Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 23


Hari itu, Kevin pulang ke rumah dan menyadari kalau ia benar-benar sendirian.


Rak kaca ibunya yang biasa dipakai untuk display lauk pauk warteg ada di sudut garasi, dengan kompor dan berbagai piring gelas.


Lalu, saat memutar kunci dan membuka pintu yang ada hanyalah keheningan. Sepi tanpa kehidupan, dan berbau lembab tanpa ada bau masakan.


Dapur yang biasanya menjadi 'kantor' ibunya, hanya terdengar suara tetesan air dari kran. Sinar matahari menyinari area itu dari atap yang dilapisi kaca.


Kevin menatap sekelilingnya dan berpikir. Ia kini sendirian, ia yang harus mengurus semuanya. Apa yang perlu ia lakukan pertama?


Ini tanggal berapa?


Hampir akhir bulan, tabungannya tinggal 4,5juta. Berapa biaya listrik, air dan internet. Gas masih ada tidak? Air galon? Apa saja yang harus ia bayar selanjutnya... BPJS?


4,5juta tahan untuk berapa bulan di Jakarta Timur? Untung saja sekolahnya gratis. Tapi untuk makan sehari- hari bagaimana? Bensin motor? Sembako?


Yang paling besar adalah biaya sewa rumah, pertahunnya 15 juta. Ibu biasa menyisihkan per bulan agar tidak terlalu berat katanya.


Berapa nomor Pak Ilyas pemilik rumah?


Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ini sih tabungannya hanya bisa bertahan 2 bulan, bisa jadi kurang dari itu.


Kevin harus mencari pekerjaan dalam waktu kurang dari sebulan.


Lalu pemuda itu masuk ke kamar ibunya. Masih sama seperti terakhir Kevin tinggalkan saat tidur di sana, tidak ada yang membereskan. Gulingnya masih tergeletak dan selimutnya berantakan.


Kevin membereskan sebisanya.


Lalu ia membuka lemari ibunya, dan memutar kunci laci lemari.


Ada kotak perhiasan, isinya gelang dan berbagai cincin emas.


"Maaf bu, harus aku jual," gumam Kevin sedih.


Lalu ia mengangkat sebuah cincin kawin yang ukurannya lebih besar dari jari ibunya. Punya Ayahnya.


"Ini adalah yang terakhir akan kujual, malah kalau bisa jangan dijual," gumam Kevin.


Dan selanjutnya...


Sepertinya ia harus pindah rumah. Mungkin kosan atau rumah sepetak saja yang biayanya lebih murah.


Hanya sedikit barang yang akan dia bawa, sisanya ia tinggalkan.


Baru selesai ia mengusap air matanya, ponselnya berdering.


Dari rumah sakit.


"Ya?" sapa Kevin.


"Dengan Pak Kevin?"


"Betul,"


"Kami dari RS. XX Pak, ingin mengabarkan, mengenai deposit atas nama Ibu Bella, sisa dananya mau ditransfer kemana?"


"Deposit?"


"Ya Pak, waktu itu ada pengisian deposit untuk biaya perawatan. Sekarang kan sudah selesai semua prosesnya, tapi masih ada sisanya,"


"Saya kesana sekarang," desis Kevin selanjutnya.


*


*


"Sisanya 60jutaan?!" Kevin menaikkan alisnya.


"Betul pak, karena waktu itu kan proses pemakaman tidak dari kami. Jadi sudah termasuk penanganan IGD dan Biaya operasi, sisanya segitu,"


"Memangnya berapa yang dideposit waktu itu?"


"Lebih dari 90 juta, Pak,"


Kevin terpaku.


Banyak sekali! Pikirnya.


Astaga, Nirmala...


Kevin mengusap tengkuknya yang merinding.


"Disini tertulis, penerima sisa deposit adalah nama bapak sesuai KTP. Tapi tidak dituliskan nomor rekeningnya,"


"Apa ada keterangan lain dari penanam deposit waktu itu?"


"Dia tidak menitipkan identitas apapun kepada kami, Pak,"


Kevin mencebik.


Langka sekali informasi untuk jati diri Nirmala yang sebenarnya.


Sudah begitu, katanya ini hadiah. Dan Kevin dilarang menghubunginya.


"Masukan ke rekening saya saja, Mbak. Ini nomornya,"


Dan begitulah, Kevin tidak jadi melarat.


Tapi tetap saja, dia harus pindah rumah agar lebih hemat.


*


*


Dalam masa penantian hasil ujian, siswa kelas 12 memasuki minggu tenang. Kebanyakan dari mereka masuk sekolah tapi tidak ada kegiatan yang berarti. Yang sudah senior serah terima jabatan ke Junior, seperti Marisa yang baru saja menyerahkan jabatan Ketosnya ke adik kelas. Sisanya leyeh-leyeh di sekolah atau sekedar nongki cantique di kantin.


"Kak Kevin," Dian datang menghampiri Kevin yang sedang duduk makan bakso. Semua yang di sana menatap Dian dengan sinis. Terutama Kasep dan Agus yang percaya Dian adalah dalang di balik meninggalnya Ibu Kevin.


Namun, Kevin memutuskan untuk kalem. Ia sedang malas berdebat. Lagipula, ia tidak memiliki bukti apapun.


"Kakak Sabtu besok bisa datang? Ke pesta ulang tahunku," tanya Dian. Cewek itu benar-benar terobsesi pada Kevin.


"Lo kenapa masih di sini sih? Bukannya lo mau dipindahin sama Mami lo?!" Kevin masih cuek.


"Iya, dia mengancam begitu sih, makanya aku laporin aja dia, biar aku nggak jadi dipindahin," kata Dian.


"Kalau Bu Dewi yang minta, baru gue mau hadir," kata Kevin memancing Dian.


"Mama mungkin tidak akan pulang sampai tahun depan,"


"Ck! Ya sudah, yang dateng nggak harus gue, itu masih banyak yang bisa diajak," Kevin masih cuek.


"Aku maunya Kak Kevin, bukan orang lain. Apa yang bisa aku bantu biar kakak mau datang besok?"


Kevin mengernyit.


Diam sesaat,


Lalu menggelengkan kepalanya. "Ya Ampun Dian,"


Kevin menghadap ke arah Dian dan menepuk-nepuk bangku. Mengisyaratkan Dian untuk duduk di sebelahnya. Diusir baik-baik tak bisa, dengan makian kasar juga tidak bisa, entah bagaimana cara menghadapi cewek ini.


Menyusahkan.


"Apa sih sebenarnya yang mau lo sampein ke gue?" tanya Kevin lembut.


"Eh?"


"Dari kemarin lo berusaha ngedeketin gue, gue tolak, gue maki, tetap aja lo keukeuh, ada apa sih sebenarnya?"


"Aku suka Kak Kevin,"


"Cuma itu?"


"Aku nggak biasa ditolak, Kak," Dian cemberut.


"Terus maunya apa?"


"Boleh bicara empat mata? Tapi besok Kak. Soalnya..."


"Soalnya?"


Dian tersenyum licik dan menggigit bibirnya seperti telah mendapatkan nomor togel lewat mimpi ketemu setan.


Dengan tiba-tiba, Dian pun memeluk Kevin.


"Bujug! Di kantin ini woy!" seru Kasep kaget.


Agus hanya mengernyit tidak senang.


Lalu Dian menarik kepalanya, dan mencium bibir Kevin.


Kevin tertegun saat Dian melepaskan ciumannya. Cewek itu tersenyum dan beranjak dari posisinya semula,


"Sabtu malam datang ya Kak," katanya penuh arti sambil mengerling.


Kevin hanya diam sambil menyeruput teh kotaknya dan menatap sosok Dian yang berjalan keluar dari kantin dengan penuh kemenangan.


Aku tahu siapa yang menabrak Ibu Kak Kevin, aku menyewa detektif swasta. Tapi sebagai ganti informasi, kakak harus mau tidur sama aku.


"Ck!" decak Kevin kesal. "Sama aja sama maminya ternyata, memperbudak orang melulu!" Omel Kevin.


"Habis ngapain dia?" Marisa datang sambil merengut dan langsung duduk di pangkuan Kevin.


Kenapa harus Dian, sih? Pikir Kevin malas. Ia tidak terlalu suka dengan cewek obsesif itu. Tapi ia butuh informasinya.


Awas aja kalo besok tipu-tipu. Gue iket kebalik di pohon sawo biar digerayangi genderuwo! Batin Kevin kesal.


"Nah, lu ngapain di sini?" tanya Kevin balik.


"Gue mau ngabarin, besok kan hari Jum'at, lo bisa dateng ke Amethys Tech nggak buat sedikit wawancara? Om gue kebetulan pas banget lagi cari orang buat staff desain,"


"Serius?" mata Kevin langsung berbinar. "Mauuuu!!" serunya kegirangan.


"Gue bisa bantu sampai sini doang ya, sisanya tergantung lo,"


"Amethys tuh perusahaan apa sih sebenernya? Akhir-akhir ini booming" tanya Kasep.


"Banyak sih dia anak usahanya. Multinasional gitu deh. Sejak dilikuidasi sana PT. Nagarawan Mangkubarata dia jadi gede. Terakhir dia dirikan perusahaan provider, Namanya Amethys Tel. Nah, yang gue rekomendasiin ini Amethys Tech. Baru dibentuk, perusahaan IT gitu basisnya,"


"Terus Om lo itu... adeknya bapak lo ato Sugar Daddy lo?" pancing Kasep.


"Yah, masa harus gue jelasin sih, lo terlalu polos ah!" dengus Marisa sambil mencibir.


"Gue nggak sepolos itu," balas Kasep.


"Ya nggak usah nanya dooong ah!" dan Marisa pun mengibaskan rambutnya.


Pagi ini hari Jumat, Kevin izin tidak masuk sekolah karena memang buat apa masuk cuma buat nongkrong di kantin dan main basket? Ya mungkin saat-saat mempererat tali silaturahmi dengan sahabat semasa SMA karena sebentar lagi akan memasuki 'hutan belantara' sebagai seorang yang dewasa.


Dan semua tahu, di hutan belantara itu, masing-masing mempertahankan hidupnya sendiri-sendiri.


Secara prinsip, Kevin dan teman-temannya dinyatakan lulus dari sekolah, sensus siswa memperlihatkan kelulusan 100% untuk sekolahnya walaupun Bu Ida bilang 70% anak lulus dengan nilai 'ngeri-ngeri sedap'.


Selanjutnya tinggal menunggu hasil SNMPTN untuk Universitas Negeri favorit, kalau tidak masuk, mereka akan mengikuti ujian lain yang dinamakan SBMPTN.


Kalau Kevin sih, terus terang saja ia tidak tertarik. Ia mengisi kolom untuk UI dan ITB, tapi tergantung pekerjaannya sekarang, kalau diterima kerja di Jakarta ya terpaksa akan ia lepas kesempatan berkuliah di luar kota.