
"A-anak ridwan? Maksud Ibu, bayi ini anak Ridwan—Suami sa—"
"Ya, iyalah, Ridwan mana lagi? Saya ke sini juga karena saya tidak dapat bagian harta warisan suami kamu, padahal putri saya jelas istrinya juga!" cicit wanita tua itu agak sinis. Farel sekali lagi terkesiap mendengar ucapan waniat tua itu hingga ia mengepalkan tangannya.
"Coba kamu bayangkan, kalau saya tidak dapat bagian warisan, saya mau beli makan anak ini pakai apa? Saya juga sudah susah di sana ...." melas wanita tua itu sambil mengelus dada.
"Saya rela menikahkan putri saya meskipun jadi istri kedua juga karena Ridwan janji mau membiayai kebutuhan kami semua, tapi apa? Dia malah bawa putri saya jalan-jalan sampai merenggut nyawa! Padahal sudah saya bilang, ke sana bahaya! Itu sama saja dia sudah membunuh putri saya! Malah saya tidak dapat ganti rugi apa-apa!" sungut wanita tua itu. Farel diam-diam mengeraskan rahangnya. Tidak, ayahnya bukan orang seperti itu. Ayahnya bukan pembunuh!
"Jalan-jalan?" ulang Mama Farel seraya mengangkat kepalanya dan menatap wanita tua itu lekat-lekat.
"Suami saya meninggal karena pekerjaan. Bukan jalan-jalan, Bu!" Seingat Mama Farel, sang Suami izin untuk menyebrang laut untuk pekerjaan. Pasti wanita tua ini salah orang. Farel juga ikut mengangguk sambil menatap wanita tua itu, oa ingat, itu yang ayahnya katakan terakhir berkomunikasi dengannya!
"Halah! Itu alasan dia doang. Ternyata selama ini dia sudah dibohongi kamu! Sama seperti saya dan putri saya!" ketus wanita tua itu. Farel tersentak, ayahnya telah membohonginya dan Mamanya? Namun, kenapa?
"Enggak, ini gak mungkin. Suami saya tidak mungkin bohong!" Tiba-tiba suara Mama Farel meninggi, membuat tangisan bayi di gendongannya semakin kencang.
"Sudah, saya malas kalau berdebat dengan kamu, ya! Lagian, urusan saya sudah kelar. Oh, iya, ini beberapa dokumen anak itu. Selanjutnya, tolong kamu yang urus, ya!" ujar wanita tua itu sambil mengeluarkan sebuah map lain dari tasnya.
"Tapi, Bu .... Saya tidak menyetujui untuk merawat anak ini!" ujar Mama Farel menolak dokumen itu, tetapi wanita tua tersebut malah lepas tangan hingga map tersebut jatuh begitu saja di lantai.
"Saya tidak peduli, ya! Terserah, setelah ini, anak itu mau kamu apakan! Pokoknya, saya tidak bisa urus! Masih untung, keluarga kamu tidak saya tuntut!" ujar wanita tua itu lagi yang beranjak dari tempat duduknya.
"Bu, tapi—" Mama Farel mau mengejarnya, tetapi tangisan bayi di dalam gendongannya semakin kencang.
"Sudah, ya! Saya permisi!" Wanita tua itu langsung menyelonong pergi. Tepat saat pintu tertutup, tubuh Mama Farel membeku. Farel yang mendapati itu segera menegur Ibunya.
"Ma ... Mama, sekarang bagaimana?" tanya Farel dengan suara berat karena berusaha menahan segala gejolak emosi yang ia tahan sejak tadi.
"Bagaimana?" lirih sang Mama yang menoleh dan menunjukkan wajahnya yang telah dipenuhi derai air mata, membuat hati Farel berdenyut.
"Mama ...." Air mata sang Ibunda seolah memancing sebuah bulir bening menetea dari sudut mata Farel. Tidak, di saat begini, ia tidak boleh menangis!
Sang Mama berdiri sambil menyerahkan bayi yang mungkin masih berusia enam bulan itu ke Farel. Farel sempat kagok menerima bayi tersebut, pasalnya, ia tidak pernah me ggendong bayi, tetapi sang Mama menuntunnya.
"Urus bayi ini!" perintah sang Mama.
"U-urus? Urus bagaimana, Ma?" bingung Farel.
"Kamu bawa saja ke Panti Asuhan!" suruh sang Mama yang membuat mata Farel membulat. Ia menatap bayi perempuan yang masih menangis itu.
"Mama, tapi—"
"Mama tidak sudi .... Mama tidak sudi mengurus anak dari selingkuhan Ayahmu!" Suara sang Mama yang memekik bagaikan suara sambaran petir di telinga Farel.
"Mama!" sontak Farel malah membentak ibunya sendiri.
Farel menggigit bibir bawahnya. Ia tahu, ayahnya salah, tetapi entah kenapa ia tidak mau mengakuinya. Ayahnya bukan orang yang seperti itu! Pelita hidupnya tidak mungkin mengkhianatinya. Alhasil air mata mulai membasahi wajah Farel karena ia menahan segala gejolak emosinya. Ia ingin marah, tetapi tidak mungkin ia membentak ibunya lagi, terlebih bayi di dalam gendongannya terus menangis.
"Sudah, ya! Mama mau istirahat! Pokoknya, ketika Mama bangun nanti, bayi itu sudah tidak ada di rumah ini!" ujar sang Mama yang langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Farel sendirian.
...****************...
Thalia mendengar dengan seksama cerita Farel. Sejak awal ia mendengarnya, dadanya sudah terasa sesak. Bagaimana mungkin para orang tua itu tidak ada yang mau bertanggung jawab pada bayi mungil ini? Thalia pun memandang bayi yang masih menangis itu kemudian menatap Farel lekat-lekat.
"Lalu, apa kamu sudah membawa bayi ini ke panti asuhan?" tanya Thalia yang langsung dijawab dengan gelengan oleh Farel.
"Aku ... Aku gak sanggup, Thalia .... Aku ... Aku dilema," ucap Farel sesenggukan.
"Di satu sisi, aku marah. Sangat marah pada Ayahku. Kenapa Ayah bisa mengkhianatiku dan Mamaku ..." Farel menatap Thalia dengan matanya yang menggenang. Thalia terkesiap, entah kenapa kisah Farel mirip dengannya. Namun, selingkuhan Ayah Farel memiliki nasib yang berbeda.
"Tapi, di sisi lain, aku kasihan pada dia ...." lirih Farel sembari memandang bayi mungil yang wajahnya sudah semerah tomat karrna terus menangis.
"Aku sudah berusaha menenangkannya, tetapi dia terus menangis, mungkin dia sama sedih dan bingungnya denganku, Thalia ..."
Thalia mengelus kepala bayi itu.
"Bedanya, dia sudah harus menghadapi semuanya di usia sekecil ini," lanjut Thalia yang kembali menatap Farel.
"Sekarang kamu ngerti, 'kan kenapa aku gak sanggup serahin dia ke Panti Asuhan?" imbuh Farel yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Thalia.
"Maaf, Thalia. Aku ke sini sambil bawa masalah. Sejujurnya aku bingung harus menceritakan ini ke siapa. Di otakku cuman ada kamu karena mungkin kamu akan mengerti posisiku ...." beber Farel.
"Oke, Farel. Sebaiknya, kita pikirkan ini bersama-sama ...." tutur Thalia.
"Den, Farel, mungkin Bibi bisa bantu tenangin adik bayinya," seru Bibi. Farel pun menyerahkan bayi itu pada Asisten Rumah Tangga Thalia. Bibi menimang-nimangnya, hingga perlahan tangisan bayi itu mereda.
"Wah, Bibi hebat! Ajarin Farel, Bi!" seru farel takjub.
"Nanti Bibi ajarin, ya," sahut Bibi.
"Ya udah, Bi, mendingan sekarang, Bibi antar Farel dan adik bayi ke kamar Thalia, ya. Jangan sampai ketahuan teman-teman Thalia. Nanti Thalia minta mereka cepat pulang, toh ini udah menjelang maghrib juga," usul Thalia.
"Siap, Non!"
"Thalia, thanks, ya," ujar Farel.
"Iya, ya udah, sana cepetan—"
"Thalia!" Tiba-tiba terdengar suara Marina dari belakang Thalia, membuat gadis cantik itu membeku. Thalia pun menoleh ke belakang.