
Enam bulan berlalu tanpa keriuhan, alias gencatan senjata.
Artha sibuk dengan urusan kantor, Wana sibuk dengan kuliah dan ujian, Nirmala sibuk sidang perceraian dan untungnya bisa selesai karena bantuan Artha yang memberikan dua pengacara kondang yang suka dipakai artis ibukota, Kevin sibuk dengan kuliah dan 'pekerjaannya' yang akan dibahas di season 2 secara lebih detail.
Meski begitu, Artha dan Wana tetap ambil bagian dan terlibat dalam persiapan pernikahan mereka.
"Kak?" Wana menyadarkan Nirmala yang tertegun saat melihat Wana mencoba gaun putihnya.
"Ah, sori," Nirmala tampak menunduk. Ia terdiam.
Kenapa terasa menyakitkan? Gumamnya dalam hati.
Seharusnya semua akan baik-baik saja. Toh ia malah tidak kehilangan apa pun. Namun cintanya kepada mantan suami memang masih tersisa. Hanya saja rasa sedihnya lebih besar.
Wajar,
Ia menikah atas dasar cinta. Sama seperti Artha dan Wana saat ini. Dua sejoli yang bermimpi menghabiskan masa tua bersama dengan anak-anak di sekeliling mereka.
Sekarang sudah berakhir,
Dan Nirmala merasa sendirian.
"Duh, Kak..." Wana turun dari podium dengan gaunnya dan memeluk Nirmala.
"Maaf ya Wana, Maaf aku kacau banget," Nirmala mulai terisak di pelukan Wana.
"Aku juga minta maaf karena tidak ada saat kakak tertimpa masalah," kata Wana. Wana baru tahu soal Nirmala belakangan. Memang permintaan Nirmala supaya adiknya itu tidak diberitahu, takut banyak pikiran. Namun Wana akhirnya tahu saat tak sengaja di hari terakhirnya bekerja sekitar 6 bulan yang lalu, ia membereskan ruangan kantor Artha dan melihat salinan dokumen pengajuan perceraian dan kontrak kerja dengan pengacara untuk Nirmala.
Barulah Artha menjelaskan semua.
"Justru itu yang aku syukuri. Kamu tidak ada saat itu. Aku tidak rela kalau kamu harus terbebani..."
"Kak Mala, kita ini bersaudara. Kita tidak saling meninggalkan," Wana memotong ucapan Nirmala. "Jangan lagi bilang hal semacam itu! Kakak selalu ada saat aku butuh, aku juga ingin begitu! Lain kali bicarakan semua padaku, jangan sungkan lagi. Kakak sebenarnya anggap aku apa sih selama ini?"
Nirmala hanya diam.
"Apakah... Apakah selama ini aku sebenarnya beban untuk kakak?" ujar Wana.
Nirmala mengangkat wajahnya, "Bukan begitu!"
"Yah, aku selalu dianggap tak ada, selalu tahu belakangan," gerutu Wana, "Padahal aku bisa jadi pendengar, walaupun tidak bisa menjanjikan solusi. Apa aku segitu merepotkannya?"
"Kamu sangat berarti untukku," gumam Nirmala.
Wana menghela napas, "Kalau begitu, cobalah menganggapku teman sesekali. Aku bukan hanya sekedar adik yang polos dan tidak tahu apa-apa,"
Nirmala terkekeh, namun masih menyisakan kesedihan. Tak lama ia pun mengangguk dan mereka kembali berpelukan.
"Oh iya, Pak Artha dimana?" tanya Nirmala berikutnya.
"Ish, nggak usah ditanya lah, paling meeting di sana-sini. Aku memang tak ingin melihat dia saat mencoba gaun, ini kejutan soalnya. Bisa-bisa dia mengomel melihat harganya,"
"Memang dia segitunya?"
"Menurut dia, aku pakai gaun satin polos aja udah oke. Bisa jadi kulilitkan gorden di badanku, dia akan fine-fine aja. Dia bilang 'itu kan cuma dipakai sekali, ngapain sih mewah-mewah, malamnya akan kubuka juga' gitu,"
Nirmala langsung terkakak mendengarnya. "Dia memang terkenal tidak suka barang yang nilai investasinya akan menyusut dengan cepat,"
"Dia kasih modal ke tukang bubur depan kosan untuk buka kios,"
"Iya kalo itu kan kalian bisa makan gratis setiap pagi, jadi ada untungnya,"
"Hm," Wana menaikkan alisnya, "Oh gitu ya konsepnya. Bagaimana dengan Lambo-nya?"
"Itu teknik marketing. Saat investor terlihat dengan mobil mewah, orang-orang akan berpikir kalau dia tidak hanya sekedar pengusaha kecil-kecilan. Jadi tender yang datang bisa seharga tiriliunan. Begitupun tujuan dia membeli rolex, sepatu mahal, dan setelan pakaian. Semua untuk branding perusahaan,"
"Hooo..." ingatan Wana kembali ke saat ia bertemu dengan Sugar Baby yang bernama Marisa. Dari atas ke bawah semua elegan. Mungkin semacam itu yang dimaksud Nirmala.
"Jadi, di pernikahan kali ini, kenapa suasananya tampak mewah tapi gaun dan sepatuku diminta biasa saja, berarti karena itu?"
Nirmala mengangguk. "Betul, karena kamu cantik, pakai apa saja terlihat bagus. Tidak perlu mewah, toh yang akan dibicarakan bukan gaun tapi gap usia kalian," kata Nirmala.
"Namun," Nirmala menambahkan kalimatnya, "Setting pesta harus mewah karena semuanya adalah masalah prestise untuk Pak Artha dan koleganya. Misal, berita mengenai kamu memakai gaun rancangan Tex Saverio paling hanya akan membuat julid netizen dan membicarakan kamu yang jelek-jelek. Dia sugar baby, omnya kaya, dia kan dulu cuma anak kosan, bentar lagi juga cerai sama si Om terus minta tunjangan, dan sebagainya. Itu malah akan menghancurkan image keanggunan,"
"Sementara, pesta yang mewah dengan hidangan enak, akan dianggap kalau Pak Artha konglomerat yang tidak mungkin bangkrut dalam waktu dekat. Jadi perusahaannya bisa dipercaya untuk ditanami modal besar,"
Wana dengan galau menatap dirinya di kaca. Gaun mewah yang sudah terlanjur dipesan dan dijahit khusus untuknya, yang memang hanya akan dipakainya sekali saja.
Benar-benar pemborosan. Setelah itu hanya jadi pajangan. Diturunkan ke anak cucu sudah pasti zamannya sudah berbeda. Kenapa tidak menyewa saja daripada beli hampir ratusan juta?!
"Gimana dong?" Wana menatap Nirmala dengan kuatir. Ia takut kejutannya rusak. Apalagi membayangkan Artha yang alih-alih terkesima akan Wana dengan gaun putihnya, jangan-jangan pria itu malah jadi mikir : pemborosan apa lagi ini?!
"Hehe," Nirmala terkekeh. "Soal harga jadi rahasia kita saja. Kakak ada teman yang mau menikah, setelah kamu pakai kakak coba tawarkan ke dia, tapi mungkin harganya tak bisa full,"
"Baiklah kak, inilah akibatnya kalau gelap mata. Belum pernah lihat duit banyak sih," Wana menyeringai.
"Astaga..." Nirmala mengelus pipi Wana, "Adikku akan menikah. Rasanya di ingatan kakak adalah kamu yang masih SD, pulang babak belur karena berantem sama tukang palak, hehe,"
"Ih, Jangan diingetin dong! Aku beneran tomboy waktu itu ya!"
"Kan kamu menang, bangga dong!"
"Ya tetap saja seharusnya aku lari untuk mengadu ke orang dewasa, bukannya malah nantangin,"
"Aku nggak tahan alkhohol ternyata, aku nungguin pesanan khusus. Salted Caramel Red Velvet Macchiato," Wana menaik-naikan alisnya.
"Kedengarannya manis banget,"
"Iya biar matching sama perasaan, kan lagi cinta-cintaan, hehe,"
"Pesan Gofood?"
"Bukan. Ada deh, temen. Kakak kayaknya belum pernah bertemu dia ya?"
"Siapa?"
Seorang staff butik datang dengan wajah merah, "Bu Nirwana, ada yang cari di depan,"
"Ah! Akhirnya datang juga pesenanku! Suruh masuk Mbak!" sahut Wana sambil berjalan ke arah koridor menghampiri orang yang dimaksud.
Kevin datang dengan jumawa, sambil tersenyum ke para staff yang langsung menggigit bibir mereka sendiri tanda malu-malu tapi mupeng sangat. "Lama-lama lo kebiasaan banget ya, manggil gue cuma buat titip," omel Kevin.
"Kan kantor lo deket sini, Kev. Sekalian ngapa," dengan antusias Wana merebut minuman yang berada di tangan Kevin lalu mereka bersama-sama kembali ke ruangan pengepasan.
"Tumben lu cantik, kayak inces," Kevin mentap penampilan Wana. "Tapi tetep aja pantat lo tepos, dada lo doang yang menang,"
"Bisa nggak sih sekali-kali muji gue dengan tulus,"
"Lu pikir Om Jutek bakal seneng belahan diumbar kemana-mana gitu?"
Wana memekik kesal, "Adoooh kenapa sih semua orang ngejek gaun gue? Jelek banget ya emang?"
"Lah, ini kan demi kebaikan lo! Gaunnya bagus cuma nggak cocok elo. Harusnya lo pilih yang lebih sederhana. Jadi yang salah tuh elo, bukan wedding dressnya!"
"Arrrgh! Minum stakbak dulu lah yang penting biar kepala gue dingin! Acara sebulan lagi, mana sempat rombak-rombak?"
"Ya dikasih furing aja dari dada ke leher kaliii, ah susah amat sih gitu aja!" omel Kevin.
"Duh, adek-adek'an gue nih kadang jenius banget ya!"
"Nggak kadang, sering!" ralat Kevin.
Tak diduga, saat mereka masuk ke ruang pengepasan, Nirmala yang sedang duduk menyesap winenya, langsung berdiri saat melihat Kevin. Wajahnya tampak sangat terkejut.
Kevin juga, menghentikan langkahnya saat itu juga.
cowok itu terpaku menatap Nirmala.
Pandangannya takjud saat melihat wanita itu.
"Tante Nirmala?" desisnya kaget.
"Kamu kenapa di sini?" gumam Nirmala.
"Aku..." Kevin tampaknya sangat terkejut, ia terlihat kehabisan kata-kata. Ia reflek melirik ke Wana.
Tampak Wana sedang menatap keduanya dengan heran.
"Pada saling kenalkah?" tanya Wana.
"Hm..." Kevin menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
Nirmala menarik napas, dan dengan tegang duduk kembali di sofa sambil meneguk winenya sampai habis.
"Kebetulan pernah ketemu," desis Kevin canggung.
"Oh ya? Gila dunia ini sempit. Dimana ketemunya?"
"Di hot..."
"Wana, kakak masih ada urusan di kantor. Kakak pamit duluan ya!" desis Nirmala sambil menyambar tasnya dan berdiri.
Kevin hanya berdehem sambil salah tingkah.
"Heh? Katanya mau temani aku seharian,"
"Tiba-tiba ada urusan mendadak. Teman kamu bawa kendaraan?" tanya Nirmala sambil menatap tajam ke arah Kevin.
"Eh, yah nggak tahu, naik apa lu kesini?"
Kevin melirik Wana, lalu ke Nirmala yang melotot padanya seakan memberinya kode. "Bawa motor, biasa," jawab cowok itu
"Bisa tolong antarkan saya?" tanya Nirmala.
"Eh?" dengus Kevin.
"Loh? Beneran mau pergi kak? Yaaaah," gumam Wana.
"Iya, maaf ya kakak agak buru-buru. Pinjam teman kamu untuk antar kakak sebentar ya?"
"Bo-boleh aja sih," dengan ragu Wana memberi izin, seakan gadis itu merasa ada sesuatu yang salah. Tapi belum sempat ia bertanya lagi, Nirmala sudah menggeret lengan Kevin untuk menuju pintu keluar.
"Laaah," gumam Wana sambil berkacak pinggang saat keduanya sudah pergi. "Mencurigakan," gumam Wana.