Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Permintaan Farel


Teman? Bukan, harusnya bagi Thalia, Farel bukan teman. Gadis berusia 13 tahun itu sama sekali tidak bisa menggerakkan lidahnya saat mendengar pertanyaan Farel. Kenapa juga Farel bertanya begitu? Thalia hanya ingin makan kue ini dengan Farel, maka Farel harus menurutinya.


"Uhm, bu-bukannya harusnya kamu merayakan hari bahagia sama Marina, Vannessa dan Renata? Mereka semua memangnya ada dimana?" tanya Farel lagi. Sebenarnya, ia lebih malas jika harus bersinggungan dengan Thalia bahkan di jam setelah sekolah.


Thalia pun memutar tubuhnya dengan memasang wajah masam. Ia mengambil piring tiramisunya dan melahapnya dengan rakus. Farel bisa lihat, bahwa gelagat Thalia menandakan pertanyaannya tidak akan dijawab. Lelaki Berkacamata itu pun memilih abai.


"Marina, dia ada les gambar ..." cetus Thalia tiba-tiba. Farel pun mengangkat kepalanya dan menatap wajah Thalia yang murung.


"Terus, Renata juga ada les piano, sedangkan Vannessa, dia kalau pulang sekolah selalu jalan sama Kak Aldo," tambah Thalia lagi kemudian lanjut memakan kuenya.


Farel hanya mengangguk, ia baru sadar kalau raut wajah Thalia terlihat agak kecewa. Mungkinkah ia kesepian? Harusnya Farel bisa memahami itu. Di rumah besar ini suasananya bahkan terasa dingin. Di sekolah, dia juga entah kenapa selalu berkonflik. Pasti setiap hari adalah hari yang berat bagi Gadis Cantik ini.


"Lalu, kenapa harus aku?" tanya Farel lagi. Pertanyaan itu malah membuat Thalia memonyongkan bibirnya.


"Kenapa masih tanya, sih? Ya, jelas, kamu adalah orang yang gak akan nolak permintaanku! Lagian, apa susahnya, sih makan kue sama minum jus? Kenapa aku harus jelasin panjang lebar coba?" gerutu Thalia.


Farel tertegun. Benar juga kata Thalia. Sekalipun kue ini diracun, ia tetap akan memakannya karena janjinya pada Thalia.


"Maaf, aku sudah banyak tanya," sesal Farel. Ya, jika ia minta maaf, mungkin hati Thalia akan luluh sehingga gadis ini tidak terus-terusan marah padanya.


Thalia hanya medelik kesal.


"Hari ini adalah hari bahagia bagiku. Akhirnya aku bisa hidup dengan tenang karena tahu bahwa Kak Alan bukan milik siapapun," ungkap Thalia tiba-tiba.


Sontak mata Farel membulat.


"Hah? Kak Alan bukan milik siapa-siapa? Kamu tahu darimana?" reflek Farel yang langsung dapat tatapan sinis Thalia.


"Aku tahu dari Kak Alan. Hem ..." Thalia memicingkan matanya.


"Kenapa kamu kaget Farel? Apa selama ini kamu tahu siapa pacar Kak Alan?" selidik Thalia.


Mata Farel mengerjap. Tidak mungkin ia menajawab bahwa pacar Alan selama ini adalah Sheilla.


"Uhm, a-aku ... mana mungkin aku tahu! Uhm ..." Farel langsung memutar otaknya.


"A-aku hanya kira kalau Kak Alan udah punya pacar. Makanya aku kaget," dalih Farel. Semoga saja terlihat natural.


Thalia mengangguk.


"Kukira kamu beneran tahu. Soalnya, kamu 'kan deket sama SHEILLA!" Thalia menekankan nama gadis di akhir kalimatnya. Farel langsung tertohok. Kenapa juga Thalia malah menyebut nama Sheilla?


"Ya, aku emang deket sama dia karena kita sebangku dan suka baca komik. Ta-tapi, kenapa tiba-tiba kamu sebut nama dia? Apa hubungannya dengan Kak Alan?" tanya Farel lagi.


"Gosipnya, dia pacar Kak Alan!" kesal Thalia.


"Hah? Sheilla pacarnya Kak Alan?" Farel benar-benar harus berakting se-natural mungkin agar Thalia tak curiga.


Thalia mengangguk.


"Iya, gosip teraneh yang pernah aku dengar. Padahal, jelas banget, Sheilla itu gatelnya ke Kak Alvin sama Kak Andra. Ih, aneh, deh. Kok bisa, ya cowok-cowok ganteng itu suka sama cewek menyeramkan kayak Sheilla. Sementara cewek cantik kayak aku dianggurin."


Farel berusaha keras menahan dirinya. Jika Thalia bukan anak kepala yayasan atau bahkan bukan cewek, mungkin ia sudah meninju wajahnya. Justru, Thalia itu yang menyeramkan karena hobinya menindas! Jelas Sheilla lebih memiliki daya tarik.


"Aku benar 'kan, Farel? Aku memang cewek cantik ..." sahut Thalia tiba-tiba sambil menatap mata Farel lekat-lekat.


Farel yang kepalanya sedang menyumpahi Thalia berusaha tenang. Jangan sampai ia salah bicara. Pertama-tama, Farel menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Ia kemudian mengangguk dengan penuh semangat.


"Iya, kamu cewek cantik," ujar Farel yang langsung menciptakan senyum cerah di wajah Thalia, bahkan kedua pipi gadis ini memerah.


"Yah, tapi masa bodo, deh. Yang penting Kak Alan gak terpengaruh sama kebodohan dua sahabatnya," ujar Thalia lagi. Ia kemudian melirik ke arah Farel yang masih mengkondisikan emosinya.


"Kamu tahu, Farel?"


"Tahu apa, Thalia?"


"Yah, itu ... Persahabatan Kak Alan, Kak Alvin sama Kak Andra hancur gara-gara Sheilla. Gak tahu diri banget 'kan dia?"


Farel mengepalkan tangannya sampai gemetaran. Kenapa gadis di depannya ini asal bicara saja tentang Sheilla. Namun, Farel harus sabar sekalipun telinganya terasa panas.


"Farel!" tegur Thalia sambil menggoyangkan tangan Farel. Sontak Farel tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke arah Thalia yang kini menggembungkan kedua pipinya.


"Nyebelin, deh! Kamu gak dengerin aku, ya?" protes Thalia sambil melipat tangannya. Habis sudah, Farel tidak boleh membuat Thalia marah.


"A-aku? De-dengerin, kok!" bohong Farel. Padahal ia enggan mendengar semua celotehan Thalia yang memojokkan Sheilla tanpa mengenal seperti apa Sheilla sebenarnya.


"Terus, tadi aku ngomong apa?" tagih Thalia lagi. Seketika bunyi sambaran petir yang menggelegar terdengar di telinga Farel. Dahinya mengernyit. Ia kembali memorsir otaknya untuk mengingat ucapan Thalia barusan.


"I-itu ... Tadi kamu bilang kalau ..." Farel benar-benar lupa. Saking kesalnya, ia langsung menghapus memori di kepalanya.


Thalia menatapnya lekat-lekat seraya menunggu jawaban Farel. Terpaksa Farel memejamkan matanya.


"Kamu bilang kalau Sheilla udah hancurin persahabatan Kak Alan dan teman-temannya!" cetus Farel.


"Hu-uh! Beneran 'kan kamu gak dengerin!" protes Thalia. Habis sudah Farel kalau begini. Farel pun membuka matanya pelan-pelan dan melihat Thalia tengah melipat kedua tangannya.


Dahi Farel berkerut. Jelas ia mendengar tentang itu tadi. Lantas, apa yang tidak ia dengar?


Thalia malah membuat lingkaran dengan telunjuknya di atas meja kecil.


"Karena aku lagi seneng, maka aku maafin kamu!" ujar Thalia yang sama sekali tak terduga.


Farel pun mengangkat kepala sembari membulatkan mata. Apakah sebenarnya Thalia memang orang yang baik? Benar atau tidak, yang penting sekarang ia lega kalau tidak mendapat hukuman dari Cewek Dominan ini.


"Uhm, tapi kamu harus dengerin aku sekarang!" tekan Thalia. Farel langsung mengangguk dengan bersemangat.


"Ya, apa yang harus aku dengar sekarang?" tanya Farel dengan senyum cerahnya. Hal itu mengundang senyuman juga di wajah Thalia.


"Begini Farel ... Kamu tahu 'kan, sekarang Kak Alan jomlo ..." Farel hanya mengangguk menimpali ucapan Thalia.


"Makanya, aku ... Aku mau mulai pedekate sama Kak Alan lagi!" seru Thalia yang langsung memudarkan senyum di wajah Farel.


"Aku yakin, Kak Alan pasti bakalan jadi pacarku! Menurut kamu gimana Farel?" Dahi Thalia mengernyit ketika mendapati alis Farel yang kini sudah menyatu.


"Kenapa wajahmu begitu? Menurut kamu, aku gak cocok buat Kak Alan?" selidik Thalia agak sinis.


Farel langsung menggeleng.


"Uhm ..." Farel bingung, haruskah ia ungkapkan hal ini pada Thalia?


"Apa? Katakan! Apa ada yang kamu tahu tentang Kak Alan?" cecar Thalia.


Farel melipat bibirnya dan menatap Thalia lamat-lamat.


"Thalia, maaf ... Tapi bisa gak, kamu gak deketin Kak Alan?"


...****************...


...-End Season Satu-...


...Farel berani banget ya?...


...Kira-kira respon Thalia gimana, ya?...


...Nantikan Kelanjutan ceritanya di Bulan Juli dengan cerita yang lebih seru...