
Thalia mengipas-ngipasi dirinya sendiri. Tadi benar-benar situasi yang gawat. Namun sekarang Farel pasti sudah kembali ceria lagi karena seharusnya ia sedang bermain di lapangan dan diteriaki para adik kelas. Thalia menghela napas panjang.
"Padahal nyebelin banget kalau cewek-cewek genit itu mulai caper ke Farel! Lagian, kenapa mereka jadi notice Farel, sih? Apa coba yang bikin mereka suka sama Farelku ..."
"Soalnya Farel sekarang keren, sih ..."
Sontak mata Thalia membulat mendengar suara datar seorang perempuan di belakangnya. Ia pun menoleh dan menemukan sosok gadis berkulit sawo matang yang sedang menatapnya. Dahi Thalia berkerut.
"Apaan, sih? Jangan sok deket sama aku, deh!" ketus Thalia sambil melipat tangannya.
"Dia bilang Farel keren? Ewh ... Jangan-jangan dia suka sama Farel!" gumam Thalia.
"Benar, aku suka sama Farel!" ujar Gadis itu yang ternyata Sheilla yang tiba-tiba sudah duduk di samping Thalia. Reflek Thalia berbalik dan menjauh.
"What? Kamu suka sama Farel? Kamu apa-apaan, sih?" tukas Thalia emosi, tetapi Sheilla malah senyum-senyum sendiri.
"Kenapa, sih, kamu selalu mengincar semua cowok yang aku suka? Pas aku suka sama Kak Alan, kamu suka sama Kak Alan! Pas aku suka sama Farel, kamu juga ngincar Farel! Kamu maunya apa, sih? Mau jadi rival aku selamanya, ha? Kamu pikir kamu pantas?" pekik Thalia di kalimat terakhirnya hingga napasnya terengah-engah.
Namun Sheilla masih senyum-senyum saja.
"Jadi, beneran kamu suka sama Farel? Dari kapan?"
Sontak Thalia tertohok. Apakah Sheilla sedang menjebaknya? Tidak, jadi sebenarnya, Sheilla suka sama Farel atau tidak?
"Maaf, Thalia, aku suka sama Farel sebagai teman ngobrol. Kebetulan, aku sama dia sama-sama suka komik dan anime. Jadi nyambung aja ngobrolnya. Tapi aku gak ngincer dia sama sekali, kok," beber Sheilla santai dengan senyum hangatnya.
Namun senyum Sheilla tidak cukup membuat perasaan Thalia membaik. Gadis itu langsung membuang mukanya.
"Nyebelin!" gerutu Thalia yang malah membuat Sheilla tertawa.
Thalia langsung melototi gadis berkulit sawo matang itu.
"Apa yang lucu? Kenapa kamu ketawa? Kamu ngeledek aku, ya?" sewot Thalia.
Sheilla berusaha mengerem tawanya sambil memandang Thalia.
"Enggak, enggak ... Cuman lucu aja, lihat cewek yang lagi jatuh cinta ..."
Sekali lagi, Sheilla membuat Thalia tertohok. Seketika wajahnya terasa panas.
"Awas, ya! Kamu jangan bilang ke siapa-siapa!" ancam Thalia.
"Emangnya aku mau bilangin ke siapa? Di sekolah ini aku juga gak punya temen," enteng Sheilla.
Thalia misuh-misuh. Mau bagaimanapun, Sheilla adalah rivalnya, bagaimana ia bisa percaya?
"Farel tahu?" tanya Sheilla yang membuat Thalia tersentak. Gadis berkulit putih itu langsung menoleh ke arah Sheilla yang sedang memandang langit.
"Fa-farel ..." Sekali lagi Thalia membuang mukanya.
"Gak mungkin lah dia tahu!" ketus Thalia.
Sheilla langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Thalia sambil mengerjapkan mata.
"Serius? Selama ini?" tekannya.
Thalia melirik ke arah Sheilla sambil mengangguk.
"Emangnya kenapa? Aneh kalau Farel gak tahu?" selidik Thalia.
"Aku kira kalian pacaran diem-diem—"
"WHAT?" sontak Thalia kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sheilla.
"Jangan bilang, kamu yang nyebarin gosip kalau aku sama Farel pacaran?" tukas Thalia, tetapi Sheilla menggeleng.
"Sadar, gak sadar, kelihatannya kalian kayak pacaran. Tapi kalau ditanya, bilangnya enggak, jadi itu dugaan semua orang," jelas Sheilla.
Thalia pun melipat kedua tangannya. Pantas saja Marina bertindak keras. Namun, jika ada gosip begitu, bukankah adik kelas yang genit pada Farel jadi segan? Setidaknya Farel akan aman dari godaan para adik kelas yang kecentilan. Tanpa sadar Thalia malah senyum-senyum sendiri memikirkannya.
"Kamu gak niat kasih tahu perasaan kamu ke Farel?" Tiba-tiba pertanyaan Sheilla langsung membuyarkan lamunan Thalia.
Mata Gadis Cantik itu mengerjap.
"Apa maksud kamu? Ka-kasih tahu? Kamu gila, ya?" tukas Thalia yang wajahnya langsung berubah jadi semerah tomat.
Sheilla langsung melipat mulutnya, berusaha menahan tawa. Kalau dipikir, Thalia ini seperti Alan versi perempuan.
"Iya, Farel harusnya tahu 'kan?"
Bukannya menjawab, tiba-tiba raut wajah Thalia berubah jadi murung.
"Tapi ... Aku takut," ungkap Thalia.
"Takut? Takut kenapa?"
"Gimana kalau cintaku bertepuk sebelah tangan lagi? Kayak sebelumnya sama Kak Alan ..." lirih Thalia.
"Farel bukan Kak Alan," tekan Sheilla yang membuat Thalia tertegun.
Kemudian gadis itu tersenyum.
"Aku tahu ... Tapi sebelumnya, aku udah bersikap jahat sama Farel ..." Thalia memandang telapak tangannya.
"Aku gak tahu, nanti kalau aku bilang tentang perasaanku, kira-kira Farel bakal bereaksi apa? Gimana kalau dia malah ngatain aku? Gimana kalau dia ungkit perlakuan jahatku dulu?" Tiba-tiba suara Thalia bergetar.
"Aku paling takut hal itu terjadi. Mikirinnya aja udah buat napasku sesak ..." Kini Thalia memandang Sheilla dengan matanya yang menggenang sambil mengusap dadanya.
Sheilla pun mengusap pundak Thalia. Melihat gadis di hadapannya yang begitu pilu seolah membuat dirinya ikut merasa sesak. Dibenci oleh orang yang dicintai memang sangat menyakitkan.
"Sabar, ya Thalia ..." ucap Sheilla.
Thalia mengangguk, tetapi tiba-tiba dahinya mengernyit. Ia langsung menatap Sheilla tajam.
"Ke-kenapa aku malah cerita ini semua ke kamu? Kamu sengaja ngejebak aku, ya?" tukas Thalia.
"Eh? Enggak—"
"Terus? Kita bahkan bukan teman! Kamu pasti sengaja mau cari kelemahnku? Kamu mau balas dendam untuk menghancurkan persahabatanku, ya?" tuding Thalia.
Sheilla langsung menggeleng.
"Sumpah, enggak!"
"Terus?" tekan Thalia sambil melotot dengan matanya yang masih basah itu.
"Aku cuman merasa kamu murung pas aku datangin kamu tadi ..." Sheilla bergumam.
"Aku janji, aku akan jaga rahasia ini!" ujar Sheilla sambil melakukan gerakan menutup resleting di mulutnya.
Dahi Thalia mengernyit.
"Beneran?" selidik Thalia yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Sheilla.
"Pokoknya, kalau tiba-tiba ada apa-apa sama perahabatanku, atau tiba-tiba Farel benci aku, aku akan salahin kamu!" ancam Thalia.
"Silakan!" percaya diri Sheilla.
Thalia tertegun dengan jawaban Sheilla, tetapi ia juga tidak bisa memungkiri kalau hatinya ingin mempercayai Sheilla.
"Oke, aku percaya sama kamu. Awas, loh, aku gak akan segan-segan menindas kamu kalau kamu langgar janji!" tekan Thali lagi.
Sekali lagi Sheilla mengangguk.
"Silakan!" tekan Sheilla lagi dengan tatapan lurus ke arah Thalia. Thalia sendiri tidak bisa protes lagi.
...****************...
Thalia pun kembali ke kelas dan langsung mendapati tempat duduk di sebelahnya kosong. Matanya langsung menyisir seisi kelas, ke mana tas Farel? Apakah terjadi sesuatu sampai Cowok Berkacamata itu pulang duluan?
"Thalia!" Tiba-tiba Renata datang dan langsung merangkulnya. Di belakang Renata diikuti Vannessa dan Marina.
"Ka-kalian?" heran Thalia.
"Thalia ... Semester ini, duduk sama gue, yuk!" ajak Vannessa manja.
"Hah? Duduk sama kamu?" ulang Thalia sambil diam-diam melirik Marina yang membuang mukanya. Gadis berwajah oriental itu pasti masih agak kesal karena Thalia tampar tadi pagi.
"Iya, daripada duduk sama si Culun! Mending lu duduk sama Vannessa!" sahut Renata lagi.
Dahi Thalia mengernyit.
"Daripada ..." Thalia langsung melepas rangkulan Renata dan memandang satu per satu sahabatnya.
"Jadi kalian yang pindahin tempat duduk Farel? Farel sekarang dimana?" tanya Thalia sambil mencari sosok Cowok Berkacamata itu di kelas, tetapi ia tak menemukannya.
"Udahlah, Thalia! Lu ngapain, sih masih cariin dia?" ketus Marina yang akhirnya angkat bicara.
"Iya ..." Vannessa tiba-tiba memeluknya.
"Sahabat lu 'kan kita! Gue kangen banget sumpah, selama satu tahun gak duduk bareng lu ..." manja Vannessa.
Thalia pun terdiam. Hatinya kini terasa gatal, mulutnya seolah ingin berteriak bahwa ia ingin duduk sebangku dengan Farel sekarang atau bahkan nanti. Setidaknya, dengan begitu, ia bisa secara perlahan memberi tahu perasannya pada Farel.
"Kalau lu mau tetap sama dia, mending lu gak usah sahabatan lagi sama kita!" ancam Marina yang langsung membuat sekujur tubuh Thalia merinding. Bagaimana bisa hal itu terucap dari mulut seorang Marina?
"Iya, lu pilih dia atau kita!" tekan Renata yang membuat Thalia memandang sahabatnya itu satu per satu.
"Gue sedih banget kalau Thalia lebih milih Cowok Gak Berguna itu!" sinis Vannessa yang membuat dada Thalia sesak.
Apakah ia harus mempertaruhkan persahabatannya demi perasaannya pada Farel?