
"Ugh!" Sekali lagi sebuah pukulan menghantam perut Farel, sementara kedua tangan Farel dipegang dengan erat. Entah kenapa, ia sama sekali tidak bisa melawan kekuatan dua lelaki yang kini memeganginya. Rasanya urat nadinya mau putus tiap berusaha melepaskan diri. Parahnya, gerak-geriknya selalu ketahuan dan akan langsung dapat sebuah pukulan di perutnya.
"Kayaknya masih kurang, ya?" ujar cowok jabrik itu sambil menyeringai. Farel pun berusaha mengangkat kepalanya dan menatap ke arah cowok jabrik itu.
"Lu ... Se-sebenernya lu siapa?" tanya Farel sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Namun cowok jabrik itu malah semakin melebarkan senyumnya.
"Lu tanya, gue siapa?" Cowok jabrik itu langsung menarik rambut Farel hingga kepalanya tertarik.
"Heh, Culun! Lu gak perlu tahu gue siapa, tapi lu harus camkan perkataan gue ...." Cowok jabrik itu menarik rambut Farel lebih kuat hingga cowok berkacamata itu meringis.
"Lu harus sadar diri! Jauhin Thalia karena lu gak pantas buat dia!"
Sontak mata Farel membulat. Jauhi Thalia? Kenapa? Apa jangan-jangan, cowok ini adalah pacarnya Thalia?
"Kalau lu berani-berani deketin dia, Gue gak akan segan-segan bikin lu lebih babak belur dari ini atau sekalian aja lu ketemu sama Tuhan!" Seketika kedua orang yang memegangi Farel langsung tertawa, begitu juga cowok jabrik itu.
Diam-diam Farel mengeraskan rahangnya. Apa yang lucu dari bermain-main dengan nyawa orang? Andai saja Farel bisa lebih kuat! Jurus yang selama ini ia pelajari sama sekali tidak berguna!
"Oh, iya! Ada satu hadiah lagi dari gue," ucao cowok jabrik itu lagi.
"Hadi—" Tiba-tiba sebuah pukulan kuat menghantam perut Farel hingga ia memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Tepat saat itu dua orang yang memeganginya langsung melepaskan tangan Farel hingga cowok berkacamata itu jatuh tersungkur ke tanah.
"Ayo kita cabut! Biarin aja, si Culun ini di sini, kalau beruntung, paling dia ditolongin, tapi kalau gak, paling juga say goodbye sama dunia, hahaha!" Seketika gelak tawa mereka meledak. Namun, Farel sama sekali tidak bisa apa-apa selain memegangi perutnya yang sakit karena sudah dapat pukulan bertubi-tubi.
...****************...
Semua murid diam sambil menunggu namanya dipanggil karena guru matematika mereka sedang mengabsen.
"Farel Barata Septian!" seru guru matematika mereka, tetapi sama sekali tidak ada yang merespon. Guru matematika mereka memanggil nama yang sama untuk kedua kali sambil memasang matanya. Namun masih tidak ada yang menyahut. Thalia pun berusaha melirik ke bangku Farel yang terletak di belakang, tetapi ekor matanya sama sekali tidak bisa menangkap karena posisi bangku Farel yang jauh.
"Ada yang tahu Farel kemana?" tanya guru matematika mereka, tetapi wajah para muridnya malah terlihat bingung. Thalia pun melirik ke arah Sheilla yang duduk sejajar dengannya, tetapi di dua barisan yang dari bangkunya. Wajah cewek berkulit sawo matang itu juga terlihat bingung. Ini ada yang aneh!
"Tidak ada yang tahu Farel kemana?" tanya guru matematika mereka lagi. Namun murid-muridnya malah menggeleng. Guru matematika itu pun menghela napas kasar.
"Anak beasiswa, sudah tahu bayarannya disubsidi oleh teman-temannya malah membolos! Jangan kalian tiru, ya!" tekan guru matematika mereka yang membuat suasana kelas semakin mencekam, padahal orang yang disindir tidak hadir.
"Nanti akan saya laporkan perilaku Farel ke kepala sekolah!" gumam guru matematika mereka yang ditangkap oleh pendengaran Thalia. Diam-diam tangan gadis cantik itu mengepal. Guru matematika mereka pun melanjutkan absen murid lainnya kemudian pelajaran dimulai.
Hingga jam pulang sekolah, Farel benar-benar tidak.memunculkan batang hidungnya. Selain itu, sama sekali tidak ada kabar ke mana cowok berkacamata itu pergi. Thalia yang kini sedang menunggudi kelas untuk dijemput pun terus memandangi ponselnya. Tangannya sejak tadi terasa gatal mau mengirim pesan untuk menanyai penyebab Farel tidak masuk hari ini, tetapi ia masih merasa bersalah akan kejadian terkahir sebelum mereka tak saling tegur sapa.
"Thalia!" Tiba-tiba sebuah sira peremouan yang agak berat terdengar mendekatinya. Thalia pun menoleh dan malah mendapati Sheilla yang dengan santai duduk di sampingnya. Thalia reflek bergeser.
"Kamu? Kamu mau ngapain lagi? Aku udah peringatkan berkali-kali, Jangan sok akrab, ya! Hiy!" ketus Thalia sambil memutar tubuhnya membelakangi Sheilla.
Sheila hanya mengehla napas.
"Thalia, aku ke sini justru mau tanya ke kamu," ujar Sheilla yang berhasil menarik atensi Thalia. Cewek cantik itupun kembali menghadapkan tubuhnya ke hadapan Sheilla.
"Tanya apa?"
"Uhm, soal Farel," ucap Sheilla dengan tatapan agak khawatir.
Dahi Thalia mengernyit.
"Farel?" Thalia berdehem sambil memalingkan pandangannya.
"Ngapain kamu tanya aku soal dia? Kamu mau main curang dengan dapetin informasi dia dari aku, ya?" tukas Thalia yang kini memicingkan matanya pada Sheilla. "Supaya kamu lebih gampang deketin dia?" tuding Thalia lagi.
Sheilla langsung menggeleng.
"Enggak, kok. Bukan itu!" bela Sheilla.
"Terus?"
"Begini, kamu ... Kemarin kamu dapet SMS dari Farel, gak?" selidik Sheilla yang langsung mengernyitkan dahi Thalia.
"SMS? Dari Farel? Kemarin?" ulang Thalia yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Sheilla.
"SMS ...." Thalia langsung tertegun. Ia ingat, kemarin hampir seharian ponselnya dipegang oleh Marina. Namun Marina tidak mengabari ada pesan yang masuk. Thalia pun memandang Sheilla yang kini juga sedang menatapnya serius.
"SMS ... Kotak masukku dihapus semua," imbuh Thalia dengan suara yang agak bergetar.
"Dihapus semua? Sama siapa? Kamu sendiri?" selidik Sheilla.
"Enggak, sama Marina. Kau minta dia hapus semua pesan dari operator. Karena terlalu banyak makanya dia hapus semua kotak masuk," tutur Thalia agak kecewa. Mereka berdua pun saling pandang.
"Jangan-jangan ...." Mereka berdua langsung kompak menyebutkan kata yang sama.
"Jangan-jangan apa, Shei menurut kamu?" selidik Thalia.
"Uhm, mungkin sama, kalau menurut kamu, apa, Thalia?" tanya Sheilla.
Thalia menghela napas.
"Bisa aja, Farel kirim pesan kemarin dan gak sengaja terhapus sama Marina ...." ucap Thalia seraya menatap sedih ke arah Sheilla. Namun Sheilla hanya mengangguk saja.
'Atau bisa jadi, Marina memang sengaja hapus pesan dari Farel, tapi dia menghapus semua pesan biar gak kentara,' batin Sheilla. 'Tapi aku gak boleh berprasangka buruk. Aku gak boleh menghancurkan persahabatan orang lain,' tekad Sheilla dalam hati.
"Duh, Farel kirim pesan apa, ya? Jangan-jangan ini berkaitan dengan alasan kenapa dia gak masuk hari ini!" panik Thalia, tetapi Sheilla hanya bisa memandangnya iba karena ia tahu isi pesan itu.
Thalia menoleh ke arah Sheilla.
"Gimana ini, Shei? Farel gak pernah kirim pesan ke aku duluan, kalau dia kirim pesan ke aku duluan pasti ada kata penting yang dia ungkapkan ...." Thalia teringat saat Farel datang ke rumahnya tanpa disuruh semata-mata karena ingin menghiburnya. Lantas, kali ini, apa maksud Farel yang mengirim pesan duluan padanya?
Sheilla hanya bisa mengerutkan wajahnya. Dugaan Thalia sangat benar, tetapi dia juga harus tahu apa isi pesan itu.
"Tapi ..." cetus Thalia tiba-tiba.
"Kok, kamu bisa tahu, Farel kirim pesan ke aku?" curiga Thalia. Sontak Sheilla tertegun.
"Uhm, itu ..."
"Jangan-jangan kamu nikung aku duluan, ya? Selama ini kalian selalu main bareng, ya?" tukas Thalia lagi.
"Uhm, e-enggak! Kebetulan, kemarin aku ketemu Farel dan dia minta pendapatku tentang pesan yang mau dia kirim ke kamu, Thalia," ungkap Sheilla jujur.
"Minta pendapat kamu? Kenapa? Kenapa dia harus minta pendapat kamu? Terus, itu berarti kamu tahu, apa isi pesannya? Farel bilang apa di pesan itu?" cecar Thalia seraya menatap lekat-lekat ke mata Sheilla, seolah mencari jawaban di sana.
Namun Sheilla menggeleng.
"Sorry, aku gak bisa kasih tahu itu. Itu privasi Farel," ucap Sheilla.
Thalia langsung memutar tubuhnya menghadap papan tulis.
"Dasar pelit! Emang apa salahnya, sih kasih tahu aku? Lagian Farel kirim pesan itu ke aku! Bukan ke kamu! Jangan Ge-Er, deh! Mentang-mentang Farel sekarang lebih deket sama kamu!" sungut Thalia.
"Uhm, terserah, deh. Yang penting aku udah kasih tahu hal penting ke kamu. Kalau gitu, aku balik duluan, ya!" pamit Sheilla yang langsung beranjak.
"Eh? Kamu mau ninggalin aku begitu aja?" Belum selesai Thalia bicara, Sheilla tahu-tahu sudah keluar dari kelas meninggalkan Thalia sendirian.
"Ugh, dasar!" gerutu Thalia lagi sambil menendang meja. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Tertera nomor supir pribadinya di sana. Namun hal itu malah memunculkan ide di kepala Thalia.
"Wait, kenapa aku gak tanya langsung aja ke Farel? Dia yang kirim pesan, dia pasti tahu isi pesannya! Mumpung gak ada Marina dan yang lain!" seru Thalia.
"That's Right! Itu pasti ide yang bagus!" Thalia langsung berkemas dan keluar dari kelasnya dengan gembira.