Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Wana Sedang Belajar


Nirmala menarik lengan Kevin sampai mereka tiba di parkiran tepi jalan raya. Tampak Kevin bukannya marah malah cengengesan.


Sepertinya dia senang.


Menyadari itu Nirmala melepaskan cengkeramannya dan menatap Kevin tajam. "Jangan mesem-mesem nggak jelas,"


"Loh, boleh dong tante. Kan lagi senang," kekeh Kevin.


"Senang gimana?"


"Ya senang bisa ketemu lagi, aku pikir yang waktu itu beneran udah terakhir kalinya kita..."


"Ssstt!!" Nirmala menutup mulut Kevin dengan tangannya, "Jangan sembarangan ngomong di tempat umum!" Nirmala celingukan panik takut ada yang dengar.


Tapi Kevin malah jahil memasukkan ibu jari Nirmala ke dalam mulutnya dan mengulumnya.


"Kevin!!" Jerit Nirmala kaget sambil menarik tangannya. Lalu melotot ke Kevin. Ia kaget tapi sekaligus ada suatu getaran yang menyerang area sensitifnya.


Ingatannya langsung melayang ke 'waktu itu', saat mereka pertama bertemu.


"Kok tante makin..." Kevin memiringkan matanya menatap bokong Nirmala, terlihat matanya berkilat.


"Kayaknya proses sidangnya udah selesai ya?" tebaknya.


Nirmala jengah dan agak menjauh. Ia tahu yang dipikirkan Kevin, "Jangan kurang ajar kamu!"


"Waktu itu lebih kurus, kayak orang depresi," gumam Kevin.


Nirmala mendengus karena kesal. Kesal karena Kevin tampaknya sedang menguji kesabarannya. Namun entah bagaimana ia suka dengan candaan mesum Kevin.


"Sudah selesai dari dua bulan yang lalu. Kamu ngapain di sini?"


"Aku nganterin minuman manis nggak jelas buat Nyai Dasima pake gaun kunti," ujar Kevin.


"Kayaknya kamu udah akrab banget sama adik saya, sejak kapan?"


"Hah?"


"Apa?"


"Nyai Dasima adik Tante?"


"Iya,"


"Ya Ampun... Serius nih Tante?!"


"Emang kenapa, sih?!"


"Kok bisa Dewi Venus punya adik goblin?!"


Nirmala terkakak sambil memukul lengan Kevin, "Mulut kamu itu perlu disekolahin! Kalau Wana tahu kamu ngomong begitu, kamu sudah diikat di tronton!"


"Habis dia kan bawel banget, kakaknya kalem begini. Cuma kalo di ranjang teriakannya kenceng sih,"


Nirmala mencubit pipi Kevin, "Diam kamu! Hih!" Wajah Nirmala langsung merah. "Itu terakhir kali saya sewa kamu ya! Itu semua kesalahan karena saya butuh pelampiasan aja!"


"Iyaaa iyaaa..."


"Saya pernah disakiti laki-laki, jadi kamu yang punya banyak pacar jelas bukan tipe saya,"


"Iya deh iyaaa," Kevin tersenyum simpul. "Tapi kita bakalan sering ketemu sih,"


"Sebisa mungkin kamu menghindari saya! Jelas?!"


"Nggak jelas ah! Suka-suka aku dong mau dekat mau jauh," Kevin menjulurkan lidah.


"Dasar Bandel!"


"Aku nggak akan ngelepasin tante,"


"Kenapa?!"


"Soalnya..." Kevin menatap Nirmala dari atas ke bawah, "Begitulah," dia urung bicara.


"Kenapa?! Apa salah saya?!"


"Nggak ada yang salah kok. Tapi yaaaah," senyuman mesum lagi-lagi muncul di wajah Kevin.


Nirmala sampai geram melihatnya.


Lalu cowok itu mendekatkan bibirnya ke telinga Nirmala dan membisiki sesuatu. Setelah mendengarnya wajah Nirmala semerah lobster rebus.


Dan Kevin pun mengecup pipi Nirmala ringan.


"Lancang banget sih!" Seru Nirmala sambil mendorong dada Kevin supaya menjauh. Wanita itu memegangi pipinya yang barusan dicium Kevin. "Ini tuh di tempat umum, di pinggir jalan pula! Kalau ada yang lihat bagaimana?!"


Kevin hanya terkekeh melihat tingkah Nirmala yang salah tingkah.


"Pokoknya mulai sekarang, jauhi saya! Ngerti?!" Nirmala berjalan sambil mengomel menjauhi Kevin menuju cafe terdekat sambil menunggu taksi onlinenya.


Kevin hanya cengengesan sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya ke motornya. Pemuda itu menatap punggung Nirmala dengan sejuta ide, mengenai rencana masa depannya bersama wanita seksi dan kalem, kakak si Nyai Dasima.


Apa sih yang dibisiki Kevin sampai Nirmala salah tingkah?


Terngiang di benak Nirmala, dan saat suara Kevin bergaung diingatannya, ia merasa sangat malu.


Soalnya, Tante paling memuaskan diantara semuanya, dan sangat cantik saat orgasme.


Dasar si Kevin penjahat!


*


*


"Sudah?" Artha menjemput Wana dari butik. Pria itu tersenyum padanya dengan lembut.


Wana masuk ke mobil dengan muram. Ia menatap Artha dengan ragu.


"Kamu percaya aku kan?" tanya Wana tiba-tiba.


Artha menaikkan alisnya. "Ya tergantung topiknya apa dulu. Kalau masalah makanan aku nggak percaya soalnya semua kamu bilang enak,"


"Iiih! Kok gituuu," gerutu Wana.


Artha terkekeh, "Apa sayang? Kamu kenapa?" tanyanya sambil mengemudi.


"Hem... Aku merasa bersalah memilih gaun. Tadinya kupikir itu kejutan untuk kamu. Tapi semakin ke sini, dan banyaknya masukan, aku merasa gaun itu terlalu mahal," Wana akhirnya mengaku. Dia tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Artha. Menurutnya saat memulai suatu hubungan serius, ia harus terbuka kepada pasangan.


"Kamu bisa jual lagi nanti," kata Artha.


Wana menoleh dengan cepat, "Lah! Usulnya sama dengan Kak Mala!"


"Hem, begitu ya. Mungkin karena kami sama-sama dewasa, jadi sudah bisa mengukur untung ruginya,"


"Dia mau bantu aku menjualnya setengah harga ke temannya, setelah kupakai,"


"Baguslah kamu ajak kakak kamu ke sana, kupikir kamu akan kalap saat di depan kamu ada banyak jejeran gaun berkilau,"


"Ya memang aku kalap," Wana mengaku.


Artha hanya mencibir.


"Kita ke rumahku dulu ya. Orangtua dan saudaraku datang besok, jadi aku perlu beli perlengkapan ini-itu. Ibuku lumayan cerewet kalau urusan supply isi dapur dan isi kulkas,"


"Kamu bukannya punya pembantu ya?"


"Tapi tugas mereka hanya bersih-bersih, nggak urusan kalau soal organizing,"


Wana mengangguk mengerti. "Aku belum pernah ke rumah kamu, loh,"


"Hm, rumah biasa kok. Halamannya saja yang besar,"


Yak, memang hanya rumah biasa. Era kolonial, dengan 70% adalah hamparan rumput dipotong pendek dan sangat luas. Dan bangunan kecil berukuran 100m2 di tengah-tengah halaman.


Ada garasi di pinggir rumah, muat hanya dua mobil.


Wana pun menatap Artha sambil mengangkat alisnya. "Apa ini perwujudan pelitnya kamu? Renovasi sedikit saja kenapa sih?!"


"Ini iconic,"


"Hah? Kalau aku ngeliat roh Nyai Dasima di jendela, aku nggak heran lagi. Iconic apanya Om?!"


"Dalamnya tidak se-spoky luarnya kok,"


"Masa sih?!"


Yak, benar. Untung saja dalamnya model industrial, dengan sinar matahari senantiasa bebas mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lain.


Tapi... Kenapa sepi ya?


"Om? Jangan bilang pembantunya model yang pulang-pergi,"


"Ya iya lah, selain lebih murah juga privasiku tidak terganggu,"


"Ck! Ini sih alamat kalo nikah aku yang gantiin kerjaan mereka!" gerutu Wana.


"Ya kalau begitu tetap saja pakai ART pulang-pergi. Daripada barang-barangku pecah,"


"Heh! Ngeremehin banget sih!" Wana memukul bahu Artha. "Sini aku bantuin periksa supply. Udah pasti kulkasnya kosong kan?!"


"Aku biasa makan di luar, kan repot kalo siapin sendiri,"


"Katanya berhemat tapi makannya di luar terus,"


"Iya, biasanya Bira yang bawain katering, ibunya punya usaha katering,"


"Astaga," gumam Wana.


Dan setelah memeriksa seisi rumah dan mencatat daftar persediaan dari mulai isi kulkas sampai keperluan kamar mandi, Wana mengernyit.


"Urusan beginian aja bisa dua jutaan selama sebulan, udah termasuk sikat gigi dan odolnya, handuk baru, selimut baru, seprai baru," gumam Wana sambil mengelus-elus pipinya.


Artha terkekeh, memang kalau urusan rumah tangga ada baiknya wanita ikut campur tangan. Karena jelas segala hal seperti plastik sampah dan pengharum ruangan saja tidak pernah terpikirkan oleh Artha.


"Om, aku perlu isi kulkas dengan buah dan sayur. Nanti ada daging buat isi sandwich dan sosis. Om suka makan apa?"


"Kamu,"


Wana menipiskan bibirnya, "Yang bener doooong,"


"Ya itu udah paling bener," Artha menyeringai.


"Ini kita lagi berdua aja di rumah niiih, jangan nyerempet-nyerempet deh, bisa kebobolan sebelum nikah!"


"Ya memang kenapa? Toh mau nikah juga," Artha mendekat.


Wana menjauh sambil berdehem, "Bukannya aku nggak mau, aku kuatir aja Om nggak bisa tahan,"


"Yakin nggak mau?" Pancing Artha.


"Nggak yakin, usahain aja,"


"Sini," Artha merentangkan tangannya, meminta Wana memeluknya.


Wana menghela napas. Pernikahan mereka sebulan lagi. Memang tadinya Wana dan Artha ingin semua dipercepat. Namun ternyata tidak semudah itu.


Sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk perlahan-lahan saja sambil menata hati masing-masing. Tak terasa sudah 6 bulan saja waktu berlalu.


Jadi Wana pun jatuh ke pelukan Artha, dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang si Om dengan erat. Tak lupa menghela napas tanda kelegaannya.


Lega karena ada orang yang begitu menyayanginya dan mau menghargainya dengan tidak mengerjainya selama 6 bulan hubungan mereka. Interaksi intim mereka yang terakhir saat Wana minta dinikahi. Sejak itu hanya cium bibir sekilas dan gandengan tangan. Sedikit-dikit pelukan hangat tapi tidak sampai berjalan ke hal mesum.


"Om," Wana menengadahkan kepala menatap Artha, "Nggak haus?"


"Kamu haus? Ada air mineral tuh,"


"Bukan haus air," Wana menatapnya penuh arti.


Artha terkekeh, "Nggak mungkin nggak lah. Aku laki-laki normal,"


"Mau?"


"Ha? Sekarang?!"


"Hem... Tapi jangan masuk, gesek dari luar aja,"


Artha terdiam. Ia tampak menimbang. "Terus terang aja aku nggak bisa janji,"


Wana menatapnya dengan mata besarnya. Ia merasa sudah saatnya memberi Artha sedikit reward mengenai usaha pria itu untuknya. "Aku belajar sedikit tadi malam,"


"Be-belajar?"


Wana mengangguk sambil tersenyum simpul, "Tapi aku tak tahu rasanya, juga caranya. Kalau nggak enak bilang ya nanti aku nggak terusin,"


"Kamu mau apa?"


Wana menggigit bibirnya, tersenyum jahil ke Artha.


Lalu perlahan, ia pun menurunkan tubuhnya sampai hidungnya sejajar dengan resleting celana Artha.


*


*


Tips 11 : pesta pernikahan saat pasanganmu beda usia 2x lipat.


Pasrah dan sabar.


Udah itu aja.


Trik :




Kebanyakan dari mereka masih menganut tradisi lama. Mereka percaya karma dan kena tulah. Jadi cari MUA yang menganut tradisi lama, dengan banyak upacara adat tentunya. Capek? Tenaaang cuma 3 hari 3 malam kok paling sebentar. Itu baru di satu lokasi, belum di tempat mertua.




Ngalah aja kalau urusan undangan. Bisa jadi si Om ngundang 1000 orang, kamu cuma dikasih jatah 20. Nggak usah protes, yang penting bulan madunya urusan kamu.




Pasrah kalau keliyengan saat salaman sama tamu tapi hampir semuanya nggak kenal.




Masalah gaun, sudah pasti kamu kalah suara. Mau yang glamor dan ngebling? Pasti diprotes. Mau yang sederhana dan elegan, juga diprotes. Mau make up terkesan natural? Jangan coba-coba. Pasrahkan semua ke si Om dan keluarganya. Yang penting pesta pernikahan semua dibayarin. Kamu jadi pajangan aja.




Balik lagi, semua akan berakhir pada waktunya. Jadi selama urusan nafkah dan belanja-belanja lancar, pasrah dan sabar aja.




Info tips dan trik ini hanya lucu-lucuan. Setiap keluarga punya tradisi berbeda. Contohnya Author, malam midodareni malah pingsan kecapekan. Jadi entahlah bidadarinya turun gasih restu ke aku apa nggak, bodo amat, orang capek masih dipaksa senyum ya ra iso! Tepar.


Untung saja besoknya bisa bangun jadi resepsi berjalan lancar. Haha.