
Selamat Malam Pembaca Setia Novel Receh Author.
Mulai sesi ini kita masuk ke season 2 Obsesi Sang Pemikat, dengan tokoh utama kali ini adalah Si Pemikat paling hot di kalangan ibu-ibu berdaster halu tingkat tinggi seperti Author sendiri, yaitu Kevin Cakra.
Visualnya di sini.
(Artis : Daniel Millar, Cek ignya aja ya saudara-saudara)
Ceritanya mungkin dimodifikasi sedikit berbeda dengan novel Author terdahulu yang sempat publish berjudul Romansa Pemuda, kali ini lebih banyak unsur komedi dan Kevin dibuat dengan usia yang lebih dewasa agar tidak menyalahi aturan di Komnas Anak (ups!).
Baiklah kita mulai ceritanya,
*
*
Kisah ini terjadi sekitar 1 tahun sebelum Wana menikah, dengan kata lain, sebelum Wana bertemu dengan Kevin di club milik Dewi Tunggullangit, artis ibukota papan triplek.
Kevin Cakra, si tokoh utama kita, pemuda berusia 18 tahun yang wajahnya londo. Dia saat ini masih bersekolah di SMA Sincostangen (sebut saja ini nama sekolahnya) kelas 12, yang mana sedang sibuk-sibuknya dengan berbagai ujian kelulusan.
Nenek buyutnya dulu adalah seorang Nyai, sebutan bagi gundik simpanan pejabat Belanda, sehingga keturunannya sampai generasi keempat ya pantasnya berprofesi sebagai model Calvin Klein, bukannya tukang tawuran macam si Kevin ini.
Lagipula, tak pantas ia berada di tengah-tengah fakboi ireng yang saat ini sedang menghitung jumlah gir sepeda terkait di ikat pinggang dan celurit karatan, mau menyerang basis lawan nanti sore sepulang sekolah.
"Jadi gini," Kasep, pemimpin penyerangan kali ini, berjongkok di depan para anggota tawuran sesi sore dan menatap semua dengan serius. "Ini mungkin tawuran terakhir kita di SMA, kita udah kelas 12, jadi,"
"Gue boleh mundur aja nggak?" potong Kevin.
"Nggak,"
"Gue anak yatim nih,"
"Kev, lo tuh andalan kita, lo bisa lempar gir jarak jauh langsung kena,"
"Ya tetep aja kalo muka gue kegores bisa-bisa emak gue ngambek,"
"Pilih emak lo yang ngambek ato kita yang ngambek,"
"Mending lo yang ngambek, udah mau lulus kan cao bye-bye nggak masalah,"
"Lu tuh anak paling anjrit yang pernah gue kenal," gerutu Kasep.
"Salah sendiri deketin gue,"
"Duit lo banyak soalnya,"
"Beuh!"
"Pokoknya kev, jangan cikin! Ini tawuran terakhir kita di SMA," sahut Kasep memotong ucapan Kevin.
"Di SMA,"
"Kalo udah mahasiswa, yang ada demo,"
"Oh iya, udah jatohnya tugas mulia, itu,"
"Jadi ini kita latihan demo atau gimana?" tanya Agus.
Kevin dan Kasep menatap Agus sinis, "Sekalinya buka mulut jangan bego-bego amat kenapa sih Gus?!" gerutu Kasep.
Agus hanya menggaruk kepalanya karena kebingungan.
"Pokoknya, gini... " Kasep membuka kertas gambar A2 berisi strategi tawuran, "Lo kesini, Kevin garis depan maju duluan, terus anggota lo kesini, terus kita kesitu, terus kita kabur mencar, terus kita serang dari belakang, terus kesini kesitu kesono,"
"Kesono tuh kemana? Ngalor? Ngidul? Ngulon?" tanya Agus.
"Kita umpanin Agus aja gimana? Biar nggak sial-sial amat kita," gerutu Kasep.
"Jangan Sep, gue butuh dia buat tumbal pesugihan," ujar Kevin.
Agus kembali garuk-garuk kepala kebingungan.
Dan akhirnya setelah mengatur strategi, mereka memutuskan untuk menunggu lawan mereka di basis terdekat, yaitu berupa halte bis yang tidak terpakai dan jarang ada bis lewat, basecamp para aliansi dari kubu SMA sekutu (bahasa Author politik banget nggak sih?).
“Motor lu di mana cuy?” tanya Agus.
“Di rumah Haji Sueb,” jawab Kevin.
“Hah? Kok bisa nyantol di rumah Pak Haji? Emang boleh?!" tanya Agus takjud. Bisa nitip motor di sana udah merupakan priviledge, karena paling aman dan paling dekat dari basis mereka.
“Anaknya ngajak gue ta’arufan,”
“Njiiirrrr!” Agus terkakak.
"Ta'aruf apa'an sih?"
"Kenalan," kata Agus.
"Kan udah kenal," sahut Kevin.
"Kenalan, terus begitu cocok langsung nikah, nggak pake pacaran, gitu kayaknya konsepnya,"
"Mana asik?!"
"Lagian lu kan Kristen, Kev. Mana bisa ta'aruf?!"
"Iya makanya gue tanya,"
“Lu enak ganteng. Lah gue boro-boro parkir di rumah warga. Di Indoapril saja sering disangka gue maling motor gue sendiri. Udahlah gasak saja itu anak Pak Haji, masa depan terjamin,”
“Ogah, tepos, dan ribet pake ganti agama,”
“Kalem loh, kayaknya masih tingting,”
“Gue deketin dia karena ada maunya,”
"Apa mau lo?"
"Penitipan motor gratis,"
Agus mencibir mendengar jawaban Kevin. Kevin terkekeh. "Lagian gue penyuka wanita yang lebih berpengalaman,"
"Ajegile, lo tipe penyuka Sugar Mommy ya?”
“Nggak mesti mommy-mommy kali, gue nggak suka yang ribet dan ngambekan aja,"
Seperti yang pembaca sudah ketahui, kata-kata Kevin mengandung makna yang cukup dalam. Karena Kevin selain sebagai pelajar, cowok itu juga memiliki profesi lain yang jauh lebih berbahaya.
Tante-tante cantik menjadi incarannya.
Tapi, kita bahas itu nanti.
Sekitar setengah jam kemudian, terdapat keributan dari ujung jalan.
"Dateng tuh!" gumam Kevin sambil menyampirkan tasnya ke depan dan membuka resletingnya.
"Anjaaay," seru semua anggota merasa insecure.
"Gimana? Mahal nih, bisa motong daun sekali sabet," Kevin menyeringai licik.
"Itu sih liat aja langsung kabur, kayaknya," gumam salah satu anggota.
“Maju Gblk! Maju Woy!!” Seru Kasep dari kejauhan, dia didapuk jadi komandan per hari ini. Tidak tahu besok apa jabatannya. Kalo dia tertebas ya turun jadi kopral. Ia tampak mengacung-acungkan golok berkarat milik bapaknya sambil lari ke ujung jalanan.
Kemungkinan sejak Idul Adha digunakan untuk memotong leher sapi namun belum sempat dicuci karena terlihat noda darah kering di besinya.
Tapi Kasep mengaku kalau itu darah manusia.
Semua anggota berlari mengikutinya.
“Lu maju duluan, Sep! Bisa-bisa lu nebas koloni lo sendiri!” seru Kevin sambil menjauhkan kepalanya dari acungan golok Kasep.
“Lu kan front liner, lu duluan!” seru Kasep.
“Hah? Front liner? Gue taunya eyeliner. Apa’an sih front liner?” sahut Kevin.
“Garis depan, cupuuu!” seru Kasep.
“Lah gue pikir pegawai Bank!” seru Agus di kejauhan.
“Iya istilah itu gue memang tahu dari pegawai bank, ah sudah buat apa kita bahas, si?! Lu maju duluan!!” seru Kasep.
“Gue maju, lu di belakang gue ya, awas lo ninggalin, gue santet beneran!” gerutu Kevin sambil berlari dan mencabut katana-nya ke atas.
Katana berkilat yang baru saja di tajamkan dengan batu pualam di dapur milik ibunya. Ia membelinya di online shop, harganya lima juta rupiah.
Uangnya?
Dari para tante.
Serius, itu pekerjaan sampingannya selain menjadi pelajar sekolah negeri unggulan di metropolitan.
Lumayan, sekali datang dapat jutaan. Ia tidak menyia-nyiakan wajah tampannya yang terkesan bengal itu.
Namun,
Baru saja ia berjarak sekitar meter, sekelompok aparat datang membunyikan sirine mobil polisi.
“Anji-ng! 86! 86!!” Seru Kevin langsung berbalik arah.
“Kacrut!!” Jerit Kasep.
“Asw!!” jerit Agus dan yang lain.
Semua langsung tunggang langgang sudah tidak memikirkan lagi berapa skor tawuran sore ini. Yang mereka pikirkan adalah lari dan sembunyi.
Kevin melompati pagar tinggi sebuah mall dan masuk ke dalam mall, lalu keluar lagi lewat pintu karyawan di belakang, lompat lagi dan memasuki gang rumah warga setempat.
Lalu mendaratlah dia di rumah Pak Haji Sueb.
Agus ternyata mengikutinya.
“Numpang!” seru Agus.
Kevin berdehem dan membunyikan bel pagar rumah Haji Sueb. “Samlekum,” sapanya. Agus menaikkan alisnya. Sejak kapan Kevin pindah agama? Bukannya terakhir cowok ini ikutan misa Natal yak?
Aminah, anak Pak Haji Sueb, bintang tiktok 1 juta follower akibat goyang nggak jelas bertema Ukhti Maniez, keluar dari rumah dengan wajah sumringah.
“Wa'alaikumsalam Maskev, mau ambil motornya ya?”
“Iya, sih. Boleh nggak?” Kevin mulai merayu.
Agus mengernyit heran.
Padahal tadi pagi Kevin bilang nggak berminat sama Aminah karena dadanya tepos, kenapa sekarang malah jadi merayu?!
“Kalau nggak boleh bagaimana?” tantang Aminah tapi dengan nada lembut.
Kevin bersandar di pagar, menutupi dirinya yang lelah karena habis lari-larian.
Terlihat sebenarnya ia nggak sabar karena polisi semakin dekat, tapi Aminah malah lenje seperti ini.
“Bolehnya apa, dong?”
“Sun dulu dong,”
Agus langsung mengernyit, “Beuh! Undangan langsung! Ijab sekalian besok!” gerutu Agus.
Kevin mengecup ringan pipi Aminah.
Cewek itu langsung tertegun dengan wajah semerah kepiting kecelup wantek, sudah bukan kecebur air panas lagi.
“Bagaimana? Kurang? Apa mau sekalian di bibir?” Rayu Kevin sambil mengerling.
“Eh, anuuuu ... ambil saja dulu motornya Maskev,” Aminah membuka pagar. Agus pun menghela napas lega.
“Gus, ini kuncinya,” Kevin merogoh kunci motor di saku celananya.
Agus pun menghampiri motor sport Honda CBR250RR Hitam yang harganya bisa buat DP rumah.
Dalam hatinya, bagaimana Kevin yang dari keluarga biasa-biasa saja memiliki motor 70 jutaan itu?
“Ngepet kali dia?” gumam Agus sambil naik ke atas motor.
Bukan, jawabannya, dibelikan salah satu tante yang 'memelihara' Kevin.
Saat ia memasukkan kunci, Agus pun mengernyit.
“Cuy, ini motornya bagaimana sih hidupinnya? Langsung geber atau bagaimana?” tanya Agus sambil memanjangkan lehernya ke arah Kevin.
Lalu seketika dia pun mengerang.
Bukannya menghampiri Agus, Kevin malah sibuk berciuman dengan Aminah di garasi.
Terlihat jelas tangan Kevin meremas bokong Aminah.
“Woy, Anj*ng! Nekat lo!! Mati di gorok Pak Haji baru tahu lo!” Seru Agus panik.
Kevin melepaskan ciuman sambil terkekeh.
Lalu menghampiri Agus,
menggeser posisi Agus ke bangku penumpang,
putar kontak ke On,
dan pencet tombol electric starter sambil tersenyum jahil ke arah Aminah yang menatapnya sendu.
Pembaca, doakan Kevin segera tobat yak.