
Selesai dengan surat dokter palsunya, Kevin mencari data mengenai Aminah.
Bintang tiktok 1 juta followers, dengan wajah semanis dia pasti mudah dikenali di sosial media.
Hanya berbekal aplikasi face recognize, sambungan VPN dan kata kunci khusus, wajah Aminah muncul dimana-mana. Tidak perlu masuk ke darkweb atau deepweb, Kevin sudah menemukan kartu AS Aminah.
Ini akan ia jadikan senjata untuk nanti siang kalau Haji Sueb mendatanginya.
Sekarang, main game dulu saja lah.
Saat matahari sudah tinggi di ufuk timur, Ibu masuk ke kamar untuk membangunkannya, Kevin sedang main game online dengan headphone dan jemarinya aktif menekan tuts keyboard gaming.
"Kev, kamu nggak sekolah?"
Kevin menoleh sekilas, "Nggak, Bu,"
"Kenapa?"
"Sakit,"
"Masih sakit yang kemarin?"
"Begitulah," ia sebenarnya hanya malas bertemu manusia.
"Mau bantu ibu di warung?"
"Boleh. 5 menit lagi ya, aku habisin satu sesi dulu," jawab Kevin.
*
*
"Siapa tuh?"
"Anaknya Bu Bella, katanya,"
"OMG ganteng buanget!"
"Mirip Bu Bella ya, tapi versi cowok,"
"Ih kayaknya tipe badboy tuuuh,"
"Dia nggak sekolah?"
"Katanya lagi libur,"
"Ih kiyuuuttt ya ampuun pingin gue karungin!"
Riuh pelangggan warteg membicarakan Kevin. Padahal saat ini cowok itu memutuskan untuk tidak tampil terlalu mencolok.
Kevin hanya mengenakan kaos putih bekas kemarin, celana pendek jeans, dan sandal swallow yang bantalannya sudah tipis mendekati sekarat minta diganti.
Hari ini entah kenapa kondisi warteg lebih ramai dari biasanya, dan pelanggan rata-rata perempuan. Antrian berderet sampai keluar gerbang.
Kevin yang tadinya ingin lebih banyak istirahat malah harus membantu ibunya di warteg.
Ibu sampai harus meminta tolong dua tetangganya untuk membantu bagian dapur.
"Jangan merokok, nanti abunya jatuh ke masakan," kata ibu sambil menarik rokok dari bibir Kevin, yang sedang menggoreng bakwan.
Saat ibunya kembali ke konter, ia keluarkan lagi sebatang dari kantong celananya dan ia sulut. Kembali Kevin merokok sambil menggoreng bakwan.
"Maskev, tumben nggak sekolah," si ibu tetangga sebelah kiri merapatkan tubuhnya. Jilbab biru, full make up, tapi keringetan.
"Lagi bolos, Bude," jawab Kevin pendek.
"Maskev, makanan kesukaannya apa, nanti bude bikinin," emak-emak gemuk berjilbab merah mencolok, tak pakai make up tapi parfum indoapril menggelitik hidung, sedang uleg sambel, merapatkan tubuh gempalnya ke Kevin.
"Lagi nggak pingin makan apa-apa, Bude," jawab Kevin tak bersemangat.
Dan pertanyaan-pertanyaan lain merundung Kevin yang sedang ditekan kanan-kiri, sampai Ibu geleng-geleng kepala dari kejauhan.
Anak semata wayangnya itu sedang patah hati. Dan baru kali ini Ibu melihatnya semuram itu.
Banyak wanita muda dan bahkan seumuran Ibu sering mencari Kevin ke rumah.
Dari yang hanya jalan kaki, sampai ke sosialita bermobil mewah.
Namun Ibu diam-diam saja.
Turun temurun keluarganya sering bermasalah soal cinta.
Dari mulai Nyai Rogaya, buyut mereka yang seorang gundik, yang akhirnya harus dibunuh di dalam terowongan oleh warga sekitar. Sampai keturunannya yang rata-rata berwajah rupawan, masalah dengan lawan jenis sudah bukan hal baru.
Ibu Kevin pun sering bermasalah sampai akhirnya ia mendapatkan tambatan hatinya, seorang pengusaha garmen.
Namun akhirnya karena persaingan cinta pun suaminya harus meninggal dengan cara tragis dan usaha mereka disita bank.
Akhirnya Ibu membawa Kevin pergi menjauhi kampung halaman mereka dan tibalah mereka di Jakarta, tinggal nomaden dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
Kadangkala, memiliki wajah rupawan tidak serta merta mendapatkan kenyamanan hidup.
Menjelang siang, dagangan ibu sudah habis.
Kevin duduk di salah satu bangku dan beristirahat sambil memeriksa ponselnya.
"Ini, gaji kamu hari ini. Makasih ya udah bantuin ibu," Ibu meletakkan semangkok indomie, penuh dengan toping keju, kornet, dan telur, disertai segelas es jeruk dan kerupuk kampung.
Mata Kevin langsung berbinar. Senyumnya merekah dan tanpa pikir panjang ia langsung mengambil garpu.
"Gara-gara kamu warteg ibu ramai banget hari ini, hehe," Ibu mengecup dahi Kevin dan melanjutkan membereskan konter warteg.
Baru juga setengah mangkok Kevin menyantap hidangan special, Haji Sueb dan Aminah datang.
Ini dia yang ditunggu-tunggu. Keluh Kevin dalam hati.
Ini sebabnya Kevin hari ini bolos sekolah.
Ia tidak tega kalau ibunya harus sendirian menghadapi cecaran Pak Haji. Apalagi, sosok jawara ini telah terkenal di seantero kampung sebagai petinggi di salah satu partai berbau sukuisme.
Yah, walaupun Kevin memegang kartu AS Aminah, namun ada sedikit penyesalan karena mulai besok ia tidak bisa memarkir motornya di tempat Haji Sueb lagi.
Pepen tampak mendampingi Haji Sueb dengan gaya petantang-petentengnya. Ia langsung menghambur masuk dan menggebrak meja Kevin, lalu menggeser mangkok Indomie Kevin dengan kasar ke samping.
"Hei, Nyet! Awas lo ye kalo banyak tingkah!" sahut Pepen kasar.
"Gue lagi makan, bangs*t!" gumam Kevin kesal. "Lu yang masuk rumah orang nggak pake sopan santun!"
"Effendi, kita kesini untuk berunding. Kamu minggir!"Ujar Pak Haji Sueb.
Kevin bengong, "Siapa Effendi?"
"Itu Effendi," Haji Sueb menunjuk Pepen. Kevin mencibir.
Nama udah bagus-bagus pake diganti jadi pepen.
Haji Sueb adalah Jawara bertubuh hampir 2 meter dengan perut membuncit dan kumis melintang. Janggutnya melambai ditiup angin, dan sebuah golok kecil tersampir di sabuknya.
Ia duduk di depan Kevin sambil mengelus janggutnya, dan meletakkan golok kesayangannya di atas meja.
Dikira Kevin bakalan gentar melihat senjata tajam.
Jadi Kevin mengambil ponselnya, dan ikut meletakkannya di atas meja, di samping golok Pak Haji Sueb
Aminah tampak cemberut bersembunyi di belakang bapaknya. Ia sebenarnya tak ingin keluarganya berbuat keributan di tempat cowok terganteng sekomplek. Tapi saat ini ia dalam keadaan terdesak.
Ada salah satu tetangga yang mengaku pernah melihat Aminah dicium Kevin di garasi rumah.
Aminah merasa bersalah ke Kevin, sampai-sampai dia membelikan KFC Bucket ke Ibu Kevin.
Yah tapi, kalau dia sampai mendapatkan Kevin yaaaaa nggak rugi juga sih. Hehe.
Ibu menghampiri Haji Sueb, "Mau minum apa Pak Haji?"
"Saya kopi item!" sembur Pepen.
"Bikin sendiri," gumam Kevin.
"Aminah minum apa?" tanya Ibu lembut, tidak mengindahkan Kevin.
Aminah hanya menggeleng. Ia tidak ingin apa pun. Perutnya terasa diaduk dari kemarin.
Ibu pun pergi sebentar ke dapur untuk membuatkan minuman. Sekilas, Ia sempat melirik Kevin karena kuatir jangan-jangan anak itu ketakutan atau gugup, tapi tidak ada binar mata itu di mata Kevin.
Hanya sorot percaya diri yang tersirat di pandangannya.
Ibu pun agak tenang dan akhirnya pergi ke dapur.
Kevin dan Haji Sueb hanya duduk membisu, berhadapan sambil menilai sosok masing-masing. Sementara suasana dihiasi dengan bunyi 'kriuk kriuk' nyaring si Pepen yang sedari tadi makan krupuk.
Pak Haji pun memperbaiki letak peci dan merapatkan jasnya, lalu mengangguk. Ia tampaknya sudah akan mulai membuka suara.
"Begini Kevin, kedatangan saya kemari..."
"Pak Haji, sebelum kita berdiskusi," potong Kevin, "... bolehkan hal ini hanya dibicarakan dengan saya, Pak Haji dan Aminah saja? Saya pikir orang luar tidak perlu tahu kalau menyangkut aib," Kevin melirik ke arah Pepen.
Pak Haji mengernyit menatap Kevin.
Kevin mengangguk sekilas meyakinkannya.
Pepen menghentikan kunyahannya dan menatap pak Haji dan Kevin bergantian.
Pak Haji masih menatap Kevin, lurus ke matanya. Menilai keseriusan cowok itu.
"Effendi, kamu tunggu di depan gerbang," Akhirnya ia berkata demikian.
"Tapi, Pakde ..."
"Diluar, tong," tekan Pak Haji dengan tatapan tajam.
Pepen pun menghela napas sambil menatap Kevin dengan penuh rasa benci. Ia membuang sisa krupuknya ke atas meja sambil menggerutu dan menjauhi TKP.
Kevin menghadiahinya kecupan jauh penuh kelicikan.
"Aminah, duduk sini sebelah Babe," sahut Pak Haji. Aminah pun menurut sambil menunduk. Kevin menatapnya dengan mimik muka prihatin.
"Saya datang kemari untuk meminta konfirmasi, karena perihal adanya gosip yang bilang kalau kamu dan Aminah berciuman di garasi, benarkah itu?" tanya Haji Sueb dengan suara rendah.
"Benar, Pak Haji," jawab Kevin juga dengan suara rendah.
Pak Haji Sueb menarik napas kecewa, "Apa kamu mau bertanggung jawab atas hal itu?"
"Saya mau, dengan syarat," desis Kevin.
"Apa syaratnya?"
"Semua yang telah menyentuh bibir Aminah dengan bibir mereka, bahkan berbuat lebih dari itu, juga bertanggung jawab,"
Semua diam.
Aminah ternganga tak percaya. Ia langsung pucat saat itu juga.
Jejak digital tak bisa ditutupinya. Terlebih, technologi sudah sangat akrab bagi otak Kevin.
"Apa maksud kamu?" tanya Haji Sueb. Suaranya terdengar gemetar menahan amarah.
"Maaf Pak Haji, bukannya saya mau menguak aib Aminah. Tapi hal ini tidak bisa saya tutupi lagi saat Pak Haji memutuskan untuk kesini, ke rumah ibu saya," Kevin mengambil ponselnya yang terletak di samping golok dan memperlihatkannya ke Pak Haji.
Pak Haji melihatnya, mengernyit, menontonnya, memperhatikannya, dengan wajah seperti pelangi. Sebentar-sebentar merah, berubah jadi putih, berubah lagi jadi merah, dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
Ibu, yang sebelum keluar dari rumah sempat mengamati aktivitas dari jendela, melihat perubahan wajah Pak Haji, jadi urung untuk bergabung.
Sepertinya saat ini bukan saat yang tepat untuk menginterupsi dengan minuman.
Tapi di hatinya ada perasaan lega, bahwa itu tandanya Kevin sudah menyelesaikan sendiri masalahnya.
"Pak Haji, saya bisa menghapus semua jejak digital masa lalu Aminah, kalau Pak Haji meminta saya melakukannya," tambah Kevin.
Haji Sueb mulai terisak, Aminah hanya bisa menunduk sambil meneteskan air mata.
Entah akan jadi apa gadis itu saat dia pulang nanti. Mungkin beberapa cambukan dan karantina tanpa ponsel dan internet.
"Saya juga ... minta maaf kalau saya pernah khilaf mencium Aminah. Tapi untuk menikahinya, saya kuatir belum bisa karena perbedaan keyakinan kami," tambah Kevin.
Haji Sueb pun menggelengkan kepalanya.
"Kevin, tolong saya," isak Haji Sueb.
"Ya Pak?"
"Tolong hapus semuanya, semua linknya, semua foto dan videonya. Sudah cukup hanya kamu saja yang melihatnya sampai detik ini,"
"Baik Pak,"
"Kalau kamu lakukan itu, saya bersedia melupakan semua perbuatan kalian,"
Senyum tipis Kevin pun mengembang. Puas karena 'transaksi' berjalan lancar.
Bukan tanpa sebab Aminah begitu mudahnya menjadi bintang tiktok sejuta follower. Ia sudah lebih dulu terkenal di dunia 'penyemprotan'. Julukan bernada vulgar dan kata-kata nyeleneh adalah kode pencariannya untuk video biru.
Miris memang, hal itu sudah dilakukannya sejak Aminah kelas 10, berjoget-joget tak jelas dengan gaya vulgar hanya memakai kerudung namun tanpa pakaian, di dalam rumahnya pula. Terakhir malah dilakukannya dengan beberapa pria dengan topeng atau masker. Walaupun wajah Aminah ditutupi masker, namun tanda lahir berbentuk awan di pinggulnya menjadi ciri khas.
Pentingnya orang tua melek teknologi, supaya bisa mengamati perkembangan anaknya.
Ibu pun akhirnya datang membawa baki berisi minuman.
"Pak Haji, diminum dulu biar tenang, biar bisa berpikir lebih jernih," kata Ibu.
Kevin beranjak, mengambil mangkok indomie yang tadi digeser Pepen, dan melanjutkan makannya.
Pepen dari luar gerbang menoleh ke dalam dan mengernyit.
Kenapa suasananya jadi langsung berbeda?!
Siapa sebenarnya si Kevin ini?! Pikirnya.
"Pak Haji, maaf kalau saya terkesan menggurui," Ibu membuka suara. Ia memang tidak mengerti duduk perkaranya. Namun ia mengenal anaknya, setidaknya sifat Kevin. Walaupun ia tidak tahu persis apa saja yang sudah Kevin lakukan di belakangnya, tapi ia tetap berkeyakinan kalau Kevin tidak pernah merugikan orang lain.
"Pak Haji, seringkali saat anak-anak beranjak dewasa, kita malah tidak mengenal mereka. Mereka bagaikan orang lain yang kebetulan tinggal serumah dengan kita. Tapi percayalah Pak Haji, walaupun kekhilafan tidak bisa dihindari, mereka berjanji bertobat saja sudah merupakan hal berarti bagi kita, para orang tua. Karena kita sendiri juga tumbuh dewasa dengan melalui berbagai kesalahan," kata Ibu lirih.
Pak Haji Sueb hanya bisa diam. Ia bagaikan tertampar di wajah bolak-balik. Rasa malu dan marah campur aduk jadi satu.
Ingin rasanya ia bunuh saja anak perempuannya ini, yang dikiranya masih ting-ting karena sikap santun dan bersahajanya.
Kevin pun mengira demikian sampai tadi pagi ia mencari identitas Aminah sebenarnya. Semua sudah tertipu dengan wajah polos Aminah.
Biarlah kenyataan di belakang hanya mereka bertiga yang tahu. Sepertinya Haji Sueb juga tidak akan memberitahukannya ke istrinya, takut langsung kejang-kejang penyakit jantungnya kumat.
Di lain pihak, mendengar kalimat ibunya barusan, Kevin langsung menghentikan kunyahannya. Ia bagaikan ditinju tepat diperut mendengar ibunya berbicara begitu.
Ia pun sama dengan Aminah. Berandal. Menganggap dunia ini surga, padahal sebenarnya sedang berenang di dalam comberan.
Jadi, Haji Sueb pun pulang dengan Aminah terisak-isak memohon ampun dengan lirih di belakang punggungnya.
Kevin menghela napas sambil berkacak pinggang menatap ibunya.
Sebenarnya ibunya ini, apa saja yang sudah diketahuinya mengenai Kevin? Seberapa banyak informasi yang ia reka?
Mencurigakan... Pikir Kevin.
Lalu ibunya menoleh padanya sambil mencondongkan tubuhnya.
"Sebenarnya Aminah itu kenapa sih Kev?" bisik ibunya.
Kevin hanya bisa mencibir.