
Sementara itu di tempat lain, kita beralih ke Nirmala.
Apa kabar wanita seksi dan manis itu?
Tentunya lebih baik dari sebelum-sebelumnya, kalau saja ia tidak diganggu terus sama mantan suaminya.
Saat ini ia berada di salah satu Mall, sedang mengobrol dengan pengacaranya mengenai sidang perceraian yang telah berlangsung selama 3 bulan ini.
“Bu Dierja, Berkas sudah dinyatakan valid dan lengkap oleh majelis. Dan... hehe,” Ibu Pengacara terkekeh dan menatap Nirmala dengan salut.
“Ya bu?” tanya Nirmala.
“Dan...” Bu Pengacara menutup berkasnya. Selama dua jam mereka berada di cafe itu mengobrol banyak hal, dan ia begitu salut dengan sikap Nirmala yang tetap tenang, manis dan begitu bersahaja. Padahal Nirmala sudah melalui banyak hal, sesuatu yang begitu berat di dalam keluarganya.
“Saya masih tidak percaya dalam 3 bulan prosesnya akan selancar ini. Keputusan yang sangat tepat memberikan semua harta kepada pihak tergugat, walaupun terus terang saja saya sendiri pun sebenarnya tidak rela padahal bukan milik saya,”
Nirmala hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia tidak bilang kalau semua itu karena usul dari Arthasewu Connor.
Laki-laki itu bahkan mengganti semua kehilangan Nirmala 2x lipat, padahal ia tidak berkewajiban untuk itu.
Artha benar, bagi Nirmala itu semua hanya fana.
Bahkan kalaupun Nirmala memenangkan semuanya, hanya akan menorehkan luka lebih dalam.
Pihak Jaka pasti akan mempertahankan tempat berlindung mereka satu-satunya dan ditakutkan akan muncul hal-hal lain yang tidak penting.
Padahal Nirmala ingin hidup bebas.
Jadi ini memang keputusan yang tepat. Sekaligus menghibahkan semuanya adalah langkah Nirmala untuk semakin menjatuhkan harga diri mereka. Selama pihak Jaka menempati rumah itu, memakai mobilnya, memakai pakaian-pakaiannya, menggunakan barang-barang pecah belahnya, mereka akan selalu teringat akan Nirmala, dan mereka akan selalu merasa malu.
Yang Nirmala bawa hanya benda-benda kenangannya di masa kecil dan barang-barang penting seperti ijazah dan data diri, hanya sekoper.
Sejenak pihak mertua merasa menang, merasa kalau Nirmala meninggalkan semua itu karena merasa bersalah tidak dapat memberikan Jaka keturunan.
Tapi dengan segera senyum mereka menghilang saat pengacara mereka dengan seringai lebar di wajah menunjukkan hasil tes kesuburan Jaka.
Lalu Saat Nirmala membiayai semua tes DNA, senyum si ibu pengacara hilang digantikan dengan tawa terbahak.
Ya, Jaka dinyatakan tidak mampu memberikan keturunan. Dan Tes DNA terhadap anak si pelakor tidak cocok dengan Jaka.
Lalu keluarga mertua menyadari, kalau Nirmala meninggalkan semuanya untuk menunjukkan kemenangan.
Wanita cantik itu pergi dengan elegan, dengan senyum lebar, dan kehormatan yang ia junjung.
Sekaligus syarat, kalau mereka mau tetap bisa tinggal di rumah itu, Jaka jangan datang ke pengadilan sehingga Hakim bisa memutuskan dengan cara Verstek dan proses perceraian bisa lebih cepat.
(FYI : Putusan Verstek adalah putusan yang dijatuhkan apabila tergugat tidak hadir atau tidak juga mewakilkan kepada kuasanya untuk menghadap meskipun ia sudah dipanggil dengan patut. Apabila Tergugat sama sekali tidak datang dan juga tidak mewakili sama sekali kepada kuasanya, maka berdasarkan Pasal 125 Herzien Indlandsch Reglement (HIR) (S.1941-44) (“HIR”) hakim dapat menjatuhkan putusan Verstek.)
Lagipula, mau menyewa jasa pengacara dari mana, padahal Jaka saja tidak punya uang sama sekali.
Juga, apa yang mau ia tuntut?
Harta sudah menjadi miliknya, dan sesuai permintaan si mertua, Nirmala sudah pergi dengan sukarela. Mempertahankan pernikahan malah akan mengundang banyak pertanyaan dan berakibat semua orang akan mencapnya sebagai laki-laki pengecut tidak berguna yang sebenarnya hanya membebani istri.
“Orang-orang di sekitar saya sangat baik,” gumam Nirmala. “Termasuk Bu Pengacara yang telah mendampingi saya di saat-saat terburuk,” Nirmala menggenggam tangan Bu Pengacara sampai mata wanita itu jadi berkaca-kaca.
Sepanjang kariernya sebagai pengacara perceraian, Nirmala adalah klien yang tidak banyak protes dan jarang menunjukkan emosi.
“Nirmala,” Artha datang dan duduk di depan mereka. Si Ibu Pengacara sampai berdiri dan menghormat.
“Bapaaaak,” sapa Bu Pengacara sambil menjabat tangan Artha. “Apa kabar?”
“Baik, bagaimana prosesnya? Lancar?” Artha menyilangkan kedua kakinya dan duduk dengan posisi mengintimidasi, seperti biasa.
Ibu Pengacara menyeringai, “Lancar Pak, kami perkirakan bulan depan putusan pengadilan bisa keluar,”
“Lama,” gumam Artha.
Senyum Bu Pengacara menghilang. Proses perceraian 4 bulan sudah termasuk cepat sebenarnya. Biasanya berjalan bisa lebih dari 6 bulan.
“Hakimnya masih si Rory kan?” Artha mengutak-atik ponselnya.
“Pak, tidak usah,” Nirmala mencegah Artha. Menurut perkiraannya Artha akan menelepon hakim yang menangani perceraian ini, setahu Nirmala mereka teman saat kuliah di Quebec.
“Loh, kalau jalannya tersendat-sendat begini bisa-bisa sampai saya menikah dengan Wana kamu statusnya masih tak jelas, loh,” kata Artha.
“Memangnya Pak Artha akan menikah bulan depan? Kan belum tentu juga, hehe,” kata Nirmala. “Juga tidak usah menebarkan teror ke keluarga Jaka, Pak. Saya sudah ikhlas,” Nirmala tahu belakangan ada beberapa orang yang mengamati rumah mantan suaminya itu.
“Ho, padahal saya sudah hubungi BPN untuk memeriksa batas tanah,”
“Sudahlah Pak Artha, biar saja mereka sudah kena batunya,”
“Kamu ini...” gumam Artha, “...benar-benar wanita yang terlalu naif,”
Nirmala hanya terkekeh mendengarnya.
Artha kembali berbucara ke Bu Pengacara, “Pokoknya, percepat prosesnya. Verstek kan tinggal putuskan saja, tidak perlu sampai sebulan,” sahut Artha.
Bu Pengacara langsung ngeh, kalau semua ini sebenarnya adalah rencana Artha.
Ia melirik Nirmala yang hanya mengulum senyumnya.
“Calon adik ipar,” bisik Nirmala ke Bu Pengacara.
Wanita yang bekerja di kantor advokat itu langsung membulatkan matanya. Calon adik ipar, berarti Artha akan menikah dengan adik Nirmala, yang setahu Bu Pengacara usianya 2x lebih muda dari Artha.
Bu Pengacara pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
*
*
Kenapa aku sering sekali mengalami kejadian-kejadian aneh sih?! Gerutunya dalam hati.
Ia juga berharap Jo benar-benar mengantarkan Kasep ke rumahnya, ke pelukan istrinya, si Farida.
Bukannya membawa Kasep ke tempat nggak jelas.
Sambil menenteng helmnya untuk masuk ke dalam, Kevin pun tertegun.
Lalu ia berhenti melangkah karena merasakan suatu keanehan.
Kenapa pintu rumahnya terbuka sedikit?
Ia pun langsung waspada.
Aku sudah menguncinya tadi, bahkan sudah kugembok. Pikirnya.
Dengan perlahan dia membuka pintu rumah.
Lalu tenggorokannya terasa tercekat.
Kondisi rumahnya berantakan! Sofanya dicabik-cabik, dan perabotan sebagian besar hancur bagaikan dilempar sembarangan ke dinding.
Kevin langsung berlari ke kamar ibunya.
“Duh...” keluhnya hampir menangis saat melihat semua perhiasan ibunya menghilang!
Dengan panik ia mencari ke sudut-sudut, hasilnya nihil.
Lalu ia menuju kamarnya. Peralatan komputernya semua raib. Kondisi kamarnya bagaikan kapal pecah, semua hancur dan berantakan seperti kondisi ruang keluarga dan dapur.
Pakaian-pakaiannya bahkan digunting-gunting dengan sengaja.
Apa yang terjadi?!
Saat ia sedang mencerna yang terjadi, instingnya tiba-tiba merasakan keanehan lain.
Desiran angin di sekitarnya membawa suatu aroma yang berbeda. Aroma rokok kretek.
Dari arah belakangnya.
Reflek, Kevin bergeser ke samping.
Benar saja, sebuah celurit meleset ke sampingnya, hampir saja mengenai bahunya. Kalau Kevin tidak menghindar, pasti kepalanya sudah terbelah dua.
Dalam keadaan kaget, ia menatap si penyerang.
Seseorang, pakaiannya kumal... tidak, ada beberapa orang yang secara mengherankan satu per satu muncul. Padahal tadi saat ia masuk rumah tidak ada seorang pun di sana.
Dari aroma tubuh mereka yang berbau alkhohol dan penampilan yang seadanya, sudah pasti mereka preman.
Salah satunya menendang Kevin di bagian pinggang.
Kena!
Kevin jatuh menghantam dinding...
*
*
Adegan berikut adalah adegan yang sengaja tidak ditampilkan di Season 1 karena Author berpikir lebih nyambung kalau diceritakan di season 2.
Malam itu, sekitar pukul 23.
Wana selesai menggosok giginya dan membubuhkan skinker andalannya agar tetap terlihat putih glowing. Lalu menghembuskan napas tanda puas.
“Capeeeekkk,” gumamnya sambil menjatuhkan dirinya di ranjang.
Akhirnya selesai juga masanya bekerja di kantor Artha. Wana juga sebenarnya tak begitu mengerti apa saja makna yang bisa ia ambil saat bekerja magang kecuali banyak keributan yang terjadi.
Bekas cakaran Yuni Bahana masih clekit-clekit, kalau ia ingat kejadian minggu lalu rasanya miris sendiri. Juga, ia memikirkan nasib Stela ke depannya.
Bagaimana pun, karena Stela lah ia bisa bertemu Artha. Akibat ide nyelenehnya mengenai menjadi Sugar Baby untuk membuat Stela mengakuinya.
Konyol... Pikir Wana geli.
Lalu gadis itu mengamati bekas luka guratan memanjang di sepanjang lengannya. Bekas cakaran dari Yuni Bahana, melintang panjang seakan memperingatkannya, kalau mencintai bisa berbahaya.
"Ya ampun... nggak kusangka sekalinya jatuh cinta, bisa luka-luka begini," gerutunya sebal.
Ya wajar, dirimu kan dianggap ancaman bagi penghasilan Ratu Sejagad.
Saat dia melamun, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar kosannya.
Wana mengernyit lalu melihat jam dinding.
Sudah pukul 23 seharusnya jam malam kosan dari jam 21 tadi. Lagipula dia tidak ingat kalau ada janji bertamu.
"Siapa ya?" tanya Wana sebelum membuka pintu, waspada.
"Gue," terdengar suara laki-laki dari baliknya. Suara yang sangat ia kenal.
"Heh?!" dan Wana membukakan pintunya.
Kevin ada di depannya dalam keadaan luka-luka.