Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Mulai Nyicil Hutang


Hanya selang beberapa detik setelah Kevin keluar dari sana, seseorang mengetuk pintu kamar Wana.


Nirmala, kakaknya, datang dengan wajah kuatir. "Wana?" panggilnya.


"Ya, Kak?" jawab Wana yang langsung menoleh saat mendengar suara itu. Wana memang mengabari tadi malam kalau ia tidak bisa pulang ke kosan sampai pagi. Takutnya Nirmala akan menginap lagi di kosannya.


Ternyata isi pesannya baru dibaca oleh Nirmala pagi ini. Tampaknya Nirmala tidak mampir ke kosan Wana. Barangkali, sudah bisa masuk ke rumahnya sendiri.


"Ya ampun Wanaaaa," Nirmala menghampiri Wana dan langsung memeluknya. "Kok kamu bisa begini sayang? Dan kenapa cuma WA? Kalau mendesak kan kamu bisa langsung telepon kakak!"


"Heeeeemmm, nggak mendesak kok kak,"


"Apanya yang nggak? Kamu ada di rumah sakit! Sebenarnya apa yang terjadi?!"


"Eh? Eeeerrr aku...A-a-anemia?!" Wana bahkan tidak yakin dirinya benar-benar anemia. Mungkin benar yang dibilang Kevin, kalau ia shock. Jadi pasokan oksigen ke otaknya berkurang dan pingsan.


"Kok bisa?! Kan makan kamu banyak!"


"Yaaaaa, mungkin stress kali kak?!" Wana enggan mengatakan insiden yang sebenarnya.


“Stress gara-gara apa sih? Kok sampai masuk ke rumah sakit begini!?” Nirmala terlihat sangat panik.


“Aku sudah tak apa-apa kok, Kak. Lihat, tidak diinfus kan?” Wana berusaha meyakinkan Nirmala kalau semua ini tidak seserius yang disangka.


Tepat pada saat itu, Artha pun masuk ke dalam kamar Wana.


“Ah, ada tamu rupanya,” sapa pria itu sambil menghampiri mereka


Nirmala menatap Artha sambil tertegun. Ia kenal pria ini.


Siapa yang tak kenal dengan konglomerat 12 Naga? Terutama marketing seperti dirinya terbiasa menghafal semua orang-orang berpengaruh di negara ini untuk kepentingan prospek pencapaian target pekerjaan.


“Oh, Pak Arthasewu,” Nirmala mengulurkan tangannya ke arah Artha. Artha menyambutnya dengan hangat namun seperti biasa wajah pria itu datar tanpa ekspresi. “Saya Nirmala Dierja, saya kakak Nirwana,” Nirmala menyerahkan kartu namanya.


Jade Building and Construction, N. Dierja.


“Hm, Bu Dierja? Atau saya panggil seperti Wana memanggil kamu, Mala?’


“Mala saja Pak, Tapi di kantor saya memang dikenal dengan nama Dierja sih, walaupun itu nama ayah saya,” Nirmala menyeringai.


“Padahal nama kamu lumayan bagus,” gumam Artha. “Saya ... “ Artha menatap Wana yang dari tadi tegang melihat mereka berdua berkenalan.


Mereka saling bertatapan.


Dan Wana langsung, “Aku ke WC dulu!!” teriak dan turun dari ranjangnya, lari ke toilet dan mengunci pintunya.


Nirmala langsung menatap ke arah Artha, meminta penjelasan. Artha pun tersenyum penuh arti.


"Silahkan duduk dulu ya Mala," desis Artha sambil mempersilahkan Nirmala duduk di salah satu sofa. Nirmala pun memilih sudut yang strategis agar bisa mendengar penjelasan Artha dengan lebih nyaman.


"Jadi, saya yang membawa Wana ke sini. Saat kami makan malam, dan berbincang, lalu tiba-tiba dia pingsan," Artha berusaha memilih kata-kata yang kira-kira tidak menjatuhkan harga diri Wana.


"Apa betul dia anemia, Pak? Wana anak yang aktif rasanya kok mengada-ada,"


"Anemia hanya diagnosa awal, tapi rasanya memang bukan karena itu," Artha menyeringai merasa tidak enak.


"Jadi?"


"Yaaa, bisa dibilang, lebih ke shock karena saya telah menciumnya,"


"Ha?" gumam Nirmala. "Maaf, bagaimana Pak Artha?!"


"Hehe ..."


*


*


“Bapak... serius Pak? Tidak bisa dipikirkan dengan lebih jernih lagi?” tanya Nirmala ke Artha saat Artha menceritakan mengenai hubungannya dengan Wana, juga kegiatan Wana yang nyeleneh selama ini.


Artha menghela napas dalam-dalam, “Saya sebenarnya juga tidak habis pikir. Seperti tidak ada perempuan lain saja di hidup saya. Kamu tahu? Saya ini sudah banyak sekali pengalaman bercinta, dengan banyak wanita di dunia. Pria single seperti saya selalu menyukai tantangan. Tapi Wana ..." Artha menggelengkan kepalanya seakan dia juga tidak tahu apa yang merasukinya saat memutuskan untuk memiliki Wana.


“... Wana berbeda. Kamu pasti tahu tabiatnya, kamu kakaknya. Dia wanita yang unik dan tidak pernah saya temui wanita semacam itu. Dia seperti menghipnotis dengan segala rajukan dan cemberutnya itu,”


Sosok di depannya ini bukan orang sembarangan. Seorang triliuner terpandang, dan usianya lebih dari 2x usia Wana. Orang awam jarang bisa menemuinya secara bebas.


Tapi barusan, apa yang pria ini katakan?! Bahwa dia adalah pacar Wana?! Batin Nirmala.


“Wow, Pak. Wow. Saya sampai spechless,” gumam Nirmala sambil memegangi jantungnya yang berdebar kencang. Di satu pihak ia beranggapan kalau Artha sebenarnya sakit jiwa karena jatuh cinta ke gadis yang seumuran anaknya. Tapi di lain pihak Nirmala sendiri mengakui sebagai kakak Wana, ia juga sering mengalah kepada kekeras-kepalaan adiknya.


Lalu wanita itu teringat satu hal.


“Jadi dia itu berbohong saat bilang mau pinjam uang untuk ingin cantik! Ternyata itu modal buat jadi ... “ Nirmala memekik tak percaya. Ia bahkan tidak sanggup menuturkan kata-kata selanjutnya.


Dengan emosi, Nirmala ke arah toilet dan menggedor pintunya. “Wana!! Kamu sudah setengah jam di dalam! Kamu sembelit, hah?! Banyak yang harus kamu jelaskan!! Keluar, Wana!!” seru Nirmala kesal.


“Aku malu! Nggak mau keluar sampai Om pergi!!” jerit Wana dari dalam.


“Di toilet banyak kelabang!” Nirmala berusaha menakut-nakuti Wana.


“Bohong! Nggak ada kelabang di rumah sakit!!”


“Tapi di rumah sakit banyak yang meninggal,” gumam Artha. “Toilet kan tempat lembab. Yang begitu-gituan suka tempat yang ...”


BRAKK!!


Wana langsung membuka pintu toilet dengan panik. Benar juga! Pikirnya.


Lalu ia merengut sambil mengusap kedua lengannya yang merinding.


"Ih, anak iniiiii!!" Nirmala menjewer telinga Wana. "Gemas kakak melihat tingkah kamu!"


"Aaaaow! Aku kan khilaf kak! sakit Kaaak!," Wana berusaha mencari alasan.


"Khilaf tuh sekali aja, nggak berhari-hari!" sahut Nirmala sambil melepas jewerannya.


Wana mengusap telinganya yaang perih, "Tapi aku memang berencana untuk balikin duit kakak kok. Tapi duitnya Gwen sudah kepake setengah, gimana dong?" Wana dengan kikuk menyatukan kedua telunjuknya di depan bibirnya sambil memandang Nirmala.


"Ya sesuai janji kamu, kamu harus kembalikan. Kamu bisa mulai melamar pekerjaan untuk mengembalikan uang Gwen. Berapa yang kamu pinjam?"


"Eh, hummm, 50 juta," gumam Wana pelan.


"Astagaaaa Wanaaaaa!" Nirmala sampai bingung harus berbuat apa.


"Di kantor saya ada lowongan pekerjaan untuk fresh graduate," Artha membuka pembicaraan.


Wana dan Nirmala langsung pasang perhatian.


"Eh? Sebagai apa Om?"


"Office Girl,"


"Ih, ngeledek ya!" Gerutu Wana. Tapi beda lagi dengan reaksi Nirmala.


"Nggak apa Pak Artha! Biar dia tahu susahnya cari uang, mulai dari bawah!!" Seru Nirmala.


"Yah, kak! Kerjaku nanti bersih-bersih dong?!"


"Lalu apa masalahnya? Lebih halal dari pada apa tadi? Sugar Baby?! Kakak lebih setuju kamu jadi office girl!"


"Kalau mau, hari Senin bisa ketemu asisten saya, dia akan atur semuanya," Artha menyeringai.


Wana melotot padanya dengan sebal.


"Pokoknya, kakak tak mau membiayai hutang kamu! Kembalikan secepatnya!" sahut Nirmala tegas.


"Aku udah capek-capek ngerawat kulit, ke salon, jaga badan, eeeh ujung-ujungnya kerja bersih-bersih!" gerutu Wana.


Artha hanya menyeringai penuh kelicikan sambil membayangkan kejahilan yang akan dia lakukan terhadap Wana.


Baiklah, kayaknya judul novelnya berubah, Office Girlku, Cintaku.


Author nggak serius, kok. (Serius, cuma bercanda, tapi becandanya serius)