
"Buuuu?" Panggil Kevin setelah memarkir CBRnya di garasi rumah kontrakannya.
Tampak lapak warteg ibunya sudah bersih.
Ibunya memang memiliki warung nasi Tegal di daerah situ. Seringkali garasi rumahnya penuh dengan antrian pekerja kantoran di dekat sana yang mau membeli jualannya untuk makan siang.
Rumah yang mereka tinggali saat ini berada di Jakarta Timur, disana banyak tempat kos dan pabrik. Karena Ibu Kevin pandai memasak dan wajahnya cantik, jadi wartegnya cepat laku. Ditambah, kepribadiannya lembut dan ramah, sehingga pesaing pun urung menjahili lapaknya.
Yang ada, pada melamarnya untuk jadi istri kedua, ketiga, keempat, kedelapan.
Rumah itu masih mengontrak, jadi penghasilan warteg dikumpulkan untuk uang sewa dan hidup sehari-hari.
"Ih kamu nih, masa ibu ditinggalin seharian. Ini tuh rumah bukan hotel, Keviiin," dengus ibunya sambil mencuci piring.
Kevin cengengesan, lalu menghampiri Ibunya dan memeluknya dari belakang dengan sayang.
Wangi dan lembut, nyaman yang tak terkira.
Sejak Ayah Kevin meninggal, Ibunya adalah satu-satunya orang yang bisa melepas lelahnya. Seperti semua beban langsung mencair seketika saat memeluk ibunya.
"Maaf bu, keasikan main game," gumam Kevin di leher ibunya. Karena semalam setelah mengantar Wana ke kost-an, ia memang tiba di rumah tengah malam, ibunya sudah tidur. Pagi-pagi harus sudah sekolah, jadi mereka tidak bertemu.
"Loh itu kenapa jidat kamu diperban begitu?!" Ibu terbelalak melihat dahi anak semata wayangnya dalam keadaan dibalut kasa.
"Eh, kejedot tembok,"
"Bukannya ikutan tawuran lagi kan?!"
"Nggak jadi keburu polisi dateng, eh..." Kevin diam.
"Keviiiin," Ibu menatapnya sinis.
"Udah janji nggak tawuran lagi atau beasiswa hangus," gumam Kevin. Memang susah kalau bohong ke ibunya. Pasti keceplosan.
Ibu menghela napas panjang. Ia sepenuhnya mengerti kalau Kevin jenis anak yang semakin dilarang malah semakin penasaran. Justru kalau dilembutin malah nurut.
"Ya sudah, yang penting nilai kamu nggak turun kan?"
"Nilaiku baik-baik aja kok,"
"Kamu udah mandi belum?"
Kevin menyeringai, banyak sekali kejadian sejak semalam dilempar guci sama Tante Sarah alias Tante Sulis, dan ketemu Nyai Dasima biang sial, sudah begitu dia ketiduran saat paginya jadi hampir saja terlambat ke sekolah, jadi jawabannya : belum mandi.
"Pantes baunya apek banget, bau matahari! Sana mandi ih!"
"Nanti habis aku mandi, kita jalan-jalan yuk! Aku baru dapet duit hasil streaming game di yutub (ini bohong). Bisa beli gelang emas yang kemarin ibu lihat di pasar
"
"Oh ya? Benar nih kamu mau beliin ibu?! Kamu nggak tabung saja?"
"Mana bisa aku nabung? Lebih enak buat ibu saja,"
"Ya sudah sana mandi," Ibu Kevin mencubit pipi anak semata wayangnya itu dengan sayang.
Kevin menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi.
*
*
Dan sampailah mereka di Mall,
Waktunya berbakti kepada orang tua.
“Kevin,” Si Ibu mengagumi gelang emas yang kini melingkar di lengan kurusnya. “Memangnya hasil mainan game itu sekarang bisa dapat uang banyak ya?”
Kevin menyeruput es kopi sambil menatap ibunya. Ia berusaha tetap santai padahal dalam hatinya jedag-jedug kuatir.
Feeling seorang ibu seringkali sangat kuat terhadap anaknya.
Penghasilan dari streaming tidak sebanyak itu sih, karena banyak juga streamer-streamer yang jauh lebih berpengalaman dengan teknik bermain yang levelnya jauh di atas Kevin.
"Sekarang penghasilan bisa didapat dari teknologi, Bu. Duduk manis bisa dapat duit, tidak harus ke kantor," kata Kevin sambil bersandar dengan santai.
"Oooh, ibu bisa juga dong?"
"Bisa. Misalkan jualan kue, tinggal iklankan di online shop atau instagram, tidak harus punya toko kue,"
"Wah bisa cepet balik modal dong ya! Ibu pingin deh punya rumah sendiri. Kalau sekarang, buka jualan saja diprotes sama Pak Ilyas, katanya rumahnya jadi kotor," keluh Ibunya.
Pak Ilyas adalah pemilik rumah yang sekarang mereka kontrak.
"Kalau begitu, mulai sekarang kita sering-sering saja beli emas bu, buat tabungan beli rumah,"
"Kamu jadi mau lanjutkan sekolah ke universitas kan?"
Kevin mengangguk, "Tapi masuk fakultas teknik itu mahal banget loh bu, walaupun pakai beasiswa tetap saja banyak pengeluaran- pengeluaran tak terduga lain. Aku mau kerja dulu aja,"
"Kalau kamu mau, ibu bisa usahakan,"
"Gimana caranya? Ditawari jadi istri keberapa dari Boss yang mana lagi?" sindir Kevin.
Ibunya hanya mencibir. Kenapa Kevin bisa tepat sasaran begitu? Pikirnya.
Ibu Kevin mencintai suaminya yang telah meninggal, namun kalau untuk biaya dan kebutuhan Kevin ia akan usahakan sebaik-baiknya. Jelas, masuk Fakultas Teknik tidak akan terkabul kalau hanya bersandar dari usaha wartegnya.
"Kalau ibu jadi istri orang kaya, kamu bisa sekolah dimanapun kamu mau, bahkan bisa di luar negeri,"
"Aku nggak akan mengorbankan ibuku sendiri hanya untuk kesenanganku,"
Ibu melihat wajah Kevin yang serius sekali menatapnya. Ada rasa amarah yang sedang berusaha dikendalikan di tatapan anak itu.
Ah! Si Kevin ini, dari kecil memang kepribadiannya manis dan selalu menganggapnya Ratu. Sama seperti suaminya. Sifat itu tampaknya tak berubah sampai beranjak dewasa.
"Okelah ibu nggak akan ambil langkah ekstrim, ibu kumpulkan rejeki sedikit-sedikit. Hanya, ingat satu hal, Kevin,"
"Apa Bu?"
"Jangan berhutang,"
"Eh?"
"Kalau tidak berhutang, bagaimana bisa punya sesuatu yang kita butuhkan? Misalnya, tiba-tiba aku sekarat dan tidak ada duit," Mengingat Kevin sering terlibat tawuran dan dia sukarelawan garis depan dengan samurai kebanggaannya ala Battousai Si Pembantai.
"Itu lain hal. Maksud ibu, jangan berhutang untuk foya-foya, sesuatu yang manfaatnya akan berkurang. Ibu selalu berdoa kamu selalu diberikan rejeki melimpah agar kalau kamu sakit ada dana cukup untuk pengobatan. Kalau ibu sih sudah tua, jadi ikhlaskan saja,"
Kevin mengernyit, "Ikhlaskan bagaimana maksudnya?!"
"Seandainya Ibu menyusul ayah, ibu harap kamu tidak berhutang untuk biaya pengobatan ibu,"
"Aku nggak setuju ..." sahut Kevin cepat.
"Shhh, dengarkan dulu Kevin," Ibu mengangkat telunjuknya untuk memotong ucapan Kevin. "Ibu mengerti kamu pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk kesembuhan Ibu. Tapi Kevin, percaya deh, ibu akan lebih sedih melihat kamu sengsara. Ibu kan sudah tua, Kevin. Sementara kamu masih punya masa depan. Sudah bisa cari uang sendiri juga, uang kamu gunakanlah untuk keperluan kamu. Biarkan saja ibu dengan tenang kembali ke pelukan Tuhan,"
Kevin tertegun mendengarnya.
Jelas anak itu tidak setuju dengan perkataan ibunya.
Ibunya adalah tujuan dia hidup selama ini, semua untuk menyenangkan ibunya.
Dan sekarang beliau malah bilang ingin menyusul ayah saja? Lalu meninggalkan Kevin sendirian di dunia ini?
"Lalu aku sama siapa kalau ibu tak ada?" tanya Kevin.
"Menikahlah,"
"Hah?!"
"Kita tidak memiliki kerabat lagi, Nak. Menikahlah dengan wanita yang kamu suka. Punya anak yang banyak agar nggak sepi. Bekerjalah dengan sepenuh hati, pergilah ke tempat-tempat dimana kamu bisa menikmati luasnya dunia,"
Kevin hanya bisa diam.
Sejak kapan ibunya ini memiliki pemikiran seabsurd ini?! Selama ini pembicaraan mereka hanya seputar rumah tangga, tidak pernah sedalam ini.
"Semoga ibu diberi cukup usia agar bisa menimang anak-anakku," desis Kevin akhirnya, karena tidak ingin berdebat lagi.
Tapi,
Ibunya hanya menatap Kevin sendu sambil tersenyum lembut.
Seakan wanita itu telah diberi peringatan bahwa umurnya tidak akan lama lagi.
"Ini, pakailah," Ibu Kevin mengulurkan sebuah kalung berlapis emas putih dengan liontin salib kecil.
"Aku nggak sereligius itu Bu,"
"Kamu kan suka pakai perhiasan," Ibu Kevin melirik anting kecil yang tertusuk di daun telinga anak laki-lakinya itu. "Ini dari ayah, hadiah pernikahan. Ibu berikan sebagai ganti gelang emas ini,"
"Hem,"
Kevin akhirnya menerimanya.
"Semoga Tuhan Yesus selalu melindungi kamu," Ibu Kevin mengusap pipi anaknya itu.
Kevin hanya tersenyum sinis sambil memicingkan mata melihat tingkah ibunya yang menurutnya konyol.
*
*
Dan akhirnya, si pejantan bejad pun berpikir.
Menikahlah...
Apa sih bu, aku nih masih 18 tahun. Ya kuliah dan cari kerja dulu lah. Masa disuruh menikah. Sekarang ngomong begitu jangan-jangan besok sudah muncul buku daftar cewek jomblo, dan aku akan dijodohkan ala-ala Joko Nurbaya.
Memangnya menikah itu penting ya? Bukannya beban?!
“Bengong melulu...” Kasep menggeplak kepala Kevin.
Kevin mengernyit sambil mengusap kepalanya. “Lo akhir-akhir ini galak banget si ama gue,” keluh Kevin.
“Tingkah lo akhir-akhir ini aneh, Bangs*t,”
“Aneh gimana? Biasa aja kok,”
“Lo suka ngilang, tau-tau muncul udah dalam keadaan ngantuk, udah gitu yang paling misterius, nilai lo.”
“Kenapa nilai gue?”
“Bagus semua,”
“Beuh! Itu mah emang hoki gue, Sep. Dukun lo kurang paten nyari jawaban ujian!”
“Coba sini no telepon gaib dukun lo, share ke gue,”
“Tuh orangnya,” Kevin menunjuk seseorang di ujung sana. Gadis bertubuh montok, dengan lambang OSIS di dadanya. Sang Ketua Osis paling galak di seantero gedung sekolah bahkan guru saja bisa kena tegurannya, Marisa.
“Ada hubungan apa lo sama Marisa?”
Kevin hanya tersenyum ala monalisa, misterius tapi licik.
*
*
Sungguh sulit dipercaya, seharian dia di sekolah tapi tak ingat apa-apa. Seharian kerjaannya hanya bengong, mikirin ibunya.
Tapi setelah menghabiskan waktu dengan tidur di UKS, yang mana menjadi tempat paling tenang baginya karena dokter UKSnya laki-laki dan seperti dirinya lumayan ganteng dan jadi incaran banyak siswi galau (siapa sih yang nggak mau pacaran sama dokter ganteng). Galau karena kalau di sekolah Kevin jutek banget sama cewek.
Ia bukan cowok manis yang dibayangkan orang-orang, mulutnya suka kejam dan kalau natap cewek serasa ada dendam kesumat, ala-ala mengernyit pingin nabok. Intinya dia itu sebenarnya cowok cool, badboy, pembenci sesuatu yang manja dan ngambekan alias anti repot ribet club. Hanya karena himpitan hedonisme duniawi aja dia memaksakan diri tersenyum dan jadi cowok manis di depan para tante berduit.
Aslinya mah, beuuhhh... jauh dari kata ramah.
Jadi siswi-siswi yang patah hati karena dibentak Kevin, beralih ke dokter UKS.
Dan saat pulang sekolah, seperti yang sudah dibahas di episode 16 ‘Perjuangan Masih Panjang’ terjadilah tragedi itu. Motornya dikerjai orang.
"Anjrit," keluh Kevin menatap nanar ke arah motornya. Lagi-lagi besok dia akan naik Busway. Itu berarti dia harus menutupi wajahnya dari atas ke bawah secara rapat karena sosoknya yang mencolok.
Karena pernah, saat ia belum memiliki motor dan menggunakan angkutan umum, ia lupa mengenakan masker dan hoodie, sebus heboh dan malah minta foto bareng, sehingga feedernya terlewat. Alhasil Kevin tiba di sekolah jam 10.