Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Si DOI (Dia Orang Istimewa)


"Thalia!" tegur Vannessa lagi yang membuyarkan lamunan Thalia. Sontak, gadis cantik itu memandang sahabatnya satu per satu.


"Uhm, ka-kayaknya, aku gak enak badan, deh," sahut Thalia yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari ketiga sahabatnya. Ketiga sahabatnya itu saling pandang.


"Lu sakit, Thal?" khawatir Vannessa.


Thalia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Aku ke UKS dulu, ya," sahut Thalia yang langsung berdiri.


"Lu perlu gue anter, Thal?" tawar Vannessa yang langsung mendapat gelengan kepala Thalia.


"A-aku bisa sendiri," tolak Thalia. Dia pun langsung meninggalkan ketiga sahabatnya yang hanya bisa menatap kepergian Thalia.


Selepas Thalia pergi Renata langsung melirik kedua sahabatnya.


"Woy, kalian merasa sikap Thalia aneh, gak, sih?" curiga Renata.


"Iya! Thalia aneh banget. Terus, tadi dia kayak setuju gitu sama omongan Sheilla!" adu Vannessa.


Dahi Marina mengernyit.


"Setuju sama omongan Sheilla? Omongan yang mana?" cecar Marina, tiba-tiba jantungnya berdebar.


"Itu, yang pas si The Beast belain si Culun. Aneh banget," beber Vannessa lagi.


Mata Marina melebar.


"Belain si Culun?" gumamnya.


"Hah? Lu gak salah denger, Nes?" sahut Renata.


Vannessa menggeleng.


"Enggak! Gue gak mungkin salah!" kukuh Vannessa.


"Lagian, Thalia juga ngakuin sendiri, kok kalau omongan si The Beast bener. Aneh banget, 'kan?"


Dahi Renata juga mengernyit.


"Kayak bukan Thalia banget. Dia makin ke sini, kok makin beda sama kita," gumam Renata yang tertegun


"Tadi!" serunya yang menarik atensi kedua sahabatnya.


"Tadi, pas kita lagi ingetin temen-temen kita tentang kelicikan Farel, dia juga diam aja," cetus Renata yang kali ini membuat mata Marina melotot.


'Aku lagi deket sama cowok!'


Tiba-tiba Marina teringat dengan pesan yang Thalia kirim padanya beberapa hari yang lalu. Namun gadis berwajah oriental itu menggeleng.


"Gak! Gak mungkin cowok itu Farel!" kilah Marina sambil bergumam.


"Lu bilang apa, Mar?" sahut Renata yang membuat Marina membeku. Gadis itu mengerjapkan matanya sambil melempar senyuman.


"Enggak! Gak penting, kok," sahut Marina. Vannessa dan Renata hanya mengangguk-angguk saja.


"Udah, ah! Mending kita habisin makanannya terus ke perpus, yuk! Belajar," ajak Vannessa.


"Ide yang bagus!" timpal Renata. Sementara Marina hanya terdiam.


'Gue harus memastikan sendiri, siapa cowok yang lagi deket sama Thalia. Jangan sampai cowok itu adalah si Culun menjijikan itu!' tekad Marina.


...****************...


Setelah menghabiskan siomaynya, Farel pergi ke pinggir lapangan. Di sana ia langsung disambut oleh beberapa teman sekelasnya yang sering mengajak bermain di lapangan.


"Woy, Rel! Lu ikut?" sahut Hans yang langsung menyambut kedatangan Farel sambil memberikan tinju kecil di pundaknya.


"Ikut, lah. Kenapa gue gak ikut?" timpal Farel yang langsung mengambil bola basket dari temannya yang langganan main di lapangan.


"Lah, lu bukannya lagi berduka? Lu gak apa-apa main sama kita?" khawatir si Anak Lapangan. Farel menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Gue udah ikhlas ...." ucap Farel.


Teman-temannya langsung saling pandang. Jelas senyuman yang Farel tunjukkan bukan senyum bahagia, melainkan senyum pahit.


"Rel ...." sahut Hans.


"Dari dia?" Hans menekankan.


"Gue baru tahu kalau lu punya doi, Rel," tekan si Anak Lapangan.


"Hah? Doi? Doi apaan, sih? Gak ada!" panik Farel.


"Ya, terus, si dia itu siapa kalau bukan doi?" selidik Hans.


"Uhm, dia ... Dia itu ...." Lidah Farel kelu ketika matanya malah tak sengaja menangkap sosok Thalia yang sedang memandangnya tak jauh dari lapangan.


'Thalia? Kok dia ada di sini?' panik Farel dalam hati. Namun lamunannya buyar ketika Hans langsung merangkulnya.


"Siapa si dia yang udah kasih lu semangat biar gak sedih lagi, kasih tahu, dong! Cantik, gak orangnya?" sahut Hans dengan suara yang begitu lantang. Bukannya menjawab, atensi Farel langsung beralih pada Thalia yang kini memalingkan wajahnya. Pasti gadis itu mendengarnya!


"Woy, Rel!" Hans malah mengacak-acak rambutnya.


"Uhm, i-itu ...." Tahu-tahu saat Farel menoleh ke arah tempat Thalia berdiri, sosok gadis cantik itu sudah menghilang.


"Itu-itu apa? Jangan-jangan, lu udah punya oacar, ya? Siapa orangnya? Kayaknya gak mungkin dari sekolah ini, deh," sahut si Anak Lapangan.


"Iya, denger-denger, lu ikut kelas bela diri, 'kan? Cewek barbar mana yang jadi cewek lu?" cecar Hans lagi.


"Duh, gue gak punya pacar dan doi. Cewek itu—"


"Jadi beneran cewek, ya?" potong Hans.


Si Anak Lapangan malah cekikikan.


"Padahal dari tadi, kita gak tahu, 'dia' yang support lu itu, cewek apa cowok, loh!"


Mata Farel membulat. Dia terjebak!


"Siapa? Apa jangan-jangan si Sheilla? Denger-denger, dia belain lu ta—"


"Gak mungkin!" sahut Farel memotong ucapan Hans. Mana mungkin dia dan Sheilla punya hubungan begitu! Itu sama saja dia mengkhianati Alan.


"Lah? Biasa aja, Rel!" ujar Hans sambil melepas rangkulannya.


"Lagian lu aneh-aneh aja. Gue sama Sheilla cuman temen. Gak lebih, gak kurang," jelas Farel lagi yang sempat kena spot jantung.


"Ya udah, pokoknya, kalau misalnya lu udah jadian sama cewek itu, jangan lupa, PJ! Pajak jadian, haha!" gurau Hans.


Farel hanya terkekeh.


"Pacaran? Mana ada itu di kamus gue, haha!" kekeh Farel sambil meninjunpelan pundak Hans.


"Ya udah, jadi main, gak, nih?" sahut si Anak Lapangan.


"Ayok! Gue udah siap, nih!" seru Hans.


"Uhm, gue skip dulu, ya, Bro. Gue ada urusan," ujar Farel tiba-tiba. Seketika kedua teman lapangannya itu memicingkan mata.


"Lah? Gak jadi main lu?" sahut si Anak Lapangan.


"Uhm, gue—"


"Lu mau ke kantor guru, Rel? Bukannya, tadi lu udah ketemu sama walas buat ambil uang sumbangan pas bel istirahat?" tanya Hans.


"Iya, sih, udah. Tapi gue ...."


"Jangan bilang, lu mau ketemu doi lu, ya?" tebak Hans yang membuat Farel terhenyak.


"A-apaan, sih? Doi apaan? Bukan!" panik Farel sambil garuk-garuk belakang kepalanya.


Sontak tawa kedua temannya meledak.


"Ya udah, sana! Nanti cewek lu ngambek lagi," kekeh Hans.


"Iya, jangan sampe tuh, cewek lu nyalahin kita," geli si Anak Lapangan.


"Duh, padahal gue udah bilang berapa kali ..." gumam Farel yang masih garuk-garuk belakang kepalanya.


"Ya udah, deh! Gue cabut dulu, ya! Besok gue janji, gue gabung. Dah!" Farel langsung pergi meninggalkan lapangan, sementara kedua temannya melambaikan tangan.


Farel pun segera pergi ke kelas. Harusnya, Thalia pergi ke kelas, 'kan? Semoga saja, Thalia sendirian di sana. Jadi, ia bisa bebas bicara dengan gadis itu.