Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 18


Batang udud ketiga,


Mata ke atas menatap plafond kantin,


Tubuh rebahan di bangku panjang nan buluk,


Kaki masih pakai sandal hasil ambil dari mushola karena sepatunya ditahan Bu Ida,


Seragam, jelas milik Kasep.


Sedangkan hati? Penuh sumpah serapah.


Kevin takut menghubungi Mami, takut terlacak lalu tertangkap. Obrolan terakhir dengan mami adalah kemarin siang. Beruntung pagi ini dia belum mengirimkan satu whatsap-pun. Mami sama sekali tidak memperingatkannya. Mungkin memang tidak sempat.


Lalu berikutnya, bagaimana dengan penghasilan Kevin?


Sudahlah, belum tertangkap saja sudah merupakan anugerah.


Saat dia galau begini, biang keladi malah datang.


Dian lagi.


Dian lagi.


Tersenyum licik sambil berdiri di sebelahnya.


"Gimana kak? Dipanggil polisi nggak? Mama udah kabur ke luar negeri tadi malam, papa ikut dia. Sekarang rumahku sepi, kalau kakak mau datang," tanya Dian bertubi-tubi.


Ingin rasanya Kevin menyemprot mulut cewek itu dengan saus cabe botolan yang terletak di dekatnya, tapi akal sehat Kevin untungnya masih tersisa.


Dari kalimatnya, sudah pasti Dian adalah pihak yang terlibat. Mungkin sejak Kevin menolaknya saat pertama, mungkin juga Dian tidak terima karena pernah ditegor Mami,


Dian ingin bermain, dia akan ladeni kali ini.


"Maksud lo apa, kunyuk?!" gumam Kevin sebal.


Dian diam, tampak dia memikirkan kalimat berusaha membalas Kevin.


Tadinya Dian sangat yakin kalau 'anak buah Bu Dewi' yang dibilang Kevin kemarin bukanlah karyawan biasa, namun salah satu gigolo Mamanya. Sudah lama Dian tahu pekerjaan rahasia Mama tirinya itu, tapi selama ini ia tutup mata saja karena toh Mamanya lumayan loyal padanya kalau masalah uang saku.


Sampai di hari itu, Mama tirinya menegor Dian agar berhenti mengganggu Kevin.


Sejak itu, Dian bertekad untuk membuat Kevin dan Mamanya jera karena meremehkannya.


Namun nyatanya, Kevin tidak terpancing.


Padahal Dian sudah memberitahu polisi kalau Mama tirinya, Dewi Tunggullangit adalah mucikari. Memang tanpa bukti konkret, tapi kepergian Mamanya ke luar negeri secara mendadak sudah merupakan suatu titik cerah bagi penyelidikan.


"Mulai sekarang kakak tidak bisa seenaknya meremehkan aku. Aku akan melakukan apa saja agar kakak mau jadi pacar aku," kata Dian.


Ini cewek pantesnya dikasih pelajaran, hinaan sudah tidak mempan akibat obsesinya. Pikir Kevin semakin kesal.


"Apa saja?" pancing Kevin.


"Iya, apa saja," Dian menegakkan dagunya, merasa menang.


Kevin mencebik, lalu melirik Kasep dan Agus yang sedang lahap menyantap bakso di sebelahnya. "Lo layanin dulu temen-temen gue, deh. Di depan umum, divideoin, lebih bagus tema BDSM yak. Baru gue mau jadi pacar lo," kata Kevin.


Mata Kasep dan Agus langsung membesar. "Si kin-til lagi mabok tanpa minum," bisik Kasep ke Agus.


Dian diam.


Dia tadi terlanjur bilang 'apa saja'. Tapi tidak menyangka kalau Kevin mulutnya sejahat itu.


"Lagipula, yang lo maksud sama 'dipanggil polisi' tuh apa sih? Jelas-jelas gue sekarang ada di sini," tanya Kevin.


"Eh?" kejut Dian.


"Emang kalo nyokap lo keluar negeri bareng bokap lo, masalah buat gue? Apa urusannya sama gue? Dan kalo rumah lo kosong terus ngapain manggil gue? Mau minta bantuin nyapu-nyapu? Ogah!"


Mam-pus lo, tiga gol sekaligus, gue hattrick! Gerutu Kevin dalam hati.


Diam masih diam. Dia tampak kebingungan.


"Hubungan gue sama Bu Dewi itu hanya karena gue waktu itu minta dicariin kerjaan di bidang entertainment. Titik. Emang lo nyangkanya kayak gimana, Non? Otak lu harus di toyor lagi kayaknya, biar lurus lagi,"


Iya, jadinya bidang entertain sih... Menghibur para tante. (Hehe)


"Masih ada urusan nggak?! Gue lagi bete nih!!" seru Kevin tak sabar.


Cewek itu terpekik kaget dan langsung lari kabur dari sana.


"Bisa galak juga lo, Kev," kata Agus sambil terkekeh.


Kevin hanya menghela napas sambil menutupi wajahnya dengan lengannya.


"Ntar sore anak-anak siap-siap di basis, dari STM A mau nyerang," kata Kasep sambil memeriksa ponselnya.


"Kali ini apa lagi masalahnya?"


"Cewek, biasa,"


"Yok gabung!"


"Lo bisa, Kev?!"


"Kita bentar lagi lulus. Kalo ditangkep polisi gimana?" gumam Kevin.


Agus dan Kasep diam sambil saling melihat.


"Sok suci amat lo! Takut muka ganteng lo kegores ya?" sahut Kasep.


"Gue mikirin ibu gue," gumam Kevin. Masalahnya sekarang, tanpa kehadiran Mami, diprediksi pendapatannya akan berkurang drastis. Tinggal sedikit lagi ia lulus sekolah dan bisa segera mencari kerja yang layak agar ibunya bisa hidup nyaman. Jangan sampai dikacaukan karena masalah tawuran.


"Kenapa nggak dari dulu?! Sekarang udah telat, monyong! Sana siap-siap! Ambil tuh katana di rumah, lama-lama karatan kalo nggak dipake!"


"Dipake nyokap buat motong ayam," sahut Kevin.


"Awas lo nggak ikut! Chicken, dasar!" gerutu Kasep.


"Hemmm,"


Tapi, hari itu Kevin tidak bisa ikut tawuran, karena ...


*


*


Malam Minggu,


Nirmala dengan langkah tegas menuju ke kamar salah satu pasien di rumah sakit besar, di Timur Jakarta.


Sosoknya penuh percaya diri.


Siang ini, ia baru saja mendapat penghargaan dari kantornya karena berhasil menjual properti melebihi target tahun itu. Ini semua berkat Arthasewu Connor.


Wanita itu tersenyum bahagia, akhirnya ada yang mengakui hasil kerjanya, jerih payahnya.


Juga,


Yaitu,


Nirmala membuka salah satu pintu ruangan VIP.


"Permisi," sapanya.


Tampak di sana di dalam ruangan ada Jaka, mantan suaminya. Lalu ada Gea, istri Jaka yang baru. Terbaring dengan kondisi pucat dan lelah dengan infus menghiasi punggung tangannya.


Bapak dan Ibu Jaka, si mantan mertua Nirmala, juga ada di sana. Serta dua orang suami istri paruh baya yang diperkirakan oleh Nirmala sebagai orang tua Gea.


Lalu di sebelah Gea ada tempat tidur bayi. Bayi laki-laki yang wajahnya rupawan. Sangat berbeda dengan rupa Jaka ataupun Gea. Keterangan anak itu tertulis di papan ranjang.


Nirmala menghampiri anak itu, mengamatinya sebentar.


Lalu tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya, ia pun terkekeh.


"Tampan sekali, penasaran seperti apa wajah bapak biologisnya," desis Nirmala.


"Mala!!" seru Jaka.


Namun anak itu terkaget karena teriakan Jaka. Dia tampak reflek kaget, dan langsung menangis.


Si ibu mertua, memeluk anak itu dan mengusap kepalanya. Berusaha menenangkannya.


Namun anak itu malah menangis semakin kencang.


Nirmala tersenyum sinis.


Pagi ini Bayi itu lahir. Dan Jaka menghubunginya, menanyakan kabar.


Lalu setelah berbasa-basi sebentar, Jaka mengutarakan hal yang membuat Nirmala terkejut sekaligus senang.


Golongan darah bayi itu berbeda. Baik dari Ibunya maupun dari Jaka. Bagaimana mungkin kedua orang tuanya B dia sendiri A.


Jadi, sekarang bagaimana?


Nirmala mengulurkan tangan ke si bayi, tangan mungil anak itu menggapai Nirmala, dan menggenggamnya erat.


Lalu Nirmala menggendongnya, menimangnya, mengusapnya kepalanya yang masih lembek dengan perlahan, menenangkannya.


Sungguh bayi tampan tanpa dosa, dan Nirmala mengernyit miris.


"Tidur lagi ya Sayang, biar cepat stabil," Nirmala mengusap air mata yang tergenang di pipi anak itu. "Tenang saja, Tante Mala sudah bawa uang untuk membiayai kamu sampai sembuh. Uangnya dari hasil kerja keras Tante sendiri, bukan hasil korupsi atau pun pesugihan," kata Nirmala sambil tersenyum lembut sambil menyindir mantan mertuanya.


Anak itu pun perlahan memejamkan matanya.


Setelah keadaan semakin tenang dan sunyi, Nirmala merogoh tasnya.


Mengeluarkan 5 gepok uang seratus ribuan.


Lalu membuka ikatannya, dan melemparkannya ke arah wajah Jaka sampai lembarannya berhamburan.


"Ini dari si Rahim Berantakan," Nirmala menatap mantan mertuanya dengan sinis. "Selamat ya atas kelahiran si tampan anak Gea. Hebat juga aku bisa bertahan sama kamu dan orang tua julid kamu selama 9 tahun,"


“Mala, kita tidak sepantasnya begini di depan semuanya,” gumam Jaka meminta pengertian.


“Ah, aku akan melepas rumah dan mobil untuk kamu,” sahut Nirmala. Jaka mengangkat alisnya, kaget sekaligus heran.


“Kenapa...”


Nirmala memotong kalimat Jaka, “Tapi sebagai gantinya, aku tidak ingin diganggu dengan urusan kamu lagi, juga kamu harus mempercepat proses perceraian. Waktunya satu bulan, lebih dari itu, aku ambil lagi semuanya,”


“Aku tidak ingin bercerai dari kamu,” kata Jaka.


“Aku suka orang lain,” kata Nirmala, “Dan saat ini sedang menikmati kebebasanku,”


“Siapa yang kamu suka?” terlihat wajah Jaka yang langsung menahan emosi.


“Bukan urusan kamu. Lagipula... sudah saatnya kamu mandiri. Masa kamu bergantung terus padaku? Nggak malu? Kemana harga diri kamu sebagai laki-laki? Numpang terus sama istrinya,”


Jaka terkejut mendengar Nirmala yang biasanya lembut dan sabar, mendadak ketus dan tegas seperti itu.


“Apa yang sudah terjadi? Ini bukan diri kamu,”


“Ini diriku yang selama ini terbelenggu oleh perasaan cintaku yang begitu besar padamu. Karena gemboknya kamu buka, cintanya hilang, dan keluarlah sifat asliku. Jadi yah, terimakasih karena telah mengkhianatiku,”


Lalu Nirmala pun pergi dari ruangan itu dengan elegan.


Merayakan kemenangannya.


Ya, selain menanyakan kabar dan memberitahu kondisi bayinya, Jaka juga menghiba meminta bantuan finansial dari Nirmala.


Kemarin malam, Istri Jaka si pelakor, mengalami komplikasi dan harus operasi sesar.


Biaya rumah sakit sangat besar jumlahnya, dan mereka tidak memiliki uang sebanyak itu.


Belum lagi debt collector pinjol ilegal yang selalu datang sampai ke rumah sakit segala, menagih cicilan yang tertunggak berbulan-bulan.


Gea harus dipindahkan ke ruang vip yang penjagaannya maksimal karena kedatangan DC mengganggu pasien lain. Juga mereka terganggu karena Jaka selalu berteriak-teriak di ponsel mengusir telepon dari DC.


Namanya DC dari pinjol ilegal, mereka tidak peduli tempat dan kondisi. Yang penting mereka datang dan menghardik.


Jadi Nirmala datang dan memberi bantuan keuangan untuk biaya rumah sakit, operasi, dan melunasi hutang-hutang Jaka.


Rumah sakit yang biasanya dipenuhi isak tangis dan wajah-wajah muram, kini malah terasa bercahaya bagi Nirmala.


Karma dibayar lunas.


Yang tadinya menghina Nirmala, kini diinjak Nirmala.


Sebenarnya, Nirmala tidak ingin bertindak searogant tadi.


Namun, ia tadinya benar-benar mencintai Jaka. Mereka menikah atas dasar cinta.


Walaupun berbagai pihak menghina Nirmala yang tidak kunjung dapat memberikan keturunan, Nirmala tetap bangkit dengan sekuat tenaga mempertahankan pernikahannya.


Kembali ke masa sekarang,


Nirmala duduk di ruang tunggu depan IGD.


Hanya duduk di sana,


Untuk mengatur napasnya dan air matanya.


Menyesali hidupnya sekaligus mensyukurinya.


Hadiah dariMu sangatlah indah, Tuhan.


Doa Nirmala sambil mengusap liontin salib kecilnya.


Dan saat itu, Nirmala mendengar keributan dari ruang IGD di depannya.


Matanya langsung terpaku ke salah satu sosok.


Kevin,


Ia melihat Kevin