
Dengan bersiul-siul, Chandra membuka pintu rumah kontrakannya dan melempar kunci mobilnya ke salah satu guci keramik dari kejauhan.
Plung! Masuk tepat ke dalamnya.
Lalu pria itu melepaskan tasnya dan meletakkannya di gantungan baju di dekat pintu. Membuka pakaiannya dan melemparkannya ke keranjang laundry di samping kamar mandi, membuat kopi dengan hanya berbalut boxernya, dan duduk di meja makan sambil memeriksa ponselnya.
Beberapa hari ini ia dalam keadaan senang.
Alasannya, Arthasewu Connor yang angkuh dan senantiasa merepotkannya itu sibuk dengan persiapan pernikahannya yang Pemberkatannya akan diadakan besok. Dan Wedding Organizer yang mereka tunjuk cukup capable dalam mengatur acara sehingga Chandra tak perlu susah-susah terlibat. Bira bahkan bisa liburan di weekendnya tanpa terganggu telepon dari Artha, pulang dari liburan wajah sumringah senantiasa menghiasi raut rekan kerjanya itu.
Dan yang paling Chandra suka, adalah bisa pulang tenggo. Jam 17 tepat sudah bisa absensi keluar. Sudah seminggu ini dia dan Bira bisa pulang tepat waktu, saat matahari masih terlihat. Biasanya mereka datang saat belum ada matahari dan pulang saat sudah senja paling cepat.
Masih tidak ada pesan dari Artha.
Chandra menyeringai sambil menyesap kopinya.
Baguslah! Pikirnya senang.
Lalu ia melanjutkan memantau media sosial.
Setelah beberapa saat kemudian, ia merasa aneh.
Kok sepi ya?
Rasanya seperti telinga ditutupi sesuatu.
Apa karena aku pulang lebih dulu dibanding si Bawel?
Tapi dari dulu aku kan tinggal sendirian, seharusnya suasana seperti ini malah patutnya kusyukuri karena tenang.
Tapi kenapa rasanya malah aneh tanpa omelan-omelannya?
"Ck!" decak Chandra sambil mengacak-acak rambutnya. Akhirnya pria itu memutuskan untuk mandi saja mumpung masih sore.
Chandra menyambar handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa ini?" gumamnya saat selesai mandi dan akan mengambil hairdryer dari laci wastafel.
Testpack.
Banyak testpack dari berbagai merk dan jenis.
Dan semuanya bergaris dua, atau positif.
Lalu Chandra menatap jam yang berada di depan pintu kamar mandi.
Pukul 18.00.
"Orang itu masih ada di kantor tidak ya?" gumam Chandra sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, tidak jadi menggunakan hairdryer, dan buru-buru pergi ke kamarnya untuk mengenakan pakaian.
*
*
Stela membuka pintu rumahnya dengan rasa lelah. Badannya pegal-pegal dan jarinya kram. Untung saja di Transjakarta tadi ia dapat tempat duduk, jadi sempat tidur beberapa menit sebelum ganti feeder.
Suatu kesalahan menjadi Tim Kreatif yang sering bekerjasama dengan Tim IT. Stela dengar, sejak Kevin Cakra, si cowok menyebalkan bertangan dingin, profit perusahaan terus meningkat drastis. itu berarti Bu Susan senantiasa menjadikan Kevin orang kesayangan. Pantas saja tingkahnya arogan seperti itu.
Dan disela-sela pekerjaan yang membludak, Kevin masih sempat melanjutkan kuliahnya di Amethys Tech University, kampus swasta baru yang mahal. Ia meninggalkan kuliahnya di Universitas Negeri, padahal ia penerima beasiswa, dan sulit dipercaya usianya baru menginjak 19 tahun saat ini.
Terbuat dari apa otaknya?!
Dan hebat juga Stela, bisa mengimbangi lidah pedas Kevin yang tanpa ampun. Stela dengar orang jenius memang cenderung psikopat seperti Kevin. Untung saja Stela mengetahui masa lalu Kevin yang kelam.
Namun herannya, Kevin tidak menganggap itu hal buruk, ia malah seringkali mencibir dengan angkuhnya saat Stela terdesak dan mengancamnya. Mungkin Kevin berpikir bukan nama baiknya yang akan tercoreng, tapi malah akan ada banyak sekali wanita yang malah menawarinya 'pekerjaan sambilan' seperti dulu, jadi hal tersebut akan merepotkannya.
Stela menatap rumah itu. Tampaknya Chandra belum pulang karena tak tampak keberadaan manusia di dalam.
Sudah beberapa bulan ini ia akhirnya hidup serumah dengan Chandra walaupun status mereka masih pacaran. Karena wanita itu berpikir ada baiknya apartemen yang diberikan Artha ia kontrakkan untuk penghasilan tambahan. Dan karena komplek rumah Chandra tampaknya tak peduli dengan masalah seperti itu, jadi mereka berdua tenang-tenang saja menjalani kehidupan ala barat.
"Errghh pegaaal!" keluhnya sambil mengusap tengkuknya.
Akhirnya pekerjaannya beres juga dan beruntungnya Kevin sempat kuliah dulu tadi, sebelum jam 20 dia kembali ke kantor lagi. Jadi Stela ada waktu untuk mengerjakannya secepat ia bisa tanpa tekanan.
Lalu wanita itu mengernyit saat melihat keranjang laundry.
Kenapa pakaian kerja Chandra ada di dalamnya? Perasaan sudah ia kosongkan itu cucian pas subuh tadi.
Tak lama terdengar mobil Chandra memasuki carport.
"Lah, itu baru pulang?!" gumam Stela heran.
Mereka memang tidak berangkat bareng, dan Stela sebenarnya dibelikan mobil oleh Chandra. Tapi karena tidak terbiasa menyetir sendiri dan kantornya berada di kawasan macet, jadi lebih cepat naik Transjakarta sehingga Stela bisa menghemat waktu satu jam.
"Hei, udah pulang kamu?" Chandra masuk dari pintu depan dan menyapa Stela.
"Iya," jawab Stela masih menatap Chandra sambil mengernyit.
"Capek?"
"Lumayan," jawab Stela.
"Kalau kamu capek terus begitu, mulai sekarang aku antar jemput ya," kata Chandra.
"Nggak ah, bisa sampai kantor jam berapa aku, apalagi harus berangkat pagi-pagi, malas ah!" tolak Stela.
"Ya tapi di Transjakarta kan kamu jarang dapat tempat duduk," gumam Chnadra sambil duduk di sebelah Stela.
"Biasanya juga berdiri,"
"Kalo sekarang kan kamu sedang hamil."
DEG!!
"Eh... kamuuu..." gawat deh ketahuan! Pikir Stela sambil mengernyit tak enak.
"Kenapa yang begitu nggak langsung bilang?" tanya Chandra, tapi tanpa ekspresi.
"Hem... Aku nggak tahu kamu akan bereaksi apa," gumam Stela pelan. Lebih tepatnya ia takut kalau Chandra tidak berkenan.
"Sudah berapa lama?"
"Bulan ini aku telat tiga minggu, jadi aku beli testpack itu. Tapi kan belum tentu hamil, siapa tahu ada penyakit yang memang mengganggu metabolismeku,"
"Tiga minggu dan kamu tenang-tenang saja? Gaya bercinta kita cukup ekstrem, gimana kalau berpengaruh ke anakku? Besok kita ke rumah sakit ya, USG," kata Chandra tegas.
Anakku...
Dia bilang anakku!
Mata Stela terbelalak kaget. "Hem... Kamu mengharapkan anak ini?"
"Apa sih yang kamu pikirkan?!"
"Kupikir kamu nggak suka anak kecil,"
"Ya kalau anakku ya beda lagi Nooon! Kamu selama ini menganggap aku apa sih sebenarnya?!"
"Aku bukannya cuma selingan di kala senggang ya?"
Mata Chandra membulat, "Apa? Lalu kamu anggap apa cincin di jari kamu itu?!"
Reflek, Stela menatap cincinnya.
Chandra melanjutkan kalimat kekesalannya, "Terus selama ini kita tinggal bareng kamu pikir aku mendaftarkan kamu ke Pak RT atas dasar apa? Kumpul kebo? Bisa digrebek ormas rumah kita!"
"Kupikir aku didaftarkan dengan status saudara,"
"Istri," ralat Chandra. "Aku beruntung nggak diminta surat nikah dan kartu keluarga, saking Pak RT kita sibuk banget ngurusin partainya,"
Wajah Stela langsung merah.
"Terus kenapa kamu berpikir kamu itu cuma selingan?! Memang kamu rela dijadikan selingan?! Aku tidak serendah itu memperlakukan wanita!" Omelan Chandra masih banyak lagi, namun Stela hanya menunduk. Ia menatap lantai bukan karena sedih, tapi sebaliknya. Karena air mata harunya mulai mengalir deras di pipinya.
Selama ini ia melihat tingkah ibunya dari satu pria ke pria lain. Jadi digma negatif telah lama tertanam di otaknya. Stela tak ingin berharap lebih ke Chandra. Ia takut membebani pria itu dengan rengekannya. Ia tak ingin ditinggalkan seperti ibunya. Baginya cinta sejati itu hanya impian.
Tapi rupanya ia salah sangka terhadap Chandra selama ini.
Perasaannya sebenarnya sudah terbalas sejak lama.
Stela yang bodoh, terlalu merendahkan diri sendiri.
"Hey," gumam Chandra.
"Hm?"
Chandra tahu Stela sedang menangis, jadi ia hentikan omelannya, "Mulai sekarang jangan menganggapku majikan,"
Stela terkekeh dalam tangisnya. Lagi-lagi ia ketahuan. Selama ini ia memang memposisikan diri sebagai penumpang di rumah Chandra dan sebagai pemuas birahi pria itu. Hanya karena Stela merasa tidak memiliki siapa-siapa lagi dan ia tidak sanggup hidup sendirian.
"Aku calon suami kamu, bapak dari anak dalam kandungan kamu," kata Chandra.
Kata-kata itu bagaikan gaung khayalan. Ia tak tahu dalam keadaan sadar atau sedang tertidur. Baginya kalimat Chandra lebih indah dibanding mimpi manapun yang dialaminya.
"Dan aku barusan kembali ke kantor, menemui Pak Leo. Minta restu untuk menikahi kamu," kata Chandra.
Stela mengangkat wajahnya. Dia kaget.
"Pak Leo? Kenapa harus dia?!"
"Bagaimanapun kamu darah dagingnya. Ya walau pun reaksinya biasa saja malah cenderung acuh tak acuh. Yang penting aku sudah bilang dan tidak melangkahinya. Kini tinggal menemui Bu Yuni,"
"Kamu... Kamu serius akan menikahiku?!"
"Aku sayang kamu, tentu saja kita akan menikah. Sudah kurencanakan sejak lama tapi aku tak menyangka akan begini cepat,"
"Chandra..."
"Aku minta maaf sudah membuat kamu hamil, pasti rasanya tidak nyaman. Seharusnya aku tunggu sampai kamu siap,"
Dan selanjutnya hanya ada isakan bahagia Stela dan pelukan semalaman dari Chandra.