Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 25


Dan begitulah pembaca sekalian, lift pun akhirnya terbuka di lantai 40. Lantainya para Direksi dan pemegang saham.


Mewah, berkilauan, terang benderang, dan ... Nggak ada satu pun manusia yang senyum di sana. Semua tegang.


Beberapa orang tampak mengikuti seorang pria yang melewati mereka dengan tergopoh-gopoh, beberapa lagi sibuk di balik konter.


Lalu ruang tunggu penuh dengan karyawan yang ingin minta tandatangan.


"Ruang Direksi Amethys Tech di sebelah kiri ya. Yang tengah Amethys Corp, yang sebelahnya Amethys Tel, jangan sampai nyasar,"


"Njir gede banget!" gumam Kevin takjub.


"Satu lantai ini luasnya sekitar 10.000m2 sih," kata Jo.


"Wih, lahan sekelurahan dipake buat kantor,"


"Dulu Amethys tidak sebesar ini, setelah merger jadi berkembang. Kamu masuk di saat yang tepat,"


"Kita mau ketemu Pak David itu?" tanya Kevin.


"Nggak sih, mimpi kamu. Mau ketemu dia harus janji dulu sebulan sebelumnya. Itu pun pasti diwakili direksi. Bawahan kayak kita mana bisa ketemu,"


"Hooo," padahal Kevin ingin mengucapkan terimakasih atas jabatannya sekarang.


"Kita ke ruangan Presiden Direktur dulu ya, " Jo tersenyum simpul sambil membuka beberapa ruangan. Dan mengetuk pintu besar bergaya futuristik.


Kevin mengganguk.


"Masuk," suara bening menyambut mereka dari dalam.


"Ibu, sibuk? Saya mau mengenalkan orang baru, koneksi Pak Frans," Jo membuka pintunya.


Seorang wanita, bergaya glamor dengan ruangan dipenuhi benda-benda eletronik, sedang menguji coba mesin-mesin canggih di dunia metaverse.


"Kamu yang namanya Kevin Cakra?" tanya wanita itu langsung.


"Eh, betul bu,"


"Sini, kamu," ia melambaikan tangan ke Kevin sambil mengacungkan kacamata berproyeksi. "Kalau dapat mahkota yang di atas gunung saya bisa dapat bitcoin sejuta, gimana caranya?"


Kevin mencibir.


Baru masuk sudah disuruh kerja.


"Nanti kamu saya bagi sepuluh ribu bitcoin," sambung Bu Presdir.


"Oke, Bu!" dan Kevin pun mengenakan kacamata pintarnya.


*


*


Dengan senyum tersungging begitu lebarnya, Susan Tanudisastro, sang Presdir menatap layar komputernya yang tembus pandang.


"Astaga, saya minta sejuta, kamu kasih saya sejuta dua ratus. Pantas David langsung angkat kamu jadi pegawai tetap,"


"Alamat saya disuruh jual skin di NCT," gumam Kevin.


"Nah! Itu gimana caranya tuh? Boleh dong!" seru Bu Susan sambil gebrak meja.


"Maksudnya, saya yang ciptain, Amethys yang patenin, saya juga yang jual gitu?"


"Ya iya dong, kamu dapet persenan lah sesuai aturan perusahaan 40%," Bu Susan tampaknya wanita yang sedikit angkuh dan apa adanya. Ia juga jenis yang tidak suka diprotes.


Yang menarik, wanita ini lumayan fair kalau soal dealing. Asal menguntungkan ia tidak ambil pusing untuk mempertimbangkan banyak hal.


Kevin kembali mencibir. Tapi dia memang butuh platform sebesar milik Amethys untuk memulai karier itu. Kalau perorangan, dengan spek VGA pas-pasan, lakunya susah karena pesaing begitu banyak.


"Oke lah, Bu. Asal saya diperlakukan baik di sini," kata Kevin sambil mengangkat bahunya.


"Oke, deal! Jo," Bu Susan menatap Jo yang dari tadi berdiri bersandar di konter.


"Ya Bu?"


"Kamu jangan ganggu Kevin, awas kamu!" ancam Bu Susan.


Jo hanya berdecak sebal.


*


*


Dengan wajah sumringah Kevin mengikuti Jo kemana-mana.


Jajaran sekretaris yang tadinya berwajah tegang, menatap Kevin dengan senyum termanis mereka.


"Dek Keviiin," sapa mereka. Dalam sekejab Kevin sudah terkenal.


Kevin hanya tersenyum menanggapinya.


Dan Jo berbelok ke cafe yang ada di depan lift.


"Ngopi dulu, capek!" desisnya.


Kevin hanya diam. Dari sejak ditegur Bu Susan, sikap Jo langsung berubah. Itu juga yang membuat Kevin merasa lega.


"Dua macchiato," pesan Jo.


"120 ribu Pak," jawab si kasir.


"Bayar Kev,"


"Gue?"


"Iya, elo," cara bicara Jo juga langsung berbeda.


"Kenapa gue?"


"Kan gaji lo lebih gede dari gue,"


"Ceile, makanya jangan ganggu gue, ntar gue ajarin mancing," desis Kevin sambil merogoh dompetnya dan membayar macchiatonya di Kasir.


"Mancing apa'an? Keributan?"


"Mancing... nambang bitcoin buat penghasilan tambahan, juga cara biar platform 'YikYok' lo viewnya banyak," (ini cara ilegal, pembaca. Jangan ditiru. Hehe)


"Hem," Jo tampak mempertimbangkannya. "Kenapa lo selama ini nggak praktekin sendiri aja?"


"Kalo pake spek komputer rumahan, kalah saing. Kalo pake punya Amethys... ya walaupun melanggar aturan tapi bisa diatur biar nggak kelacak, ntar gue bikinin pengalihan isu," Kevin menyeringai.


"Gue tahu lo lagi butuh duit," gumam Kevin.


"Siapa sih yang nggak butuh," gumam Jo.


"Tapi sebagai gantinya," desis Kevin sambil mengelus dagunya yang belum tumbuh jenggot dan menatap area perut Jo.


"Apa lagi?" Jo tampak waspada.


"Gimana caranya bisa sixpack kayak elo?" tanya Kevin.


Jo langsung terkekeh "Dasar bocah," gumamnya.


*


*


Begitulah, awal pertemanan mereka yang benar-benar berteman secara normal. Jo yang sinis tapi romantis (kalo sama cowok) dan Kevin yang labil tapi charming (kalo sama cewek).


"Lo serius keterima di Amethys Tech?!" Kasep dengan ternganga menatap Kevin dengan takjub.


"Masuk sana kan susah banget loh! Gue denger, lulusan teknik juga belum tentu jadi pegawai tetap!"


Malam itu mereka sedang nongkrong di cafe internet yang menjadi basecamp mereka.


Kevin hanya tersenyum sambil menekan tuts keyboard gamingnya, menembak semua lawan di depannya.


"Takdir rejeki gue di sana kayaknya, Sep. Gue efektif kerja baru minggu depan, karena seminggu ini kan kita masih sekolah, jadi belum bisa fulltime,"


"Ini sih alamat lu kesenangan mining koin," desis Kasep.


"Tapi tetep aja cuan masuknya ke perusahaan. Kerjaan gue disana ngembangin aplikasi. Software Developer. Presdir juga bilang mungkin ada beberapa aplikasi game dan market place yang bakal Tim kita garap,"


"Harusnya gajinya gede dong? Bisa langsung 30 juta terus ketemuan lagi Tante Nir dong?" sahut Kasep.


"Kayaknya jalan cinta gue masih jauh, bukan soal 30 jutanya, tapi soal traumanya Nirmala. Gaji gue semilyar pun kalo dia masih belum siap, gue nggak bakalan diterima," keluh Kevin sambil menghela napas. "Gue mengendus adanya semacam kontrasepsi,"


"Konspirasi," ralat Kasep.


"Iya itu, kalau gaji 30 juta itu cuma buat mengulur waktu aja. Dia lagi butuh healing sementara gue ngebet ngejar dia," gumam Kevin


"Lu macam om-om kasmaran, Kev. Kayak nggak ada betina lain,"


"Betina? Kesannya apa pun yang jenis kelaminnya cewek walopun itu kucing, gue bisa aja cinlok ye!"


"Ya di mata gue begitu," kekeh Kasep.


"Temen lucknut lo,"


"Itu harusnya kata-kata gue, Kev,"


"Nirmala ada di saat-saat titik terendah dalam hidup gue. Apa itu namanya kalau bukan pertanda benang merah kita saling terikat? Dari semua orang yang gue kenal, kenapa harus dia yang nongki di rumah sakit, coba?"


"Hoo, kalo kebetulan gue yang disana, masa lo juga bakal anggap gue adalah benang merah lu?!" kata Kasep.


Kevin langsung melempar mousenya ke arah Kasep karena langsung teringat Jo. Dia merinding. "Najong!" gerutunya.


"Kacrut! Kenapa sekarang lu jadi sensian sih?!" keluh Kasep sambil menghindar.


"Tau nggak? Di sana itu..." Kevin merendahkan suaranya, "Ada Bis-eks,"


"Hah?!"


"Terus, gue sempet digodain,"


"Haaah!!"


"Akhirnya gue tonjok aja. Tapi terakhir karena Bu Presdir terkesan dengan hasil kerja gue, mungkin si hombreng nggak bakal ganggu-ganggu gue,"


"Eh! Belum tentu! Biasanya yang begitu punya fetish tertentu Kev! Obsesi sama cowok cantik macam lo!"


Kevin tertegun. "Lah, Sep! Dia juga ngomong gitu, kalo gue cantik. Emang beneran gue cantik?!"


"Tampang lo itu mirip banget sama Alm. Bu Bella, versi cowok. Kadang gue suka serem kalo ngeliat lo nyengir soalnya gue aja beranggapan kalo itu-"


"Udah jangan diterusin," potong Kevin cepat. Dia merinding lagi.


"Haha!" Kasep meneruskan memainkan gamenya.


Setelah beberapa lama mereka relaksasi, keluar dari ganasnya realita kehidupan nyata dan masuk ke dunia maya dengan kondisi kalo mati bisa di-reset dan mengulang lagi hidup baru, sambil menunggu Agus datang akhirnya mereka ngopi di teras cafe internet sambil menatap jalanan.


"Kev, ada kerjaan buat gue nggak?" tanya Kasep. "Nggak setinggi lo juga gak papa, gue kan cuma pake ijazah SMA,"


"Nanti gue tanya dulu ya Sep. Kalo setingkat sekuriti atau operator mungkin ada. Tapi lo harus janji,"


"Apa?"


"Jangan ngiri sama gue,"


"Oh, bisa gue usahakan kalo itu,"


"Nggak segampang itu, Sep. Kita udah saling kenal sejak SMA. Lo temen pertama gue di Jakarta. Jadi lo tau borok-boroknya gue. Rasa iri pasti akan selalu ada,"


"Kalo gitu, paling nggak gue keliatan punya kerjaan aja di depan camer deh Kev,"


"Mungkin gue bisa rekomendasiin ke sister company yang lain ya, satu gedung juga sih,"


"Gue mau kerja apa aja asal halal, Kev,"


Kevin hanya mengangguk. Dia memang kemarin sempat berpikiran, alangkah baiknya jika Kasep dan Agus juga bekerja di gedung yang sama bersamanya. Perlahan-lahan bekerja sambil kuliah, mereka menapak ke posisi atas.


"Assalamu'alaikum!" Agus datang dengan motor bebek bututnya.


"Wa'alaikumsalam Pak Haji!" seru Kevin dan Kasep.


"Jamaaaah, Agus Supriyadi telah tibaaaa," serunya riang.


"Bawa apa'an sih?" Kasep fokus ke tas plastik yang ditenteng Agus.


"Jagung, blueband, kuas masak. Sekalian gue mau cerita,"


"Kita bakar jagung nih?!" Kevin langsung berbinar.


"Yoik mamen, gue panggil yang lain dulu ke dalam, mana si empunya warnet gue mau pinjem panggangan,"


"Wuhuuu!" Kevin dan Kasep pun bersorak.