
"Thalia ..." Farel memberanikan diri memanggil Gadis sok berkuasa di sampingnya. Meskipun ia sempat menyayangkan keputusan Bu Vera, tetapi ia tetap harus menjalankan amanah guru matematikanya itu. Toh, jika ia mengajari Thalia, tangannya tidak perlu pegal dengan mengerjakan PR orang lain.
"Mana buku kamu! Taruh di tengah! Aku gak bawa buku!" perintah Thalia ketus sambil melipat tangannya.
Farel hanya menuruti ucapan seorang Thalia.
"Mana yang gak kamu ngerti?" tanya Farel setelah meletakkan buku cetaknya di tengah-tengah meja.
Thalia pun menoleh sambil menyernyitkan dahi.
"Apa maksud kamu? Kamu mau pamer, kalau kamu lebih pintar dari aku?" tukas Thalia tak terima. Hari ini dia diremehkan 2 kali, sudah begitu yang kedua oleh orang sekelas Farel lagi!
"Bu-bukan ... ta-tadi kamu gak denger Bu Vera bilang apa?" bela Farel pada dirinya sendiri.
Thalia kembali memandang ke depan sambil berdecih.
"Denger! Tapi aku gak suka denger kamu bilang aku bodoh!" sahut Thalia.
Farel mengernyitkan dahi, kapan dirinya mengatakan gadis cantik di sampingnya ini bodoh.
"Maaf ..."
Thalia tertegun mendengar ucapan Farel, tetapi ia berusaha tak peduli.
"Kemarin aku sudah janji 'kan, apa pun yang kamu butuhkan, akan aku turuti." Farel terpaksa membahas janji lama yang ia rutuki itu, tetapi mau bagaimana lagi, ini demi keselamatan dirinya selama di sekolah.
"Udah, kamu gak perlu bicara apa-apa lagi! Aku enek denger suara kamu, tau gak!" ketus Thalia lalu merebut buku cetak Farel.
"Thalia, itu—"
"Apa? Kamu bilang, apa yang aku mau bakalan kamu turutin 'kan?" tagih Thalia.
Farel pun tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menunduk sambil mengangguk.
Thalia kembali berdecih dan terpaksa mengikuti pelajaran tanpa kehadiran ketiga sahabatnya.
Sedangkan ketiga sahabatnya memandang Thalia dengan rasa iba, terutama Vannesa yang membuat ide agar PR mereka dikerjakan oleh Farel.
Mereka bertiga pun terpaksa melakukan diskusi lewat ruang obrolan karena ada 1 orang asing di tenpat duduk mereka.
[Sumpah, Thalia! Sorry banget. Jadinya lu doang yang dihukum!] ujar Vannesa, tetapi tidak ada balasan dari Thalia karena gadis itu tidak berani buka ponsel.
[Kayaknya percuma, deh Nes ... Thalia gak on!] timpal Marina.
[Dibanding itu, gue lebih kesel sama Farel!] celetuk Renata.
[Setuju! Gue sebel banget! Kenapa dia gak jadi belain Thalia coba, tadi!] sahut Vannesa dendam kesumat.
[Gimana kalau kita kasih pelajaran tuh ke anak culun?] usul Marina.
[Ih, setuju banget. Enek gue ngeliat dia dibangga-banggain sama Bu Vera, sementara princess kita ...] Vannesa tidak sanggup menggambarkan ucapan Bu Vera tadi.
[Tapi kalian ada ide?] tanya Renata.
[Tenang ... Gue ada ide supaya bikin tuh anak culun jera dan gak main-main lagi sama kita!] ketik Vannesa.
***
Farel kembali ke kelas setelah dari Kantin. Beruntungnya, Hari ini Thalia and the geng tidak berulah. Saat ia melewati lapangan, para siswi di sekolahnya langsung berteriak histeris sambil menyebutkan 3 nama dengan awalan huruf A, membuat langkah Farel terhenti. Sudah bisa ditebak kalau 3A, geng kelas IX itu akhirnya keluar kelas.
Bagi Farel, melihat wajah tersenyum idolanya bisa membuat harinya lebih tenang. Ya, Alan, sekalipun ia harus menjalankan pelajaran intensif, tetapi siswa populer yang merupakan idola semua murid itu selalu memberikan senyumnya.
Namun mata Farel tidak hanya tertuju pada idolanya itu yang sedang melambaikan tangan di balkon lantai tiga, melainkan juga pada seorang Thalia, salah satu penggemar berat seorang Alan bahkan berharap bisa menjadi pacar lelaki tampan itu.
Farel pun terdiam. Di satu sisi ia sebenarnya agak iri pada seorang Alan yang memiliki kehidupan sempurna. Bukan rahasia bahwa nama kakak kelasnya itu sering muncul di surat edaran sebagai siswa berprestasi. Bukan hanya itu, bahkan Ketua Yayasan sangat menghormati orang tua Alan yang notabenenya adalah donatur terbesar sekolahnya. Ditambah penampilannya yang selalu bisa menyihir semua siswi dan sikapnya yang ramah.
"Gue ngapain, sih?" Ia malah menertawakan dirinya yang malah iri pada hidup orang lain. Lebih baik ia segera makan roti yang baru saja ia beli di Kantin. Farel pun berlari ke kelasnya.
Ia duduk di tempat duduknya sambil mengambil tas di laci mejanya. Namun ia tidak menemukan tasnya itu. Farel pun memeriksa kembali laci mejanya. Sayangnya di sana memang tidak ada apa-apa.
"Tas gue dimana?" sekujur tubuhnya merinding, mulai bermunculan prasangka buruk di kepalanua. Tas bukanlah benda kecil yang mudah hilang. Ia pun memutar tubuhnya, berharap tasnya digantung di kursi, tetapi kursinya terasa enteng. Farel berusaha berpikir jernih. Ia langsung bangkit dan mencari tasnya di lemari kelas. Namun tasnya itu juga tidak ada di sana. Farel pun mencari di meja guru, atas AC bahkan rak sepatu hingga tempat sampah di depan kelas, tetapi tetap saja ia tidak menemukan tasnya. Farel pun terduduk lemas.
Satu-satunya barang yang tersisa hanyalah dompet yang ia bawa ke Kantin, sedangkan semua buku, tempat pensil bahkan gambar karyanya ada di sana.
"Bagaimana ... dimana semua barang-barang gue?" paniknya putus asa. Pasalnya ia tidak mungkin membeli lagi semua buku cetak itu, semua catatannya juga ada di sana.
"Thalia!" Tiba-tiba gadis jahat itu terpikir di benaknya.
"Ini pasti ulah Thalia and the geng!" seru Farel.
"Emangnya kenapa?" Ternyata ucapannya terdengar oleh Vannesa dan Renata yang sedang berjalan ke kelas.
Farel pun berdiri dan memutar tubuhnya.
Dua gadia itu mendatangi Farel yang sedang mengernyit.
"Ini semua gara-gara lu udah bikin Thalia diremehkan sama Bu Vera!" tekan Renata sambil mendorong pundak Farel.
"Tapi, itu karena Thalia sen—Argh, Vannesa!" Tiba-tiba rambut Farel dijambak oleh Vannesa.
"Lu berani nyalahin Thalia?" tukas Vannesa.
"Bukan, bukan Vannesa! Tapi tadi bukan kesalahan gue! Itu—Argh!" Vannesa semakin kuat menarik rambut Farel, membuat lelaki itu merintih kesakitan.
"Van ...Itu semua karena Thalia gak ngerjain—" Farel meringis, berusaha menahan sakit yang ia rasakan akibat jambakan Vannesa, bahkan Renata menendang tulang keringnya.
"Heh, denger gue baik-baik!" seru Vannesa.
"Setidaknya, lu bisa, kan pura-pura gak ngerti sama materinya atau lu kasih tau ke Thalia!" geram Vannesa.
"Iya, harusnya lu juga jangan terima-terima aja perintah Bu Vera! Lu bisa 'kan bilang kalau Thalia gak harus pindah sebangku sama lu!" tambah Renata.
Farel berusaha membuka matanya dan menatap Renata yang sedang memelototinya.
"Ta-tapi—" Vannesa melepaskan jambakannya kemudian mendorong Farel hingga hampir kehilangan keseimbangan, Renata pun juga ikut mendorong Farel hingga akhirnya Farel terjatuh. Bahkan beberapa helai rambutnya tersisa di tangan Vannesa.
"Ewh! Rambut lu rontok! Menjijikan!" Vanessa segera menyingkirkan helai-helai rambut Farel di tangannya.
"Ingat apa yang lu dapat hari ini, supaya lu tau siapa lu!" tekan Renata sambil menendang kaki Farel.
Farel hanya bisa menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangannya. Ia mengumpat dan menyebut dua gadis tadi sebagai binatang terhina.
***
...Menurut Kalian, apakah Farel akan bertindak?...