
Sambil bergandengan tangan mereka menyusuri area pertokoan dengan wajah lelah. Seperti di duga, seluruh pengunjung curi-curi pandang ke arah Kevin dan Nirmala.
Beberapa bisik-bisik seperti : itu tante dengan keponakannya? Atau Ibu sama anak kayaknya, atau tante-tante gatel sama berondongnya, atau yang lebih sering : cowoknya muda banget tapi ceweknya cantik sih bahenol semok pantesan aja cowoknya kesengsem.
Namun mereka tak hiraukan.
“Baikan,” ujar Kevin pelan. Kayak anak SD ngajak damai musuh bebuyutan main layangan.
“Oke, keputusannya apa?” tanya Nirmala, masih dengan langkah perlahan sambil melihat etalase perhiasan.
“Kamu belajar motor matic dulu. Aku pinjam mobil kantor, kamu yang ajarin aku,”
“Begitu lebih baik. Aku tahu tanah lapang yang tanpa hambatan, mau dibangun perumahan. Kita nanti ke sana belajar nyetir,”
“Motivasi kamu naik motor tuh apa sih?” Kevin penasaran.
“Nganterin anak ke sekolah, lebih mudah sepertinya kalau naik motor,”
“Ya bukan moge dong,”
“Tadi kan cuma emosi. Motif kamu nyetir mobil gimana? Cuma buat gaya-gayaan biar lebih jantan gitu?”
“Ya lebih aman aja kalau bawa anak-anak pake mobil jalan jauh. Kan yang nyuapin mereka kamu, masa kamu nyetir juga,”
“Lalu hanya aku yang ngurusin anak-anak? Kamu kan juga bisa,”
“Aku laki-laki, nggak punya feeling keibuan,”
“Kan belum tahu, Kev. Siapa tahu malah kamu yang akrab sama anak-anak,”
“Ya tapi tetap aja bonding sama kamu, kan kamu yang mengandung,”
“Nikah aja belom udah mikirin anak,”
“Hm,”
“Hm,”
“Hahahahahahaha!!” dan mereka pun tertawa berbarengan. Di tengah kerumunan orang banyak.
“Konyol banget sih kita!” seru Kevin.
“Aku baru tau kalau aku juga bisa ngomel-ngomel!” seru Nirmala.
“Mikirnya udah kejauhan! Beneran nggak jelas!” Kevin merengkuh Nirmala ke pelukannya dan mengecup dahi wanita itu. “Kamu nyebelin kalo ngomel. Tapi aku gemes,”
“Nggak usah tegang, Kevin. Kita lagi di tengah orang banyak,”
“Errrghh...” gumam Kevin. “Kalo di film romantis kan habis berantem gituan,”
“Yang ini nggak ya, aku capek mau langsung tidur. Sendirian. Kamu masuk apartemen kamu sendiri sana!”
“Yah... kok gitu!”
“Aku haus, traktir kopi ya,” sahut nirmala sambil mendorong tubuh kevin dan menggandengnya ke arah cafe kopi terkenal mehong.
“Yuk ngopi,” Kevin malah menarik Nirmala ke arah restoran fastfood yang juga menyediakan kopi, logo M (disamarkan karena nggak diendors).
“Cafenya di sana,” Nirmala menahan Kevin.
“Kopi di sana lebih murah,” Kevin menunjuk ke arah sebaliknya.
“Minum kopi itu harus di cafe khusus, nyeduhnya lebih enak,”
“Kalau masalah rasa, sih, Kopi yang pake gelas plastik pinggir jalan juga enak, lagian rasanya sama aja,”
“Nggak sama Kev,”
“Sama,”
“Nggak,”
“Kita tuh harus berhemat buat kehidupan setelah pernikahan, Nirmala. Coba kutanya berapa harga secangkir kecil kopi di cafe itu?”
“Sekitar 65ribu,”
“Itu bisa beli 5 gelas kopi di restoran dan 13 gelas kapal api di starling,”
“Beli kopi 65ribu sekali-kali nggak bikin kamu miskin,”
“Masalahnya itu bukan hanya sesekali, kamu keseringan beli barang mahal yang nggak ada gunanya,”
“Selama ini aku sering beli kopi mahal tetap bisa nabung,kok,”
Kevin diam.
Lalu berkacak pinggang menatap Nirmala dengan tajam.
Nirmala juga diam.
Berdiri menghadang Kevin dengan kedua tangan terlipat di bawah dada besarnya.
Kali ini Kopi Kekinian VS Kopi Fastfood.
Apa lagi nanti?!
“Kevin,”
“Hm,”
“Jangan mengacak-acak gaya hidupku, maka kebiasaan kamu juga tidak kupermasalahkan,”
“Masalahnya...”
“Iya aku tahu, ini masalah gaji dan kekuatiran kamu akan masa depan. Tapi percaya deh Kev, aku sudah menginvestasikan pendapatanku ke deposito dan emas. Jadi rasanya kekuatiran kamu akan segelas kopi bisa jadi berlebihan,”
“Hm,”
“Dan aku orang dewasa yang sudah pernah berumah tangga, jadi aku bisa atur sendiri kapan perlu hedon, kapan membatasi diri,”
Kevin pun menghela napas berat.
Lalu berjalan ke arah Nirmala dan melewati wanita itu dalam diam. Pergi menuju cafe favorit Nirmala untuk beli kopi.
Menyerah tapi nggak ikhlas, judulnya.
*
*
Oke, tapi rupanya cowok itu memiliki feeling jitu, seperti biasa.
Karena dari awal ia tidak suka ke cafe itu, kemungkinan ia sudah ada perasaan tak enak yang sulit dijelaskan. Dan benar saja, tampaknya mereka akan mengalami satu lagi keributan kecil yang perlu dibereskan.
Yaitu...
“Kak Mala?” Wana, dan Artha menghampiri Nirmala dan Kevin yang sedang berdiri di depan kasir untuk membayar kopi.
Artha menghela napas sambil menyeringai. Ia sudah tahu hubungan Nirmala dan Kevin dan selama ini diam saja tidak memberitahu Wana. Buatnya hal itu bukan urusannya.
Nirmala dan Kevin dengan tegang menatap Wana.
Lalu mereka saling bertatapan.
Lalu mereka menatap Wana lagi.
“Lagi pada ngapain? Kok berduaan? Nggak sengaja ketemu atau janjian?” tanya Wana.
Nirmala dan Kevin hanya saling bertatapan, lalu mereka tersenyum ke arah Wana.
“Kalian ke sini kencan?” tanya Nirmala sambil tersenyum ke arah Artha.
“Iya, kita habis ke ngurusin catering, terus jalan-jalan sebentar di sini,” Wana memang berbicara ke arah Nirmala, tapi tatapannya ke Kevin. Tajam dan penuh curiga.
Kevin berdehem karena tenggorokannya langsung kering.
Melihat Kevin yang biasanya heboh jadi pendiam dan kakaknya yang biasanya kalem jadi salah tingkah, Wana langsung menatap tajam kepada keduanya.
“Kalian ada hubungan apa?” tembak Wana langsung.
Kevin dan Nirmala diam.
“Kak Mala?” tanya Wana, ia tahu kakaknya pasti akan bicara jujur.
Tapi Nirmala hanya bisa diam sambil tersenyum.
“Serius, Kev...” gumam Wana ke arah Kevin dengan kesal. “Sampai kakak gue aja lo gombalin?”
“Bukan gitu-”
“Lah ini apa buktinya?! Dari sekian banyak cewek yang bisa lo gaet pake tampang lo itu, kenapa harus kaka gue?! Gue kan udah bilang jangan deketin dia!” Wana berteriak marah.
“Gue tadinya nggak tau itu kakak lo sampe-”
“Halaaaah! Bullshit lo! Dipikir gue nggak tahu tingkah gatel lo itu, hah?! Lo bisa cari tante yang lain, Kev!”
Kevin akhirnya memutuskan untuk diam. Karena menurutnya, dia berbicara apa pun, Wana tidak akan percaya padanya.
“Kak Mala, dia itu-”
“Kakak tahu kok, kakak dulu salah satu kliennya,” potong Nirmala.
Artha bersiul, dan Wana ternganga kaget.
“Hah?!” dengus Wana.
“Kejadiannya sebelum perceraian kakak dikabulkan. Tapi setelah pelakor menunjukkan diri dan kami dalam masa tenggang,” kata Nirmala mengakui.
“Kak...” Wana menelan ludahnya. Ia langsung pucat. Karena menurut Wana ia tak habis pikir bagaimana mungkin kakaknya bisa melakukan tindakan ilegal dengan menyewa gigolo untuk melampiaskan kesedihannya. Nirmala yang sekarang bukanlah Nirmala yang Wana kenal, yang kalem dan selalu tenang.
Yah, tapi manusia bisa saja khilaf kalau ada cobaan yang di luar batas kesabarannya.
“Kakak sudah tahu kalau dibelakangnya ada banyak wanita tapi tetap...” Wana tidak melanjutkan kalimatnya. Padahal Nirmala menunggu kelanjutannya.
Ia hanya ingin tahu sejauh mana Wana dapat memaklumi tindakannya. Karena selama ini ia selalu memaklumi tindakan Wana, ia ingin adiknya itu juga bersikap seperti dirinya.
“Gue kan udah bilang kalau udah berhenti dari pekerjaan itu,” gumam Kevin pelan.
“Iya kalau ibu lo nggak meninggal lo bakalan masih tetap berkubang di lumpur,” sindir Wana.
“Jangan bawa-bawa ibu gue,” Kevin mengernyitkan dahi. “Sebenarnya selama ini gue pikir lo temen gue.Ternyata begini sikap lo,”
“Sama. Gue masih anggap lo temen sampai 5 menit yang lalu ternyata lo punya hubungan rahasia sama kakak gue, mana lagi yang bakalan lo rusak Kev? Hidup lo udah kacau, jangan bikin ribet hidup orang lain!”
“Wana!!” Seru Nirmala. Wana sampai-sampai terpekik mendengar suara kakaknya yang melengking. “Kakak tidak pernah minta pendapat kamu mengenai kehidupan Kakak. Juga kakak tidak mencegah kamu untuk menikah dengan siapa pun! ” Seru Nirmala tak sabar.
Akhirnya keluar juga kalimat sarkas dari bibirnya.
Wana terpekik kaget.
Kakaknya marah padanya.
Seumur hidupnya, hanya saat di rumah sakit waktu itu Kakak Mala-nya meninggikan suaranya beberapa oktaf. Ternyata Nirmala masih bisa meninggikan nada suaranya jauh lebih tinggi dan lebih emosional.
“Kamu tidak membiayai hidup kakak selama hidup kita, juga tidak pernah kakak libatkan ke dalam persoalan rumah tangga. Kakak ingin kamu hidup tenang bahkan beberapa bantuan mengenai kecerobohan kamu, kakak yang bereskan semua. Sekarang, apa susahnya membiarkan kakak bahagia sedikit saja?!” seru Nirmala.
Sampai-sampai satu cafe menoleh semua mendengarkan perbincangan mereka.
“Tapi dia mantan gig...” Wana lalu terdiam, sadar kalau banyak mata sedang memperhatikan mereka.
“Memangnya kamu Tuhan sampai tahu seberapa banyak Kevin berubah?! Kakak masih bisa maafkan niat kamu untuk menjadi baby waktu itu ya! Untung saja tidak jadi. Sekarang kamu menganggap diri kamu segitu sucinya menghakimi Kevin dan Kakak sekaligus?”
“Astaga Kak, bukan itu maksudku. Aku hanya kuatir dia menyakiti kakak!” sahut Wana.
Terdengar decakan dari Kevin tanda sebalnya.
Tapi tidak heran Wana berbicara seperti itu. Karena ia dan Kevin pertama kali bertemu dalam kondisi yang tidak pantas, jadi pikiran negatif akan diri Kevin, selalu menghiasi otak Wana.
“Gue nggak bakalan nyakitin dia, pertengkaran adalah hal biasa dalam suatu hubungan pernikahan,” gerutu Kevin. “Berapa lama sih lo jadi temen gue? Selama ini gue nyakitin elo nggak sih?”
“Ya nggak sih,” gumam Wana pelan. Iya, karena alih-alih menyusahkan, Kevin malah teman yang banyak membantunya dalam berbagai hal.
“Terus? Kalo pikiran lo cuma ke arah kerjaan masa lalu gue, otak lu tuh kolot bener!” Kevin menoyor dahi Wana, “Dan jangan bawa-bawa usia, gue sensitif kalo bahas itu!” Kevin juga melirik Om Judes yang lagi mesem-mesem di belakang Wana, menonton pertengkaran seru keluarga calon istrinya.
Wana menunduk. Tanda gadis itu sedang berpikir.
“Sudah berapa lama kalian... ah! Sudahlah, gue nggak mau mikirin hal itu,” masalah percintaan kakaknya, malah membuatnya mual.
“Tuh, kan! Tadinya aku udah ada feeling mendingan kita ngopi di McG aja, pasti nggak bakalan ketemu Nyai Dasima di sini! Lebih hemat juga!” gerutu Kevin.
“Kamu nih money oriented banget sih! Nanti ujung-ujungnya tabungan kamu habis buat peralatan komputer sama pacar kamu tuh yang dadanya 250CC!” sahut Nirmala.
“Lah kok cemburu...” gerutu Kevin.
“Lagian kalau udah takdir, kita ngopi di ujung kulon aja bisa ketemu Wana juga. Toh mau nggak mau , cepat atau lambat kita harus cerita ke dia kalau kita akan menikah,”
“Sayang...” Wana mencengkeram lengan Artha, “Aku pusing, tadi mereka bilang mau nikah,” ia langsung limbung.
“Ya memang ujungnya kemana lagi kalau bukan nikah?” timpal Artha.
“Kamu juga sudah tahu?!”
“Motivasi Kevin kerja kan memang Bu Dierja,” sahut Artha.
“Astaga,” Wana memijat dahinya. “Aku mau mikir sebentar, di konter bobba. Jangan ada yang ikut,”
Dan gadis itu perlahan menjauh ke arah kedai minuman di seberang sana. Sepertinya ia shock jadi butuh merenung sendirian, dan menangkan hatinya.
“Kalau urusan bobba sih nggak ada yang mau ikut,” gumam Artha.
"Mbak, berapa semuanya?" Kevin menghampiri konter kasir.
"135ribu, Mas,"
"Oke. Om Artha, kartu debitnya, obat sakit hati,"
"Sableng..." gerutu Artha sambil merogoh dompetnya.