Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Kedatangan Alan


Thalia memandang ponselnya sejak dua jam lalu, sementara ketiga sahabatnya sejak tadi asyik bermain-main di pantai.


"Thalia! Lu serius gak mau naik kano?" sahut Vannessa yang datang masih mengenakan pelampung. Bahkan gadis ini sudah dua kali naik kano.


Thalia yang sejak tadi duduk di bangku tunggu hanya menorehkan senyum tipisnya sambil menggeleng.


"Kalian aja ... Aku masih mau memandangi pemandangan aja ..." jawab Thalia.


Vannessa memonyongkan bibirnya.


"Mau memandangi pemandangan?" ulang Vannessa sambil menarik lengan Thalia.


"Lu tuh aneh, deh! Masa ke Bali cuman mau ngeligat pemandangan? Ya, kita happy-happy lah di sini! Ayo! Refreshing! Apa lu udah puas refreshing sama bokap dan nyokap lu kemarin?"


Seketika Thalia tertotohok. Ia menoleh cepat ke arah Vannessa dengan mata melotot. Liburan sama keluarga apanya? Ia bahkan ditinggal sendirian di rumah dan sang Papa.mengomeli atas sikapnya saat pulang. Untung peristiwa iti terjadi sehari sebelum keberangkatannya ke Bali.


Thalia langsung menarik lengannya dengam kasar.


"Enggak. Aku lagi gak semangat aja," dalih Thalia sambil memalingkan wajahnya.


Vannessa menghentakkan kaki.


"Justru itu, Thalia sayang ... Ayo main apa, kek. Biar semangat lagi. Minggu depan kita udah jadi kakak kelas loh!" seru Vannessa antusias.


Thalia melirik ke arah Vannessa. Terus, kalau mereka jadi kakak kelas kenapa?


"Thalia!" Tiba-tiba Renata berlari ke arah mereka dari kejauhan. Dua gadis itu pun menoleh sampai akhirnya Renata menghentikan langkahnya tepat di hafapan kedua sahabatnya dengan napas terengah-engah.


"Lu kenapa, Ren? Main ayunan gak seru 'kan? Ayo, lu juga ikut naik kano!" ajak Vannessa hendak menarik tangan Renata, tetapi langsung ditepis.


"Enggak ... Gue ke sini bukan buat ajak main ayunan ..." ujar Renata sambil mengatur napasnya. Berbeda dengan Vannessa, sejak tafi Renata dan Marina bermain ayunan di dekat bagu karang.


"Terus? Ngapain?" cecar Vannessa. Namun atensi Renata malah tertuju pada Thalia. Gadis berambut lurua itu langsung memegang kedua pundak Thalia sambil menatapnya lurus.


"Thalia, lu harus tahu!" tekan Renata yang membuat Thalia mengernyitkan dahinya.


"Tahu apa?" bingung Thalia.


"Iya, ngomong yang bener lu!" cecar Vannessa yang penasaran juga.


Renata hanya melirik sinis ke arah Vannesaa sesaat kemudian atensinya kembali pada Thalia.


"Kak Alan!" sahut Renata antusias, tetapi tifak berhasil mengubah ekspresi datar Thalia.


"Kenapa Kak Alan?" tanya Thalia.


"Kak Alan lagi nungguin lu di ayunan! Dia ada di sini! Buat lu!"


"Hah? Serius, Ren?" sosor Vannesaa yang membulatkan matanya.


Renata memegang kedua tangan Thalia sambil loncat-loncat kegirangan.


"Gak salah lagi! Gue yakin, Kak Alan pasti merasa bersalah sama lu dan sadar perasaannya sama lu. Dia pasti mau nembak lu!" girang Renata lagi.


"OH MY GOD! Congrats Thalia!" antusias Vannesaa yang langsung memeluk Thalia.


Namun Thalia hanya mengernyitkan dahinya.


"Kamu beneran?" tanya Thalia memastikan. Renata langsung mengangguk.


"Udah, pokoknya lu haru ikut gue!" ajak Renata yang langsung menarik tangan Thalia.


"Ih, gue juga mau ikut! Gue mau menyaksikan temen gue ditembak cowok paling populer sejagat raya, aww!" girang Vannessa.


Sementara Thalia hanya pasrah tangannya ditarik oleh Renata.


"Sumpah, jantung gue mau copot pas Kak Alan muncul tadi. Dia effort banget datangin Thalia sampai ke sini," cerita Renata pada Vannessa yang hanya terdengar samar-samar di telinga Thalia.


...****************...


Di ayunan, Alan sedang berdiri memandang laut membelakangi Marina yang terus memelototinya.


"Punggung gue bisa bolong kalau lu pelototin terus, Marina ..." tegur Alan seraya berbalik sambil melemparkan senyum tampan khasnya.


"Kak Alan jujur! Apa tujuan Kak Alan sampai nemuin Thalia di sini?" selidik Marina. Gadis berponi ini tidak bisa mempercayai kebaikan Alan setelah ucapan Cowok ini beberapa hari yang lalu.


Dahi Alan mengernyit.


"Tujuan? Gue mau ngomong hal penting sama dia. Itu aja," jawab Alan yang semakin membuat sorot mata Marina semakin tajam.


"Sepenting apa? Kenala sampai datang ke Bali?" selidik Marina lagi.


"Penting banget!" tekan Alan sembari melipat kedua tangannya.


"Kalau ke Bali, sebenarnya, gue sama keluarga gue lagi liburan di sini ... Uhm, adek gue kayaknya lagi makan sama bokap, deh ..." jawab Alan.


Marina hanya memutar bola matanya sambil mendengus kesal. Sepertinya mau bagaimanapun, Alan tidak akan mengungkapkan pembicaraan penting apa yang ingin ia bicarakan dengan Thalia.


"Kak Alan!" seru Renata antusias sambil menyert Thalia bersamanya. Alan yang langsung menyadari kehadiran Renata Thalia dan Vannessa pun melambaikan tangan sambil melemparkan senyum terbaiknya. Sementara Marina kembali memutar bola matanya. Ia sungguh muak melihat senyum tampan Alan!


Renata mendekati Alan sambil menggandenga Thalia.


"Kak Alan! Ini dia Tuan Putrinya. Silakan, diculik juga gak apa-apa," ujar Renata yang langsung dapat pelototan dari Thalia.


Sementara Alan malah tersenyum miring.


"Culik? Tenang, kok. Gue cuman mau pinjam sebentar," ujar Alan yang langsung menarim tangan Thalia hingga gadis itu berdiri di sampingnya. Sontak Marina berdiri, tetapi ia terhalang oleh Renata dan Vannessa yang tercengang kegirangan.


"Kalian ... Bisa tinggalin kita berdua aja, gak? Soalnya gue mau bicara intens sama Thalia," mohon Alan dengan pupil yang membesar.


"Berdua aja? Intens? Tentu! Iya, silakan, Kak!" seru Renata yang wajahnya berbinar-binar. Ia langsung menggandeng Marina.


"Nanti, kalau udah selesai, bicaranya, anterin Thalia ke bangku tunggu, ya. Semoga lancar. Bye!" ujar Renata yang langsung menyeret Marina pergi.


"Semoga sukses, aww!" gemas Vannesaa yang hendak mencubit pipi Thalia, tetapi tidak jadi dan malah pergi mengikuti Renata dan Marina.


Kini tinggal Thalia dan Alan berduaan. Thalia pun langsung menjauh dari Alan.


"Tumben Kak Alan cari aku," ketus Thalia sambil melipat tangannya. Namun hal itu malah menaikkan kedua sudut bibir Alan.


"Yah, emang aneh, tapi gue harus ngelakuin ini," jawab Alan seraya melirik ke arah Thalia yang memalingkan wajahnya.


"Tapi ... Kalau gue lihat dari gelagat lu ... Lu udah gak punya perasaan apa-apa lagi sama gue, ya?" tebak Alan yang membuat Thalia mendengus, tetapi Alan malah tertawa.


"Wah, hebat! Lu udah gak suka gue lagi. Bagus, deh," ujar Alan.


Thalia langsung menoleh ke arah Alan sambil menatapnya tajam.


"Cuman mau bilang itu aja? Jauh-jauh ke Bali, cuman mau mastiin aku gak suka sama Kak Alan lagi?" tukas Thalia yang langsung dapat gelengan kepala Alan.


Cowok itu tiba-tiba mengulurkan tangannya.


"Gue mau minta maaf!" ungkap Alan yang membuat Thalia tertegun.


"Minta maaf?" ulangnya.


Alan langsung mengangguk.


"Iya. Maaf karena perlakuan gue ke elu kayaknya gak terlali baik. Beda lah sama cewek-cewek lain yang deketin gue. Gue ngerasa gak adil aja dan ..." Alan berpikir sejenak.


"Dan, karena gue gak akan sekolah di Yayasan yang sama dengan Yayasam SMP kita. So, kita akan jarang ketemu," tambah Alan.


Namun Thalia malah mengernyitkan dahinya.


"Terus, kalau kita bakal jarang ketemu, kenapa?" tanya Thalia.


Alan bergumam.


"Yah, itu berarti, jangan simpan dendam atau kebencian satu sama lain. Selesaikan segala perasaan mau itu suka atau benci di antara kita."


Sontak Thalia tertegun. Gadis itu pun mengepalkan kedua tangannya.


"Suka atau benci? Maksud Kak Alan apa?"