
Kasep melambaikan tangan ke arah Kevin saat cowok itu sampai di warkop dekat SMA Sincostangen.
"Njiiir kangen banget gue sama tempat niiii," seru Kevin bersemangat.
"Ya tapi sekarang sepi, kan hari Minggu, bro," ujar Kasep.
"Ngopi dulu lah kita!"
"Kuy!"
Maka mereka pun memesan Kopi cap Kacamata, kopi legendaris dari Bogor (orang Bogor abseeeen, hehe) menikmatinya dengan tahu goreng, dan menerawang menatap bangunan bekas sekolah mereka.
Kasep berpikir : Nggak kerasa gue udah lulus aje dari sana, perasaan baru kemaren gue dibotakin Pak Bonar, dan ngerjain soal sosiologi.
Kevin berpikir : Apakah setelah ini ada keturunan gue yang tidur di UKS? Menodai perpustakaan? Nyobain bathtub Bu Ida? Fak lah... Gue ngapain aja sih pas sekolah? Kenapa yang keinget malah adegan ewita?!
"Lo nggak ajak Agus kan, Sep?!"
"Kaga, bisa ribet kalo ada dia. Banyak pertimbangan pasti. Lagian dia lagi diperbudak ceweknya,"
"Diperbudak..." Kevin meringis geli.
"Ya udah pasti disuruh anterin kemana-mana toh?!"
Kevin hanya tersenyum ala Monalisa.
Karena ia tahu kalau Dian pasti tidak betah di rumah saat ada Mami, dan Mami pun memperlakukan Dian semena-mena, pasti cewek itu akan berusaha main di luar sesering mungkin biar nggak ketemu ibu tirinya itu.
Sudah pasti Agus yang jadi korban dijadikan supir dan kurir angkat barang.
"Jadi, mau nyari mulai dari mana nih?!" tanya Kasep sambil menggosok-gosokan tangannya.
"Hm..." Kevin membuka ponselnya dan menunjukan kosan yang sudah ditandainya, yang kira-kira bersahabat untuk kantongnya.
"Lo yakin mau cari kosan? Nggak apartemen aja?" tanya Kasep.
"Sambil ngekos gue mau ngumpulin duit buat beli rumah,"
"Beli rumah, target lu yang harga berapa? Kalo 200-300juta ya dapetnya dipinggiran Jakarta, pinggirnya tuh udah jauh buanget! Bisa jadi hampir masuk hutan,"
"Itu pinggir Jakarta apa pinggir Gunung Slamet, woy?!"
"Pinggirnya Kebun Kelapa Sawit, ke arah Jasinga malah,"
"Properti tuh mahal yak," keluh Kevin.
"Karena semua orang butuh rumah. Kan rumah ada di daftar Sandang Pangan Papan, kebutuhan primer semua,"
"Heh? Bukan Hape, Pangan, Papan ya?"
"Jadi lebih penting hape dibanding baju, gitu?!"
"Yang pegang hape aja banyak yang telanjang sambil joged-joged,"
"Nyindir sapa looo," Kasep terkakak
"Bukan elo,"
Dan kembali mereka menghela napas sambil menatap sendu ke depan.
"Lo nggak nyoba nyicil di bank aja, Kev?"
"Hm, setelah melalui berbagai pertimbangan, menurut gue bakalan lebih murah kalo gue nabung sambil ngekos, banyak resikonya kalau nyicil di bank kayak PHK, bunga mahal, dan hal-hal absurd lain. Karena nyokap, gue jadi trauma dan sekarang nyediain dana cadangan kalo ada hal yang terjadi diluar rencana,"
"Tapi kapan duit lo kekumpul? Bisa-bisa saat itu tiba harga rumah malah makin mahal dan akhirnya lo tetep nggak bisa punya rumah,"
"Gue sering liat tetangga gue, tadinya punya rumah, pas di PHK malah sekarang sekeluarga luntang-lantung nggak punya rumah karena disita bank. Bunganya itu jumlahnya hampir seharga rumah lo kalo ambil lewat dari 5 tahun loh. Lagian... Nyokap gue ngelarang gue berhutang,"
"Pemikiran lo kenapa jadi makin bapack-bapack mode on begini?"
"Hah? Masa sih?!"
"Ini pasti pengaruh Tante Nir,"
"Njay!" Kevin menelungkupkan kepalanya di meja warung, "Gue kangen banget sama dia!"
"Ish! Ada fakboi tobat, sekarang ngebucin! Halalin aja dah itu tante! Daripada lo galau melulu, kerja mau gaji 30 juta perbulan mau kapan lo nikah?! 10 tahun tante Nir emang mau nungguin lo?"
"Yang dia kuatirkan, 10 tahun emang ada jaminan gue nggak maen cewek selama itu, gue kan orangnya pangean,"
"Pantesan si Agus sering doain pistol lu meledak, tadinya gue pikir dia bercanda. Ternyata dia sungguh-sungguh berdoa,"
"Ya emang meledak, di atas springbed tapi,"
"Lu cowok ganteng paling goblok yang pernah gue kenal,"
"Cukup satu aje yang kayak gue dalam hidup lo, ntar lo insecure kalo denger cerita lengkap tentang keperkasaan gue,"
Kevin menjulurkan lidah menggoda Kasep.
"Itu bekas cakaran di lengan lo gara-gara apa?" tanya Kasep lagi sambil melirik ke bawah.
Kevin hanya menatapnya dengan wajah setengah sebal, "Selain di lengan, masih ada di punggung. Mau liat?" tawar Kevin.
"Nggak usah dijawab, Anggap aja gue ga pernah nanya," gumam Kasep sambil mencibir.
"Tadi malam itu yang terakhir, habis itu gue beneran berhenti,"
"Nggak usah dibahas, gue nggak mau tahu lo ngapain aja,"
"Yakin lo nggak mau tau?"
"Nggak,"
"Lo nggak cemburu?"
"Cemburu, makanya nggak mau tahu,"
"Lama-lama kita bromance nih,"
Lalu mereka diam, langsung teringat Jo.
Dan selanjutnya bergidik sendiri.
"Yuk lah kita mulai hunting, lama-lama gue nyaman di sini," kata Kasep sambil beranjak.
"Range gue paling mahal 2juta perbulan,"
"Macam nyewa apartemen lo. Gue malah mau hunting yang 500ribu sebulan," kata Kasep.
"Iya ada 500ribuan tapi jaraknya 50 meter dari kantor dan jauh dari feeder,"
"Ish! Lo udah survey lewat internet dulu yak. Kantor lo di area bisnis sih! Ada jeleknya juga yak,"
"Lagian kalo gue nyewa unit apartemen, mau berapa tahun nabungnya, kesita sama biaya maintenance. Gue yang penting deket stasiun, dan ada angkutan umum,"
Kasep menggaruk-garuk kepalanya, "Kalo mau murah dan deket, lo cari yang bekas digrebek pulis, atau yang sepaket sama setannya,"
"Nggak gitu juga Seeeep, lu tau gue penakut!"
"Miss K juga bakalan ngefans kali sama lo,"
"Amit-amit dah!"
Dan akhirnya Kasep duduk di motor Kevin, menyetir, dan Kevin duduk di belakang sambil liat peta.
Dimulailah kegiatan berburu kosan ala mereka.
Lokasi pertama.
Jarak : sekitar 5km dari kantor Kevin.
Harga : 1.200.000/bulan termasuk listrik, WC luar, kalau bawa kulkas dan dispenser nambah 100ribu.
Luas : 3 x 4 m2
Tapi pas baru mau masuk ke pagarnya ada...
"Jeng, berondong!" bisik seorang pria yang sedang berkumpul dengan kaum tulang lunak di pos satpam.
"Iiih, kiyut bener! Pingin eike cakar-cakaaar,"
"Haum!! Extra jilat deh!" seru yang lain.
Kevin tegang, "Makasih Om tawarannya, baru aja dicakar Tante Yuni tadi malem," kata Kevin sambil mengernyit.
Dan mereka berdua nggak jadi masuk gerbang, kabur secepatnya dari sana.
Percobaan pertama, gagal.
"Duh, padahal kosannya rapi yak tadi. Bagunannya baru, mana murah pula," keluh Kevin.
"Tante Yuni sapa?" tanya Kasep di jalan.
"Katanya nggak mau tahu?"
"Ohiya, lupain,"
"Lo kebayang nggak sih Sep kosan yang tadi, kamar mandi luar, kegiatan apa aja yang mereka lakuin di sana?!"
"Gue anggep lo nggak pernah nanya, gue mau muntah pelangi,"
"Oke, next place," Kevin kembali membuka map di ponselnya.