
“Lu dimana Coeg?! Ini masih hari Selasa enak aje lu bolos! Bu Ida ngomel-ngomel noh!” isi pesan singkat dari Agus.
Kevin hanya terkekeh membaca isi pesan itu. Baginya, saat ini sekolah urusan nomor dua, karena tinggal menunggu ujian SMBPTN yang diadakan minggu depan. Dan entah bagaimana Kevin optimis hasilnya akan bagus.
Apalagi ia sudah mengantongi beasiswa untuk ke kampus negeri paling bergengsi di negara ini, asalkan pekerjaan partimenya tidak ketahuan, dan tidak ada masalah yang berhubungan dengan polisi. Wajar kalau Bu Ida kemarin marah-marah, karena ia kuatir murid berprestasinya harus tercoreng gara-gara tawuran. Itu berarti kredibilitas sekolah juga akan dipertanyakan.
Saat ini, siang sudah mulai beranjak sore. Gerimis mulai sirna, langit kembali cerah seperti tadi pagi.
"Woow," Kevin berdiri di depan jendela sambil menatap takjub ke arah luar.
Pelangi,
Menghiasi langit yang kini sudah cerah namun masih ada titik gerimis tersisa.
Reflek cowok itu menangkap tangan Nirmala yang sedang lewat di belakangnya sambil membawa buku menu makan siang.
"Tante lihat deh, ada pelangi di langit Jakarta! Langka nih," desis Kevin. Wajah cowok itu berseri-seri seperti anak kecil.
"Hem, kamu nggak selfie pakai latar belakang itu?"
"Eh? Nggak ah, nanti malah jadi pertanyaan teman-teman dan ibu saya. Mereka follower ig saya soalnya,"
“Pertanyaan?”
“Iya, soalnya hari ini saya bolos sekolah, hehe,”
"Kamu masih sekolah? Bu Dewi bilang kamu mahasiswa,”
“Sedikit lagi saya akan menjalani kehidupan kampus,”
“Hooo, kamu punya kehidupan ganda ternyata, saya pikir teman-teman kamu tahu,"
"Saya bisa-bisa dibully," seringai Kevin muncul, “Ngomong-ngomong, Bu Dewi siapa ya?”
“Loh? Orang yang mengenalkan saya ke kamu,”
“Eh? Saya nggak kenal nama itu sih,”
“Bu Dewi, nama artisnya Dewi Tunggullangit. Dia klien saya untuk transaksi properti,”
Kevin mengernyit, Kenapa nama Dewi Tanggul Jebol selalu ada dimana-mana sih?
"Sampai kapan pegang tangan saya?" Nirmala mengingatkan.
Kevin menatap ke bawah. Lalu kembali menatap Nirmala. Dan ia pun menyeringai, “Reflek,”
Tapi bukannya melepaskan pegangannya ia malah memasukan jemari panjangnya ke sela-sela jari tangan Nirmala, dan menangkupnya.
Lalu mencium punggung tangan wanita itu.
"Hem, mulai deh rayuan maut,” Nirmala mencibir. “Saya nggak ada duit lebih buat bayar urusan ranjang kamu. Ini saja disubsidi Bu Dewi karena saya membantu administrasi pembelian rumah,"
"Haha, saya nggak bahas itu. Saya lumayan nyaman mengobrol dengan Tante. Ini pertama kalinya saya membicarakan mengenai kehidupan rahasia saya. Rasanya ternyata lega,"
"Saya juga lega, nggak rugi kenal kamu. Kamu memang hebat,"
"Hah? Masa? Wah bisa buka usaha konsultasi dong saya,"
"Hihi," Nirmala berdiri di samping Kevin sambil menikmati pemandangan pelangi di depan mereka, dengan Kevin masih menggenggam jemarinya.
Kevin bukan fakboi namanya, kalau tidak memanfaatkan kesempatan itu. Di sebelahnya ada wanita cantik, bajunya tidak seksi, namun justru itu yang membuat Kevin penasaran bagaimana wujud di balik pakaiannya.
Kevin melirik Nirmala, wanita itu tampak tertegun melihat suasana di luar jendela. Lalu perlahan cowok itu mendekat dan memeluk Nirmala dari belakang.
"Hei," Nirmala merasa jengah, "Kan saya sudah bilang hanya mengobrol saja," Ia menggeliat membebaskan dirinya dan berjalan menghindari Kevin.
"Serius? Nggak kesepian? Dibandingkan main solo, kalau saya yang atur beda loh rasanya,"
"Main solo lebih aman, dan saya sudah bilang saya tidak ada dana lebih untuk membayar jasa kamu,"
"Kalau saya bilang tidak usah bayar bagaimana?"
"He?" Nirmala menoleh ke belakang, "Kenapa kamu begitu bersikeras sampai kamu gratisin segala,"
"Soalnya Tante cantik," bisik Kevin.
Itu bukan gombalan sebenarnya, itu benar-benar memuji. Tapi karena diucapkan menggunakan mulut Kevin, jadi terkesan vulgar.
"Hem, saya belum siap Kevin. Mungkin suatu saat saya hubungi Bu Dewi lagi untuk pakai jasa kamu, tapi tidak sekarang," kata Nirmala sambil melepaskan pelukan Kevin
Kevin tertegun.
Ada wanita yang menolak dirinya.
Serius?!
Setelah selama ini semua luluh dengan senyumnya,
Seumur hidupnya seakan semua wanita menjadi penurut hanya karena tatapannya,
Dan sekarang, apa yang salah?!
Setragis apa masa lalu yang sudah dilalui Nirmala sampai ia begitu traumatis dengan percintaan?
Pikiran Kevin berputar memikirkan segala sesuatunya. Namun melihat senyum Nirmala yang terkesan menyedihkan, ia pun urung untuk merayu lebih lanjut.
Wanita itu serius tampaknya.
Sampai-sampai ada setitik kegelapan terpancar di senyum yang dipaksakan itu.
Kevin pernah melihat senyum yang seperti itu.
Saat ayahnya meninggal. Ibunya berhari-hari tersenyum kepadanya dengan terpaksa. Persis seperti Nirmala saat ini.
Senyum yang sedih. Bibir mengembang dengan getir yang tersisa di sudutnya.
Para wanita kuat yang sedang menata diri, dalam kerapuhan mereka terseok berusaha menegakkan tubuhnya. Berusaha tetap hidup demi sesuatu yang dicintainya, seakan tidak ada waktu untuk menyesali yang telah terjadi.
Kevin pun perlahan mendekat lagi. Wanita ini berbeda dengan ibunya, lebih rapuh dan lebih insecure. Ia tampak tidak memiliki tujuan untuk kuat, tapi berusaha untuk memulihkan diri.
"Setidaknya, hanya pelukan? Sebagai teman," desis Kevin.
Cowok itu merasa perlu berbuat begitu. Hanya karena ia merasa Nirmala membutuhkan hal itu.
Pelukan hangat.
Cukup itu saja, mungkin.
Nirmala mengangkat wajahnya menatap Kevin. Ada raut keraguan di sana.
Tapi Kevin tidak membiarkan Nirmala mundur lagi.
Ia bergerak dengan luwes, dan memeluk tubuh kurus Nirmala.
Tidak intim.
Hanya sebuah pelukan menenangkan.
Sampai-sampai Nirmala menarik napas panjang dengan gemetar.
Karena,
Ya.
Itulah yang sebenarnya ia butuhkan setelah dibuang semua orang.
Hanya sebuah rasa peduli.
"Semua akan baik-baik saja, nanti. Hanya sekarang belum waktunya," kata Kevin lembut.
Walaupun terkesan basa-basi, entah dia mengutip quote dari mana.
Tapi itu benar adanya.
Perlahan air mata Nirmala mulai tertitik. Tetesannya jatuh ke bahu Kevin.
Setitik, dua titik.
Sampai pada akhirnya isakan berubah menjadi raungan.
-----***-----
Dan akhirnya matahari pun telah tenggelam.
Dengan wajah sendu, masih di pelukan Kevin, Nirmala hanya tertegun menatap tayangan tv lokal.
Ternyata, memang menangis adalah yang paling baik bagi wanita untuk menumpahkan segala kekesalan.
Sementara, sambil menunggu Nirmala menguasai diri, Kevin mengisi waktu dengan main AOV (game online) di ponselnya.
"Eh, Astaga! Kita belum makan loh, Kevin!" dengan panik Nirmala mengangkat wajahnya dan menatap Kevin.
Cowok itu hanya meliriknya sekilas dan tersenyum geli, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya.
Akhirnya si tante ingat juga, sejam lagi dianggurin gue bisa pingsan, batin Kevin.
"Sebentar ya, saya pesankan dulu," Nirmala dengan terburu-buru meraih buku menu, dan menelpon room service.
Kevin menghentikan aktivitasnya dan menuju kulkas, mencari snack yang bisa dimakan.
Ada beberapa Soyjoy dan puding.
"Santai aja tante," kata Kevin sambil membuka bungkus plastik dan menggigit snacknya.
"Kamu kan sedang masa pertumbuhan, nggak boleh kelaparan," kata Nirmala sambil menutup telepon.
Kevin terkekeh.
*
*
Tidak bosan-bosannya Kevin menatap wajah Nirmala.
Mencari celah yang tidak sesuai atau yang salah tempat. Sia-sia.
Semua terpasang pada tempatnya menghasilkan suatu perpaduan yang terlalu sempurna menurut Kevin.
"Tante pernah operasi plastik?" tanya Kevin.
"Eh?" Nirmala menatap Kevin sambil mengunyah, "Pernah, untuk membuang sisa kulit,"
"Sisa kulit?"
"Iya, dulu saya obesitas. Saya diet ketat, hasilnya langsing tapi sisa kulitnya menggantung. Jadi dioperasi,"
"Pernah gemuk dulu? Masa sih?!"
"Ih, nggak percaya?" Nirmala mengutak atik ponselnya, lalu menyerahkannya ke Kevin. "Ini saya waktu gemuk,"
Kevin menerima ponselnya dan menatap foto masa lalu Nirmala.
Ya Ampun, kenapa saat gemuk malah lebih cantik?! Lebih alami dan terlihat sangat manis. Batin Kevin terpukau.
"Parah banget kan?!" kata Nirmala.
Kevin ingin bilang 'nggak' tapi ia urungkan, nanti malah disangka gombal lagi.
Jadi ia hanya tersenyum simpul sambil mengembalikan ponsel Nirmala, dan kembali menyantap makan malamnya tanpa bertanya lebih lanjut.
*
*
"Kevin, sepertinya saya sudah cukup ditemani," kata Nirmala setelah mengeluarkan tray piring kotor ke depan pintu.
"Ohya? Belum terlalu malam kok, kan batas waktunya sampai jam 10," kata Kevin.
"Yah, tapi rasanya saya sedang butuh sendirian,"
Lama-lama ada bocah ini, aku makin tidak bisa mengendalikan diri. Pikir Nirmala.
"Gitu? Hem, oke," Kevin beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya.
Nirmala menjabatnya.
"Makasih ya atas waktu kamu,"kata Nirmala.
"Hem,"
"Saya benar-benar terbantu,"
"He'em,"
"Hm,"
"Hm,"
Nirmala jengah sendiri, lalu tersenyum kikuk.
"Jaga diri Tante baik-baik," gumam Kevin akhirnya sambil melepaskan tangan Nirmala, "Tawaran saya masih berlaku, loh,"
Nirmala menggigit bibirnya.
"Nggak usah, makasih," kata Nirmala pelan.
"Yakin?"
"Iya,"
Kevin menghela napas, "Oke kalau begitu, sampai bertemu lain waktu,"
"Hem,"
Kevin membuka pintu kamar, lalu tersenyum sekilas, dan menutup pintunya.
Dan, disanalah ia berdiri.
Sambil tertegun berusaha mencerna yang terjadi.
Sudah? Hanya itu saja? Tanpa berhubungan intim?!
Dan menghela napas.
Seharusnya ia senang mendapatkan pekerjaan mudah dengan bayaran yang lumayan.
Tapi kenapa rasanya malah sesak?!
Dia ... Patah hati.
Gila, kenapa rasanya sakit begini?! Keluhnya dalam hati.
Ia seharusnya menghindari hubungan yang berkaitan dengan perasaan, karena akan menjadikannya tidak profesional. Mungkin benar tindakan Nirmala, menghentikan semuanya sebelum terlamb...
Cklek!
"Kevin?"
Kevin langsung membeku.
Dan perlahan ia pun menoleh ke belakang.
Wajah Nirmala, berbeda dengan yang tadi. Menatapnya dari pinggir pintu. Tatapan yang ini penuh keraguan.
Juga harapan.
Sekaligus ... Hasrat yang tertahan.
Kevin tertegun sesaat menatap Nirmala.
Mereka hanya bertatapan dalam diam, mencoba mengirimkan sinyal ke satu sama lain.
Lalu seketika Kevin merasa tidak akan ada lagi kesempatan kedua.
Dan ia pun langsung masuk kembali ke dalam kamar dengan cepat.