Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 6


Beberapa hari kemudian,


Apa yang baru saja terjadi?


Nirmala tertegun sambil menatap layar komputernya.


Mau menangis, tidak bisa. Mau tersenyum, rasanya sangat berat.


Sudah berhari-hari sejak kejadian tidak mengenakkan di rumahnya, dimana ia berusaha diusir dari rumahnya sendiri oleh keluarga suaminya dengan membawa pelakor berbadan dua, namun rasanya sakit hatinya tak kunjung hilang.


Akal sehatnya bekerja. Di rumahnya hanya ada orang gila.


Dan apakah Nirmala juga gila karena meladeni mereka? Tapi kalau tidak diladeni, kebenaran tidak akan terkuak.


Astaga,


Jantungnya berdebar sangat cepat. Seumur hidupnya Nirmala belum pernah seemosi tadi! Harga dirinya dijatuhkan berkali-kali selama ini, ia masih bisa menahan amarah.


Namun tampaknya manusia biasa sepertinya memiliki batas kesabaran. Hanya Bunda Maria yang kesabarannya tanpa batas.


Dan Nirmala bukan orang suci.


Apa yang ia lakukan saat dengan lancangnya suaminya mengajak pelakor yang sudah terlanjur hamil, tidur di rumah Nirmala? Rumah Nirmala, dengan sertifikat atas namanya dan dibeli sebelum pernikahan terjadi? Sudah pasti dengan mudah bisa ia dapatkan kembali dan keluarga suaminya jadi gelandangan.


Apakah mereka mengerti itu? Hukum Pernikahan semacam itu?


Dan lagi, kenapa selama ini Nirmala mau saja dibodohi? Setelah melihat gambar di ponsel Wana, juga ia bagaikan istri tanpa hati yang mau-mau saja mengabdi untuk suaminya padahal tahu kalau selain wanita hamil tadi, masih banyak wanita-wanita lain di belakang suaminya.


Hanya dengan alasan ‘Keluarga”.


Keluarga macam apa yang menganggapnya pembantu, padahal sudah jelas-jelas makanan yang mereka makan setiap hari adalah dari hasil jerih payah Nirmala seorang?


Selama 9 tahun pernikahan, hanya ini yang ia dapatkan? Rasa sakit hati?


Dan akhirnya setelah tragedi itu dan ia dengan puas mengeluarkan kata-kata sindiran, Nirmala menginap di hotel, bukan di Kost-an Wana lagi, karena tidak ingin mengganggu adiknya. Ia mengerti walaupun terlihat tidak merasa terganggu dengan kehadiran Nirmala di kost-an, namun Nirmala beberapa kali memergoki Wana di antar-jemput dengan mobil mewah.


Wana juga memiliki privasinya sendiri.


Dan saat Wana pingsan lalu dibawa ke rumah sakit, dan Nirmala tahu kebenarannya, sekilas bayangan akan Jaka dan keluarganya memudar.


Nirmala sebenarnya cukup senang dengan hubungan Wana dan Artha. Dan cukup menghibur hatinya melihat tingkah adiknya begitu polos dan bersemangat saat menghadapi Artha yang cenderung dingin dan kalem.


Namun saat sendirian seperti sekarang, lagi-lagi rasa sesak itu muncul.


Apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkannya?


Terus terang saja, Nirmala tidak punya banyak teman. Bahkan bisa dibilang hampir semua orang di kantor ini membencinya.


Prestasi dan wajah cantiknya membuat semua orang curiga.


Dan daya saing antar marketing di perusahaan konstruksi semacam ini sangatlah tinggi.


Walaupun Nirmala tidak seperti marketing lainnya yang menelan insentif untuk dirinya sendiri, Nirmala malah cenderung memberikannya ke Kas Kantor untuk digunakan sebagai tambahan bonus karyawan lain.


Itu saja masih dinyinyiri.


Hari ini saja Nirmala bisa merasakan beberapa pasang mata menatapnya sinis sambil bekerja, dan bisik-bisik di belakangnya karena sudah beberapa hari ini setelan kerja Nirmala yang itu-itu saja.


Karena menginap di hotel dan belum sempat membawa barang-barang dari rumahnya, Nirmala hanya memiliki 3 stel pakaian yang dibeli mendadak. Yang dua untuk kerja, yang satu untuk tidur.


“Bu Dierja,” Presdir PT. Jade Construction And Building, perusahaan tempat Nirmala bekerja, menyapanya dan membuyarkan lamunannya.


“Ah, Pak Danar,” Nirmala langsung spontan berdiri dan menunduk sekilas memberi hormat.


“Baru sekarang saya berkesempatan bertemu ibu, selamat ya bu atas pencapaian bulan lalu. Ibu sudah membantu perusahaan ini dengan maksimal, karyawan lain jadi kebagian rezekinya lewat bonus,”


“Sama-sama, Pak Danar. Saya juga merasa berhutang budi ke perusahaan ini soalnya,”


“Lalu, saya mau bertanya sesuatu, mohon jangan tersinggung,”


“Ya Pak,”


“Baru saja ada order untuk tender masuk dari ... Arthasewu Connor. Katanya atas rekomendasi dari Bu Dierja,”


“Oh, hehe, iya pak,”


Pak Danar menatap Nirmala dengan pandangan menyelidik beberapa saat, “Dia termasuk yang sulit didekati. Bahkan oleh 12 Naga sekalipun. Order besok untuk Pembangunan Opal Apartment, dibawahnya akan terbangun kampus baru Amethys Tech University, nilainya hampir satu triliun,”


Nirmala langsung ternganga.


“A-anuu... berapa pak?” ia tergagap karena tidak percaya pendengarannya.


“Proyeknya keseluruhannya senilai 3 triliun, proyek besar kerjasama dari PT. Opal dan Amethys Corp. Selain itu dari Citrine Company dan PT. Safir Industri juga akan tergabung dalam proyek ini. Terus terang saja, tadinya saya skeptis akan mendapatkan proyek ini karena sudah ditangani 4 perusahaan besar. Namun pagi tadi... “ Pak Danar menggelengkan kepalanya tanda ia pun takjud dengan kenyataan yang ada.


“Pagi ini, susananya gila! Kita dapat jatah paling besar untuk pembangunannya, 1 triliun dari keseluruhan RAB 3 triliun!”


Nirmala terpaku sambil terbelalak. Arthasewu Connor menepati janjinya! Dan dalam waktu yang singkat.


Astaga! Awal bertemu saja ia bahkan ragu orang yang jadi pacar adiknya itu benar-benar Arthasewu Connor! Dan dengan adanya bukti nyata saat ini, ia menjadi amat sangat kaget.


“Puji Syukur, Tuhan,” gumam Nirmala sambil mengelus dadanya yang langsung deg-degan.


“Saya akan pastikan insentif yang Bu Dierja tidak akan diselewengkan, kali ini tolong terima saja yang ditransfer sesuai dengan kebijakan perusahaan, jangan seperti biasanya ditransfer balik ke rekening kami. Itu sebagai wujud terima kasih saya akan jerih payah Bu Dierja. Proyek yang Bu Dierja goal-kan ini akan membuka ratusan proyek lain yang nilainya tidak berbeda jauh. Kalau Bu Dierja mengajukan jadi Manager, mau tak mau langsung saya acc,” Pak Danar menyeringai.


“Ah! Saya sih cukup jadi Kepala Divisi saja Pak, haha,” canda Nirmala.


“Oke, Kepala Divisi Marketing, ya. Berlaku besok,”


“Hah?! Tunggu Pak! Saya kan hanya bercanda!”


“Saya akan anggap serius karena sudah saatnya Bu Dierja dipromosikan. Lagipula saya tidak melihat Kepala Divisi yang sekarang capable untuk mengemban tugas itu. Banyak keluhan dilayangkan atas namanya. Bu Dierja akan menggantikannya menempati posisinya, biar dia saya mutasi saja,” kata Pak Danar.


Menggeser jabatan orang lain bukanlah suatu kebanggaan bagi Nirmala. Yang ada dia malah akan semakin dibenci.


Dan gosip selanjutnya yang beredar, Nirmala Dierja adalah simpanan Arthasewu Connor. (haha!)


*


*


“Cuy! Cuy!” Agus menyenggol-nyenggol lengan Kevin yang sedang menelungkupkan kepala di meja, “Minggu lalu lo jadi seminar di UI?”


“Hemm...” gumam Kevin.


“Lo pilih fakultas apa?”


“Belom tau, tergantung nanti SMBPTN,”


“Tapi seminar kemarin mengenai apa?”


“Pengenalan kampus, muter-muter lokasi nggak jelas,”


“Kok lo dapet jadwal seminar sih? Kita belum ada yang dapet loh,”


“Nggak tahu dan gue bodo amat, Disuruh dateng ya gue dateng,” gumam Kevin masih dengan sleeping mode on.


Ia masih kesal karena dua minggu ini ‘pacarnya’, Motor Sport Honda CBR RR250 warna hitam dengan body seksi bahenolnya, masih di bengkel karena suku cadang yang harus didatangkan dari Negeri Sakura. Kevin merasa, inikah rasanya LDR? Dua minggu tidak mengelus tangki bensin montoknya berasa ada yang kurang di hidupnya! (Anak abege lebaynya memang begini karena masih labil).


"Cek Rambut!!" seru seseorang sambil berlarian ke halaman belakang.


"Kevin!! Bangun Kev! Cek rambut! Anting lo sembunyiin," Agus dengan panik mengguncangkan tubuh Kevin dan ia pun lari mengikuti Kasep.


Kevin?


Hanya membuka matanya sekilas, lalu lanjut tidur.


"Hoi, Kevin! Mana teman-teman kamu, Hah?!" Pak Bonar masuk sambil membawa gunting dan rompi khas barber.


Kevin masih menelungkupkan wajahnya ke meja, ia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk area halaman sekolah.


"Hooo pada lari ke belakang yaaaa," ujar Pak Bonar sinis. Tapi lalu ia berhenti, "Cakra kembar, rambut kamu kepanjangan! Yang lain-lain jadi ikut-ikutan, Nih!" keluh Pak Bonar.


"Heeeeemmmmm," kata Kevin dengan gumaman yang agak panjang. "Hari ini mau gorengan apa pak?"


"Beliin sukun yak!"


"Siap," lalu Kevin lanjut tidur.


Pak Bonar pun berlalu dari kelas mengejar anak-anak yang melarikan diri.


Kenapa Pak Bonar tidak menggunting rambut Kevin? Karena rata-rata nilai Kevin 8,5. Namun karena dia bengal, teman-temannya sering lupa kalau Kevin hokinya besar di nilai.


Bukan karena dia pintar, tapi kebetulan saja dia menyontek di orang yang tepat.


Marisa, si bintang kelas sekaligus ketua OSIS, menunduk untuk mengamati Kevin.


"Kev?" panggil Marisa.


"Heeemmm?" gumam Kevin


"Adek kelas, si Dian, nyariin elu tuh, dia nunggu di depan pintu,"


"Ck," gumam Kevin.


"Terus, gue minta bayaran buat ulangan Bahasa Jerman kemaren. Susah loh niruin tulisan cakar ayam lo!"


"Elaaahh," keluh Kevin sambil mengangkat kepalanya. Lalu ia pun meraih dompetnya di saku belakang dan mengambil 3 lembar uang seratus ribuan dan menyelipkannya di saku depan kemeja Marisa.


Marisa hanya melihat tingkah Kevin dengan senyum dikulum.


Jemari Kevin mulai mesum membelai dada Marisa, dan mencubit gundukan kecil di puncak dada cewek itu dari luar kemejanya yang ketat.


"Fakboi," gumam Marisa.


"Lo usir Dian sebisa lo, sekalian beliin gorengan Pak Bonar. Nanti kita ketemu di perpus, oke?!"


"Siap Boss!" Marisa mengulurkan tangan ke bawah meja dan membelai 'senjata' Kevin dan meremasnya gemas.


Kevin meringis dan menepis tangan Marisa dengan lembut. Lalu melambaikan tangan agar Marisa pergi dan tidak mengganggunya lagi.


Dan Kevin pun meraih tasnya, memeluknya, dan tidur lagi.


Sempat terdengar dari kejauhan Kasep berteriak : "Keviiiinnn! Pengkhianaaaattt!"


"Ck, ntar juga tumbuh lagi... "gumam Kevin malas.


Sekarang pembaca tahu kan kenapa nilai Kevin bagus? Jokinya dimana-mana. Haha.


Pak Guru Kimia datang sambil menenteng bahan praktikum ke kelas. Ia menatap sekeliling kelas.


"Yang cowok belum pada kembali ya?" tanyanya.


"Belum Pak," jawab Kevin sambil menegakkan duduknya. Hanya dia satu-satunya siswa di sana.


"Kamu minggu lalu jadi ke UI?"


"Jadi Pak,"


"Pilih Fakultas Kedokteran dong, kan lebih deket ke Salemba dibanding ke Depok,"


"Saya sukanya main dokter-dokteran Pak," kata Kevin sambil menyeringai.


“Main dokter-dokteran kebanyakan, kayak sekarang akibatnya, beler. Perbanyak makan telur dan keju ya untuk memperbaiki hormon serotonin. Biar mood kamu balik lagi," gerutu Pak Guru Kimia.


"Dimakan pake indomie lebih enak ya pak,"


Pak Kimia hanya mencibir.


Beberapa saat dia menjelaskan mengenai rumus Kimia dan manfaatnya untuk refresh persiapan SMBPTN, Agus dan Kasep kembali ke kelas dalam keadaan botak sambil bersungut-sungut.


"Madekipe!" gumam Kasep Kesal sambil mengebrak meja Kevin. Kevin hanya cengengesan. "Kita nih udah kelas 12 masih aja dibotakin!" sungutnya.


"Kok lu nggak ketangkep Kev?" tanya Agus.


"Pawangnya paten!"


"Pawang apa?"


"Pawang sial,"


"Ini kan hanya urusan birokrasi ajaaaaa, sedikit pelicin urusan beres lah," desis Kevin sambil menaik-naikan sebelah alisnya.


"Begini nih calon legislatif masa depan, pemikirannya mind blowing," gumam Agus.


"Eh, tadi gue liat Dian," bisik Kasep sambil duduk di sebelah Kevin.


"Ngapain dia?"


"Dia digiring Marisa dan anteknya ke wc cewek,"


Kevin tersenyum licik. Marisa menunaikan tugasnya dengan baik.


-----***-----


"Oh gilaaa... Kevin ... Oh!" dada Marisa berguncang-guncang saat Kevin mengerjainya di atas meja perpustakaan sore itu.


Sementara 3 cewek lainnya sibuk menyentuh tubuh mereka sendiri sambil berciuman dengan Kevin bergantian. Tangan mereka berada di area gundukan sensitif Kevin dan meremasnya lembut. Sementara Marisa menaikkan pinggulnya karena telah sampai ke puncak.


Kevin mencabut tubuhnya dan mengganti pengaman dengan cepat, lalu beralih ke cewek yang lain.


Sore menjelang, cowok itu duduk di lantai sambil memeriksa ponselnya.


Kamu pulang jam berapa? Ibu dapat kiriman ayam KFC nih dari Aminah, anaknya Pak Haji Sueb. Mau disisain nggak?


Isi pesan singkat dari ibunya.


Njing lo dimana, Coeg?! Udah ngabisin 2 sesi ini! Mau champion nggak sih lo?!


Isi pesan singkat dari Agus.


Klien hari Rabu Malam Jam 19, istri owner showroom mobil mewah. Sejam 5 juta, minat nggak? Dari Mami.


Kevin menengadahkan kepalanya dan menatap langit-langit perpustakaan.


Kenapa hidupnya terasa hampa?! Begini-begini saja.