. Dalam hatinya Nirmala sudah menduga kalau Jaka pasti ingin merayunya dengan tujuan yang menyebalkan, seperti biasa.
“Bagaimana bapak dan ibu?” tanya Nirmala berbasa-basi.
“Oh, mereka di rumah sakit,”
“Semoga cepat sembuh,” kata Nirmala langsung.
Jaka menatap Nirmala sambil mengerutkan keningnya, sebenarnya ia menunggu Nirmala berbicara selain kata itu, seperti sedikit menunjukan empati atau paling tidak, mau tahu dengan keadaan orang tuanya. Tapi Nirmala tampaknya tidak terlalu peduli. Bahkan tidak bertanya sakit apa atau bagaimana keadaannya.
Lalu keadaan hening.
Nirmala hanya menatap Jaka, duduk dengan santai sambil sesekali menatap orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka.
“Ada yang kamu butuhkan dari aku sekarang? Sampai kamu rela jauh-jauh ke kantorku?” ada nada sindiran di nada bicara Nirmala.
Nirmala sekuat tenaga berusaha tetap bersikap baik kepada Jaka, walau pun rasanya ingin sekali tangan menampar pipi pria di depannya.
“Kamu bahkan tidak bertanya keadaanku?”
“Untuk apa?”
“Kita sudah hidup bersama selama-”
“Lalu kenapa kamu mengkhianatiku? Hidup bersama selama itu seharusnya cukup untuk memahami satu sama lain,” Nirmala berbicara dengan cepat namun penuh ketegasan.
Jaka bungkam.
“Tanpa bicara pun aku sudah tahu keadaan kamu. Di manapun kamu berada, yang ada hanya kegagalan,” kata Nirmala.
Lalu keadaan sunyi lagi untuk beberapa saat.
“Aku sebenarnya tahu kenapa kita gagal. Pasti karena orang tuaku terlalu mengatur kita. Tapi sekarang mereka di rumah sakit, Nirmala,”
“Jangan berpikiran jelek, aku tidak menuduh orang tuamu. Mengikuti mereka adalah pilihan kamu, dan sekarang kamu malah menyalahkan mereka atas pilihan yang kamu ambil sendiri,”
“Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti,”
“Kebetulan mereka sedang sakit kan? Silahkan pulang dan rawat mereka,”
“Nirmala...”
“Langsung saja Jaka, berapa yang kamu butuhkan? Aku hanya punya sedikit uang untuk sumbangan ke kamu, karena mau ku tabung untuk biaya sekolah anakku kelak. Calon suamiku bilang aku tak usah capek-capek bekerja, tapi ya paling tidak aku punya andil di rumah tangga,”
Jaka menatap Nirmala dengan terkesima. Dalam hatinya ia membatin, siapa wanita di depannya ini? Nirmala belum pernah berbicara sebanyak dan selugas ini di masa lalu. Wanita itu selalu kalem dan menurut.
“Kamu sudah berubah,”
“Aku tidak berubah... hanya selama bersama kamu, aku berusaha menahan diri. Aku tidak menjadi diriku sendiri,”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin memberikan kamu yang terbaik. Dan terus terang saja, sebagian diriku tidak baik, jadi tidak kutunjukan padamu. Ternyata hasilnya mengecewakaan,”
“Kalau kamu dari awal-”
“Aku berikan yang terbaik ternyata balasannya aku justru diremehkan. Tapi kalau kutunjukan diriku apa adanya apakah itu menjamin hidupku juga akan lebih baik?” potong Nirmala.
Jaka hanya diam.
Nirmala kembali menatap ke arah luar jendela dan mengamati suasana di sekitar mereka.
Sungguh, dirinya yang sekarang begitu muak melihat mantan suaminya itu.
Juga, ada perasaan amarah.
Marah kepada dirinya sendiri, kenapa tidak lebih menyayangi diri sendiri dulu? Nirmala entah bagaimana lupa kalau seseorang yang benar-benar mencintainya pasti akan menerimanya apa adanya.
Seperti Kevin.
Nirmala ingin pertemuannya dengan Jaka berakhir dengan cepat. Ia tidak butuh basa-basi busuk lagi. Ia tidak peduli keadaan orang tua jaka, tidak peduli kabar pelakor yang ternyata hamil anak orang lain, tidak peduli Jaka mau jungkir balik. Jadi...
“Rekening kamu masih yang lama?” tanya Nirmala kemudian.
“Masih,”
“Ini yang terakhir. Aku menikah sebulan lagi. Dan setelah menikah aku mau resign, jadi pemasukan hanya dari suamiku. Tidak mungkin aku memakai uangnya untuk sumbangan sukarela ke mantan suamiku, jadi kuharap kamu gunakan baik-baik kenangan terakhir dariku,”
“Aku menemuimu bukan hanya uangmu, Nirmala,”
“Dan aku tak ingin kembali padamu.” potong Nirmala.
Kena telak. Karena memang itu yang diharapkan Jaka. Menjalin kembali kehidupan rumah tangga dengan Nirmala.
“Ada atau tidak ada orang tuamu, kamu akan tetap seperti ini. Dipikir aku tak tahu wanita-wanita lain di belakangmu? Mereka juga andil orang tuamu? Tidak kan?!”
Jaka tidak menemukan wanita yang seperti Nirmala di sekitarnya. Karena Nirmala begitu sempurna dalam mencintai seseorang. Wanita kalem ini akan mencintai pasangannya sepenuh hati. Suatu kerugian orang yang dengan egoisnya mengkhianatinya. Kalau saja Jaka juga benar-benar mencintai Nirmala, pasti keluarga mereka akan begitu damai.
Karena laki-laki yang benar-benar mencintai istrinya pasti memiliki cara sendiri untuk membuat istri dan orang tua mereka hidup rukun. Ia tidak akan bingung saat diberi pertanyaan : pilih istri atau orangtuamu? Ia akan senantiasa memilih keduanya sekaligus.
Lalu sebuah sentuhan lembut di bahu Nirmala.
Wanita itu menoleh.
Kevin sudah datang.
Ah! Sudah selama itukah ia di cafe ini bersama Jaka? Sampai-sampai Kevin datang ia tidak sadar.
Kevin menatap Jaka, Jaka pun memandang Kevin dengan bertanya-tanya.
Kevin tahu siapa laki-laki di depannya. Dan juga ia jadi tahu alasan Nirmala tidak menjawab teleponnya yang mengabari kalau Kevin sudah di basement kantor Nirmala dari 10 menit yang lalu.
Dari pundak Nirmala yang tegang, Kevin tahu kalau Nirmala mati-matian menahan emosinya.
“Kabari aku kalau sudah selesai, aku di-”
“Aku sudah selesai kok, Sayang,” kata Nirmala gamblang menyebut Kevin dengan panggilan penuh cinta.
“Kamu yakin?” tanya Kevin. Nirmala beranjak dan mengalungkan tangannya di lengan Kevin. Meminta supaya Kevin membawanya pergi dari situ.
“Ini pacar kamu? Kamu udah putus asa kayaknya.” Jaka terkekeh mengejek. “Aku masih bisa menerima kamu kembali, tidak perlu berpura-pura meminta berondong untuk jadi pacar bohongan kamu untuk membuatku cemburu,” kata pria itu sinis, ia menatap Kevin sambil memicingkan mata.
“Dia memang masih muda. Tapi dia jauh lebih baik dari pria yang usianya sudah lebih tua tapi perilakunya kekanak-kanakan,” kata Nirmala sambil tersenyum.
Dan mereka berdua pun pergi dari sana setelah Nirmala melemparkan beberapa lembar uang berwarna merah untuk biaya ngopi Jaka di cafe itu, ke atas meja.
*
*
Kevin menutup telinganya dengan sabar dengan kedua telunjuknya sambil mengerutkan mulut. Sesekali ia juga mengerutkan alisnya karena merasa terganggu karena masih bisa mendengar suara yang menyusup melalui sela-sela jari.
Namun ia tetap sabar.
Sudah 15 menit Nirmala berteriak sekencang-kencangnya di dalam mobil, melepaskan semua amarahnya.
Kevin bahkan tidak ingin mendengar kalimat apa saja yang keluar dari bibir wanita itu. Sudah pasti bukan hal indah.
Yah, lagipula, berteriak sekencangnya untuk melepaskan stress adalah ide Kevin. Tapi pemuda itu tidak menyangka kalau suara Nirmala akan naik beberapa oktaf.
Dan saat wanita itu terengah-engah mengatus napasnya sambil menatap nanar ke depan, Kevin baru berani melepas sumbatan telinganya.
“Sudah lega Bu Dierja?” tanya Kevin takut-takut.
“Minum,” suara Nirmala serak.
Kevin membuka tutup botol teh kemasan di tangannya dan menyerahkan ke Nirmala. 350ml Habis dalam sekali tarikan napas.
Nirmala menghela napas lega.
Diam beberapa saat.
Lalu menarik napas lagi.
“Dasar ***! **** **** ****!!” (bintang di langit, kerlip engkau di sana...)
Dan berulang sampai 3 kali lagi.
Tampaknya wanita itu benar-benar kesal.
“Aku kok seneng ya dengerin kamu maki-maki orang lain,” kata Kevin sambil menyangga kepalanya di bahu kursi, menghadap ke arah Nirmala.
“Maksudnya?”
“Kamu terlihat lebih seksi,” kata Kevin lagi. Kali ini senyumnya dikulum. Tanda kalau dia lagi mikir jorok.
“Kamu beruntung karena aku nggak ngata-ngatain kamu,”
“Mau ngata-ngatain aku juga nggak papa kok,”
“Jangan gila, bocah gendheng,” Nirmala menoyor dahi Kevin.
“Kenapa kamu ngomongnya persis Bu Susan sih?!”
“Ya memang aku meniru beliau,”
“Aku k0nak, pulang yuk,”
“Hadooooh!”
*
*
Nirmala membuka kunci apartemennya dengan terburu-buru, tangannya gemetaran sampai-sampai kuncinya jatuh bergemerincing. Kevin meraih pinggang wanita itu dan menariknya mendekat lalu memeluknya sambil menciumi lehernya.
“Makanya ganti yang pake smart key dong sayang! Udah zaman Gen Z pada kawin, kamu masih pake kunci gembok aja!” Kevin menggerayangi dada Nirmala dan meremasnya dengan gemas.
“Bawel ah! Jaman sekarang pake kunci gembok, Gen Z bingung cara ngebobolnya! Nggak bisa di hack,”
“Masa?”
“Nggak tau aku asal ngomong aja. Bentar hih!” Nirmala meraup wajah Kevin dengan tangannya dan mendorongnya.
“Yaaaah tegaaaa!” protes Kevin.
“Aku nggak fokus nyari kunci kalo kamu gerilya melulu!”
"Nggak tahan, hehe," bisik Kevin di telinga Nirmala. Sementara tangannya sibuk membelai dada wanita itu dan tangan yang satunya menahan pinggangnya supaya Nirmala tetap berdiri.
Nirmala melenguh nikmat dan mengangkat kunci lalu memicingkan mata berusaha mencari kunci dengan diameter terbesar.
Ketemu!
Lalu ia berusaha menahan hasratnya dan memasukkannya ke lubang kunci.
Kemudian gerakannya terhenti saat ia merasakan tangan Kevin menyusup ke paha atas dan menyelipkannya ke lipatan pantynya. “Jangan dimasukin di sini, Dasar cowok gila! Nanti di lihat tetangga,” Nirmala menepis tangan Kevin dan mencubit pinggang Kevin.
“Tetangga kamu kan aku,” Kevin mengusap pinggangnya yang perih sambil meringis. Lalu memeluk Nirmala lagi.
“Tetangga yang lainnya!”
“Yang lain pintunya kedap suara. Itu ada om-om yang suka bawa ‘ayam’ di ujung sana, aku nggak pernah denger suara ho’ohnya padahal pas di koridor rame, pas mereka masuk sunyi senyap kan nggak mungkin di dalam unit mereka semedi nyari wangsit,”
“Mulut kamu lemes banget sih!”
Pintu apartemennya terbuka mereka berdua masuk dengan cekikikan
"Ya Ampun, hampir aja aku dobrak pintu ini!" sahut Nirmala sambil kembali mengunci pintu itu.
“Lain kali nggak usah pakai pintu, pakai gorden aja,” Kevin cekikikan.
Pemuda itu mendesak Nirmala ke meja terdekat, mengangkat rok wanita itu supaya ia bisa memposisikan tubuhnya yang besar ke pelukan Nirmala. Mereka berciuman dengan panas, saling menautkan lidah dan merasakan aroma masing-masing.
Astaga rasanya luar biasa saat berciuman dengan orang yang benar-benar disayang. Pikir Nirmala.
Tangan Kevin kembali menyusup ke dalam kain segitiga tipis dan membelainya dengan posesif. Nirmala melenguh nikmat dan mengangkat wajahnya, membiarkan leher jenjangnya bebas. Kevin meraih leher itu dengan bibirnya dan menyesapnya. Beberapa detik kemudian bibirnya mulai turun ke area dada Nirmala.
"Buka, sayang," Perintah Kevin tak sabar.
Nirmala tertawa lalu mendorong Kevin dengan kakinya menahan dada pemuda itu.
"Jangan di sini dong," Ia setengah berlari menjauh dari Kevin namun telunjuknya memberi isyarat supaya Kevin mengikutinya.
Nirmala meloloskan gaunnya kebawah. Kini ia hanya berbalutkan bra dan panty putih berenda.
Kevin menyeringai dan menggigit bibirnya tanda ia gemas melihat Nirmala ceria seperti itu. Aura wanita di depannya ini terpancar, bercahaya dan menyilaukan. Apalagi kalau sifatnya girang seperti gadis muda begini, Kevin semakin tidak tahan untuk tidak merengkuhnya. Pemuda itu akhirnya membuka kaosnya ke atas sambil mengikuti langkah Nirmala.
Wanita itu sudah berbaring di ranjangnya, menunggu Kevin sambil mengamati gerakan pemuda itu. Otot dada dan perut Kevin memang belum terbentuk sempurna, seperti khas anak muda zaman sekarang yang cenderung kurus. Namun Nirmala tahu persis kekuatan dan kerasnya dada bidang Kevin bagaikan dinding.
Hanya menunggu waktu sebentar sampai Kevin menjadi pria seutuhnya.
Nirmala berguling di ranjang. Tubuh langsing dan dadanya yang besar menyembul dari balik br4-nya membuat birahi Kevin meninggi. Ia menghampiri Nirmala bagaikan singa yang bersiap menerkam buruannya. Lalu melorotkan celana jeansnya. Kini tersisa hanya boxer hitam yang membuat Nirmala menelan ludah, terlihat jelas bayangan anggota tubuh yang paling dinantikan wanita itu. Ukurannya di atas rata-rata pria, padahal belum sepenuhnya menegang.
Kevin merengkuh wanita itu dengan mudah dan mereka berciuman dengan panas. Beberapa kali, sampai akhirnya pemuda itu memasukan tubuhnya ke dalam Nirmala.
Kali ini tidak ada gaya aneh-aneh.
Kevin ingin fokus ke Nirmala, hanya ke wanita itu. Hanya ke tubuh sintalnya.
*
*
Beberapa minggu setelahnya.
AKP Suraji menghampiri Kevin dan memeluknya. Pria itu juga menepuk-nepuk punggung Kevin untuk menenangkannya.
Lepas sudah beban di hatinya saat ini. Setelah beberapa kali mengikuti persidangan, akhirnya Effendy Ghozali dijatuhi hukuman 20 tahun, dan rekannya Ijal dijatuhi hukuman kurungan 30 tahun.
AKP Suraji sangat mengerti kalau Kevin saat ini masih labil. Ia bisa merasakan kalau pemuda yang dipelukannya saat ini sepanjang persidangan berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.
Apalagi saat adegan CCTV ditayangkan untuk diperlihatkan ke juri, Kevin hanya bisa menunduk.
Pengadilan itu berlangsung tertutup, dan ada kemungkinan banding dari terdakwa. Namun pengacara sudah memastikan kalau pun banding, paling tidak, pengurangan hukuman hanya beberapa tahun saja, karena bukti-bukti di lokasi sudah jelas adanya.
Aminah, yang kini sudah menjadi istri ketiga juragan tebu, menghampiri Kevin bersama Haji Sueb.
"Kevin," sapa Pak Haji Sueb. Wajahnya tampak sedih sekaligus menyesali kejadian ini.
"Pak Haji," Kevin meraih tangan Haji Sueb dan menempelkan punggung tangan Pak Haji ke dahinya.
"Saya benar-benar menyesali yang terjadi sampai tak tahu lagi harus bicara apa," kata Pak Haji Sueb.
"Cukup doakan ibu saya saja, Pak," gumam Kevin.
"Mas Kevin... aku minta maaf. Ini gara-gara aku, selalu saja aku bikin masalah, uhuk!!" Aminah tampak terisak.
Kevin hanya menghela napas, begitu pun Haji Sueb dan AKP Suraji.
Bagaimana pun semua ini adalah takdir. Tak ada yang salah dan yang benar.
"Aminah..." panggil Kevin.
"Y-ya Mas?" Aminah sampai sulit bicara karena sesenggukan.
"Mulai sekarang jalani hidup kamu dengan ikhlas dan sebaik-baiknya," kata Kevin.
"I-i-iyaaaaa Maaaasss..." gumam Aminah.
Kevin melirik ke seberang koridor, di ujung sana, suami Aminah tampak mengamati istrinya. Usianya mungkin sudah setengah baya, namun tampak kalau ia begitu perhatian kepada Aminah.
Di sebelah suami Aminah tampak dua wanita yang juga seusia si suami, sedang saling mengobrol dengan wajah yang sendu. Kemungkinan itu istri pertama dan kedua si juragan tebu.
Hebat sekali mereka sekeluarga mengantar Aminah ke persidangan.
“Ayo kita ke ruangan administrasi, biar lega secepatnya harus diurus,” AKP Suraji menepuk bahu Kevin dan membawa cowok itu ke ruangan lain. Kevin dengan langkah gontai mengikutinya.
Entah bagaimana,
Seharusnya ia senang. Oke ia memang bersyukur, tapi entah bagaimana kesedihan tidak juga sirna. Mungkin inilah kehilangan yang sesungguhnya.
Karena siapa pun yang bersalah dan berapa lama pun hukumannya, Ibunya tidak akan kembali. Waktu menyenangkan yang telah lalu juga tidak akan datang lagi.