Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Perasaan yang Aneh


Selama perjalanan berlangsung, Farel masih berusaha membaca tulisan yang ada di papan tulis dengan menyipitkan matanya. Belum sempat ia menyalin semuanya, tiba-tiba Pak Rusli sudah menghapus semuanya.


"Ya ampun!" keluhnya yang merebut atensi Thalia.


"Bisa diem, gak, sih? Berisik banget dari tadi!" keluh Thalia.


"Ma-maaf, Thalia ... Gu—ehm! Maksudnya aku gak kelihatan tulisannya ..." timpal Farel.


Ia pun melirik ke arah buku tulis Thalia yang sepertinya penuh dengan catatan, meskipun penglihatannya buram.


"Uhm, a-aku boleh lihat catatan kamu, gak? Kalau dari deket, bisa lebih memudahkan aku," mohon Farel.


Namun Thalia malah menarik buku catatannya.


"Enak aja! Aku yang nulis dan susah-susah nyalin, kamu enak aja nyontek! Ogah!" sinis Thalia lalu memunggungi Farel.


"Ya-ya udah, deh ..." Farel hanya bisa pasrah. Ia berusaha membaca buku cetaknya, siapa tahu materinya tidak teralu jauh.


"Eh, ternyata muka Farel, tuh kalau gak pake kacamata lumayan, yah?"


Sekali lagi telinga Thalia terusik dengan ucapan beberapa siswi di kelasnya. Ia pun mencari asal suara dan menatapnya sinis. Beberapa gadis itu pun langsung berhenti memerhatikan Farel.


"Farel!" seru Thalia. Farel pun menyahutinya.


"Pokoknya, selama kamu gak pakai kacamata, kamu gak boleh mengangkat kepalamu! Kamu harus nunduk terus!" perintah Thalia.


"Ta-tapi—"


"Ingat janji kamu!"


"I-iya." Farel tak bisa berkutik. Lelaki itu pun hanya bisa menghela napas. Sulit sekali posisinya sekarang.


Setelah pelajaran selesai, anak-anak langsung berhamburan. Begitu juga Thalia yang menghampiri Vanessa.


"Nes, kamu gak apa-apa?" ujar Thalia yang duduk di bangku lamanya. Sang pemilik bangku sedang asyik bermain di belakang kelas.


Vanessa pun memeluk Thalia.


"Iya, gak apa-apa, tapi gue sedih aja. Terus tadi my bebeb sempet marah-marah nyalahin gue." Vanessa yang sudah berhasil menghentikan tangisnya pun kembali menangis karena pertanyaan Thalia.


Thalia hanya bisa mengusap-usap punggung sahabatnya.


"Gue gak mau putus sama Kak Aldo. Sumpah, gue sayang banget sama dia," lanjut Vanessa sambil sesenggukan.


"Enggak akan, Nes ... Kak Aldo juga sayang banget sama lu. Gak mungkin dia ninggalin elu," hibur Renata teman sebangku Vanessa sambil mengusap-usap punggungnya.


Vanessa hanya bisa menangis dan mengadu pada teman-temannya. Thalia jadi agak merasa bersalah, harusnya ia tidak menyetujui usulan Vanessa kalau begini jadinya. Namun sudut matanya terusik oleh Sheilla yang menghampiri Farel dan duduk di bangkunya.


'Apaan, sih Thalia! Udah, bodo amat yang mau dilakuin si cewek jelek itu! Sekarang temen kamu lagi butuh kamu!' sahut Thalia dalam hati. Ia pun berusaha mengabaikan meskipun hatinya berkata lain.


Sedangkan Sheilla duduk di bangku Thalia, Farel yang kaget sontak menundukkan kepalanya.


"A-ada apa, Shei?" Meskipun Farel tahu Sheilla adalah milik Alan, tetapi perasaan yang sempat singgah di hatinya untuk gadis ini masih belum hilang semua.


"Ta-tadi ... kamu baik-baik aja? Gak diapa-apain sama Kak Alan?" tanya Sheilla.


Farel tertegun. Lelaki itu pun tersenyum.


"Enggak, kok. Kak Alan malah nyuruh aku obatin luka," jawab Farel sambil menyentuh pipinya yang diplester.


"Bagus ... Dia emang suka gitu," sahut Shei, Farel pun diam-diam melirik wajah Shei yang sedang membicarakan Alan. Lelaki itu tertegun, raut wajah gadis itu terlihat hangat daripada sebelumnya.


'Kayaknya, Shei juga suka sama Kak Alan,' duga Farel dalam hati. Dirinya benar-benar tidak punya celah.


"Terus ... kacamata kamu kemana?" tanya Shei yang sadar sejak tadi Farel tidak mengenakan kacamata, bahkan sulit mengikuti pelajaran.


Farel malah cengengesan sambil menunduk.


"Oh, ini ... tadi ini pecah, hancur, diinjak Kak Aldo," cerita Farel agak miris.


"Lah? Terus gimana?" sontak Shei khawatir.


Farel lagi-lagi tertegun. Ia tidak pernah mendapat perhatian seperti ini sebelumnya.


"Y-ya ... nanti kalau bokap dan nyokap ada duit, juga dibeliin lagi," jawab Farel sambil menutupi wajahnya dengan poni.


"Yah, selama belum ada duitnya, gue gini aja. Berjuang lebih keras dikit," timpal Farel.


Shei hanya bisa menghela napas. Ia benar-benar salut terhadap orang seperti Farel.


"Kak Alan ..." Tiba-tiba Farel berseru.


"Uhm, Kak Alan gak bakalan marah sama elu? Mendingan lu balik, gih ke bangku lu," usir Farel. Dia tidak mau mendapat masalah lagi setelah apa yang telah terjadi, terlebih Alan tadi sempat menolongnya.


"Yah, lebih bagus dia marah, terus putusin aku." Shei malah tersenyum.


"Emangnya lu gak bakalan sedih kalau dia putusin elu?" selidik Farel lagi.


Sheilla malah menggeleng.


"Aku tahu, kok. Kak Alan itu sebenernya gak suka sama aku. Mana mungkin dia bisa suka sama cewek kayak aku," ucap Sheilla agak miris.


Farel pun mengangkat kepalanya, ucapan Shei entah kenapa mampu menyayat hatinya.


"Apa maksudnya dia gak mungkin suka sama elu?" tekan Farel membuat Shei kaget.


Thalia yang sedang menenangkan Vanessa makin terusik karena sudut matanya melihat Farel mengangkat kepalanya.


"Aku balik dulu, ya," izin Thalia yang tatapan matanya berubah jadi tajam.


"Iya, gue gak apa-apa, kok," ujar Vanessa, tetapi Thalia tak peduli. Kini sorot matanya sudah fokus pada Farel dan Sheilla yang sedang berbincang berduaan.


Shei mengernyitkan dahinya, berusaha mencerna ucapan Farel.


"Lu cantik, Shei ... Lu cantik makanya—" Ucapan Farel terhenti begitu menyadari bahwa Thalia sudah berdiri di samping tempat Shei duduk.


"Excuse me! Ini bangku aku!" ketus Thalia.


Sheilla pun menoleh.


"Eh, sorry, Thalia! Aku pindah. Maaf, ya," ujar Sheilla segera beranjak dan kembali ke bangkunya.


Selepas Sheilla pergi, Thalia langsung mengambil hand sanitizer spray dalam tasnya kemudian menyemprotkan di bangkunya.


"Ewh! Entar aku ketularan jeleknya lagi!" ujar Thalia yang membuat dahi Farel mengernyit.


"Apaan, sih, Thalia! Shei gak segitunya, sampai kamu harus kayak gitu!" protes Farel spontan.


Thalia yang selesai membersihkan bangkunya pun menatap tajam ke arah Farel. Ia duduk ke atas bangku tanpa melepas tatapannya.


"Apa kamu bilang?" Thalia langsunh menjepit kedua rahang Farel, hingga membuat lelaki itu memejamkan mata rapat-rapat.


"Jadi, menurut kamu, aku sama Shei itu sama? Iya?!" geram Thalia.


"Bu-bukan—"


Thalia menekan luka Farel yang diplester, membuat lelaki itu meringis.


"Sa-sakit ..." rintihnya. Sayang, Thalia tak memedulikannya dan malah semakin menekan luka Farel.


"Sekarang aku tanya, aku sama Shei, siapa yang lebih cantik?" geram Thalia.


"A-apa?" Farel tidak begitu mendengar, rasa sakit yang ia rasakan seolah membuat telinganya berdengung.


"Siapa yang lebih cantik, aku atau Shei!" ulang Thalia yang berusaha menahan amarah yang meluap dalam dirinya.


"I-itu tidak bisa dibandingkan—"


"Apa kamu bilang?" Thalia pun melempar wajah Farel saking kesalnya hingga membentur meja.


"Jahat, dasar!" tukas Thalia kemudian berlari keluar kelas.


Farel yang masih kesakitan tak bisa berbuat apa-apa.


"Haruskah gue kejar dia?" gumam Farel bingung.


"Ah, masa bodo!" Lelaki itu pun beranjak dari bangkunya dan ikut keluar kelas untuk mengejar sang Nenek Sihir.