
Polres Metro Jakarta Timur
Jadi Pembaca, mari kita persingkat prosesnya.
Setelah 25 pertanyaan, 5 gelas kopi, 1 dus donat kekinian dan 1 kotak junkfood extra eskrim sundae rasa strawberry, akhirnya sesi pemberian keterangan yang dijalani Kevin dan para penyidik pun selesai.
Setidaknya, proses awal selesai, masih ada proses selanjutnya. Paling tidak, ada progress, lah.
Saat itu waktu sudah menunjukkan Pukul 10 malam, Kasep dan Agus menghabiskan waktu dengan bermain game online dari ponsel mereka di ruang tunggu, melawan tim anggota kepolisian lainnya. Tanding game lawan polisi, padahal kalau di kehidupan nyata didatangi polisi saja tunggang langgang, padahal Pakpol cuma mau tanya jalan.
AKP Suraji, salah satu penyidik mengantarkan Kevin menuju ruang tunggu sambil memberikan kata-kata pemberi semangat kepadanya.
"Baru selesai, Kev?" tanya Kasep.
"Hem," balas Kevin. Otaknya penuh dengan berbagai informasi.
"Teman-teman kamu waktu kejadian ada di tkp?" tanya AKP Suraji.
Kasep dan Agus langsung tegang, lalu saling melirik. Nggak mungkin mereka bilang kalau mereka lagi sibuk tawuran.
"Tidak, mereka ada kegiatan di sekolah," jawab Kevin.
Jawaban yang diplomatis. Kasep sampai terpukau. Kata-kata itu akan ia ingat saat belajar jadi politikus nanti. Metode Ngeles Elegan, judulnya.
"Jadi kamu pulang duluan?" tanya AKP Suraji.
"Ya Pak," sahut Kevin. "Kalau sudah selesai, saya boleh pulang?" Kevin memutuskan untuk tidak banyak memberikan keterangan. Yang ditanya saja yang ia jawab, tidak usah mengumpankan informasi berlebihan. Lagipula, ia sebenarnya juga sedang menjalani tindakan berbau asusila dan sedang diincar polisi
Kalah cepat sedikit saja, statusnya bisa langsung berbalik jadi "terduga".
AKP Suraji akhirnya mengizinkan Kevin dan teman-temannya pulang. Dalam hatinya, ia pun sebenarnya iba dengan keadaan Kevin. Anak itu sampai shock saat melihat rekaman cctv dari berbagai sudut yang dikumpulkan penyidik dari toko-toko sekitar.
Namun, dalam keadaan lemas dan frustasi pun, Kevin masih menguatkan dirinya untuk berusaha bekerjasama. Tindakan yang sangat membantu polisi untuk cepat menemukan tersangkanya.
"Bro, gimana?" tanya Kasep mensejajari langkah Kevin saat mereka menuju parkiran.
"Nanti aja gue jelasin di rumah, gue capek banget,"
"Tersangkanya ketahuan nggak? Bisa ditangkep kapan?!" cecar Agus
"Butuh waktu kali, Gus. Memangnya kita sehebat Detektif Wasabi," gumam Kevin.
(Promo terselubung, baca novel : My Name Is Virus dari Virus juga ya pembaca, hehe)
"Kalo gitu, malam ini kita nginep di rumah lu yak!" pinta Agus bersemangat, dia berniat main game di komputer super canggih milik Kevin.
"Terserah lu aja," sahut Kevin.
Di rumah Kevin,
"Eh, sudah pulang. Kok cepat?" Nirmala menyambut mereka dengan wajah ceria. Sampai-sampai mereka bertanya-tanya kenapa Nirmala bisa terlihat semakin cantik padahal sudah hampir larut malam.
Apakah dia manusia? Atau Dewi Malam? Atau jangan-jangan manusia yang ubun-ubunnya dipaku? Kalo pakunya kecabut bakalan terbang ke pohon asem sambil ngikik?
"Begitu cepat?" tanya Kevin. Padahal dia merasa sudah hampir pingsan saking banyaknya pertanyaan yang diajukan padanya.
"Iya, biasanya bisa sampai tengah malam,"
"Oh, gitu. Kok kamu tahu?"
"Aku biasa menangani kasus perdata yang tiba-tiba bisa berubah jadi pidana. Kamu kan tahu aku menjual tanah bermasalah yang diputihkan jadi properti," kata Nirmala sambil masuk ke dalam rumah.
"Coeg, wanita karier beneran ini sih, kata-katanya profesional banget, tingkat tinggi!" bisik Agus ke Kasep. "Gue sampe nggak ngerti dia barusan ngomong apa,"
"Ya lo tahu seleranya Kevin. Kita masih maen galaksin, dia udah clubbing dari club ke club," bisik Kasep ke Agus. "Targetnya pasti elit lah, Dian mah lewat,"
"Padahal Dian lumayan cantik, loh," kata Agus.
"Yang bilang Dian cantik, cuma elo," kata Kasep.
"Loh?" Agus kebingungan. "Masa, sih?!"
*
*
"Kevin, aku mau pulang," Nirmala mengetuk kamar Kevin.
Kevin tertegun sambil mengernyit, "Pulang?"
Nirmala mengangguk. "Besok pagi aku kesini lagi, aku kan juga harus beres-beres apartemen. Aku sudah pesan taksi online,"
"Batalkan, Aku antar saja," Kevin langsung menyambar kunci motor.
"Nggak usah, kamu temani saja teman-teman kamu,"
"Aku antar, plis? Atau kamu nggak boleh pulang," kata Kevin.
"Eh?" Nirmala terlihat jengah, "Tapi aku nggak ingin kamu antar,"
"Kenapa?"
"Karena kalau kamu antarkan aku, kamu pasti tidak akan berhenti mengunjungiku, karena sudah tahu alamatku. Lalu kamu pasti akan memaksa untuk menginap. Masa kamu tega membiarkan mereka jagain rumah kamu semalaman,"
Kevin menoleh ke arah Kasep dan Agus, mereka berdua sedang salah tingkah menatap Kevin sambil menyeringai sok polos. "Ganggu aja deh, pada balik sana!"
"Laaaah! Gue udah masuk ring ini!" protes Agus yang sudah mulai main game.
"Besok kan masih ada waktu," Nirmala tersenyum penuh arti.
"Hem,"
"Besok aku seharian lagi, kok," Rayu Nirmala.
Kevin menghela napas panjang. Dibandingkan Kasep dan Agus, sebenarnya ia lebih butuh Nirmala ada di dekatnya.
"Ya sudah," gumam Kevin. "Kabari aku kalau sudah sampai, sudah malam soalnya," desis Cowok itu sambil mengikuti Nirmala menyusuri ruangan untuk mencapai pintu depan.
"Akhirnya kita tukeran nomor juga ya," Nirmala menyeringai.
"Jangan ganti nomor," Kevin mewanti-wantinya.
"Tidak mungkin, para customerku sudah tahu nomor yang ini," kata Nirmala.
Taksi online sudah berada di depan rumah Kevin. "Lagipula, kalau aku menginap, apa kata tetangga. Mereka tetap saja curiga, tidak etis rasanya," kata Wanita itu.
"Benar juga," gumam Kevin.
Sebelum mencapai pintu depan, Kevin meraih jemari Nirmala, lalu menggiring wanita itu mendekat ke arahnya.
"Tunggu sebentar," desis cowok itu.
"Ya?"
Tangan Kevin menyusup ke leher jenjang Nirmala, meraihnya untuk terangkat menghadapnya. Tatapan sayu cowok itu membuat Nirmala terpaku tak bergerak.
Saat wajah Kevin mendekat, Nirmala sudah tahu kejadian yang mengikutinya.
Gerakan yang sudah wanita itu dambakan selama ini, yang selalu memenuhi benaknya. Bibir Kevin yang selalu menyeringai jahil, seakan sedang mengejeknya sekaligus menggodanya, menekan bibir Nirmala dengan tegas.
Dengan sedikit membuka, lancang menyusupkan lidahnya dan membelit lidah Nirmala dengan posesif.
Gerakannya yang luwes mengindikasikan bahwa ia mengklaim Nirmala adalah miliknya.
Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin Nirmala bisa melupakannya.
Padahal yang paling ditakuti Nirmala adalah jatuh cinta lalu dikecewakan.
Bagaimana bisa ia menolak Kevin yang seperti ini?
Walaupun pikirannya sudah mencoba mengalihkan perhatiannya dari pesona Kevin, dengan menanamkan pondasi bahwa 'Kevin seperti itu ke semua wanita' atau kata-kata 'cowok itu memiliki banyak wanita lain di belakangnya', 'ia bukan laki-laki setia', 'Nirmala bukan satu-satunya', 'siapa yang tahu apa yang Kevin lakukan di belakang?'
Tapi tetap saja Nirmala luluh. Akal sehatnya kalah dengan nafsunya.
Pelukan Kevin semakin erat, seperti biasa tangan yang satu di bokong Nirmala, meremasnya dengan gemas. Yang satu bergantian antara tengkuk Nirmala dan dada wanita itu.
Nirmala melenguh saat Kevin mendesaknya sampai tertekan ke dinding di belakangnya.
Entahlah itu hanya pelampiasan cowok itu atau memang Kevin sangat merindukan Nirmala.
Yang jelas, tekanan dari anggota tubuh Kevin yang kini kian membesar, membuat Nirmala semakin terlena.
Bibir Kevin masih merasuknya. Membuat pikirannya diawang-awang.
"Eeeer, Kev," panggil Kasep sambil menyeringai jengah, "Itu taksi onlinenya udah bunyiin klakson, nggak enak sama tetangga udah malem ribut-ribut,"
Kevin berhenti membelai Nirmala dan menarik bibirnya dari bibir Nirmala. Nirmala langsung melepaskan napasnya dan terengah-engah.
"Ck!" Kevin berdecak sebal. Dan melepaskan pelukannya.
Nirmala sampai-sampai tidak dapat menguasai pijakannya karena langsung merasa lemas. Kevin akhirnya mengantarkannya sampai depan gerbang.
"Njir! Bia-dap bener tuh bang-sat satu. Udah gape bener gerakannya, serasa nonton bokep live," gumam Kasep sambil menggaruk tengkuknya yang merinding.
"Gue kapan ya bisa ciuman ama cewek?" gumam Agus iri.
"Apa?" tanya Kevin ke teman-temannya saat ia kembali ke kamar.
Agus dan Kasep sedang menatapnya dengan senyuman simpul penuh rasa penasaran.
"Sejak kapan lo..."
"Gue tidur duluan di kamar nyokap," Kevin memotong ucapan Kasep dan menghindar keluar dari kamar. Malas ditanya-tanya.
"Elah si bedul," gerutu Kasep. Namun ia biarkan saja sahabatnya itu tidur karena ia rasa Kevin memang butuh itu.
*
*
Kamar ibu,
Tampak rapi, bahkan lebih rapi dari biasanya. Baju-baju di gantungan sudah dicuci dan dilipat, make up di meja rias yang biasanya berantakan ditata sedemikian rupa menurut kegunaannya.
Ada beberapa benda yang masih dijadikan barang bukti oleh kepolisian, namun ada juga yang sudah dikembalikan, seperti dompet, ikat rambut dan perhiasan.
Ah! Ibu masih mengenakan gelang dariku di saat terakhirnya. Batin Kevin sambil mengusap bangle dari emas putih yang berhiaskan banyak permata yang diambilnya dari dalam kotak. Ada bercak noda darah Ibu di sela-sela permatanya.
Cowok itu lalu mengusap liontin salib di dadanya.
Apa karena benda ini pindah padaku, ibu jadi... Ah! Tidak, tidak, jangan berpikiran aneh. Ini semua sudah garis takdir. Pikir Kevin.
Lalu pemuda itu berbaring di ranjang.
Menenangkan dan hangat.
Kevin memeluk guling dan membenamkan wajahnya di sana. Lalu perlahan ia pun terlelap.
*
*
"Tidur nyenyak?" Nirmala menyambutnya dengan senyum lembut di wajah. Kedua temannya sudah menikmati nasi goreng di meja makan dan mengenakan seragam. Milik Kevin tentunya, mereka ambil dari lemarinya.
"Lumayan," jawab Kevin. Terus terang saja, bahkan ia tidur lelap tanpa bermimpi. Seakan ibunya memeluknya sepanjang malam sampai pagi dan berkata : ikhlas dan relakan ibu.
Pagi ini Kevin bangun dengan segar.
"Besok tes SNMPTN loh Kev. Pak Menteri pagi-pagi mau datang untuk pembukaan. Sekolah kamu percontohan untuk Kurikulum Merdeka, ya," kata Nirmala.
"Iya, aku izin berduka sampai hari ini," Kevin duduk bergabung di meja makan.
"Teh atau Kopi?"
"Teh,"
"Tumben,"
"Ibu pagi-pagi suka minum teh,"
"Oke,"
Dengan luwes, Nirmala melayani Kevin seakan pemuda itu suaminya sendiri. Bahkan lebih luwes dari Ibu yang apa-apa disuruhnya ambil sendiri.
Sementara Kasep dan Agus menatap interaksi dua sejoli itu sambil mesem-mesem sekaligus envy tingkat tinggi.
"Kev, tadi malam lo ditanya apa aja di polisi?" tanya Kasep sambil mengunyah. Nggak ingin bertanya sih, tapi daripada lebih lama lagi melihat adegan cinta-cintaan membuatnya eneg sendiri, akhirnya dia berusaha mengalihkan perhatian.
Kevin tampak berpikir.
AKP Suraji sudah mewanti-wantinya untuk tidak memberitahu hasil interogasi ke sekitarnya.
Untuk sementara, semua orang yang tidak berada di TKP adalah terduga, patut dicurigai.
Masalahnya City Car warna putih bermerk All New Jonda Jazz tahun 2015 yang menabrak ibunya memiliki kaca film Ryben tolak panas dengan tingkat kegelapan 80 persen, sehingga penumpang di dalamnya tidak terlihat. Juga plat nomor mobilnya ditutupi lakban. Hal itu diindikasikan sebagai dugaan pembunuhan berencana.
"Kayaknya disengaja, mungkin targetnya gue. Soalnya nyokap jarang lewat sana, kalo ada perlu di warung beras aja. Itu rute gue pulang pergi sekolah soalnya," Kevin menyuap nasi goreng ke mulutnya.
"Kok bisa disimpulkan begitu?"
"Karena gue kelihatan dari cctv lagi dadah-dadah ke nyokap. Dan tiba-tiba mobil itu muncul. Banyak pejalan kaki yg mau nyebrang, tapi beloknya malah ke nyokap yang adanya di tengah. Kan aneh,"
"Njir, tega banget. Itu berarti ada yang dendam kesumat sama lo," desis Agus tampak kuatir.
"Lo pikir-pikir coba yang bisa dijadiin tersangka, cuy. Yang benci sama lo, yang gue tau yak, paling Dian. Terus yang peringkat hasil latihan tes kebalap sama lo, si Ketos kali? Biasanya dia masuk 3 besar, ini jadi 4 besar gara-gara lo geser," Desis Kasep memberi pemikiran, tanpa ia tahu kalau si Ketos, Marisa, adalah... ya pembaca tahu sendiri lah.
"Ho, si fakboi sepintar itu?" tanya Nirmala sambil bersandar di punggung Kevin.
"Hoki aja tante, dia kan hacker sapa tau emang udah retas duluan itu soal," desis Kasep sambil menjulurkan lidah.
"Sembarangan, yang paling mungkin benci gue tuh malah lo berdua kali, ngeliat gue ganteng bersahaja jenius digemari ciwi ciwi kurang kerjaan padahal madol melulu main game," desis Kevin bercanda.
"Bener juga ya, i hate you but i love you judulnya," kata Kasep cekikikan.
"Gue udah janji mengabdi sih kemarin. Ah! Nyesel lah gue, kecipratan hoki kagak, malah sial melulu," gumam Agus.
Nirmala melirik Kevin yang cengar-cengir menanggapi teman-temannya. Tampaknya Kasep, Agus dan juga polisi belum mengendus 'kehidupan lain' Kevin di balik ini. Kan bisa saja ada anak buah Bu Dewi yang berusaha melenyapkan Kevin agar tidak membocorkan aktifitas artis kondang itu.
Di lain pihak, mendengar cerita teman-teman Kevin, kenapa bocah ini jadi terlihat begitu seksi di matanya? Kevin masih muda, namun sudah mengukir banyak prestasi dengan kebengalannya. Bagaimana nanti di masa depan?
Jenis yang berbahaya.
Sangat ... Mengancam keselamatan iman Nirmala.
"Kalo gitu kita ke sekolah duluan lah, bro. Lo santai-santai aja dulu di rumah," kata Agus. "Bareng... Tante," sambung Agus malas.
"Jangan sampe digrebek Pak RT," kata Kasep sambil menaik-naikan alisnya.
"Bagi kek koleksi cewek lo, dasar pelit," gerutu Agus sambil berlalu.
Dan keributan telah berlalu, Kevin menopang dagunya sambil tersenyum ke Nirmala yang sedang membereskan meja makan.
"Kamu punya rencana untuk hari ini?" tanya Nirmala.
"Nggak ada, paling menunggu kabar dari polisi dan mengurusi administrasi rumah sakit," kata Kevin.
"Kalau rumah sakit sudah kubereskan," desis Nirmala. "Tinggal tunggu saja mereka mengabari kamu untuk mentransfer sisa deposit ke rekening kamu,"
Kevin mengernyit, "ke rekeningku?!"
Nirmala, "Hadiah dariku, untuk biaya kuliah kamu,"
Kevin menggelengkan kepalanya. "Aku berhutang terlalu banyak padamu. Ibuku bilang aku tidak boleh berhutang, terutama kalau suatu saat dia sakit. Aku akan ganti uangmu tapi aku butuh waktu untuk menjual motor dan barang-barang lain,"
"Yang namanya hadiah, tidak untuk dijadikan hutang, Kev. Aku akan sangat tersinggung kalau kamu kembalikan,"
"Paling tidak, apa yang bisa kulakukan agar nilainya sepadan dengan pengorbanan kamu?"
"Hem," Nirmala tampak berpikir.
"Jangan bilang hal klise seperti : kamu bisa ganti dengan cara belajar yang rajin, lulus dengan predikat cum laude, kerja di perusahaan besar seperti impian kamu bla bla bla itu," gerutu Kevin
"Ih, aku memang mau ngomong begitu," kikir Nirmala.
"Sinetron banget, menandakan kamu memang sudah emak-emak," sindir Kevin.
Nirmala mencubit lengan Kevin dengan gemas.
"Nirmala, kalau hal itu sudah pasti akan aku usahakan, dengan atau tanpa uangmu," kata Kevin.
"Itu salah satu cara untuk hidup dengan baik dan bahagia seperti keinginan ibu kamu," kata Nirmala.
Kevin mengangkat bahunya. Baginya, kalimat itu sederhana namun sulit dipraktekkan. Usaha untuk membahagiakan dirinya tidak memiliki tolok ulur, karena sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas.
Nirmala melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Kevin, memeluknya dengan tujuan merayu Kevin agar mendengarkan sarannya.
"Kevin, sudah saatnya kamu tumbuh dewasa. Tanggungan kamu hanya dirimu sendiri. Jangan penuhi hidup kamu dengan tekanan percintaan. Aku juga akan menjalani hal yang sama, hidup untuk diriku sendiri, bebas kemana saja tanpa izin siapa pun, bebas melakukkan apa pun yang kusuka tanpa ada yang melarang,"
"Dan pulang ke rumah, lalu menyadari kalau kamu kesepian," sambung Kevin sarkas.
"Ada saatnya manusia pulang tanpa disambut, disitulah kamu akan menyadari kalau berjuang itu tidak mudah,"
Mendengar perkataan Nirmala, Kevin merasa kalau wanita di pelukannya ini menganggapnya sebagai anak mami.
Terus terang saja, Ibu memang memanjakannya selama ini, dan Kevin menyayangi ibunya. Berbeda dengan teman-teman sebayanya yang justru menghindari orang tuanya, hidup dalam pemberontakan, Kevin justru hidup harmonis dengan orang tuanya.
Pemuda itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ayahnya memperlakukan ibunya. Dari situlah Kevin belajar cara memperlakukan wanita.
Penuh kelembutan dan kasih sayang.
Namun tragisnya, Ayahnya dibunuh juga gara-gara wanita. Cinta si wanita tidak berbalas saking Ayahnya sangat mencintai Ibu, lalu mereka dendam, dan mulai menghancurkan perusahaan garment keluarganya. Berbagai santet, teror pembunuh bayaran, dan tekanan kerja mewarnai hari-hari mereka. Namun Ibu tetap mencintai Ayah.
Sampai meninggal dalam kemiskinan, ibu membawa Kevin kecil hidup berpindah-pindah menghindari musuh-musuh Ayah. Semua gara-gara cinta, orang bisa bertindak nekat.
Ada yang dendam karena cinta tak terbalas, yang lain dendam karena pasangannya jatuh cinta ke Ayah atau Ibu.
Dan Kevin menyadari kalau Nirmala benar.
Mungkin benar, mereka butuh waktu, untuk diri sendiri.
"Oke," akhirnya Kevin berujar demikian.
"Sebagai ganti uang itu, Jangan pernah hubungi aku,"
Kevin berdecak kesal, "Sampai segitunya?"
"Aku mau lihat sampai dimana kamu bersungguh-sungguh terhadap pernyatan cintamu,"
"Oke, tapi selama itu jangan menikah dengan orang lain,"
"Paling kamu yang berpacaran dengan wanita lain,"
"Astaga Nirmala..."
"Hehe,"
"Kapan kita bertemu lagi?"
"Hem, gajiku sekarang perbulan 30 juta, belum insentif dan bonus,"
"Lalu?"
"Kalau kamu bisa melebihiku, kita bertemu,"
"Kenapa patokannya gaji, sih?"
"Aku suka pria mapan,"
"Dan patokan pria mapan adalah gaji 30 juta, belum bonus dan insentif?! Konyol,"
"Karena, setelah kuhitung-hitung dari segi gaya hidupku dan kesejahteraan hidup di negara ini, sambil membesarkan anak-anak, dan aku resign dari pekerjaanku, untuk hidup lebih dari cukup tanpa memikirkan besok bisa makan atau tidak, gaji kamu harus segitu. Kita juga masih bisa menabung untuk pendidikan anak,"
Kevin tertegun mendengarnya. Kalimat Nirmala mengindikasikan suatu titik cerah kalau wanita itu ingin hidup bersama Kevin.
"Gaya hidup kamu tinggi juga ya," gumam Kevin.
"Begitulah," Nirmala mengangkat bahunya. "Sanggup tidak?"
"Akan kucoba,"
"Setelah itu, baru kita bertemu lagi,"
"Asal jangan ada CEO yang gajinya 100juta perbulan melamar kamu," kata Kevin.
"Oh, itu sih sudah ada beberapa. Yang punya perusahaan minyak juga ada yang datang bawa-bawa cincin berlian 10 karat," desis Nirmala.
Kevin tertegun. "Hm,"
"Dan..." Nirmala mencium bibir Kevin sekilas, "Nyatanya aku malah jatuh cinta sama bocah tukang tawuran yang usianya 17 tahun lebih muda. Sudah begitu, profesinya gigolo,"
"Hm, player pula,"
"Iya, dasar fakboi," gumam Nirmala.