
Urusan Aminah tampaknya beres, kini tinggal urusan...
“Permisi? Dengan Pak Kevin?” seorang pria berseragam dealer mengetuk pagar rumah Kevin, sesaat setelah Haji Sueb dan rombongannya pergi.
“Iya?” Kevin menyambutnya.
“Ini Pak, motornya sudah dimaintance,”
“Heh? Serius?!” Mata Kevin langsung berbinar. Lalu dengan antusias dia menghampiri mobil dengan bak terbuka itu, dan tatapannya semakin berbinar saat kain plastik motor itu dibuka.
“Aaaaa! Sayangkuuuu akhirnya kita ketemu lagiii!” jerit Kevin bahagia maksimal. Tak peduli orang-orang pada ngeliatin dan bilang : ganteng-ganteng sinting.
Malam itu Kevin gelar kasur lipat di garasi, tidur di samping ‘pacarnya’.
Pagi harinya,
Setelah berpamitan dengan ibunya, Kevin duduk di atas motornya di depan gerbang rumah sambil membetulkan sarung tangannya.
Ia sedang memanaskan motornya sejenak sebelum terjun ke padatnya lalu lintas Jakarta.
Tak lupa ia membawa baju ganti takut-takut diserang basis dari sekolah lain.
Seragam putih abu-abunya kerap dijadikan incaran, apalagi saat dipadukan dengan CBR Honda 250-nya. Dalam seminggu ini saja sudah beberapa kali ia diberhentikan polantas untuk diperiksa kelengkapan surat-suratnya.
“Hai Kevin, Shalom!”
Sebuah suara bernada riang yang terdengar dari belakangnya, membuat Kevin terdiam menghentikan aktivitasnya, lalu mengeluh malas.
“Ergh!” gerutunya. Pagi-pagi sudah diganggu oleh hal yang bikin moodnya turun seketika. Padahal sekitar 30 menit lagi bel masuk sekolah berbunyi, dan perjalanan butuh waktu 15 menit.
Mau tak mau Kevin pun menoleh ke belakang. Tampak Pendeta Giovanni menghampirinya.
“Pagi, Bapa. Ibu di dalam,” tembak Kevin sambil meraih helmnya.
“Tahun ini kamu ke Gereja hanya satu kali, waktu natal saja,” kata Pendeta Giovanni.
“Iya, sisanya saya nongkrong di Masjid,” sahut Kevin. Tepatnya di warkop depan masjid, sambil menunggu Agus sholat Jum’at, Kevin, Kasep dan yang lain ngopi, ngudut (merokok) dan bergosip.
“Sini ikut saya,”
“Saya mau ke sekolah, Bapa,”
“Sebentar ajaaaaa,”
“Aih!” keluh Kevin sambil mematikan mesin motornya.
Ia pun mengikuti Pendeta Giovani memasuki sebuah gedung kecil yang terletak di area komplek perumahannya tak jauh dari rumah kontrakan ibunya.
Tertulis disana GPIB Kha*is (Nama disamarkan). Namun Pendeta Giovanni tidak masuk melalui pintu depan, melainkan langsung masuk melalui pintu samping, dan membuka pintu ruangan kantornya.
“Duduk sini,” Kevin pun dimintanya duduk di salah satu sofa di depan rak buku, cowok itu menjatuhkan dirinya ke sofa dengan malas.
Pendeta Giovanni duduk di sebelahnya sambil membuka Alkitab.
Kevin menatapnya dengan waspada, ia langsung badmood melihat buku yang dipegang Pendeta Giovanni. Masalahnya, pasti pria di depannya ini akan berbicara panjang lebar mengenai pentingnya ke Gereja dan mendekatkan diri pada Yang Diatas.
“Kevin, sebentar saja saya akan bercerita Mengenai Kitab Ayub, dimana banyak anak muda seperti kamu mempertanyakan keberadaan Tuhan. Mengapa kita menderita? Mengapa ada doa-doa yang sepertinya tidak dijawab Tuhan? Di sini, Ayub menyadari bahwa keberadaan Tuhan tidak ditentukan oleh situasi hidupnya... bla bla bla”
Kevin tiba-tiba mengantuk.
Dia hanya diam mendengarkan Pendeta Giovanni namun pikirannya langsung ke mana-mana.
Setelah 10 menit berada dalam kondisi tidak kondusif, Kevin pun melihatnya.
Benda berkilauan di dalam lemari di depan pintu.
Anggur Merah, kelihatan mahal, berjajar banyak sekali.
Umumnya, Gereja Protestan tidak mengadakan perjamuan kudus menggunakan roti dan anggur yang diterima waktu kebaktian, hal itu hanya simbol belaka untuk mengenang Kristus, tanpa ada arti yang lebih lanjut. Namun beberapa gereja Protestan mengakui konsubstansiasi, yang berarti roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus setelah dikonsekrasi dan dimakan/diminum.
“... Ketika kita datang ke gereja dengan rasa lapar dan haus untuk mengenal Tuhan dan kebenaran-Nya, kita akan dipuaskan oleh Tuhan sendiri (Matius 5:6). Tetapi, jika kita datang dengan tujuan membenarkan pemikiran kita sendiri, cepat atau lambat kita pasti akan kecewa.” Pendeta Giovanni masih memberikan siraman rohani.
Dan munculah WA penyelamat.
Kasep mengirinya pesan singkat. “Coeg lo dimana? Gerbang bentar lagi ditutup,”
Kevin menyeringai. “Bapa! Gerbang sekolah hampir ditutup,” sahut Kevin sambil memperlihatkan isi pesan singkat dari Kasep.
Pendeta Giovanni menghela napas, “Kenapa sih saya selalu bertemu kamu di saat yang kurang tepat? Ya, mungkin itu juga ketentuan Tuhan, sih,” keluhnya. “Baiklah, cukup sekian dulu, yang penting kamu sudah tahu gambaran pentingnya beriman sesering mungkin,”
Kevin berdiri sambil menyambar tasnya, “Saya berangkat dulu Bapa,”
“Shalom,” Bapa Giovanni bangkit dari duduknya dan berbalik untuk memasukkan kitabnya ke rak buku.
Kevin mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satu botol wine dan memasukkannya ke tasnya, meninggalkan selembar uang berwarna merah di tempat botol itu tadinya berada lalu keluar dengan secepat kilat dari ruangan Pendeta Giovanni.
Ia tahu harga wine tidak semurah itu, tapi ia jadikan konsekuensi karena waktunya tersita banyak dan harus rela terlambat setelah seharian kemarin membolos.
*
*
*
Setelah terburu-buru mengebut seperti dikejar Ifrit, Kevin pun tiba di pelataran Masjid di samping sekolahnya.
“Kang Ujang!” seru Kevin berlari menghampiri pengurus masjid yang sedang menyapu.
“Astaghfirullah, kaget euy! Baru datang, A’?”
“Titip pacar saya yah, nanti pas jam istirahat saya pindahin. Masalahnya di parkiran sekolah kemarin barusan di kerjain, si Cecep Kacrut itu nggak jagain!” Kevin menyelipkan uang biru ke saku baju koko Kang Ujang.
“Eleuh...” keluh Kang Ujang enggan. “Okelah,” begitu katanya akhirnya.
“Ini kuncinya, awas jangan dipake!” Kevin menyerahkan kunci motor, membuka sepatunya dan langsung berlari ke lantai dua masjid. Kang Ujang menatap Pacar Kevin dan menyetarakan tinggi badannya. Nggak mungkin dia pakai sih, ketinggian motornya. Kakinya napak tanah aja nggak bisa...
Lalu di balkon, Kevin melangkahi selasar, berhati-hati merayap di area torent, dan sampailah ia di tembok samping sekolah.
Sekarang tinggal turunnya.
Kevin berpikir keras dan menatap sekelilingnya.
Sementara itu,
Lalu matanya memicing saat melihat objek tak biasa di puncak tembok samping yang tingginya hampir 5 meter.
"Apa'an sih tuh?" gumamnya sambil menajamkan penglihatannya.
Dan betapa kagetnya ia saat melihat Kevin lah yang muncul di sana. “Anjay! Si ka'crut nekat!” gumamnya takjub.
Dan karena memang kejadian itu tepat di hadapannya, ia dan Kevin saling bertatapan.
“Bantuin, Gobl’ok!” bibir Kevin mengisyaratkan ke Kasep kode SOS.
“An-jing gue lagi gak siap banget ini! Bangs*t!” maki Kasep sambil langsung beranjak dan menggeret Agus keluar kelas, disertai pertanyaan : “Apa’an sih Nyet?” dari Agus yang merasa terusik.
“Woy Kampret! Kenapa lu nyangsang di sana sih?! Susah banget loh turun dari situ!” Maki Kasep saat tiba di TKP.
“Yang penting tas gue, amanin!” Kevin melempar tasnya ke bawah.
Kasep menangkapnya dengan sigap dan tertegun. “Apa’an nih berat banget? Ada belingnya?” ia pun membuka tas Kevin dan terpekik tak percaya, sekaligus senang.
“Lu dapet dari mana nge-peeet!!” serunya kegirangan saat melihat botol wine yang isinya penuh dan masih tersegel.
“Nggak usah tanya! Tangkep gue!” desis Kevin.
“Eh tunggu! Bang’sat gue belum si...”
GUBRAKK!
“Aduh...” keluh Agus yang tubuhnya dijatohi tubuh Kevin. “Bisa-bisanya lu bikin gue sengsara melulu sih Keeev!"
"Emergency! Gue bisa diskors kalo bolos lagi," gumam Kevin sambil berguling ke samping. "Gila, langsung encok gue," keluh Kevin. Dengan lemas ia tetap tiduran di atas paving blok, meratapi kondisi pinggangnya.
"Eeergh..." keluhnya kepayahan sambil berusaha berdiri.
"Beuh! Pak Matek jalan ke kelas! Ayo sigap c'uk!" seru Kasep sambil menggeret kedua temannya.
"Nggak bisa! Nyeri pinggang gue!" keluh Kevin.
"Salah lo sok-sok'an jadi Panglima Burung!" umpat Kasep.
Jadilah ia sampirkan tas Kevin di depan dadanya, dan ia bopong Kevin di punggungnya.
Sementara Agus ia tinggalkan di depan tembok. "Woy! Ba'biiiii! Gue gimana monyooonggg!!" ratap Agus.
"Lo harus jadi tumbal, sori gue butuh dompetnya si kampret ini!" seru Kasep dari kejauhan.
"Ntar gue traktir kue leker!" seru Kevin ke Agus dari kejauhan.
"Lah!!" keluh Agus.
*
*
“Kamu kenapa sih?” tanya Ibu sambil memijat pinggang Kevin, sore itu. Kevin pulang dibonceng Kasep dan Agus dengan kondisi pegal-pegal.
“Kecetit,” jawab Kevin asal.
“Iya, kenapa bisa kecetit,”
“Kesandung setan, kayaknya,” gumam Kevin lagi.
“Sudah kemarin bolos patah hati, sekarang kecetit, besok bikin ulah apa lagi?”
“Lagian, Pendeta Giovanni pakai dateng segala, aku kan jadi telat dateng ke sekolah. Buru-buru terus ya begitulah ...” Kevin malas meneruskan ceritanya.
“Bapa juga datang ke rumah tadi pagi,”
“Hem...” gumam Kevin. Bukannya cowok itu tak mengerti sinyal cinta yang dikirimkan Pendeta Giovanni ke Ibunya, tapi Kevin malas ikut campur urusan orang dewasa.
Dan sepertinya ibunya juga tidak terlalu antusias merespon.
Yang lebih penting lagi, sepertinya Pendeta Giovanni belum menyadari kalau satu botol wine di lemarinya berkurang.
Lumayan juga, dua teguk saja sudah bisa membuat sakit pinggang Kevin membaik karena tubuh jadi hangat.
Akhirnya dalam kondisi ala kakek-kakek encok, ia pun merenung di kamarnya sambil mengutak atik komputernya.
Kembali ia mencari Nirmala lewat jalur maya, yang didapatnya malah mala-mala yang lain.
Ia coba cari nama itu ke informasi perbankan, ada puluhan ribu nama Nirmala.
Ia coba cari marketing perumahan mana yang memakai nama Nirmala, hasilnya tidak ditemukan.
Wanita ini benar-benar low profile. Kenapa sulit sekali mencarinya? Seakan sosok itu hanya khayalan! Apa harus menghack ponsel Mami untuk tahu nomor telepon Nirmala?
Jangan...
Jangan bersitegang dengan konglomerat. Bisa-bisa dituntut pasal ini itu kalau ketahuan.
Akhirnya, Kevin pun menyerah.
Kemampuan codingnya seakan tidak berguna sama sekali, semua pengetahuannya mental saat mencoba mencari tahu mengenai wanita pujaannya ini.
Dan parahnya, tenaganya langsung habis.
Beberapa menit kemudian, datang panggilan telepon dari Mami.
“Kev, sori, kali ini mendadak banget karena satu anak buah gue mendadak sakit. Klien minta 2 orang dan ini job gede, gue butuh nih klien untuk kelancaran karier gue,” kata Mami dengan nada suara memohon.
Kevin menggaruk kepalanya. Ia sebenarnya malas mengambil job.
“Gue sebenarnya lagi tahap mengurangi job, Mam,” ujar Kevin.
“Kalo lo ambil, gue kasih tau dimana Bu Nirmala kerja,” Balas Mami
"Anj-roooot!!" seru Kevin kesenengan. Ini yang ia tunggu dari kemarin. Informasi semacam ini.
“Ya tambah uang capek 15 juta lah,” Balas Maminya lagi.
"Okeeee!! Sip gue ambiiil!" seru Kevin.