
Kesepakatan pun terjadi.
Wana akan membujuk Artha agar melepaskan Chandra menjadi Kepala cabang, dan mengizinkan Bira untuk menikahi tambatan hatinya sebelum lagi-lagi dia diputusin karena tak kunjung melamar anak pejabat.
Sementara, Chandra dan Bira menghapus rekaman cctv saat adegan bersih-bersih ruangan. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi salah paham dan menjaga mood Artha selalu dalam kondisi baik.
Memang susah kalo berhadapan dengan aki-aki puber kedua. Yang muda yang mengalah, intinya.
Kevin, karena sudah sangat berjasa, akhirnya mendapatkan penggantian kabel motornya, ChaBir untuk sementara patungan menggunakan gaji mereka untuk direlakan, sementara pengajuan biaya entertain besok baru bisa dibuat.
Biaya entertain? Iya.
Karena nggak tau lagi harus nulis apa agar perusahaan mau mengganti kerugian akibat keegoisan pribadi Artha. Jadi ya pengajuannya terkesan diada-adain. Ditulis di sana biaya makan 4 orang untuk kebutuhan kontrak kerja.
Malam itu sebenarnya cerah,
Wana pulang diantar Kevin,
Artha masih meeting dan hampir ada secercah titik terang untuk kontrak triliunan-nya,
Chandra dengan hati lega mulai hunting apartemen murah untuk Stela dari laptop di kamar kontrakannya,
Bira asik mengobrol dengan tunangannya lewat telepon sebelum tidur,
Tante Yuni masih molor di kamar hotel karena kecapekan,
Stela lagi berendam di bathtub sambil membayangkan Chandra,
dan Leo pulang ke rumah dengan kepala dipenuhi rencana licik akan diri Wana.
Namun, tidak cerah bagi ... Nirmala.
Sementara Wana berkutat dengan kegiatan Wedding Organizernya di pameran dan mendapatkan fakta yang membagongkan, di hari itu Nirmala menemui sebuah kenyataan pahit.
Mari kita flashback di pagi harinya, untuk melihat konflik menyakitkan yang dihadapi oleh si wanita tangguh dan cantik ini.
"Hei, sini kamu," ibu mertua Nirmala memanggilnya saat Nirmala baru akan berangkat bekerja. "Pakaian kerja kamu yang sopan dong! Kok berlekuk begitu sih?!"
Tubuh Nirmala memang sintal dengan dada yang lumayan besar. Pakai baju apa pun akan terasa seksi.
"Ini pakaian kerja saya yang biasa kok Bu, kan sudah berkali-kali saya pakai," kata Nirmala.
"Ya pantas saja belum dikasih momongan, wong kamu umbar-umbar belahan kemana-mana, itu namanya kena karma!"
"Karma? Secara medis rahim saya sehat kok bu, indung telur masih ada dan kedua saluran tuba falopi bersih. Haid juga teratur," desis Nirmala. "Mungkin memang belum masanya saja saya dikaruniai..."
"Sudahlah!" ibu mertua memotong kalimat Nirmala, "Biar kuminta saja Jaka ambil istri lain yang bisa memberiku cucu! Nggak ada anak ya namanya bukan perempuan, tapi banci jangan-jangan!" sembur Ibu mertuanya.
"Jangan begitu bu bicaranya, masih banyak di dunia ini wanita yang belum..."
"Tak usah kau berkoar-koar membela diri! Kamu bukan wanita seutuhnya di mataku, rahim kamu penuh sampah dosa! Titik! Terima saja kenyataan!" seru Ibu Mertua.
"Bu, dia datang," Jaka masuk ke ruang keluarga.
"Sudah datang? Calon mantuku?!" seru si Ibu kegirangan.
"Calon mantu?" Nirmala mengernyit. Seketika hatinya dipenuhi banyak prasangka buruk.
"Nirmala, sini kita harus bicara," desis Jaka sambil meraih tangan Nirmala dan menariknya ke sudut.
"Ma-maksudnya apa ini?" desis Nirmala.
Jaka pun menghela napas.
"Nirmala maaf, tapi ini keinginan orang tua ku. Aku... Aku tidak bisa menolak permintaan ibu untuk mencari wanita lain yang bisa melahirkan keturunanku,"
"Hah?! Maksudnya, Mas?!"
"Aku membawa calon istriku. Dia sudah hamil 7 bulan, anakku,"
Nirmala bagaikan merasa kalau udara di sekitarnya berhenti dan tidak terhirup olehnya. Otaknya merespon banyak hal, dan dadanya sangat sesak.
Bagaikan limbung, ia pun teringat foto-foto yang ditunjukan Wana di ponselnya.
Ia memang sudah memikirkan banyak hal, namun karena ia begitu mencintai Jaka suaminya, pikiran itu ia pendam sambil berpikir mungkin suatu saat Jaka akan berbalik kembali padanya.
Namun kini...
"Mas, kok kamu bisa begitu tega? Kita ... Kita menikah 9 tahun lamanya, apakah itu tidak ada artinya untukmu?! Kamu bahkan berani membawa wanita lain ke rumah kita!"
"Maaf Nirmala, aku benar-benar minta maaf. Tapi ini semua permintaan orang tuaku. Kamu tahu kan dari dulu mereka segalanya bagiku,"
"Dan sekarang kamu bilang ini keinginan orang tuamu?! Jadi selama ini kamu berpura-pura mencintaiku? Selama 9 tahun ini?!"
Nirmala terdiam.
Lidahnya kelu.
Dalam pikirannya terbayang foto Jaka saat mencium perut wanita lain yang membesar. Raut wajah pria itu begitu bahagia.apakah hal itu dalam kondisi tertekan juga? Kok Jaka bisa memasang raut wajah senang saat merasa tertekan?!
Lalu wanita itu menarik napas untuk menenangkan dirinya. Dan memejamkan matanya, menghitung satu sampai tiga.
"Mari kita temui dia, wanita idaman orang tua kamu," desis Nirmala sambil tersenyum manis.
Jaka pun menghela napas lega. "Sudah kuduga kamu pasti akan mengerti. Dari dulu hanya kamu yang mengerti aku, sahabat sejatiku," Jaka pun memeluknya.
Lalu Nirmala dan Jaka pun berjalan ke ruang keluarga, di mana dengan wajah sumringah, si ibu mertua berbincang dengan wanita dengan perut yang sudah membesar. Sesekali ibu mertuanya mengelus perut wanita itu.
"Halo," sapa Nirmala menyapa wanita itu.
"Hai, kamu istri pertama Mas Jaka? Yang nggak bisa hamil itu ya?" lancang sekali mulut wanita itu. Tapi Nirmala tetap tersenyum.
"Betul itu saya," jawab Nirmala. "Jadi rencananya kapan kalian akan menikah?" Nirmala mengutak-atik ponselnya.
"Aku sih inginnya kalian bercerai dulu baru aku mau menikahi Mas Jaka,"
"Kamu yakin?" tanya Nirmala.
"Ya kan tidak ada dua permaisuri. Salah satu harus rela jadi selir. Posisiku tidak menguntungkan padahal Mas Jaka bilang sudah bosan sama kamu, tapi aku hanya jadi istri kedua. Aku maunya diutamakan karena aku lagi hamil penerus keluarga. Seorang pewaris,"
Nirmala mengangkat alisnya. "Pewaris?!" tanyanya.
"Iya, pewaris Mas Jaka tentunya,"
Nirmala seketika tahu apa motif wanita di depannya ini. Ia malah hampir tertawa. Pewaris apanya? Apa yang harus diwarisi dari Jaka?
Kalau dilihat-lihat usia si wanita juga sebenarnya masih sangat muda. Terlihat juga dari cara bicaranya yang terkesan tidak tertata dan asal bicara.
"Oh tentu saja, akan aku urus perceraian di gereja dan pengadilan negeri secepatnya. Deal yah kami akan bercerai dulu, aku dan Jaka, lalu kamu menikahi Jaka. Bagaimana Jaka, Ibu dan ayah setuju?"
"Ya lebih baik begitu, aku juga sudah eneg kok lihat tampangmu!" sembur Ibu Mertua Nirmala.
"Nirmala, harus begitu?!" sahut Jaka. Ia tidak ingin kehilangan Nirmala karena ...
"Kan kamu harus menurut pada Ibu dan Ayah kamu kan? Jadi deal ya!"
"Deal! Sepakat! Sudah sana pergi!" seru Ibu Mertuanya.
"Jangan! Tidak Deal! Kita harus bertemu pengacara dulu!" Jaka kalang kabut.
"Apa lagi sih yang kamu tunggu Jaka? Ibu sudah mual setiap hari melihat dia seenaknya saja mondar-mandir seakan nggak punya dosa! Berbakti ke orang tua juga tidak, pantas saja dia yatim piatu, jangan-jangan orang tuanya meninggal karena stress melihat kelakuan anaknya,"
Nirmala naik pitam, ada yang sudah memfitnah mendiang orang tuanya. Tapi untung saja akal sehatnya berkata lain, dia harus tenang dan selesaikan semua ini dengan anggun.
"Nirmala! Tolong jangan begitu! Aku tidak izinkan kita bercerai!" seru Jaka.
"Mas Jaka, kalau ini hanya masalah kepuasan di atas ranjang kan aku sudah berikan. Buktinya Mas Jaka sampai kecapekan. Jadi ya relakan saja toh rahim si istri pertama kering, dia nggak bisa jadi seorang ibu," kata si wanita.
"Jaka, kamu sudah bilang apa saja sih ke Ibu dan ayah, juga ke perempuan ini?" tanya Nirmala dengan senyum dikulum.
Wajah Jaka semakin pucat.
"Perbincangan ini dari tadi aku rekam dan aku kirimkan ke temanku yang profesinya pengacara ya. Mohon maaf atas 9 tahun ini, aku sudah merepotkan kamu dan orang tua kamu. Tapi aku lega kamu sudah jujur tentang keadaan yang sebenarnya walaupun terlambat,"
"Wuuuu! Dari kemarin saja seharusnya kalau responnya begitu!" seru si Ibu Mertua.
"Kalau begitu saya berangkat kerja dulu. saya harap nanti malam jam 21, saya pulang kerja, kalian semua dan barang-barang kalian SUDAH TIDAK ADA LAGI DI RUMAH SAYA TANPA TERSISA YA. Atau saya akan panggilkan polisi untuk mengusir kalian semua. Karena rumah saya beli sejak sebelum menikah dengan Jaka dan sekarang cicilannya sudah lunas. Dengan demikian, juga semua uang saku, tunjangan dan pembayaran hutang-hutang Jaka akan saya hentikan dan mobil yang BPKBnya dari awal atas nama saya akan saya sita," Nirmala berbicara dengan tegas dan anggun.
"Perlu kalian semua tahu, emas dan perhiasan beserta semua sertifikat deposito atas nama saya, saya pindahkan penyimpanannya di safe Deposit Bank sejak saya tahu perselingkuhan Jaka sekitar seminggu yang lalu, saya ada bukti fotonya,"
"Dari mana kamu dapat foto itu?!"
Nirmala tersenyum sangat manis, dan melanjutkan kalimatnya, "Mengenai pembagian harta, akan diputuskan pengadilan. Tapi setahu saya kalau harta yang didapatkan sebelum menikah masih dapat saya klaim sebagai milik saya. Semoga Jaka lebih beruntung,"
"Maksudnya apa ini?! Perempuan itu sesumbar apa?" ibu mertua menatap Jaka. Dia mulai merasa kalau hal ini diluar prediksinya.
"Untuk lebih jelasnya biar dia saja yang menjelaskan. Jaka selama ini pengangguran ya, jadi punya lebih banyak waktu untuk menjelaskan panjang lebarnya. Kalau saya harus buru-buru karena ada meeting pagi,"
"Mas? Bukannya mobil dan rumah milik kamu? Kamu beli dari hasil konten di yutub kan? Kamu bilang dia selama ini kerjanya cuma menghabiskan uang kamu dengan belanja barang bermerk?!" gumam si pelakor ke Jaka.
Jaka hanya bisa diam
Nirmala terkekeh menang. Maaf saja sudah tidak ada pintu silaturahmi terbuka untuk Jaka si pengkhianat cinta, "Asal Mbak pelakor tahu, selama ini semua pengeluaran Jaka dan Orang tuanya berasal dari gaji saya. Jadi kalau mbaknya ingin harta, seharusnya si mbaknya menikahi SAYA bukan Jaka. Selamat pagi dan terima kasih, taksi online saya sudah di depan,"