Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Kata yang Setajam Pedang


"Hallo, Pa—"


"Kamu dimana sekarang?" Terdengar suara sinis dari sebrang yang langsung membuat Thalia terkesiap. Tak biasanya sang Papa bicara dengan nada seperti itu di telepon.


Thalia pun menelan salivanya.


"Tha-thalia ... Thalia sama temen Thalia, Pa ..." ucapnya, ia tahu dari nada bicaranya, kalau sang Papa sedang menahan amarahnya.


"Teman? Jadi benar kata Mama Siska?" tukas sang Papa yang membuat Thalia mengernyitkan dahinya.


"Ka-kata Ma— Uhm, Tante Siska?" Mana rela lidah Thalia menyebut Wanita Ular itu dengan sebutan Mama.


"Ya, Mama Siska bilang kalau kamu sudah berangkat ke Bali bersama tiga temanmu itu!" tukas sang Papa lagi.


"Apa? Ke Bali?"


"Jangan pura-pura, Thalia ..." dingin sang Papa yang tiba-tiba membuat napas Thalia sesak.


"Papa tahu, kamu masih terpukul dengan pernikahan Papa dan Mama Siska. Tapi kamu tahu 'kan kalau Mama Siska mengandung putra Papa ..."


Thalia menggigit bibir bawahnya, ia paling benci mendengar cerita ini. Kini bahkan telinganya terasa panas. Ia sangat ingin menutup telepon sekarang juga, tetapi jarang-jarang ia bisa berbicara dengan sang Papa berduaan karena jika ia menelpon, pasti tidak diangkat.


"Papa juga tahu, kamu tidak menyukai mereka, tetapi buatlah sedikit pendekatan pada mereka. Mau bagaimana pun jika, kita semua sudah jadi keluarga. Apa tidak bisa kamu melupakan kematian ibumu?"


Seketika jantung Thalia berhenti berdetak. Apa sang Papa benar-benar mengatakan untuk melupakan kematian ibunya? Apa maksudnya? Apa sebenarnya selama ini sang Papa telah melupakan ibunya? Atau jangan-jangan kehamilan Siska memang bukan karena ulah Siska sendiri, melainkan karena sang Papa juga menginginkannya!


Thalia meremas lututnya. Ia ingin rasanya mematikan telepon dari Papanya ini. Namun tangannya kaku.


"Papa menikahi Mama Siska sebenarnya untuk menghiburmu, Nak ... Tapi jika kamu terus mengenang ibumu, maka apa artinya?"


Sebuah bulir bening lolos begitu saja dari sudut mata Thalia. Lidahnya bahkan kelu hanya untuk membuat pembelaan pada dirinya sendiri. Yang benar saja, Wanita macam Siska untuk menghibur Thalia? Ia justru lebih bersyukur jika sang Papa menduda selamanya!


"Thalia? Thalia? Kamu dengar Papa 'kan—" Suara di seberang terhenti begitu terdengar isakan tangis.


"Thalia? Jika kamu dengar Papa, jawab—"


"Thalia sibuk, Pa. Thalia tutup ... Tu-tup du-lu ..." Tanpa menunggu balasan, Thalia langsung mematikan sambungan teleponnya. Tubuhnya langsung terasa lemas seolah seluruh energinya sudab habis ia pakai hanya untuk mendengar perkataan sang Papa.


Melupakan sang Mama adalah hal mustahil—yang tidak mungkin Thalia lakukan. Bahkan hingga detik ini ia masih bisa bertahan, semuanya karena mengingat ucapan sang Mama. "Jangan benci papamu." Itu sudah Thalia lakukan, bahkan ia selalu berusaha berpikir positif tentang ayah kandungnya itu, tetapi kenapa ucapan wanita yang selalu berusaha melindunginya malah harus ia lupakan?


Tanpa sadar, kini wajah Thalia sudah dibanjiri oleh air mata. Bahkan rok dressnya basah. Entah sebanyak apa air mata yang tumpah. Thalia pun melirik ke lorong menuju dapur. Farel masih belum memanggilnya. Tidak mungkin ia pergi ke sana dengan wajah penuh derai air mata ini. Thalia sedikit luka saja, cowok itu sudah berani mengomel.


"Maaf, Farel. Maaf, Mama, aku tidak pamit," ucapnya kemudian pergi. Begitu saja meninggalkan rumah sederhana itu.


******


"Farel, makanannya udah siap. Coba kamu panggil Thalia," perintah Mama. Tanpa berkomentar, Cowok Berkacamata itu langsung mengangguk dan pergi ke ruang tamu. Namun langkahnya malah melambat saat mendapati ruang tamu yang kosong. Bahkan tidak ada tas kecil milik Thalia yang bersandar di sofa rotannya.


"Thalia kemana?" bingungnya.


"Farel? Ayo buruan ajak Thalia makan!" seru sang Mama dari dapur.


Namun Farel hanya terdiam sambil mengernyitkan dahi. Kenapa tiba-tiba Thalia menghilang? Dia tadi mendapat telepon, kemudian tanpa bicara apa-apa dia pergi. Apa Thalia pergi ke luar untuk bicara di telepon? Namun, dia pergi kemana?


"Farel, kenapa lama sekali?" Tiba-tiba sang Mama sudah muncul di belakang Farel. Cowok Berkacamata itu pun berbalik sembari menunjukkan wajah bingungnya.


"Mana Nak Thalia-nya? Ajak dia makan, dong ...." suruh Mama lagi sambil melongo ke ruang tamu, tetapi tidak menemukan gadis cantik yang mengaku sebagai teman putranya tadi.


"Loh, Thalia mana?" bingung Mama, tetapi Farel mengendikan bahunya.


"Uhm, Farel coba telepon, ya, Ma," izin Farel yang langsung dapat anggukan dari ibunya. Farel langusng pergi ke kamarya dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur.


Ia hendak membuka kontak di ponselnya, tetapi di layar tertulis ada dua pesan yang masuk. Farel pun membukanya. Di sana tertulis bahwa ada kotak masuk dari Thalia. Yang pertama adalah pesan yang berisi tentang kedatangannya hari ini. Farel hanya tersenyum tipis, ternyata gadis itu memang mengabarinya. Kemudian Farel membuka pesan kedua dan membacanya,


"Farel, maaf, aku ada urusan mendadak, jadi aku pergi tanpa pamit. Salam untuk Mama kamu." Dahi Farel mengernyit.


"Urusan mendadak? Apa ada kaitannya dengan telepon tadi?" pikir Farel.


Ia pun keluar dari kamarnya menghampiri sang Mama yang menunggu di ruang tamu. Tanpa basa-basi, Farel langsung menunjukkan pesan dari Thalia di ponselnya. Reaksi sang Mama sama seperti Farel.


"Farel ..." ucap sang Mama yang kemudian memandang putranya. "Kamu yakin, kalau dia pergi dengan keadaan baik-baik aja? Kok firasat Mama gak enak," tutur Mama yang membuat Farel tertegun. Cowok Berkacamata itu kembali menatap layar ponselnya. Justru sejak tadi jantungnya berdebar-debar, ia tahu Thalia ke sini karena ada masalah di keluarganya kemudian ia dapat telepon dan pulang tanpa pamit.


"Nanti Farel coba hubungi lagi, Ma," ujar Farel.


"Kalau dia gak bisa ditelepon, besok kamu datang ke rumahnya, ya," suruh Mama.


Farel tertegun. "K-ke rumahnya?" ulang Farel. Apa tidak berlebihan? Lagian, selama ini Farel datang ke rumah Thalia karena gadis itu yang membawanya. Ia tidak pernah datang karena keinginannya sendiri. Bagaimana kalau dia diusir satpam?


"Iya, Mama khawatir, tolong, ya Farel," ujar Mamanya lagi yang sama sekali tidak bisa Farel tolak. Cowok Berkacamata itu pun terpaksa mengangguk. Semoga saja, Thalia mau mengangkat teleponnya nanti.


"Ya, sudah, Mama mau berangkat dulu, kamu makan siang sendiri, gak apa-apa 'kan, sayang?" tanya Mama. Farel sekali lagi mengangguk. Namun di kepalanya masih memikirkan, apa yang harus ia lakukan jika sampai harus ke rumah Thalia dengan kakinya sendiri?