
Dahi Farel mengernyit, ia tidak perlu melihat wajah tampan seorang Alan, ia sudah sangat hapal dengan suaranya. Farel pun melangkah mundur untuk menghindari kakak kelasnya itu.
"Kenapa? Lu takut?" selidik Alan sambil mengangkat dagunya.
"E-enggak, Kak ... ta-tapi ma-maksud Kak Alan apa?" panik Farel. Setahunya Alan ini sedang didekati oleh Thalia, jika kakak kelasnya ini mendengar ucapannya barusan, jangan-jangan nanti akan diadukan pada Thalia. Bisa habis dirinya!
Alan berjalan mendekati Farel.
"Tadi lu barusan mengumpat 'kan? Lu mau hancurin 'mereka'. Iya 'kan?" jelas Alan.
Farel bahkan tak berani mengangguk atau mengiyakannya, ia hanya diam terpaku saja.
"Tenang ... Farel Barata Septian. Itu nama lu 'kan?" ujar Alan.
Baru lah kali ini Farel berani menganggukkan kepalanya.
"Jujur, gue aja dengernya tadi eneg banget, pas cewek tadi nuduh lu suka sama Thalia," ungkap Alan sambil geleng-geleng kepala.
"Kayak Thalia itu cewek paling cantik aja sampai mau muntah gue dengernya!"
Farel membulatkan matanya, tak menduga keluhan batinnya bisa diucapkan oleh seoramg Alan yang sama sekali tidak punya masalah dengan Thalia.
"K-kak ... Kak Alan gak berusaha sedang menjebak saya 'kan?" duga Farel yang refleks menutup mulutnya.
Tatapan Alan berubah seketika menjadi sinis pada Farel.
"Men-je-bak?" ulang Alan agak menekankan kemudian malah tertawa.
"Lu kebanyakan nonton sinetron, ya?" tukas Alan.
Farel terkesiap, ia tidak suka menonton sinteron, tapi kadang ikut saat Sang Mama sedang melepas penat.
"Y-ya ... sa-saya belajar da-dari perlakuan Thalia dan kawan-kawan ..." bela Farel.
Alis sebelah Alan naik mendengar ucapan adik kelasnya itu.
"Waw ... Mereka ternyata kasih hal positif juga ke elu, ya?" ujar Alan takjub.
"Ehm! Ka-kak Alan mau apa? Ke-kenapa tiba-tiba muncul dan bilang begitu?" tanya Farel bingung.
"Enggak, gue cuman kesel aja karena ngeliat lu yang teralu lemah!" hardik Alan yang membuat Farel terkesiap. Lelaki itu langsung menurunkan bahunya sembari menunduk.
"Biasanya pem-bully-an itu, cowok ke cowok, atau cewek ke cewek atau cowok ke cewek. Tapi elu? Cih, malah di-bully sama cewek! LEMAH!" ujar Alan menekankan kata terkahirnya.
Farel hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menggeram.
"Udah gitu, gak pernah berusaha melindungi diri. Cih, lu itu cuman anak subsidi, bukan anak lemah!"
"Diam!" dingin Farel.
Alan pun menoyor kepala Farel.
"Heh, lu berani sinis sama gue? Lu mau ngelawan gue? Yakin?" Alan terkekeh.
"Ngelawan cewek aja gak mampu, sok mau ngelawan gue?" Alan geleng-geleng kepala.
"Yang ada, lu hancur se-hancur-hancurnya gak tersisa!" Alan kemudian mengangkat dagu Farel yang ternyata sedang menahan amarahnya hingga wajahnya memerah dan menatap Alan tajam. Napasnya juga terengah-engah karena emosi yang siap meluap.
Sekarang Alan menatap adik kelasnya dengan dingin sembari menjepit kedua rahangnya.
"Harusnya, lu nunjukin mata penuh amarah ini ke mereka yang udah nindas lu!" tegas Alan kemudian melempar wajah Farel.
"Jangan jadi pengecut yang cuman bisa ngedumel. Lu itu cowok!" tegas Alan lagi kemudian pergi meninggalkan Farel sambil tersenyum licik.
Sementara Farel mengepalkan tangannya. Ucaoan Alan seolah menusuk jantungnya hingga membuat dadanya sesak. Ia memang tahu bahwa dirinya harus melawan ketika ditindas, tetapi dia tidak punya daya apapun.
"Tunggu!" Tiba-tiba Farel menyadari sesuatu.
"Dari mana Kak Alan tahu gue ditindas cewek? Bukannya kemarin dia lihatnya gue ditindas Kak Aldo dkk?" gumam Farel.
"Ah, konyol! Ini pasti jebakan! Kalau gue bertindak gegabah, yang ada gue malah bakal nambah masalah!" ujar Farel berusaha berpikir jernih.
"Meskipun kenyataannya agak miris," ujar Farel.
Farel menaiki anak tangga karena kelasnya ada di lantai 3. Namun belum sempat ia sampai di lantai 3, tiba-tiba ada siswi kelas VIII yang mencegatnya.
Farel langsung was-was, apakah jumlah perundungnya akan bertambah. Lelaki itu pun mengangkat kepalanya sambil memandang satu per satu siswi kelas VIII itu.
Salah satu dari mereka kemudian mencolek dagu Farel.
"Hey, kamu siapa? Boleh tahu namanya, gak?" genitnya membuat mata Farel membulat.
"Ih, Sandra, genit, deh sama adek kelas!" goda salah satu temannya.
"Ih, bodo. Lagian yang digodain juga manis," ujar siswi kelas VIII itu yabg disebut Sandra.
"Eh, kayaknya gue baru lihat lu di sini ... Nama lu siapa? Kok bisa, sih semanis ini?" tanya Sandra sambil mengedipkan sebelah matanya pada Farel. Sontak Farel menunudukkan kepalanya.
"Uhm, maaf, Kak ... Saya permisi dulu." Farel hendak pergi, tetapi langsung dicegat oleh kawanan siswi kelas VIII itu.
"Mau kemana, sih manis?" goda Sandra lagi sambil mencubit pelan pipi Farel yang tidak temebem.
"Ma-maaf, Kak ... ta-tapi saya harus ke kelas," ujar Farel agak memohon.
"Ih, malu-malu! Makin gemesin, deh!" sahut Sandra yang malah mencubit pioi Farel dan mencolek dagunya.
"Kak—"
"Farel!" Tiba-tiba ada seorang gadis yang meneriaki namanya. Farel hapal betul suara itu.
'Haduh, bisa jeluar dari kandang buaya betina, tetapi langsung diterkam sama singa betina!' keluh Farel dalam hati.
"Farel? Nama dedek gemes Farel?" tabya Sandra lagi yang langsung disahuti oleh teman-temannya.
"Farel, ke sini, gak!" bentak gadis itu alias Thalia yang juga hendak naik ke atas.
"Ma-maaf, Kak ... permisi!" sahut Farel langsung kabur menerobos siswi kelas VIII di depannya kemudian menghampiri Thalia.
"Ih, sombong banget. Tapi gemesin," ujar Sandra yang akhirnya kembali ke kelas bersama teman-temannya.
Sementara itu, tepat saat Farel menghampiri Thalia, gadis cantik itu langsung menjewwr telinganya.
"Argh! Thalia! Sakit!" rintih Farel spontan.
"Lagian, salah sendiri! Ngapain genit-genit ke kakak kelas! Ewh!" omel Thalia.
"I-itu mereka yang cegat gu— maksudnya, mereka yang cegat aku!" bela Farel.
"Padahal udah aku bilang, kamu harus nunduk! Kenapa kamu angkat kepala kamu? Mau tebar pesona?" tukas Thalia.
"Bu-bukan? La-lagian, siapa yang mau tebar pesona? A-aku juga gak cakep-cakep amat!" ujar Farel berusaha membela dirinya dengan merendahkan diri sendiri.
Namun Thalia malah menarik telinganya semakin keras.
"Thal!" jerit Farel reflek.
"Pokoknya aku gak mau tahu! Habis pulang sekolah, kamu harus ikut aku! Gak ada penolakan! Gak ada alasan!" kesal Thalia.
"Tapi, Thal—"
"Kamu gak denger aku bilang tadi? Perlu aku teriak di kuping kamu biar denger?" ancam Thalia.
"Enggak-enggak! Jangan!" ujar Farel buru-buru.
"Iya-iya, aku ikut kamu!" Akhirnya Farel menyerah juga.
"Awas kamu berani ngelawan aku lagi! Gak akan aku kasih ampun!" ancam Thalia lagi lalu menyeret Farel sambil menarik telingnya.
"Thalia, sakit ini!" Namun Thalia tak menggubrisnya.
Diam-diam Farel merasa miris.
'Bener kata Kak Alan, ngelawan Thalia aja gak berani, apa lagi ngelawan Kak Alan. Ugh! Gue gak mau jadi pengecut!" Kini hatinya mulai bergejolak.
***