Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 31


“Ngapain kamu datang Anak Breng-sek?!” Seru Bapaknya Farida saat Kasep menampakkan diri di depan gerbang rumah Farida.


Kasep hanya berdiri dengan wajah tanpa ekspresi. Mencoba bersopan-sopan saja tidak, seperti menantang orang-orang yang ada di depannya. Dalam pikiran Kevin, buset pantesan reaksinya pada ngamuk, si Kasepnya bengal. Walaupun Kevin tahu kalau settingan wajah Kasep ya memang seperti itu. Galak-galak nggak jelas.


Beberapa orang juga keluar dari rumah. Setahu Kevin, Farida anak tunggal seperti Aminah. Tapi dari dalam rumahnya juga tinggal sepupu-sepupunya. Dan malam ini, mereka semua keluar rumah karena mendengar ribut-ribut.


Tapi sampai di depan rumah, mereka malah salfok.


Semua menatap Kevin lekat-lekat.


“Kenapa Farida nggak sama yang itu saja sih?!” gumam tantenya Frida.


“Ya Ampun ganteng banget kayak Shawn Mendes eaaak,” seru sepupu 1


“Nggak usah buat Farida, sama gue saja laaah! Di fakboi-in juga gue relaaa,” seru sepupu 2


“Itu temennya Bang Kahar? Sekolah dimana sih dia kok punya teman glowing begitu?”


“Si abang temenan sama yang tampangnya kayak boneka begitu kok nggak kelunturan yak?!”


(Bang Kahar itu nama panggilan di rumah, kan namanya Kaharuddin Septian, haha.)


"Kamu rupanya menantang maut ya?! Buk ambilin golok ayah!!" seru bapaknya Farida.


"Ayah apa'an sih?! Masa mau terang-terangan dibunuh di depan rumah? Jangan bikin heboh, deh!" Sahut ibunya Farida.


Jelas, semua kesal dengan Kasep.


"Om, saya kesini mau minta Om buat jadi wali nikah Farida, besok," kata Kasep.


"Saya sampai kapanpun tidak akan merestui dia menikah sama kamu!! Bayi di kandungannya tidak akan saya akui sebagai cucu!!"


"Kalau begitu setidaknya Om tandatangan diatas materai saja kalau mewakilkan wali nikah ke orang lain,"


"Biar saja kalian luntang lantung tak jelas!"


"Saya sudah mau menikahinya loh Om, dia tidak saya biarkan begitu saja. Juga setelah pendarahan karena dipaksa menggugurkan, kami tetap menganggapnya bagian dari keluarga kami sendiri. Malah ibu saya yang sekarang merawatnya," Kasep tetap bersikap tenang.


Namun hal itu malah membuat bapaknya Farida tambah naik pintam. Pria setengah baya itu melayangkan bogem mentah ke pipi Kasep.


DUAGG!!


Kasep tak bergeming, hanya berpaling. Tubuh besarnya tetap terpaku di tempatnya semula, bergeser pun tidak. Malah buku jari bapaknya Farida yang sekarang jadi nyut-nyutan.


"Kamu berani mematahkan jari-jari saya?! Saya tuntut kamu ya!!" Seru bapaknya Farida.


"Ya Gustiii!! Ayah nggak papa Ayaaaah?? Anak kurang ajar kamu ya, Durhaka! Sudah anakku kamu perdaya sekarang kamu bikin ayah babak belur!!" Jerit ibunya Farida.


Kevin melongo melihat tingkah drama keluarga Farida. Nggak heran kalau kemana-mana Farida pakai tas berbie warna pink padahal sudah SMA, wong keluarganya aja lebay begini tingkahnya. Yang mukul duluan siapaaaa yang kesakitan siapa.


Males juga punya mertua begitu, mending cepet coret Farida dari KK deh biar urusan lebih gampang, Pikir Kevin kesal.


Lu mukul apa sih?! Kok nggak terasa?! Kencengan pukulan si lenje Kevin kemana-mana, Batin Kasep.


"Sampai kapan pun, sampai mati pun tidak akan saya restui pernikahan kalian! Anakku sudah kami pilihkan calon suami sendiri, pemilik franchise Alpamelet ada 50 gerai, namanya juragan 69!!" Seru bapaknya Farida.


"Juragan 69? Emangnya mau sama Farida?" Gumam Kevin dan Kasep hampir berbarengan.


"Jadi Istri keempat!"


"Halah! Dagelan..." Gumam Kasep dan Kevin, juga berbarengan. Namanya juga sohib berasa belahan jiwa.


"Pergi kamu dari sini sekarang juga!!" Seru bapaknya Farida sambil gebrak pagar.


"Selamat malaaaaam, ada ribut-ribut apa ini?" Dan AKP Suraji pun tiba. Bareng sama enam anak buahnya pakai motor patroli.


Rupanya Tim Rajawali milik Polres Metro Jakarta Timur sedang akan memulai patroli malam di jalanan sekitar Jakarta Timur.


"Eh... Komandan," Bapaknya Farida sok akrab setelah melihat lencana di seragam AKP Suraji. "Sedang ada acara keluarga nih Pak Komandan,"


"Wah, turut senang atas pernikahan anak bapak besok ya. Tenang Pak, Kasep ini anaknya sangat bertanggung jawab dan bisa diandalkan kok!" AKP Suraji merangkul pundak Kasep sambil menyeringai.


"Pak Komandan kenal Kahar?" Bapaknya Farida mulai jiper.


"Wah, dia ini bisa dibilang bagaikan anak saya sendiri, dua anak kebanggaan saya!" Pak Komandan juga merangkul bahu Kevin.


"Besok kita daftar ke dukcapil gabung KK Pak Komandan, Sep!" canda Kevin.


"Diem lo, gue lagi tampang gahar mode on, kagak bisa ketawa!" bisik Kasep.


"Serius amat sih lo," gerutu Kevin.


"Besok InsyaAllah saya datang juga ke acara pernikahan anak bapak, semoga semuanya lancar ya Pak!"


"Siap Pak Komandan, semua akan dipersiapkan semaksimal mungkin. Sayang hanya kecil-kecilan di KUA, yang penting SAH," seru Bapaknya Farida


"Khuhuhu," Kasep menahan tawa.


"Besok jangan grogi ya Sep! Bapak akan jadi walinya Farida kan?!"


"Oh iyaaaa, ya jelas kan Farida anak kandung sayaaa ya jelas saya akan jadi walinyaaa,"


"Alhamdulillah, baik Pak, saya lanjut patroli!" Sahut AKP Suraji sambil seting hormat grakk.


"Pak kumindan, kita bareng," sahut Kevin, sudah tak betah di TKP soalnya. Bawaannya ingin lempar swallow ke jidat bapaknya Farida.


"Ayo! Kamu juga butuh dikawal. Begitu dapat laporan kamu tentang banyak yang nongkrong di siskamling komplek kamu, saya jadi perketat patroli," kata AKP Suraji.


Dan Kasep pun akhirnya pamit ke bapaknya Farida dan naik ke belakang motor Kevin sambil tersenyum licik.


"Anjir, kok gampang banget. Kenapa nggak dari kemarin aja sih," gumam Kasep sambil memakai helmnya.


*


*


Nikahan Kaharuddin Septian dan Farida Rusli.


"Kok bisa mereka datang, kamu bujuk pakai cara apa Bang?" Bisik emak sambil melihat Farida tangis-tangisan dengan ibu bapaknya di ujung pintu.


"Tinggal dateng, bawa Kevin, semua beres Mak,"


"Kevin lagi Kevin lagi, itu anak emang bawa hoki melulu ye! Emak bisa dapet emas batangan ga kalo dia kita simpen di kulkas,"


"Nggak usah Mak, sajennya mahal,"


"Apa'an emang?"


"Dia nggak mau kerja kalo sajennya bukan tante-tante dada Cup D,"


"Lo pikir gue tuyul..." Gerutu Kevin. Daritadi dia ada di sebelah emak, juga nontonin adegan drama keluarga Farida. Dari sekian emak-emak dasteran koyo-an yang nggak tertarik sama Kevin, diantaranya ya emaknya Kasep. Alasannya, dia bucin sama Bapaknya Kasep.


Hanya gara-gara, kumis tipis melintang yang ada di jajaran bibir tebal bapaknya Kasep, belum ada yang menyamai kecuali Salvatore Dali.


"Lintingan kumis bapak lo makin spiral aja Sep," gumam Kevin takjud.


"Iya dia begitu kalo lagi seneng," bisik Kasep.


"Ya iya lah seneng, bentar lagi punya cucu," ujar Emak Kasep.


"Emak seneng nggak?!"


"Emak seneng karena lo udah ada pawangnya Bang! Terus terang aje, gue capek ngurusin lo. Kecilnya maniiiis kiyuuutt, malah dari 2 tahun udah bisa abcd pake bahasa englis, gedenya bawa-bawa celurit sambil teriak gempuuuur. Emak mana yang nggak trauma Sep?!" Emak menjitak kepala Kasep. "lo ngehamilin anak orang aje emak dan Bapak bingung, kok ceweknya mau sama tampilan tukang parkir minimarket kayak elo!"


"Ini gara-gara waktu kecil lo pernah diculik wewe di pohon bambu kayaknya! Pulang-pulang lo jadi preman!" tambah Emak.


"Lo pernah diculik kelong wewe Sep?!" seru Kevin kaget.


"Emak ngapain sih ngomong-ngomong!" Gerutu Kasep.


"Lo..." Kecin merendahkan suaranya, "Disus*in juga nggak sama wewenya?"


"Eh, Bedul!! Sekali lagi lo bahas, lo nggak boleh ngantri konter bakwan malang ye!!" Omel Kasep.


"Ih, sensitif. Jadi bener Mak, sempet dia di..."


"Kelitikin nih!" ancam Kasep.


"Iya gue diem," gumam Kevin langsung bungkam.


"Jawabannya, sempet Kev," bisik Emak menambahkan.


"Iyuh!" Kevin mau muntah.


Dan akhirnya pesta pernikahan Kasep di Aula KUA pun berjalan lancar, dengan restu kedua orang tua.


Tinggal...


"Besok temenin gue cari kost-an ye," kata Kevin.


"Mulai besok gue mau honimun 3 hari," ujar Kasep.


"Ish kampret!!"


*


*