Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 11


"Mana yang namanya Kevin?!" seorang pemuda dengan gaya jamet masuk ke dalam cafe internet tempat Agus, Kasep dan teman-temannya sedang sibuk mabar.


"Ngapain lo cari dia? Lo siape?"


"Gue adanya urusan sama Kevin! Gue sepupunya Aminah, nama gue Pepen!"


Agus dan Kasep langsung saling lirik.


"Kevin belom dateng, lo tungguin aje," desis Kasep sambil kembali memasang headphonenya.


"Woi, njing! Tingkah lo jangan sok jago! Lo yang manggil Kevin sana! Gue butuh cepet!" Pepen menarik kerah Kasep dan memaksanya berdiri. Tercium aroma alkohol yang sangat kuat dari tubuh Pepen.


“Jancoeg! Lo pikir gue manajernya! Lo yang butuh, lo tunggu di sini, bangs*at!” Kasep menepis tangan Pepen dan mendorong tubuh pemuda itu sampai membentur dinding.


Karena Pepen sedang mabuk ia pun gampang dijatuhkan. Apalagi tubuh Kasep lumayan besar dengan style aparat.


Tepat saat itu, Kevin datang dan masuk ke cafe internet.


Pepen sedang dalam posisi jatuh ke lantai dan terbatuk karena napasnya langsung sesak didorong Kasep.


“Siapa?” tanya Kevin.


“Nih, Sepupunya Aminah, nyariin elo!”


“Mau apa?” tanya Kevin cuek sambil melangkahi betis Pepen dan duduk di komputer paling ujung.


“Hei, lo habis apain si Aminah sampe sepupunya dateng mau nonjokin lu?” bisik Agus sambil merangkul bahu Kevin.


Tapi lalu Agus mengernyit.


Parfum Kevin berbeda, seperti wangi parfum wanita. Dua hari nggak masuk sekolah, dateng-dateng dengan wajah muram dan wangi parfum.


“Kalo standar anak Pak Haji paling Cuma gue gre-pe, itu pun kalo dia nawarin diri. Lo liat sendiri,” gumam Kevin ke Agus.


“Kenapa lo wangi cewek begini, Kev?” sembur Agus.


Kevin hanya meliriknya, lalu diam dan menyalakan komputernya.


“Bangke, lu habis ngapain sebelum ke sini?!” Agus langsung menjauh.


“Perjaka nggak perlu tahu,” gumam Kevin.


Entah kenapa moodnya lagi naik turun, bagaikan ada sesuatu yang buruk akan terjadi dalam waktu dekat.


“Heh!! Lu yang namanya Kevin?! Lo pacarnya Aminah, Hah?!” Pepen berdiri dan menunjuk Kevin.


“Gue Kevin, tapi gue bukan pacarnya Aminah,” sahut Kevin.


“Kata dia, lo sudah cium dia, terus dia bilang mau nikah sama lo! Tapi lo nya ninggalin dia!"


“Mana bisa gue nikah sama Aminah, kecuali gue mualaf dulu,”


“Ya sudah cepetan lo mualaf sana! Tanggung jawab lo!”


“Lo pikir agama bisa diganti-ganti, dasar sinting. Lagian Aminah nggak gue apa-apain kok, masih jalur halal lah ... setengah,”


(kenapa ada kata ‘setengah’? Maksudnya setengah halal begitu? Haha).


“Besok Pakde mau ke tempat lo, bicarain semuanya! Kalo elo bikin Aminah nangis, gue bacok di tempat, lo!”


“Mau apa Pak Haji Sueb ke tempat gue?”


“Mau bicarain kelanjutan hubungan lo!” sahut Pepen.


Kevin langsung terkekeh geli. Kalau tahu kenyataan kehidupan Kevin yang sebenarnya, sudah pasti akan langsung ditolak sama Pak Haji.


“Hoi, bro, kalo begitu apa urusannya lo di sini? Buat apa lo ancem-ancem kita segala? Itu kan urusan gue sama Pak Haji Sueb,” kata Kevin.


“Iya bener juga, buat apa gue buang-buang tenaga ya tadi?” tanya Kasep.


“Dia cuma mau bikin ribut aja,” gumam Agus.


“Kalo lo suka sama Aminah ya lo aja yang menghadap Pak Haji Sueb, ajukan pernikahan antar sepupu, hehehehe,” desis Kevin.


“Ooooohhh bener jugaaaa,” Kasep langsung mengerti artinya. “Lo sukaaa sama sepupu lo sendiri jadi lo bikin Kevin pelampiasaaaan! Ah, Dasar Bangor! Bikin kesel aje,” Omel Kasep.


“Idih, incest,” desis Agus bergidik.


Wajah Pepen langsung merah karena ketahuan. Dia pun berdiri, berteriak marah, dan berlari ke arah Kevin.


“Aaaaahhh!!” teriak Pepen.


Kevin reflek berdiri dan menghindar ke samping. Akibatnya Pepen terjatuh, nyusruk ke bawah kolong meja.


Semua menertawakan kekonyolannya.


“Lagian mau berantem mabok dulu, kita semua di sini lagi dalam keadaan fit!”


“Dia ngobat juga kayaknya,” sahut Kasep sambil menunjuk lengannya sendiri, memberi kode ke Kevin.


Kevin menarik lengan Pepen, lalu menyeretnya keluar cafe dan membiarkan cowok yang setengah sadar itu tersungkur di pinggir jalan.


“Udah nggak mood nih, gue pulang aja yak,” sahut Kevin.


“Lu belakangan nggak asyik, Kev,”


Kevin menghela napas, “Gue mau nemenin nyokap gue aja, udah malem. Besok kayaknya gue bolos lagi, mau tidur seharian,”


Kevin meraih kunci motor di meja lalu keluar dari cafe internet. “Oh iya, seperti biasa udah gue bayar ya sampe jam 12 malem,”


“Iyaaaaaa,” seru semua teman-temannya.


*


*


“Loh? Anak ibu sudah pulang?” Ibu menatap Kevin bergantian dengan tatapannya ke jam dinding. Pukul 11 malam.


Bentuk sindiran halus khas ibunya.


“Kangen sama Ibu,” gumam Kevin sambil menyeringai.


“Kalo kangen sama Ibu, bawain oleh-oleh kek pas pulang,” Ibu pura-pura menggerutu.


“Hehe,” Kevin mengecup dahi ibunya dan berlalu ke arah kamar mandi sebelum ibunya menyadari kalau wanginya Nirmala masih menempel di tubuhnya.


Di bawah shower dia menunduk, tetesan air membasahi tubuhnya. Matanya menatap ke arah kejantanannya yang menggantung.


Apa sih yang kulakukan selama ini?


Pikir Kevin.


Berapa banyak wanita yang ia rasakan? Pe-nisnya rasakan? Apa gunanya kalau satu wanita yang benar-benar ia suka malah menjauh dan mirisnya, gara-gara aktivitas maksiatnya selama ini?


Tadinya Kevin merasa dia laki-laki paling hebat diantara semua laki-laki. Semua wanita tunduk padanya.


Namun saat ini, ia malah merasa hal itu tidak ada gunanya. Masih ada wanita yang menganggap se-ks bukanlah segalanya.


Ia malah merasa kotor sekarang. Kalau dulu ia masih nyaman bermain seharian setelah melakukan aktivitas ranjang, sekarang ia merasa harus mandi sesering mungkin.


Aku sepertinya harus berhenti bermain, terutama dengan wanita. Pikir Kevin.


Lalu, aku akan mencari Nirmala.


Membangun semuanya dari awal.


Menurut Kevin, ada hal berbeda dalam diri Nirmala. Prinsip wanita itu sangat anggun. Juga, entah kenapa, caranya memeluk Kevin sangatlah pas. Wanginya juga tidak berlebihan, reaksi tubuhnya juga sangat alami.


Dan sikap malu-malu, jengah dan ragunya saat menatap Kevin, walaupun mereka sudah melakukannya. Apa mungkin begitulah pengantin baru bersikap?


Apakah aku bersikap begini karena ini pertama kalinya ada wanita menolakku? Rendah sekali hidupku sebenarnya! Batin Kevin sambil mematikan shower dan menyambar handuknya.


Lalu ia pun masuk ke kamarnya untuk mengenakan pakaian.


*


*


"Bu?" panggil Kevin. Ibunya sedang duduk di depan tv menonton acara azab sambil ngemil keripik kaca.


"Hm?" gumam Ibunya sambil menoleh.


Kevin duduk di samping ibunya, lalu memeluknya, dan menyembunyikan wajahnya di perut ibunya.


Ia meringkuk di sana.


"Tumben kamu manja-manjaan," desis Ibu sambil mengusap rambut ikal anaknya yang masih setengah basah.


"Lagi capek sama hidup," desis Kevin.


"Semuda ini sudah capek sama hidup? Kamu baru saja mengurusi 267juta jiwa masyarakat Indonesia kah?" canda ibunya.


"Ih kok menohok," gumam Kevin kesal.


"Habisnya kamu lucu,"


"Hem ..." Kevin tetap membenamkan wajahnya.


"Ibu itu sudah ngelahirin kamu sampai hampir mati, loh. Masa sekarang kamu malah bilang capek sama hidup? Ih sedih nih jadinyaaaa,"


"Oh iya, bener juga. Maaf, bu," Kevin kembali meringkuk. Kali ini posisi tubuhnya lebih membulat dari yang tadi.


"Eh, Kev, tadi siang Aminah kesini, Aminah bilang besok Pak Haji Sueb mau ketemu kamu,"


"Hem ..."


"Kamu benar pacaran sama Aminah?"


"Mana mungkin," gumam Kevin.


"Terus besok Pak Haji mau apa?"


"Mau minta anaknya kukawinin," Kevin teringat perkataan Pepen.


"Hah?!"


"Hem ..." Kevin masih malas.


"Jangan bilang kamu sudah 'itu' sama Aminah,"


"Nggak kuapa-apain, masih perawan kok dia... kayaknya," desis Kevin.


"Kok 'kayaknya'?"


"Aku kan nggak tau, siapa tahu dia punya pacar. Aku sih bukan pacarnya,"


"Terus kenapa kamu meringkuk begini?"


"Hem... " kali ini Kevin malas menjawab.


"Kamu ... Lagi patah hati ya?"


Dan Kevin pun mengangkat wajahnya, menatap ibunya, "Kok tau?"


"Habis kamu gitu tingkahnya, nggak semangat,"


"Hem..." Kevin bersandar di sofa sambil menengadahkan kepalanya ke atas.


"Kalo tahu patah hati itu sakitnya begini mending nggak usah jatuh cinta deh," keluhnya.


"Siapa?" selidik Ibunya.


"Wanita yang sangat ... Anggun, elegan, berkelas, lembut, kalem,"


"Ibu, dong?" Ibu menyeringai.


"Ih, narsis," desis Kevin.


"Lah itu kan ciri-ciri ibu, hahahahah!"


"Ya memang dia seumuran ibu sih,"


"Serius kamu Kev?!" Ibu menghentikan seringainya dan menatap Kevin dengan mimik muka tak percaya.


Kevin mengangguk, "Dia menolakku karena aku dianggapnya bocah ingusan dan tukang main cewek,"


"Ya wajar dong,"


"Aaah Ibuuuu! Kenapa respon ibu begitu sih! Nyesel aku curhat!" seru Kevin.


"Loh, memangnya ibu harus merespon apaaaa?! Lagian kamu nembak cewek nggak liat tempat! Kalau seumuran ibu kan lihatnya udah masa depan, nggak cari pacar, tapi suami! Buat nafkahin dan membesarkan anak bersama. Udah bukan level kencan berdua pegangan tangan ke cafe liat liveshow!" kata ibunya sambil terbahak.


Kevin diam.


Kenapa ibunya berbicara hampir sama seperti Nirmala?!


"Aku bisa kok gendong anak kemana-mana, ngasuh, ngasih nafkah sebentar lagi cari kerja habis lulus. Jalanin aja dulu kenapa sih?!" keluh Kevin.


"Ih bukan gitu konsepnya keeev, " Ibu melambaikan tangannya. "Itulah bedanya kalau masih bocah sama udah mapan. Ini bukan masalah 'jalanin dulu aja', kalau udah mapan mah pikirannya 'besok harus bisa jalan ke kiri atau ke kanan', gituuu,"


"Masa depan kan nggak ada yang tahu bu,"


"Tapi masa depan kan bisa direncanakan, dan sekaligus memikirkan antisipasinya seandainya rencana itu gagal,"


Kevin tertegun.


"Rumit amat sih pemikiran orang dewasa," keluhnya, tapi masih dengan wajah bengong.


"Yaaaa begitulah, kamu pasti akan mengalaminya nanti. Tapi tidak sekarang. Kalian sudah beda pemikiran. Wajar kalau kamu sekarang ditolak, tapi belum tentu besok kamu ditolak juga,"


"Hem...," gumam Kevin sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sedang memikirkan baik-baik perkataan ibunya.


Terbangun pagi itu dengan keadaan sakit kepala, Kevin mengeluh dan bergumam sebal. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara adzan Subuh berkumandang. Dengan mata masih menyesuaikan cahaya, Kevin tetap berbaring di ranjangnya, memeluk bantal besarnya dan diam mendengarkan muadzim selesai melantunkan ajakan sholat bagi umat muslim.


Barusan, ia memimpikan Nirmala.


Dan itu bukan mimpi indah. Berulang-ulang yang tersirat adalah kata-kata penolakan Nirmala. Begitu dalam sakit hati yang ia rasakan.


Entah kenapa.


Saat bangun dari tidurnya ia semakin merasa insecure. Kevin mencoba bangkit dan duduk di pinggir ranjang, menyingkirkan selimutnya yang senantiasa bergelung di pinggangnya. Liontin salib di kalung pemberian ibunya yang bergeser ke belakang leher ia sampirkan ke depan dadanya, lalu mengacak- acak rambutnya.


Kevin pun akhirnya meraih ponselnya. “Bu Ida, saya hari ini izin nggak masuk sekolah. Sakit. Surat dokter besok saya bawa,” Begitu ketiknya. Isi pesan singkat itu pun dikirimkan ke kepala sekolahnya.


Akhirnya, karena otaknya terasa mumet, tanpa menunggu balasan Bu Ida, ia pun beranjak dan mengenakan pakaiannya, lalu berjalan ke arah komputer di depannya.


Mau cari contoh referensi surat dokter buat dipalsuin. (Ish! Dasar bengal!)