
Lift yang berukuran 3x3 meter itu terasa menyesakkan.
Kevin hanya diam di dinding sebelah kanan, sedangkan Nirmala merapat ke sebelah kiri dekat tombol.
Suatu hal yang tidak biasa, Kevin hanya diam menatap lantai. Ia tidak berusaha menggoda ataupun jahil ke Nirmala seperti yang sering ia lakukan.
Nirmala pun jengah.
Wanita itu risih.
Walaupun terlihat di sudut matanya, Kevin hanya menunduk menatap lantai, namun punggungnya serasa dihujami tatapan menusuk.
Tak lama, karena merasa sangat risih, Nirmala pun menoleh terang-terangan ke arah Kevin.
Kevin yang merasa sedang ditatap, mengangkat wajahnya.
Ia melihat wajah Nirmala berkerut memperhatikannya.
Dan cowok itu lagi-lagi tersenyum. Senyuman lembut dan memikat andalannya.
Jantung Nirmala langsung berdegup kencang. Baginya, Kevin sangat tampan. Walaupun tidak seperti pejantan berperut sixpack yang wajahnya maskulin, wajah Kevin cenderung manis seperti perempuan, dan hanya sedikit otot perut yang terlihat. Tanpa jambang, rambut ikal berantakan, dan tatapan menghipnotis anti ditolak.
Entah kenapa pesona Kevin tidak bisa ia tak pedulikan. Begitu memikat.
Apalagi kalau cowok itu hanya diam begini.
Kevin mengangkat alisnya, bertanya tanpa suara.
"Kenapa kamu..."
Ting! Pintu lift terbuka. Nirmala tidak jadi bertanya.
Kevin tetap di tempatnya.
Nirmala keluar duluan, namun berkali-kali menengok ke belakang. Ia hanya ingin melihat pintu lift tertutup agar ia tahu di lantai berapa Kevin berhenti.
Tapi, tidak.
Kevin juga keluar dari lift, mengikutinya.
Astaga! Anak ini mengikutiku?! Kenapa dia jadi selancang ini!
Aku kan tidak memberinya izin mampir!
Pikir Nirmala mulai panik.
Kevin berjalan lurus, ke arahnya dengan dagu terangkat. Percaya diri dengan sedikit senyum di kedua sudut bibirnya yang kemerahan.
Jalannya anggun dan santai, bagaikan peragawan berjalan di atas catwalk pada acara Paris Fashion Week.
Kedua tangannya dimasukkan ke celana jeansnya, sisi bawah jaket kulitnya terbawa angin saat ia berjalan, dan sepatu bootnya berdebam-debam di lantai keramik.
Nirmala lagi-lagi mengerutkan dahinya.
Sudah sampai unit apartemennya, Nirmala meraih gagang pintu.
"Sudah sampai sini saja antarnya, tak perlu kamu sampai masuk ke apartemen saya," kata Nirmala.
"Hm," Kevin bersandar di dinding di samping pintu unit Nirmala. Kepalanya dimiringkan sambil menatap Nirmala dengan sayu.
"Aku kangen," bisiknya. Tanpa senyum, hanya tatapan sendu.
"Saya ...."
"Kenapa panggilan kamu ke aku jadi resmi? Kamu anggap aku apa? Apakah yang dulu itu sudah benar-benar kamu lupakan?"
"Eh ...."
"Yang kamu bilang cinta aku ... apa itu sungguhan? Atau hanya menghiburku saja karena aku sedang berduka?"
"Kevin ...."
"Hehe," Kevin terkekeh, tapi nada suaranya terasa menyakitkan. "Aku cari kamu setengah tahun, padahal aku hacker. Ternyata kamu begini dekat. Tapi setelah tahu, aku bahkan tidak bisa meraih kamu,"
Cowok itu mengeluarkan kartu unit dari kantong celananya.
"Tapi nggak papa sih. Aku sudah menunggu setahun, nunggu agak lama kayaknya masih sanggup, kok," dan menggesekkan kartunya di smartlock pintu yang berada tepat di depan unit Nirmala. Lalu memencet beberapa kode angka.
"Belum ada yang akan jadi suamimu kan?" tanya Kevin di ambang pintu sambil menyeringai.
Nirmala sedang memperhatikannya sambil terpana.
"Nggak usah dijawab,aku tahu kok. Sejak aku tahu nama lengkap kamu, semua media sosial kamu aku stalking, hehe,"
"Hah?!" Seru Nirmala.
"Nanti malam masak, ya? Nanti aku datang main. Aku suka nasi goreng kamu. Daaah!" Dan Kevin menutup pintu unitnya.
Meninggalkan Nirmala yang ternganga takjud tak bergeming, menatap pintu unit Kevin dengan rasa kaget luar biasa.
Kevin di dalam menatap lubang intip dan mengamati Nirmala.
Wanita itu masih berdiri terpaku shock, sambil menatap pintu.
"Yah, begitulah akhirnya," gumam Kevin puas.
Ia pun membuka jaketnya,
membuka celananya,
menggantinya dengan celana training dan kaos oblong,
mencuci mukanya, dan...
Dok!
Dok!
Dok!!
Seseorang menggedor pintunya dengan kencang.
Kevin tanpa pikir panjang membukanya, ia sudah tahu siapa yang mengetuk pintunya dengan panik.
Sang Dewi Cinta,
Menatapnya dengan dahi berkerut dan mata terbelalak.
“Kenapa kamu di sini?!” serunya.
Setelah 10 menit wanita itu baru bisa menguasai dirinya.
“Saya tadi nunggu kamu di luar! Saya pikir kamu bercanda dan akan didepak sama pemilik unit! Tapi kamu nggak keluar-keluar! Kamu beneran tinggal di sini?! Sejak kapan?! Setahu saya yang punya apartemen ini kaka beradik cowok-cewek! Saya tahu adiknya, Saya pernah kasih kuker!” Nirmala bertanya bertubi-tubi dengan panik. Sampai-sampai Kevin menyeringai geli.
“Kenapa ada di kamu?!”seru Nirmala semakin panik.
“Takdir,”
“Kevin!! Saya serius nanya!”
“Aku juga serius jawabnya, kok,” Kevin menyeringai dan menarik Nirmala masuk ke dalam unitnya.
Lalu menutup pintunya,
Dan menguncinya.
“Kev...” Nirmala tidak bisa melanjutkan protesnya, jemari Kevin menggapai tengkuk lehernya, dan memaksanya mendekat.
Namun, jemari wanita itu di dada Kevin, mencegah cowok itu bertindak lebih jauh.
Sekuat tenaga mendorong tubuh Kevin supaya menjauh.
Nirmala belum siap untuk cinta yang baru.
Dia juga belum siap menerima siapa pun di hatinya.
Walaupun selama ini, ia juga merindukan Kevin.
Kevin menarik napas, mundur selangkah. Namun tangannya tetap mencengkeram Nirmala.
"Kenapa?" tanya Kevin. Suaranya berubah.
Rendah dan dalam.
Bagaikan dipenuhi amarah dan kekecewaan, namun sebisa mungkin ditahan.
Dari tengkuknya, Nirmala merasakan cengkeraman jemari Kevin yang kini semakin erat.
Kevin yang biasanya lembut, senantiasa menatapnya dengan jenaka, seringkali sinis dan jahil.
Kini seperti bukan dia.
Pria dewasa.
Kevin kini sudah menjadi sesosok yang tak Nirmala kenali.
"Saya belum siap," gumam Nirmala. "Tolong mengerti,"
"Ini sudah setahun,"
"Setahun terlalu sebentar untuk saya,"
"Setahun terlalu lama untukku," ucap Kevin sambil mengeram.
Harus bagaimana membuat Kevin mengerti?
Dalam keadaan bingung dan mencoba mati-matian mencegah Kevin mendekat, matanya menangkap sebuah foto di konter dekat pintu.
Bu Bella,
Senyum yang ramah dan manis,
Seakan sedang menatap Nirmala, sambil bilang 'titip anakku'.
"Kevin," gumam Nirmala, "Kalau kamu sampai sekarang masih berduka atas ibu kamu, saya pun masih berduka akan perceraian saya. Begitu gambarannya,"
"Ck!" decak Kevin tak sabar.
Ia pun melepaskan Nirmala.
Tangannya gemetar menahan ledakan gairah.
"Sampai kapan?" tanya Kevin.
"Sampai saya tenang,"
"Hm, sampai kamu puas melihatku tersiksa kayaknya,"
"Kamu benar tersiksa? Banyak wanita cantik di sekeliling kamu,"
"Banyak wanita cantik, sampai aku mati rasa sendiri. Hanya ada kamu di otakku,"
"Kok kedengarannya seperti kegombalan kamu yang lain,"
"Aku nggak pernah mengumbar rayuan,"
"Mana saya tahu pergaulan kamu,"
"Nirmala... Berhenti ber-saya-kamu, kita jadi seperti ada jarak,"
"Memang itu maksud saya, menciptakan jarak. Dan... Astaga!" Nirmala terkesiap saat melihat layar besar di depan ranjang Kevin. Kamera CCTV.
"Kamu... Ya Ampun!" gumam Nirmala, "Selama ini kamu..."
Wanita itu berjalan ke depan layar, mengamati setiap sudut yang ditangkap.
"Kamu benar-benar terobsesi! Kamu sudah gila?!" seru Nirmala.
"Hm, nggak bisa kusangkal, sih,"
"Kevin," Nirmala menggelengkan kepalanya.
Setiap kamera yang ditampilkan di layar adalah sudut-sudut dan area dimana Nirmala biasa melaluinya. Ada 4 kamera di sana, dan salah satunya mengarah ke depan pintu Nirmala.
Juga... Dinding di depannya. Grafiti yang ada lukisan dirinya!
"Keren kan? Jadi setiap hari aku bisa memandangi wajahmu di sana," Kevin berjalan ke delan grafiti. Buatan Agus dengan gaya lukis ala-ala komik Marvel.
"Konyol..." gumam Nirmala sambil mendengus.
Wanita itu berjalan ke arah pintu.
"Nirmala, aku harap kamu..."
"Aku mau masak nasi goreng, katanya kamu mau makan itu kan?" sahut Nirmala.
Kevin diam, mencerna kalimat Nirmala.
"Oh iya, aku ambil ini," wanita itu mengambil toples kukernya. "Mau kuisi lagi, masa kosong begini sih!" Dia mengomel.
Lalu keluar dari unit Kevin, menyebrangi koridor, masuk ke dalam apartemennya sendiri, lalu menutup pintunya.
Dan Kevin pun tersenyum bahagia.