Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 29


Maka dimulailah hari-hari penuh kesibukan Kevin. Diantaranya...


“Kevin,” Bu Ida memeluk Kevin dengan erat, di atas podium, di depan sekitar 500 orang yang menonton di aula dalam acara Wisuda.


Ada sekitar semenit lebih dia begitu, kesempatan dalam kesempitan.


“Serius harus di sini, Bu?” bisik Kevin mulai jengah.


“Kan besok-besok nggak ngeliat kamu lagi,” isak Bu Ida.


Ya sudahlah untuk terakhir ini saja.


Setelah ini sudah tidak ada lagi adegan mesra karena Kevin akan fokus ke karier dan kuliahnya. Jalan menuju tobat di depan mata, menjulang lurus dengan pinggir trotoar dihiasi bunga sakura, masih untung daripada bunga kredit.


Sementara yang lain begitu terharu melihat adegan itu, mengira kalau Bu Ida begitu kehilangan Kevin yang selama ini dianggapnya anak sendiri, padahal Bu Ida hanya menyesal kenapa kemarin-kemarin tidak ia manfaatkan saja Kevin sesering mungkin.


Mumpung gratis.


Bukannya Bu Ida tidak tahu pekerjaan Kevin di balik layar, kepastiannya memang tidak tahu, tapi ia mendengarkan berbagai gosip yang datang padanya. Mulai dari banyak orang yang curiga darimana Kevin bisa mendapatkan barang-barang branded, motor bagus, dan beberapa orang melihat Kevin sering berada di lobi hotel, namun mereka hanya berani membicarakannya di belakang karena takut ketahuan ditanya-tanya : Nah kamu sendiri ngapain di hotel? Begitu.


Ia hanya tidak ingin mengusiknya karena topiknya sangat sensitif. Sepanjang prestasi Kevin tidak terusik, Bu Ida akan dengan ikhlas menyembunyikan rahasia Kevin dan tidak mencari tahu lebih lanjut.


Dan nyatanya, lulusan terbaik tahun ini dari Ujian Nasional sampai SNMPTN adalah Kevin Cakra. Si Bengal yang tengil, yang saat namanya sendiri diumumkan, dia pun reflek berseru : Kok Bisa?!


“Bu Ida, mohon maaf, Silahkan Kevin memberikan pidato kelulusan,” kata Ketua Yayasan.


“Hah? Saya Pak?! Belum persiapan! Marisa aja tuh!” seru Kevin.


Marisa si peringkat dua mencebik “Ogah Ah! Kan elo yang dipanggil!”


“Kan lo mantan ketos, pasti biasa pidato,”


“Sekali-kali gue libur bermulut dua, capek loh terus-terusan akting,” Marisa menjulurkan lidah.


“Maaaar!”


“Anak-anak tuh pingin liat 'Kaka Kepin' yang diatas, Keeevvv, biar mereka bisa foto-foto tampang kunyuk lo itu buat terakhir kali dengan lebih jelas, ah! Nggak sensitif amat sih lo!” seru Marisa sambil mendorong Kevin ke belakang mikrofon.


Benar saja, keriuhan para junior langsung bergema meneriakan namanya.


Kakak Kepiiiinnnn, begitu gaungnya.


“Joged Keeev,” seru Kasep menggodanya.


Kevin berdiri menatap lautan manusia di depannya dengan tegang. Baru kali ini dia melihat kerumunan sebanyak itu, karena biasanya dialah yang ada di bawah.


Kenapa murid sekolah ini sebanyak itu? Sejak kapan? Pikirnya gugup. Dan yang paling bikin dia deg-degan, semua menatapnya di atas. Bagaikan sedang memperhatikan semua sudut penampilannya dengan seksama.


Kevin menoleh ke belakang ke arah Marisa, “Gue boleh muntah nggak?” dia demam panggung.


“Nggak! Telen lagi muntah lo!” seru Marisa tegas. “Ngomong cepetan!”


“Anjrit ni cewek,” gumam Kevin kesal. Dan ia pun kembali menatap kerumunan. Genggamannya di gulungan ijazah semakin erat. Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya.


Dan berikutnya ia merasa dunia ini bagaikan berputar.


“A-anuu... em...” Kevin membuka suaranya. Tenggorokannya langsung kering. “Makasih semuanya atas dukungan selama ini,” Kevin menghela napas. “Anu...”


Haduh, ngomong apa lagi ya?! Pikirnya.


“Kalau makan indomie, air kuahnya diganti, Makasih,” begitu tutupnya. Dan Kevin pun langsung ngibrit ke toilet.


Hadirin terdiam.


Hening, sepi, senyap.


“Si Goblok,” gumam Kasep.


“Si anying,” gumam Marisa.


“Epic,” gumam Agus.


*


*


Kevin membentur-benturkan dahinya ke dinding toilet. Sekali, dua kali, “Begoooooo!” serunya frustasi sekaligus malu. Jedotin lagi untuk yang kesekian kalinya.


“Bahlul,” gumam Agus. Tapi cowok itu juga setengah cengengesan. Akhirnya, Nampak juga kelemahan lo Kev. Gue pikir lo manusia super, Pikir Agus.


Sementara Kasep daritadi tak kuasa berbicara karena dia sibuk menahan tawa. Hari terakhir di sekolah dan yang diucapkan Kevin di atas podium adalah kuah mie.


“Malu-maluin,” gumam Kevin masih membentur-benturkan dahinya ke dinding.


"Disuruh tobat agak cepetan lu," kata Kasep sambil menyeringai.


"Gue disuruh mendadak!" Omel Kevin membela diri.


"Ya biasanya lo kan bisa-bisa aja, kebut semalam. Lagian memang biasanya lulusan terbaik kasih pidato ke podium kan?"


"Jadi peringkat satu aja gue nggak nyangka, boro-boro gue mikir jadi lulusan terbaik. Perasaan buletin pilihan gandanya gue ngasal deh," gumam Kevin.


"Terima aja karma lo, lunas dibayar pake malu seumur hidup,"


"Lo kok kayaknya seneng sih Sep,"


"Ya iya lah gue seneng," Kasep terkekeh menggoda Kevin.


Tapi diluar sepengetahuan mereka, para adik kelas malah mengapresiasi pidato terakhir Kevin dengan cocoklogi ala mereka. Seperti :


"Astaga Kak Kevin aku makin cinta padamu, saat-saat terakhir dia masih mengkhawatirkan kesehatan para juniornya!"


"Ini pasti mengandung kode ganda, gaes. Dia itu ingin kasih tahu konspirasi penting, kalau air mie mengandung zat adiktif tingkat tinggi, jadi harus diganti! Dia kan nilai kimianya paling tinggi seangkatan!"


"Mungkin dia ingin memberitahu rencananya bekerja di Indofood, bund, jadi kita nggak sulit cari dia!"


"Betapa mulia hati Kak Kevin, tahu aja kalo kita udah kecapekan berdiri dari pagi jadi dia persingkat pidatonya! Walopun nggak nyambung,"


Dan sebagainya...


Yang namanya fans fanatik mah nggak bisa dilawan.


“Btw, lo jadi hunting kosan?” tanya Kasep setelah bisa menguasai diri.


“Kapan lo bisa temenin?” tanya Kevin.


“Habis nikahan bisa kayaknya, minggu depan,”


“Iya, gue juga bisanya minggu depan, mulai besok gue ada undangan seminar di UI,” kata Kevin sambil duduk di sebelah Kasep. “Lo butuh apa buat nikahan?”


“Butuh lo ada aja, gue nggak ngadain resepsi. Di KUA aja kecil-kecilan,” kata Kasep.


“Farida gimana? Gue hari ini nggak ngeliat dia,”


“Yah, dia mulai mual-mual sih, jadi izin nggak masuk. Sekolah belum tahu kondisinya, temen-temennya juga belom pada tau,”


“Nggak terasa udah dua bulan aja ya,”


“Kalo dihitung dari waktu terakhir dia haid ya 2 bulan, tapi kan nggak selama itu sebenernya. Paling kalo hitungan awam baru 3 minggu,”


“Ya udah Sep, Kabar-kabarin gue ya,”


"Jadi, gue juga boleh dateng nggak?" Agus kayaknya cemburu daritadi dicuekin.


"Kok gue sering lupa kalo lo juga selalu ada yak," kekeh Kevin.


"Asal Dian nggak bikin kerusuhan aja di nikahan gue," kata Kasep.


"Dia katanya mau dekor..."


"NGGAK BOLEH!!" seru Kasep dan Kevin berbarengan.


*


*


“Bapak-Bapak , Ibu-Ibu Dewan Perwakilan Rakyat Yang Terhormat!!”


“Huuuu!”


“…Tolong sekali saja dengarkan suara rakyat! Kalian itu tugas dan fungsi utamanya adalah kepentingan Rakyat! Dan Rakyat tidak ada yang memakai gayung seharga 90 juta!!”


“Yeeeeey!!”


"Dari mana lagi kalian peras keringat rakyat kalian?! Sementara banyak saudara-saudara kalian yang bahkan hanya bisa makan 3 hari sekali!!"


"Hidup Rakyat!!"


"Hidup!!"


"Yey!" Kevin mengangkat tangannya sekilas dan kembali menyantap sate. Mereka duduk di bangku plastik dan mengamati demo di depan mereka. "Gayung model apa yang harganya 90 juta? Kalo nilai segitu banyak mending pake shower," Omel Kevin.


Agus memicingkan mata menatap Kevin, dia memakai jaket almamater yang warnanya sama dengan Kevin namun beda lokasi. Nggak di Depok. Agus dapat slot di Salemba. Fakultas Kedokteran.


"Lo makan sate langsung dari tusukannya, susuk lo nggak ilang?" gumam Agus.


"Gus, lo mau ditanya di akhirat, kamu mati gara-gara apa? Disundut pake tusukan sate,"


"Dih, sensi," kekeh Agus.


"Nggak ada topik yang lebih bagong?!" Sungut Kevin. "Lo bisa masuk kedokteran, bekingan lo sapa?!"


"Ya duitnya Dian lah, sapa lagi?!"


"Emak bapaknya Dian masih di Amrik?!"


"Masih tuh, tapi duit lancar jaya masuk rekening. Katanya dari usaha klinik kecantikan disetting pendapatan langsung masuk rekening Dian. Emang ada masalah apa sih kok mereka ninggalin anaknya sendirian?!"


"Yaaaa... Urusan keluarga orang lain," gumam Kevin, menyembunyikan kenyataan kalau sebenarnya dia mengetahui sebabnya namun belum saatnya Agus tahu.


"Nah, lo biasanya nggak suka Sate, ini kok lu di sini?!"


"Si Nyai Dasima bilang sate di sini enak,"


"Ya bener sih, lebih enak lagi kalo gue ditraktir, Kev,"


"Kali ini gue bokek, barusan duit gue habis buat beliin bobba ceweknya orang lain,"


"Yaaaah!"


"Woi lo berdua!! Malah makan di sini lagi! Gabung ke barisan!!" Seorang senior menegur mereka.


"Garis depan apa garis beking kak?"


"Tampang lo ganteng, lo baris depan!"


"Apa hubungannya sik?!" protes Kevin


"Biar kalo ketangkep kamera wartawan, bisa bikin kampus kita femes. Wih, UI mahasiswanya ganteng-ganteng, gitu taglinenya," si senior menyeringai.


"Njir, bisaan alesannya. Ngomong aja kalo mau bikin gue bonyok digebukin aparat duluan!" seru Kevin sambil berdiri hendak mengembalikan piring sate.


"Tau aja lo," dan si Senior memiringkan kepalanya mengamati Kevin, "lu Kevin Cakra ya?"


"Iya kak,"


"Ooh elu yang bikin heboh anak kampus,"


"Wih, bikin skandal sama dosen yang mana lu?!" Tembak Agus.


"Sembarangan," gumam Kevin.


"Banyak yang putus gara-gara ceweknya terlalu fanatik sama lo, termasuk cewek gue,"


"Kekekekekek," kekeh Agus.


"Gawat dah," gumam Kevin.


"Tenang kak, dia udah punya pacar. Seleranya tante-tante!" Sahut Agus berusaha membela diri.


Si senior mengangkat alisnya. "Oh ya? Beneran?"


"Beneran, gue kan temennya dari SMA. Bucin akut dia sama Tante Nirmala," kekeh Agus.


"Nggak usah umbar masalah pribadi gue," omel Kevin.


"Hm... Kalo gitu, lo naik podium deh, bantuin Ketua BEM menyampaikan aspirasi," si senior kayaknya dendam kesumat sama Kevin.


"Hah!!" seru Kevin.


"Kali ini topiknya Gayung, Kev! Bukan kuah indomie," sahut Agus mengingatkan.


"Gus, tolongin Gus!" seru Kevin saat dirinya digeret paksa buat naik ke podium.


"Semangat Kev!"


Dan akhirnya Kevin diusung para mahasiswa untuk naik podium.


Siapa sangka keberadaannya diatas podium malah sekali lagi membawa keberuntungan? Mari kita simak.


*


*


"Itu siapa sis yang diatas podium?! Ganteng banget!!"


"Aaah mancuung, tampangnya buleee,"


"Ya ampun senyumnya sinis tapi kiyuuttt!"


"Kayaknya mahasiswa baru deh bund! Jaketnya masih mengkilat tuh!"


"Ya ampun, dia fakultas teknik! Pinter doong!"


Dan berbagai bisikan-bisikan goib santer di kalangan mahasiswi yang berada di bawah podium. Juga drone dan kamera milik wartawan semua mengerubungi Kevin.


"Kami menuntut keadilan!!" Seru Ketua BEM.


Pengang kuping gue dah! Batin Kevin kesal. Toa tepat berada di sebelah telinganya.


"Sampaikan aspirasi kamu," bisik Ketua BEM.


Mam-pus aja dah gue, mana keliyengan! Batin Kevin. Lagi-lagi dia demam panggung.


Dan saat dalam keadaan begitu, dia melihat sosok itu.


Sosok yang sudah lama dicarinya, ada di tengah-tengah kerumunan mahasiswa.


Juga sosok yang sudah lama polisi cari-cari.


Effendi Gozali alias Pepen.


Ada di barisan mahasiswa, mengenakan jaket mahasiswa lusuh.


Juga disebelahnya ada Ijal, yang Kevin sangat tahu kalau mereka bukan dari kalangan mahasiswa.


"Preman!!" Seru Kevin reflek langsung menunjuk mereka berdua.


Dan semua mahasiswa langsung menatap Pepen dan Ijal.


"Mereka bukan mahasiswa, mereka oknum!!" Seru Kevin.


Pepen melihat Kevin, lalu ternganga.


Kenapa tu kunyuk di sini?! Pikirnya ketakutan.


Dan Pepen langsung mencoba lari saat itu juga, tapi Ketua BEM langsung mengerahkan semua mahasiswa untuk menangkap Pepen dan Ijal.


"Tangkap mereka! Penyusup!!" seru Ketua BEM.


Pepen berlari sekuat tenaga ke arah jalan raya, namun Mahasiswa begitu banyak jumlahnya.


Ia dijegal di tengah jalan.


Jatuh dengan dagu menyentuh kerasnya aspal.


Dan berikutnya beban berat menimpanya, kerumunan mahasiswa mengerubungi dan melayangkan tendangan ke arahnya.


"Jangan main hakim sendiri! Asas praduga tak bersalah! Coba geledah, cari kartu mahasiswanya!!"


"Nggak ada kartu mahasiwa kak! Lagian dia kelahiran tahun 80an, dan jaketnya jaket angkatan lama!" Lapor salah satu mahasiswa.


"Yang satunya gimana?!"


"Dia preman, anak buahnya JK," mahasiswa mengangkat laras pendek yang didapatkannya di pinggang Ijal, di gagangnya ada inisial nama salah satu preman berbahaya di Indonesia.


"Waaah beneran oknum! Giring ke polisi!" seru Ketua BEM.


"Mereka yang bunuh ibu gue," gumam Kevin.


Ketua BEM menatap Kevin dengan tegang, "Apa?"


"Nyokap gue meninggal dia tabrak, makanya gue kenal," Kevin menahan geramnya, menatap Pepen dan Ijal dengan dendamnya dari kejauhan. Ingin rasanya ia turun ke bawah dan melayangkan bogeman dengan tangannya sendiri.


"Anjrit, beneran?!"


"Gue bakal tunjukin laporan polisinya, Kak,"


"Mereka pembunuh!" seru Ketua BEM. "Tanya mereka mau apa di kerumunan mahasiswa pake nyamar pula! Giring mereka ke polisi!"


Akhirnya amarah mahasiswa tak terbendung. Pepen dan Ijal dihujani pukulan dan tendangan.


Kevin menatap mereka berdua yang berteriak minta tolong dengan sinis. Ini belum seberapa dibanding penderitaan ibu yang tega mereka lindas tanpa ampun.


Belum seberapa...