Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 41


Kevin,


Si idola kita yang lagi galau karena tawaran Bu Susan sekarang sedang termenung di kamar mandi kantor.


Ngaca


Memastikan dia masih ganteng,


Sambil memikirkan masa depannya.


Bener nggak ya gue terima keluar dari UI...


UI loh ini! Sok-sok’an banget gue demi spek gaming lebih milih untuk menyingkirkan kampus legend!


Mana masuk sana pakai beasiswa, udah bonafit tingkat tinggi lah gue!


Tapi... tawaran Bu Susan nggilani banget dah! Bisa ambil S2 di luar negeri gratis loh!


Begitu pikir Kevin.


“Ah, pusing deh gue!” gumam Kevin sambil membentur-benturkan dahinya di tembok keramik kamar mandi.


“Kenapa kamu?” sebuah suara bariton membuatnya menoleh.


Laki-laki, tampan, tampaknya masih muda dengan jas perlente dan pakaian eksklusif. Wajahnya seperti peranakan Asia-Eropa dan terkesan lembut dan ramah.


Tapi tampak sekali kalau ia bukan karyawan di Amethys Tech, karena penampilannya yang rapi.


Karyawan di kantor Kevin biasanya memakai pakaian casual dan santai.


Bu Susan saja kadang datang hanya dengan sweater dan sepatu flat dengan hair bun yang berantakan, walaupun semua tahu harga per-piecenya luar biasa mahal bisa beli pabrik bajaj. Dia datang ekstra gendong balitanya yang super cute dan bawa koper yang isinya popok. Biasanya si Bu Boss berpenampilan begitu kalau habis berantem di rumah dengan suaminya, jadi dia datang ke kantor pagi-pagi karena malas ada di rumah.


Eh, bajaj masih diproduksi nggak sih?


Skip, lanjut ke Kevin.


“Masih muda sudah coba bundir, jangan di kamar mandi dong udah mainstream,” si pria tampan menyeringai.


“Memang biar antimainstream harus bundir dimana? Di ruangan Bu Susan? Biar histeris dia sekalian,” gerutu Kevin. Sekaligus merasa tersaingi karena ada yang lebih charming dalam balutan pria dewasa berdiri di depannya.


Jiper juga gue! Kalo udah gede, style kayak gini ini yang bakalan gue donlot.


Begitu pikir si cowok kiyut ini.


“Susan bukan jenis yang histeris, dia cuma nggak suka direpotkan sama polisi. Sudah pasti mayat kamu ditanam di tembok buat hilangin jejak,”


Dan mereka tertawa bersama. Jenis pembicaraan ngeri-ngeri sedap.


“Terus kamu kenapa? Dahi kamu merah itu,” tanya si Pria Sampan, eh, tampan.


“Oh, lagi bingung mau ninggalin UI atau ninggalin kesempatan dapat beasiswa di Amethys University,”


“Wah, kamu dapat tawaran itu? Kamu pasti karyawan teladan ya,” si Pria tampan mengernyit sambil mencoba menjalin dasinya yang kelihatan mahal.


“Karyawan teladan... hm, nggak juga sih Pak, saya cuma sekedar akrab saja dari kecil sama binary dan coding,” Kevin mengambil dasi dari tangan si pria tampan dan membantu merangkai ke lehernya.


“Sejak kapan kamu kerja di sini?” tanya si Pria tampan sambil mengangkat lehernya, membiarkan Kevin mendandaninya.


Kok jadi romantis ya suasananya?!


Sudahlah...


“Sejak 6 bulan yang lalu, sambil kuliah. Tapi memang mulai kesulitan atur waktunya,” gumam Kevin.


“Kamu suka kerja di sini?”


“Suka,”


“Nggak tertekan sama Susan?”


“Dia bawel tapi baik, sambil ngomel-ngomel masalah proyek masih sempat beliin kopi mahal dan rokok satu slot,”


“Jangan GR kamu, dia beliin kopi biar kamu melek dan bisa lembur,”


Dan lagi-lagi mereka cengengesan bersama.


“Kalau kamu suka kerja di sini, kamu ambil saja yang Amethys tawarkan. Lebih bisa atur waktu dan kuliahnya bisa online. Tapi kalau kamu nggak betah kerja di sini, kamu bisa tetap di UI. Resikonya gaji kamu dikurangi karena jam kerja tidak fulltime,” Pria itu mengagumi jalinan dasi Kevin yang rapi terangkai di lehernya sambil mengangguk puas.


“Yang penting, ketahui saja. Hati kamu tidak pernah berbohong padamu. Dia tahu passion kamu dimana,”


“Kerja di sini gampang Pak, karena juga hobi. Saya nggak ngerti kalau ada yang ngeluh stress karena selama ini saya have fun. Malah kalau kuliah saya lumayan stress, ngga semua kurikulum berguna buat pekerjaan soalnya, jadi setengah-setengah belajarnya. Ambil sks cuma buat biar cepet lulus saja, padahal nggak ngerti isinya,”


“Itu pertanda kamu sudah bosan,” Si Pria berdiri bersandar di wastafel sambil tersenyum ke arah Kevin dan melipat kedua tangannya di dada.


Senyumnya sangat ramah, membuat hati Kevin adem.


“Oh, almarhum ibu saya yang ajari. Katanya kalau nanti kerja, saya bisa rangkai dasi sendiri nggak perlu minta bantuannya lagi. Dan ternyata dia benar, saya nggak minta bantuannya karena dia meninggal ditabrak, tanpa pernah melihat saya dengan nametag kebanggaan. Bedanya saya di sini malah nggak berdasi,”


“Saya turut berduka cita, saya tahu rasanya kehilangan,” Pria itu mengangguk serius. “Kakak saya meninggal dibunuh, dan kami bahkan tidak bisa mengusut pembunuhnya karena masalah krusial politik negara. Sampai-sampai saya harus menyewa banyak agen keamanan untuk melindungi istri dan anak saya,”


“Kok serem sih Pak,” Kevin mengernyit.


Dalam hatinya ia bertanya-tanya, siapa pria dengan masalah sedemikian rumitnya ini?!


“Kamu tidak perlu tahu, kamu masih muda, masih banyak hal menarik selain politik dan bisnis. Semakin banyak kamu tahu, semakin rumit dunia kamu. Kami yang sudah terlanjur tahu hanya bisa berjuang sekuat tenaga hidup setiap menitnya dengan rasa was-was. Jadi, ya... ikuti saja passion kamu,”


Kevin tertegun melihat pria di depannya ini.


Sangat mungkin beliau ini mengalami begitu banyak kejadian tidak mengenakkan.


Mungkin saja dia juga sudah kehilangan begitu banyak hal.


Kevin yang kehilangan kedua orang tuanya, mungkin masih belum bisa menyamai penderitaan yang membuat beliau tumbuh dengan pemikiran sedewasa ini.


Pintu toilet dibuka, dan seseorang menghampiri si pria tampan, “David, masih ada waktu 15 menit. Tim IT katanya lagi mencoba menghubungi karyawan yang bikin program tiba-tiba menghilang. Kita ngopi dulu saja bagaimana?”


Kevin menoleh dan melihat... sosok yang sangat ia kenal.


“Lah Om ngapain di sini sih?” serunya sebal.


Artha mengernyit menatap Kevin, sambil berdecak. “Harusnya saya yang tanya! Saya sudah bosan ngeliat tampang tengil kamu!”


"Dih! Saya juga, kuatir saya ketularan pelit,"


“Kalian saling kenal?” tanya si pria tampan ke Artha.


“Selingkuhannya Wana,” dengus Artha.


“Ucapan adalah doa,” timpal Kevin setengah menyindir.


“Ck! Ohiya, gimana apartemennya? Jangan ngadain party aneh-aneh ya!”


“Om, kenapa cicilan bunganya gede banget sih! Saya ini masih karyawan baru loh! Belom bisa dapet bonus, ish ish ish!” protes Kevin.


“Bunganya standar, kok... kamu nyicil pakai bank juga segitu loh!”


“Kenapa harus pakai standar baaaaaank...”


“Karena saya sebel sama kamu. Sudah itu saja alasannya,”


“Ohiya, ganti duit Chatime calon bini kemarin dia sekalian minta donat selusin,”


“Ya minta sama dia saja lah, saya nggak bawa cash,”


“Kata Wana minta sama Om Artha,”


“Ya sudah kamu minta Chandra, nanti saya telpon dia,”


“Kata Mas Chandra, dana talangan dari Om Artha belom cair,”


“Hih! Kamu ganggu banget sih! Saya mau ngopi jadi nggak mood!”


“Ceile, Om! Cuma 125 ribu masa nggak bawa sih? Lumayan itu buat saya isi e-money pulang naik transjakarta,” Omel Kevin.


“Ini saya talangi dulu,” si pria tampan sambil cekikikan menyerahkan selembar uang berwarna hijau lumut ke Kevin.


“Widih, bayar pakai dollar!” seri Kevin takjud dengan mata berbinar.


“Saya nggak bawa rupiah, kembaliannya ambil saja,” kata si pria tampan.


“Ya jelas saya nggak bakalan ada kembaliannya, ini selisihnya bisa 1.336.495!”


“Detail amat sih,” sahut Artha.


“Makasih banget Paaaak,” Kevin meraba lembaran kertas bergambar wajah Benjamin Franklin itu dengan kagum. Dalam hatinya ia berniat untuk menyimpannya saja sebagai kenang-kenangan dollar pertama yang ia terima dengan angka 100 di atas lembarannya.


“Nggak usah kali, Vid. Dia kan pulang naik motor. E-Money apanya,” gerutu Artha.


“Lo itu terlalu medit, Tha,” si pria tampan cengengesan.


“Bukan pelit tapi eifisien. Sialnya, calon bini gue doyan ngemil...” Artha berjalan keluar dari toilet sambil mengomel.


“Makasih dasinya, nice talk,” si pria tampan tersenyum dan melambaikan tangan ke Kevin sambil mengikuti Artha.


Kevin membalas lambaian tangan pria itu sambil tertegun. Karena ia baru sadar, tadi Artha memanggil si pria dengan nama David. Dan dia menyebut Bu Susan hanya dengan nama Susan.


Itu berarti yang berbicara dari hati ke hati dengannya dari tadi dengan santai adalah share holder utama Amethys, pemilik Yudha Mas Corporation. Main Core dari 12 Naga... David Yudha. Orang yang 15 menit lagi menentukan proyek triliunan yang akan dibahas di meeting dapat berjalan atau tidak.


“Anjrit, mati gue sudah ngegibahin bininya, mana sampe ngomongin bundir pula! Gue beneran harus healing berendem di kolam belerang buat bersihin otak kusut gue!” omel Kevin ke dirinya sendiri.