Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 14


Ibu mengangkat alisnya saat Kevin keluar kamar sudah dengan style rapi. Kemeja casual motif kotak yang lengannya digulung sampai siku dan celana jeans hitam, dengan sepatu kanvas hitam. Ia meraih jaket jeansnya di gantungan baju.


"Katanya sakit pinggang? Mau jalan?" tanya Ibu.


Kevin mengangguk, "ada undangan pesta,"


Iya, pesta terlarang di hotel.


"Hari weekdays begini?" tanya ibunya.


Kevin menggangguk lagi.


"Hm," gumam ibunya curiga.


"Hem," balas Kevin.


"Bukannya ketemuan sama pacar kamu?" pancing ibunya.


Kevin menghela napas. "Kalau iya, tampangku nggak bakalan begini," Ia menunjuk wajahnya yang muram.


"Benar juga,"


"Jalan dulu bu," Kevin mengecup dahi ibunya.


*


*


Di sebuah hotel bintang 5 yang letaknya di daerah barat Jakarta, dimana hotelnya bergandengan dengan sebuah mall besar terkenal yang familiar bagi anak-anak kampus di sekitar sana (silahkan googling sendiri ya pembaca),


Kevin seperti biasa menunggu kliennya di lobi sambil mengabari Mami kalau ia sudah sampai.


"On location," ketik Kevin.


"Kev, gue udah bilang kan ya kalo kali ini customernya ada dua orang? Kembar," Balas Mami.


Kevin diam.


Lalu mengernyit.


Mam'pus! Gerutu Kevin dalam hati.


"Nggak sekalian aja lo bunuh gue, Mam?!" ketik Kevin penuh emosi.


Minta info tempat kerja Nirmala aja kok susah banget sih! Dasar maminya ini tukang bully!


Mana dia cari sendiri nggak ketemu pula!


"Nggak ah, lo sumber uang gue, mana bisa gue bunuh lo. Nih untuk penyemangat, Bu Nirmala kerja di PT. Jade Construction and Building. Tapi disana nama Bu Nirmala bukan 'Nirmala',"


Kevin mengernyit.


Pantas saja tidak ketemu kalau hanya mencari berdasarkan nama.


"Jadi siapa nama aslinya?" ketik Kevin sewot.


"Ada deeeeeeh, mau tau?! Lusa jam 9 bisa ya Kev. Klien special,"


Anj'rit! Kenapa jadinya malah banyak klien begini?! Maki Kevin.


Lagi-lagi potongan puzzle.


"Klien lo special semua! Mana ada yang nggak?!" Balas Kevin.


"Yang lusa ini, istri pejabat. Awas jangan sampai lo kecewain dia!" balas Mami.


Kevin menarik napas panjang,


Hembuskan,


Tarik napas lagi,


Hembuskan lagi.


"Sabar Keviiin, sabaaaaar," gumamnya ke diri sendiri sambil mengelus dadanya.


Buat cowok usia labil tahun seperti dirinya, ia menganggap beban hidupnya untuk gaya hedonisme lumayan membutuhkan perjuangan.


Sepertinya ia butuh liburan untuk healing. Toh, sebenarnya ia tidak butuh-butuh amat uangnya.


Tadinya, ia menerima pekerjaan ini karena ingin beli motor.


Ternyata, saat dijalani dan rekeningnya gendut, motor incarannya menjadi terasa recehan. Ia pun mengganti targetnya menjadi motor 250cc.


Saat motor sudah didapat, tiba- tiba Ia ingin mengupgrade komputernya, lalu ingin Katana Samurai buat tawuran, ingin jam tangan mewah, ingin sepatu mahal, ingin mentraktir teman-temannya, dan akhirnya tidak berkesudahan


Kevin pun tenggelam dalam kehidupan tersesatnya. Mengira ia tak akan kehilangan apa pun.


Sampai ia jatuh cinta.


"Terserah lu deh Mam, gue kan budak lo," Ketik Kevin.


"Good, klien lagi turun ke lobi, ya. Jangan lupa senyum,"


Kevin menyandarkan tubuhnya ke sofa lobi hotel.


Tiba-tiba ia merasa sangat capek. Jadi ia memejamkan matanya dan berpikir. Hal ini harus diakhiri secepatnya. Sebentar lagi ia akan memakai jaket almamater dan membahagiakan ibunya dengan bekerja di perusahaan bonafit. Jelas side job-nya akan menghalangi mencapai mimpi terbesarnya, yaitu melihat senyum ibunya setiap hari tanpa ada latar belakang warteg.


Intinya ia ingin ibunya hidup enak, dengan latar belakang kastil dan daster ibu diganti dengan setelan Chanel.


Pasti jadi cantik banget!


"Kevin?" sebuah suara memanggilnya.


Kevin membuka matanya dan menatap seorang laki-laki muda berdiri di depannya. Wajahnya tampan, kulitnya sawo matang, dan tampak otot bersembulan dari lengannya.


Wajah khas kontestan model susu khusus pria.


"Ya?" sahut Kevin


Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Kevin.


"Kenalkan, Jo. Para tante menunggu di lantai atas,"


Kevin menerima jabatan tangannya.


Dia bilang tadi, Para Tante.


Jadi memang benar ada dua orang.


Dan siapa laki-laki ini?! Bukan klien juga kan? Kalau iya, Kevin berniat kabur saat itu juga.


"Saya juga disewa seperti kamu," kata Jo.


"Oh," ujar Kevin. Tapi ia malas untuk tahu lebih jauh.


Yang pasti ia bersyukur Jo bukan salah satu klien.


*


*


"Walaaahhh!!" seru Tante Anas, "Kiyut bangeeett!"


"Wih paket lengkaaap," seru Tante Tasya.


Kalau kedua namanya di gabung menjadi Anastasya.


Epic.


Sudah begitu, wajah keduanya identik, sampai Kevin tak peduli lagi mana Anas, mana Tasya.


Pekerjaannya pun dimulai, seperti biasa dimulai dengan sesi buka pakaian, sesi sentuh semua bagian, sesi menggoda, sesi foreplay...


Yah, begitu-begitu saja.


Sesi ganti pengaman, oles pelumas, mereka minta gaya lain lagi.


Astaga, membosankan! Kevin bahkan tidak keluar-keluar.


Jo sudah keluar dua kali dan kini ia terbaring kelelahan. Dua tante berbarengan membuka pengaman Kevin dan memberinya oral.


Enak,


Tapi tetap, biasa saja.


Sampai akhirnya Kevin emosi karena tidak selesai-selesai, ia meraih pengaman baru, mengenakannya, dan dengan agak kasar meraih salah satu Tante dan melipat tubuhnya. Dan Kevin pun menghentak bergerak dengan cepat.


Sampai-sampai tante itu memekik dan bola matanya putih semua karena menahan nikmat.


Krim putih keluar deras dari kewanitaannya, tanda orgasme. Kevin menghentikan gerakannya, dan beralih ke tante satunya.


"Anj'rit!!" keluh Kevin saat tante yang kedua lemas tak berdaya. "Pinggang gueeee..." keluh Kevin langsung berbaring terlungkup sambil mengaduh.


Kali ini benar-benar sakit sampai kepalanya ikutan nyut-nyutan.


Ini sih harus ortopedi, Pikir Kevin.


Ia sepertinya kurang olahraga. Forsir tenaga benar-benar membuahkan kefatalan.


Dan dimulailah tragedi itu.


Saat dia berbaring terlungkup, mencoba menetralisir tubuhnya, tiba-tiba ia merasa sesuatu meraih kejantanannya, lalu membelainya.


Kevin mengernyit dan mengangkat kepalanya.


Kedua tante udah K.O.


Lalu, siapa?!


"Anjay!" pekik Kevin kaget. Masih ada satu orang lagi yang tersisa di kamar itu.


Siapa lagi kalau bukan Jo!


Namun saat Kevin mau menghindar, ia malah tidak bisa bergerak. Kram melanda seluruh pinggangnya, rasanya bagai mau copot.


Kevin meringis kesakitan, tapi sepertinya Jo salah mengerti.


Ketidakmampuan Kevin bergerak dan ringisannya dilihat Jo malah sebagai lampu hijau bahwa Kevin menikmati belaiannya.


Pria itu bergerak ke atas punggung Kevin dan meng'ocok kejantanan Kevin dengan intens sambil menciumi sepanjang punggung Kevin.


Kevin memekik panik.


Di satu bagian ia tak bisa bergerak karena kram, di lain pihak ia ingin kabur karena jijik.


"Kamu ganteng banget ya, manis..." bisik Jo.


Kevin ternganga tak percaya, ia langsung merinding.


"Bang-sat, gue bukan gay! Gue lurus anjrit!!" teriak Kevin panik.


"Masa sih? Kok kamu nggak menghindar? Suka dong belaianku,"


"Pinggang gue kram An-jiiing!!" seru Kevin. Rasanya ingin ia tonjok muka si Jo ini.


"Hehe, masih perawan ya ternyata 'ini'nya?" Jo menekan lembut lubang di bokong Kevin.


Entah kekuatan darimana, tiba-tiba pinggang Kevin pun membaik.


Ia langsung berbalik dan ia tendang Jo sekuat tenaganya.


Jo langsung terjatuh ke lantai sambil mengaduh kesakitan memegangi perutnya.


Secepat kilat, Kevin mengumpulkan barang-barangnya, lalu lari dari kamar laknat itu dalam keadaan telanjang.


Mungkin petugas CCTV hotel bisa merekam aksinya. Kevin sudah tidak peduli, yang ia pikirkan hanya lari secepat kilat, takut ada yang mengejar.


Setelah menghambur keluar kamar, Kevin menekan tombol lift dengan panik sambil terburu-buru mengenakan pakaiannya dan berulang kali menoleh ke kiri dan kanan memastikan kalau di koridor hotel tidak ada orang.


Lift pun terbuka saat Kevin sudah berhasil mengenakan celana jeans dan sepatunya, lalu ia pun masuk ke lift sambil mengenakan kemeja dan memastikan kalau dompet, ponsel dan kunci motor masih di dalam kantongnya.


Gunanya mengumpulkan semua pakaian di satu tempat saat sesi ‘unboxing’ ya seperti ini. Agar kalo ingin buru-buru pergi, bisa efektif tanpa ada yang ketinggalan.


Seingatnya di dalam lift ada satu keluarga yang mengamatinya dengan tercenung.


Ah! Kevin sudah masa bodo dengan hal itu. Yang ia inginkan hanya pergi dari sana!


Ia pun keluar dari lift sambil sesekali menoleh ke belakang siapa tahu ada yang mengejarnya. Aman ternyata.


Tapi tetap saja jantungnya berdebar sangat kencang. Kepalanya juga pusing.


Dan sebenarnya ia butuh istirahat karena kalau dipaksa naik motor dalam keadaan shock seperti itu pasti hasilnya tidak akan baik.


Kebetulan, tiba-tiba saat sudah menginjak lobi, perutnya bergemuruh lapar.


"Makan dulu aja lah," gumamnya. Jadi, ia pun berbelok ke arah Mall dan masuk ke Hoki-Hoki Bantu (maksa banget namanya), memesan set makanan Jepang favoritnya.


Bukannya tidak punya uang untuk memesan yang lebih mahal, tapi makanan Jepang yang ini familiar di lidah abege sepertinya. Dan saat panik seperti itu, dia butuh sesuatu yang tidak aneh-aneh.


Setelah menegak dua cup puding coklat dalam sekali telan, barulah Kevin merasa lega.


“Gila, ada apa’an sih tadi!” gumamnya kesal sambil memijat dahinya. Rasanya ingin mandi berkali-kali! Dia bertekad minta bayaran lebih dari Mami karena dia sudah di ....


“Hiii!” Kevin bergidik sambil mengelus kedua lengannya, lalu menelungkupkan kepalanya di meja restoran. “Ergh! Joni gue dipegang si Dajjaaaaal!” isaknya kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Dan memesan lagi 2 cup puding karamel untuk mengobati hatinya.


Dan begitulah, langsung main game saat ia pulang nyatanya lumayan dapat memenangkan kondisinya. Walaupun pinggangnya masih agak sakit, tapi mentalnya lebih sakit dari itu.


*


*


“Beuh! Si Kampret baru muncul,” ketik avatar game dengan nickname KecoakNungging alias Kasep.


“Gimana pinggang lo Kev?” ketik avatar game dengan nickname BenciToge alias Agus.


“One shot!” seru Kevin saat menyadari kalau ada satu musuh di belakang mereka mengintai Agus. Kevin menembakkan pelurunya dan mengenai musuh. “Nggak usah dibahas, ntar sugesti gue ga sembuh-sembuh!” ketik Kevin yang memiliki avatar game dengan nickname PecintaTempe.


“Arah jam 2 sebelah tower!” teriak Kevin sambil mengganti skin armornya.


Jder!


Jder!


“Meleset anjrit tembakan lo! Main game jangan sambil nge-gele!” seru PecintaTempe kesal.


“Ini mouse gue aneh, nggak fokus kalo ngebidik,” keluh BenciToge.


“Mouse-lah dijadiin alesan, chicken!” umpat PecintaTempe.


Jder!


Jder!


“Satu putaran lagi, tahan!” kata KecoakNungging.


“Gue sembunyi dulu, ganti mouse,”ketik BenciToge.


“Cepetan sebentar lagi ring ketutup, kelamaan keburu tempe gue berubah jadi bacem,” ketik PecintaTempe.


“Bahasa lo elit, Kev, gue kaga ngarti,” ketik BenciToge.


Jadi, malam itu, untuk mengobati kepanikan hatinya sekaligus capek badannya, pulang-pulang Kevin langsung main game bersama teman-temannya. Mereka bertiga, Kevin, Kasep dan Agus janjian untuk menjadi satu tim di sebuah platform game online. Kasep dan Agus sedang berada di Cafe Internet langganan sekaligus basecamp mereka, sedangkan Kevin bermain melalui kamarnya sendiri di rumah.


Lumayan bisa membuat lupa dengan kejadian absurd barusan. Kalau perlu lupa selamanya!