
Artha duduk sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Menatap Stela dengan serius.
Di benaknya terbayang ingatan masa lalu.
Gadis di depannya ini, belasan tahun lalu ia timang-timang dibuaiannya saat menangis di malam hari karena mimpi buruk. Sementara Yuni entah kemana, tak pulang-pulang hampir dua minggu.
Artha bukannya tak pernah ada.
Sampai usia Stela 15 tahun ia sebenarnya ada di dekat situ, mengamati perkembangan 'anaknya' ini. Ia dan Yuni tinggal terpisah, karena gaya hidup Yuni tidak cocok dengannya.
Namun ada beberapa moment kebersamaan antara Stela dan Artha.
Walaupun Stela selalu dikelilingi Babysitter dan pengasuh, namun Artha berusaha ada sebagai figur ayah.
Dan sekarang gadis itu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.
Duduk di depan Artha dengan jengah dan menatapnya ragu-ragu.
Namun seakan ada secercah semangat di matanya, yang Artha belum bisa pastikan pertanda apa itu.
"Stela, saya tahu kamu bukannya cewek polos yang nggak ngerti apa-apa. Kamu pasti tahu kan kejadian akhir-akhir ini?" ucapan pertama Artha untuk Stela.
Saatnya mereka bicara dari hati ke hati. Sesuatu yang harusnya dilakukan sejak dulu.
"Iya Pah, aku tahu kok garis besarnya," kata Stela.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Stela menghela napas dan mengamati awan di luar jendela.
Bayangan akan masa depan.
Tanpa ibunya.
Itu yang ia pikirkan.
"Papa, bisa bantu aku untuk mandiri? Mungkin memberiku pekerjaan di sini?" tanya Stela.
"Aku tahu aku tidak berhak, aku bukan anak Papa. Setidaknya aku mohon belas kasihan saja,"
"Dengan nilai seburuk ini kamu tidak akan dapat pekerjaan di kantor saya," gumam Artha.
Stela mencibir.
"Apalagu attitude kamu yang sombong dan angkuh, apa pekerjaan yang cocok buat kamu? Di sini semua kerja tim,"
Lagi-lagi Stela merasa tertohok.
Lalu Artha membuka lacinya dan mengambil sebuah kartu nama. "Hubungi dia, dia akan membimbing kamu. Tapi saya peringatkan, jangan macam-macam. Dia jenis wanita kuat yang tak takut apa pun, semakin kamu melawan, semakin kamu tersiksa,"
Wanita? Stela mengernyit.
Lalu menerima kartu nama yang disodorkan oleh Artha.
Susan Tanudisastro, Direktur Utama Amethys Tech.
"Tadinya dia diisukan resign dari Amethys Corp, namun belakangan setelah melahirkan dia kembali menjabat. Katanya pekerjaan IRT lebih berat, dan karena gengsi sama suaminya dia memilih bekerja kembali," kata Artha terkekeh.
"Papa, nanti jadi menikah dengan Wana?" tanya Stela.
"Kami sudah booking Wedding Organizer,"
"Hidup kami berubah sejak Papa kenal dia," gumam Stela. Ada kegetiran dalam nada suaranya.
"Untuk Papa, berubah menjadi lebih baik. Selama ini papa berpikir wanita adalah makhluk yang berbahaya dan harus dijauhi. Berkat Wana, semua itu berubah,"
"Dari milyaran wanita di dunia, kenapa harus dia?"
"Dari milyaran pria di dunia, kenapa harus Chandra? Cinlok atau bagaimana?" Artha balik bertanya.
"Chandra tidak seumuran papaku sendiri," balas Stela.
"Sudah bisa membalas ucapan papa ya kamu,"
"Mohon jangan tersinggung. Papa sudah sering menyinggung aku, cuma segitu aja nggak usah sensitif," dengus Stela. "Lagipula, Papa tahu persis darimana aku belajar berkata-kata kasar dan bersikap menyebalkan. Dari milyaran laki-laki di dunia, mungkin cuma Chandra yang tahan sama sifatku ini,"
Artha terkekeh sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. "Kelihatannya kamu sedang senang. Wajah kamu mulai santai. Biasanya kalau ketemu Papa tegang,"
Stela tersenyum tipis.
"Aku yang begini bukannya suka dengan kehidupan yang kujalani selama ini. Kepalsuan yang kujalani mulai menggerogoti jati diri yang sebenarnya. Saat aku pikir aku menyerah saja dengan keadaan, Chandra ada di depanku. Nekat maju saja. Ditolak ya sudah, diterima ya baguslah. Ternyata ada timbal balik,"
"Jadi semua ini gara-gara Chandra?"
"Dan penangkapan Mama tentunya!" seru Stela. "Sebut saja aku anak durhaka, aku nggak peduli. Mungkin penjara memang tempat yang sesuai untuk Mama, untuk belajar cara mensyukuri hidup. Sekaligus memberi aku waktu untuk menata kembali dari awal,"
"Kalau begitu," Artha menunjuk kartu di tangan Stela dengan dagunya, "Temuilah Susan, Papa sudah menitipkan kamu padanya. Dia itu lebih angkuh dari kamu. Bedanya, kamu bodoh dia jenius. Serap ilmunya, jangan kerja licik. Tidak akan tahan lama. Kejujuran jauh lebih penting, tapi jangan naif. Ada jalan jujur dengan cerdas. itu yang akan kamu pelajari dari Susan. Bagaimana cara mendapatkan keinginan dengan tetap jujur tapi orang lain tak menyadari kalau kamu menggunakan trik untuk memanipulasi mereka,"
"Semoga berhasil, mulai sekarang kita orang lain," kata Artha sambil berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Stela, hendak menjabatnya.
Stela menatap jemari yang terulur padanya.
Selama ini dia mengenal Artha sebagai sosok Papa, apakah harus menjabat tangannya? Konyol sekali! Pikirnya.
Jadi Stela maju dan memeluk Artha, "Terima kasih sudah selalu ada untukku, walaupun dengan segala keraguan,"
Artha menghela napas,
Ya sepantasnya hubungan mereka selama ini memang tidak berakhir begitu saja, pasti ada ikatan psikis yang terjalin.
Orang lain? Salah. Justru mungkin kali ini mereka bisa lebih dekat daripada sebelum-sebelumnya.
Jadi Artha membalas pelukan Stela, pertamakali mereka berpelukan setelah 21 tahun hidup Stela. Justru dilakukan saat mereka bukan dalam status Ayah-anak.
"Uang Om Artha nggak usah kukembalikan ya," desis Stela dengan wajah jenaka.
Artha mencibir. Sekarang dia dipanggil 'Om'.
"Akan ada transfer terakhir untuk bulan ini, dihemat untuk masa depan kamu,"
"Terima kasih,"
Saatnya untuk mengembalikan Birkin Buaya Albino dan tas-tas branded lainnya ke penyewa. Mungkin juga menjual beberapa barang dan perhiasan milik mamanya untuk tabungan masa depan. Jadi kalau Yuni bebas dari penjara, beliau masih punya tabungan.
*
*
"Sudah?" tanya Chandra saat Stela keluar dari ruangan Artha.
Stela menatapnya, lalu cekikikan sambil balik badan.
"Udahlah nggak usah ketawa dooong!" keluh Chandra.
"Nggak bisa nggak ketawa, astagaaaa, kamu lucu banget!" kekeh Stela dengan masih berbalik.
Sementara Bira di depannya malah asik joged mengikuti alunan lagu dangdut sambil menscanning beberapa dokumen. Sepertinya dia nyaman dengan dasternya.
"Ck! Udah sana pulang. Jangan bilang siapa-siapa terutama ke dua orang pengawal kamu,"
"Pengawalku udah kupecat, mau bayar pake apa aku? Mama kan dalam proses," kata Stela sambil menghampiri Chandra.
Gadis itu duduk di pinggir meja Chandra, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu, "Aku nginep di tempat kamu ya malam ini,"
"Kenapa?"
"Pingin dekat sama kamu aja, nggak ganggu kan?"
"Jelas ganggu lah, orang mau me time,"
"Orang lain sih senang pacarnya dateng nginap, kamu malah nggak,"
"Aku nembak kamu jadi pacar nggak sih?"
"Nggak, otomatis aja,"
"Pede banget kamu," Chandra mendekati Stela lalu memeluk pinggang gadis itu. "Kalau kamu nginap, kamu harus bersih-bersih, cuci baju, masak, terus..." dan dia mencium bibir Stela, "Mungkin sedikit pelayanan untukkku,"
"Nggak bisa langsung yang terakhir aja ya?"
"nggak, ada stepnya,"
"Apapun lah demi kamu, aku jadi bucin," Stela kembali mengecup bibir Chandra.
"Biar kamu bucin beneran," Chandra menyelipkan cincin di jari Stela saat mereka berciuman.
"Astaga," dengan pipi merona, Stela menatap cincin bermata mungil di jemarinya. Mungkin Stela yang dulu melihat cincin dengan mata seimut itu akan membuatnya mendengus kesal. Tapi kali ini semua terasa berbeda untuknya.
Cincin di jemarinya dari Chandra, pria yang ia cintai.
Bagaikan mendapat mustika. Semua terasa lebih cerah kali ini.
"Jangan selingkuh," gumam Chandra sambil mencubit pipi Stela. Lalu pria itu kembali duduk di kursi kerjanya sambil melambaikan tangan ke Stela, menyuruhnya pulang.
"Jangan lupa sebelum pulang ganti baju," desis Stela sambil beranjak dengan mata tetap tertuju ke cincin di jemarinya.
Setelah Stela menghilang, Chandra baru sadar kalau Bira dan Artha sedang menatapnya. "Sejak kapan pada di situ?" dengusnya.
"Kantor saya kenapa jadi banyak bunga begini ya?" gumam Artha sambil beranjak dari sisi Bira untuk kembali ke ruangannya.
"Cieeee, bentar lagi kondangan dresscode bikini daaaah," goda Bira sambil kembali ke kursi kerjanya.