Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Office Girl VVIP


Saat keluar dari ruangan HRD,


"Bro, lu aja yang anter Mbak Wana ke ruang Support ya, gue ada kerjaan nih," desis Birawa sambil memperlihatkan layar ponselnya.


"Oke," desis Chandra sambil mengangguk.


Lalu Chandra dan Wana (yang masih cemberut) turun ke lantai lain dari lift.


"Kita menuju ke ruangan OB ya mbak, di sana tim Support dibawah Divisi Umum. Jadi kalau ada kebutuhan, Mbak Wana bisa melapor ke Staff Bagian Umum," desis Chandra sambil menekan tombol 4.


Dan baru kali ini Wana melihat ada gedung yang tak masalah memakai lantai dengan nomor 4 dan 13. Biasanya 4 dilewatkan dan 13 diganti 12B.


"Kenapa?" tanya Chandra saat melihat Wana tertegun menatap tombol lift.


"Itu, ada nomer 4 dan 13 nya,"


"Oh, iya mbak. Bagian umum kami tempatkan di lantai 4 karena mereka sesi yang paling sibuk di sini. Jadi saking sibuknya serasa mau pilih mati aja kalo nggak kuat iman. 4 itu disebut dalam bahasa Jepang adalah shi, artinya mati,"


"Anjrit!"


"Lalu lantai 13 adalah tempatnya tim marketing. Mereka ditempatkan di sana karena dianggap divisi paling sial. Kena omel boss terus. Walaupun aliran dana paling kencang kesana. Gajinya besar-besar tapi sering jadi sasaran amukan Boss,"


"Buset," gumam Wana. Ia semakin merasa kalau Artha benar-benar pria aneh.


"Tapi jangan kuatir Mbak, soalnya posisi kamu spesial. Memang teman-teman Mbak nantinya tidak tahu, tapi belum pernah ada yang menyentuh ruangan Boss kecuali kami berdua,"


"Jadi selama ini kalian yang membersihkan ruangan itu?!"


"Begitulah, double job. Makasih loh udah mau nolongin," bisik Chandra sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Wana dan terkekeh.


"Ck ah! Gue juga terpaksa ke sini,"


"Nanti jangan merasa insecure ya kalau ada membully," gumam Chandra.


"Eh? Di sini masih ada bully-bully-an?!"


"Hem, karena posisi kamu dianggap paling bawah, dan kamu cantik. Jadi saya prediksi kayaknya kamu bakalan dibully,"


Wana mengangkat alisnya dan membelalak.


"Sabar aja ya Mbak, rayu terus saja Pak Arthanya biar ngelunasin hutang Mbak Wana," Chandra sekali lagi terkekeh.


"Ya gue juga punya harga diri kali. Minta-minta begitu kesannya gue simpenannya. Kalo dia nggak kasih ya gue males juga ngerayunya,"


"Hem," Chandra menatap Wana dengan seksama. Dari atas ke bawah, dari rambut ke kaki. Berulang sampai 3 kali.


"Apa sih Mas?" Wana sampai risih sendiri.


"Tadinya saya pikir seperti apa wanita yang bisa jadi pacarnya Boss, si pembenci wanita. Saya tidak menyangka kalau selain kamu cantik, kamu ternyata tegar juga. Mau saja dijadikan OG pula. Tapi kita lihat saja ke depannya, seberapa jauh kamu bisa bertahan terhadap tekanan kerja," desis Chandra.


"Itu memuji atau menyindir?"


"Memuji, dong,"


"Kayaknya Mas Chandra terlalu banyak tertekan ya, sampai sarkas begini bicaranya,"


"Menurut Mbak Wana, seperti apa penderitaan asisten di bawah Pak Artha,"


"Hehe, gue ngerti, sih sebenarnya,"


"Bisa dibilang kita senasib,"


Wana mengepalkan tangannya ke arah Chandra, Chandra menyambut salam tinju Wana sambil terkekeh.


*


*


"Astaga, Pak Chandra! Selamat Siang Pak!" Operator di depan ruangan langsung berdiri menyambut Chandra dengan tergopoh-gopoh.


Wana bisa melihat beberapa karyawan yang melihat Chandra langsung terkaget dan menghindar, tidak jadi lewat jalan yang dilalui Chandra.


Yang lain langsung berdiri sambil membungkuk dan menyapa dengan sopan.


"Chandra! Hey tumben kesini," seorang pria gendut dan botak menyambut Chandra.


"Ini Ramli, dia Kepala Divisi Umum, Boss kamu," desis Chandra memperkenalkan si pria gendut itu.


"Siang, Pak. Saya Nirwana," Wana menyambut Pak Ramli dengan ramah.


Mata Pak Ramli langsung menatap Wana dengan penuh perhatian. Kumis tebalnya bahkan bergerak-gerak menandakan kalau ia sedang tersenyum di baliknya.


"Nirwana akan menjadi Office Girl khusus ruangan Pak Arthasewu, surat keputusan ditandatangani Boss langsung," kata Chandra.


Mata Pak Ramli semakin membulat.


"Ru-ru-ruangan Bapak?! Kamu serius?"


"Memang muka saya kelihatan bercanda, Pak?" Chandra bertanya balik.


"Tapi Bapak bilang tidak ada yang boleh masuk ke ruangannya,"


"Makanya saya sendiri yang mengantar Mbak Wana ke sini, karena dia orang terpilih selain saya dan Bira," desis Chandra.


"Apa saya bisa melihat biodata Nirwana?" tanya Pak Ramli.


"Silahkan hubungi Bu Viola. Yang jelas, kami pihak atas menitipkan Mbak Wana ke sini, mohon diperlakukan DENGAN BAIK," Chandra agak mengeraskan suaranya agar seruangan mendengar kalimat yang diutarakannya.


Beberapa OB dan OG mengintip-ngintip dari arah ujung ruangan, dimana itu adalah ruangan ganti mereka.


Kedatangan Chandra ke lantai 4 membawa kegaduhan di sana. Chandra dan Birawa adalah karyawan khusus yang lumayan disegani karena hanya mereka berdua penghubung antara karyawan dengan Arthasewu Connor.


"Ah, o-okeeee jangan emosi dulu ya Chandra, baiklah saya akan memperkenalkan Mbak Wana ke teman-teman,"


"Saya saja yang mengenalkan ya Pak Ramli. Kalau bisa, kebutuhan Mbak Wana sudah disiapkan," potong Chandra.


"Tapi, Chandra," Pak Ramli menatap sekitarnya dengan ragu, lalu berbisik. "Bisa terjadi konflik kepentingan kalau saya terlihat mengistimewakan Mbak Wana. Bagaimanapun posisinya OG, jadi tidak boleh ada hak istimewa," dengan hati-hati Pak Ramli mengelus kumis tebalnya yang mirip lakban hitam ditempel ke bawah hidung.


"Yang jelas, Pak, berdasarkan kontrak kerjanya, Mbak Wana tidak diperkenankan untuk membersihkan atau menangani ruangan lain selain ruangan Bapak. Termasuk mengurusi kebutuhan karyawan, atau pun disuruh-suruh karyawan lain. Dan yang lebih penting, tidak boleh ada yang bertanya hal-hal mengenai ruangan bapak. Mbak Wana sudah disumpah untuk tidak membocorkan apa pun,"


"Segitunya ya?" tanya Pak Ramli kaget.


Wana juga sampai ternganga. Ini sih kelihatan banget nepotismenya.


"Tapi, gajinya ..." desis Pak Ramli


"Gaji urusan kami,"


"Bukan HRD?"


"Bukan. Urusan atas, urusan Bapak,"


"Kok bisa?"


"Apa pun bisa kalau Pak Artha sudah memaksakan kehendak," gumam Chandra sambil menyeringai.


Tepat saat itu, orang yang ditunggu-tunggu pemirsah, biang kerok segala keributan ini pun muncul.


Arthasewu Connor, melenggang berjalan memasuki ruangan Divisi Umum dengan Birawa di belakangnya. Penampilannya seperti rocker legend usia lanjut yang masih dapat kontrak konser di Hollywood. Suit rapi dengan rambut gondrong tergerai.


Semua langsung ribut dan sibuk menghormat.


Wana? Ngumpet di balik punggung Chandra.


"Ha! Kamu sudah datang! Aku pikir kamu kabur jam segini baru nongol," sahut Artha ke arah Wana.


Wana diam saja.


Semua menatapnya.


Chandra sampai-sampai menyingkir agar Wana bisa terlihat oleh Artha.


Pria itu bahkan mendorong pelan punggung Wana supaya sampai ke depan hadapan Artha, bagaikan tetua desa menyerahkan tumbal ke raja lautan.


Wana menatap Artha tanpa ekspresi. Entah mau pasang wajah seperti apa. Orang di depannya ini, begitu dihormati ribuan orang segedung. Yang waktu itu menciumnya dan mengantri bubur untuknya.


Kalau berbicara dengan gaya biasa, pasti dianggap penghinaan. Sudah pasti dihujat sana-sini. Tapi kalau menghormat, yang ada malah diketawai si Om.


Sementara Artha, tampaknya senang melihat Wana ada di sana.


Akhirnya sekarang setiap hari dia bisa melihat Wana. Bisa jadi Sabtu-Minggu Wana disuruhnya kerja.


"Mana seragamnya?" tanya Artha ke Pak Ramli.


Pak Ramli kalang kabut langsung berlari ke dalam ruangan supply, lalu kembali dengan beberapa stil pakaian.


"Ukuran kamu S ya? Eh, M bukan? Atau perlu dipesankan khusus?" desis Artha.


Wana tak menjawab, diam saja.


"Coba buatkan yang khusus, saya maunya tanpa ada yang mengintip di sela-sela," desis Artha sambil mengernyit membolak-balik seragam OG.


Wana hanya mencibir.


Chandra dan Birawa reflek menatap dada Wana yang membusung di balik kaosnya, tapi sedetik kemudian mereka sadar kalau tidak seharusnya menatap dada pacar Bossnya dan langsung membuang muka sambil berdehem.


Saat itu semua orang langsung tahu kalau Wana, bukan karyawan sembarangan.


"Kamu ikut aku ke ruangan, aku mau memperlihatkan hal-hal penting," desis Artha sambil menarik pinggul Wana supaya mendekat.


Tak lupa dia lepas ransel putih Wana dan dia serahkan ke Chandra supaya dibawakan.


"Ih, berat amat," gumam Chandra saat menerima tas Wana.


"Namanya juga mahasiswa bro," gumam Birawa sambil menyeringai.


"Tapi lebih berat tekanan batin kita," bisik Chandra.


"Coba kita liat Mbak Wana bisa tahan 6 bulan nggak?" bisik Birawa.


"Nggak, 3 bulan resign," desis Chandra.


"Tahan, soalnya diservis bapak terus," kata Birawa.


"Kalo bener dikasih apa?"


"Kalo kalah dapet hukuman, seharian pake daster dan makan siang di kantin karyawan, sambil traktir yang menang selama sebulan," desis Birawa.


"Anjay! Seruuu. Oke bro,"


"Kalian berdua makin mesra saja dari hari ke hari, bisik-bisik terus di situ. Ayo ke atas!" seru Artha dari dalam lift.


"Baik Pak!" Seru Chandra dan Birawa.


"Bro, Bro," bisik Birawa lagi, "Bapak tuh ternyata ada kecenderungan ingin dilayani yah, buktinya pacarnya dijadiin OG, kan lebih menantang bucinnya. Tahu kan, Cintaku ARTku,"


"Imajinasi lu tolong disortir dikit ya, lu ala-ala chanel ikan terbang tau nggak, jangan-jangan malah elu kena karma," gumam Chandra.


"Ceile,"