
Ruang Obrolan Thalia bersama tiga temannya di facebook dipenuhi dengan foto dan obrolan, tetapi Thalia hanya bisa memandangnya sambil mengirim emot hati---tanda bahwa dirinya ikut bahagia dengan kegiatan liburan teman-temannya bersama keluarga. Sementara ia mendekam sendirian di kamarnya. Beberapa kali ponselnya bergetar karena ia mematikan mode suara. Entah sejak kemarin ada telepon dari siapa. Pastinya, Thalia malas menerima panggilan dari siapapun termasuk ayahnya sendiri. Ia ingin menghibur dirinya dengan kebhagaiaan tiga sahabatnya.
"Non Thalia ..." Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Atensi Thalia pun beralih.
"Ada apa, Bi?" sahut Thalia yang mulai menutup laptopnya. Apakah hari sudah siang? Mungkinkah ini waktunya makan siang?
"Ada temen Non Thalia datang," sahut Asisten Rumah Tangganya dari balik pintu.
Dahi Thalia mengernyit.Teman? Bukankah ketiga sahabatnya masih asyik liburan?
"Siapa, Bi?" tanya Thalia.
"Den Farel."
Seketika tubuh Thalia mematung. Dia tidak salah dengar? Farel? Farel datang ke rumahnya atas kemauannya sendiri? Tanpa ia harus jemput atau paksa? Kenapa? Bukankah kemarin ia telah berbuat tidak sopan dengan pulang tanpa pamit?
"Non mau temuin Den Farel atau enggak? Katanya kalau Non Thalia gak mau temuin, Den Farel mau pulang---"
Tiba-tiba Thalia membuka pintu kamarnya, membuat sang Asisten Rumah Tangga terhenyak. Gadis itu langsung menyisipkan rambut panjangnya di belakang telinga.
"Uhm, suruh dia tunggu sebentar, Bi. Uhm, lima ... enggak! sepuluh menit kemudian, suruh dia ke kamarku, Bi!" ujar Thalia. Mana mungkin dia menunjukkan dirinya yang urakan di depan Farel.
Asisten Rumah Tangganya hanya senyum-senyum. Ia bisa menebak dari wajah Nonanya yang memerah.
"Oke, sepuluh menit, ya Non," ulang Asisten Rumah Tangganya. Thalia hanya mengangguk sambil menunduk.
"Kalau gitu, Bibi permisi dulu," pamit Asisten Rumah Tangganya yang langsung pergi. Sementara Thalia langsung masuk ke kamarnya. Matanya langsung menyisir seluruh isi kamarnya. Ia hanya bisa melongo, tanpa sadar kamarnya benar-benar seperti kapal pecah.
"Ya ampun, kayaknya gak bisa sepuluh menit doang, deh ..." ujar Thalia yang tubuhnya langsung meluruh ke lantai.
*****
Thalia masih berusaha melipat selimutnya, tetapi dirinya tidak seberantakan tadi. Setidaknya ia sudah menyisir rambutnya sekalipun belum sempat mandi, tetapi tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
"Ada apa, Bi?" sahut Thalia yang masih berusaha melipat selimut tebalnya.
"Uhm, i-ini gu---eh, maksudnya aku. Farel, Thalia," sahut suara dari balik pintu yang membuat Thalia mematung. Seketika, selimut yang sudah ia lipat terjatuh dan berantakan kembali ke lantai.
"Aku masuk, ya," izin Farel yang langsung membuka pintu kamar Thalia.
"Tu---"
Farel tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu dengan wajah polosnya dan melihat Thalia yang hanya mengenakan hot pants dan sweater berwarna ungu. Sontak wajah Farel memerah melihat paha polos Thalia yang terpampang jelas. 'Paha Thalia putih banget! Eh? Sialan! Dasar Cowok Mesum!' rutuk Farel dalam hati.
Cowok Berkacamata itu langsung menunduk.
"Uhm, maaf, Thalia. A-aku gak seharusnya masuk dulu, ya. Aku turun lagi, deh," gugup Farel sambil memejamkan matanya erat-erat.
"Uhm, gak ... gak usah. Uhm ..." Thalia malah jadi ikutan gugup.
"Uhm, ta-tapi, kayaknya kamu belum siap. Atau aku pulang aja---"
"Jangan!" seru Thalia dengan nada suara yang meninggi. Farel pun mengangkat kepalanya, tetapi berusaha sebisa mungkin agar tidak menatap paha polos Thalia yang begitu menggoda. Cowok Berkacamata itu berusaha menatap kening gadis itu.
"Aku bantu beresin!" sahut Farel, setidaknya dengan begitu, Farel bisa mengalihkan pikirannya dari paha Thalia yang masih terbayang di kepalanya, padahal ia sudah tidak memandang ke arah sana.
"Gak apa-apa?" tanya Thalia.
"Eng-enggak apa-apa. Mungkin kamu bisa melakukan yang lainnya," ujar Farel yang berusaha memandnag ke arah lain selain paha polos Thalia.
"O-oke ... Uhm ..." Sebenarnya Thalia agak malu mengakui, alhasil dia hanya pergi ke lemarinya mengambil beberapa hela baju sementara Farel sibuk melipat selimutnya yang tadi jatuh berantakan.
Gadis cantik itu pun melirik ke arah Farel yang baru saja selesai melioat selimut super tebalnya dan meletakkannya di atas kasur.
"Fa-farel ..."
Seketika Farel terhenyak. Untung selimut yang ia lipat tidak terjatuh lagi. Cowok Berkacamata itu sama sekali tidam berbalik.
"A-ada apa, Thalia?" tanya Farel gemetaran. Mana berani ia membalikkan badannya menghadap Thalia yang masih mengebakan hotpants.
"A-aku ... Aku mandi dulu. Uhm ..." Thalia sungguh malu, di jam segini, sebagai seorang perempuan dia belum mandi. Bahkan dia harus mengakuinya di depan laki-laki seperti Farel.
"Iya," jawab Farel singkat.
Thalia tertegun. Reaksi Farel sangat biasa. Kira-kira, apa yang dipikirkan cowok itu, ya? Thalia sempat memandang ke arah Farel yang mulai merapikan bantal-bantal dan beberapa boneka yang berserakan di atas tempat tidur.
Thalia menggelengkan kepalanya. Farel terlihat baik-baik saja dan tidak keberatan. Jadi, kenapa dia harus pusing. Thalia pun segera masuk ke kemar mandinya.
...****************...
Farel duduk di lantai setelah selesai membereskan kamar Thalia. Tadi sebenarnya, dia mau menyapu kamar besar ini juga, tetapi saat meminta sapu pada Bibi, Bibi langsung mengambil alih, sementara Farel diminta bawa cemilan yang sudah disiapkan Bibi saja.
Farel pun memandang ke seluruh isi kamar yang sudah rapih. Ternyata begini kehidupan seorang gadis. Tidak terlalu berbeda ternyata jika dibandingkan dengannya. Atau hari ini hanya kebetulan Thalia seberantakan ini? Pasalanya, tiap datang ke sini, kamar ini selalu rapih. Atau, mungkin Bibi yang merapikannya setelah Thalia berangkat sekolah.
Pintu kamar mandi pun terbuka, membuat atensi Farel beralih. Dari balik pintu, muncul Thalia yang kini mengenakan dress berwarna krem selutut. Farel menghela napas lega, setidaknya pakaian Thalia yang sekarang lebih aman daripada yang tadi.
Farel pun melirik ke arah jam dinding di kamar Thalia. Ia tertegun, ternyata gadis ini menghabiskan waktu selama setengah jam hanya untuk mandi! Apa memang semua perempuan begitu, ya? Namun, ibunya mandi hanya perlu waktu lima sampai sepuluh menit saja. Mungkin hanya gadis kaya seperti Thalia saja yang seperti itu.
Thalia menyeret bantal duduknya ke hadapan Farel kemudian duduk bersimpuh sambil menunduk.
"Maaf, aku lama ..." ujarnya sambil menyisipkan helai rambutnya ke belakang telinganya.
Farel hanya mengangguk sambil tersneyum.
"Tidak apa-apa," ujar Farel.
Thalia kini meremas lututnya.
"Uhm, Farel ... ngomong-ngomong, kenapa kamu datang ke sini? Tu-tumben." Thalia langsung mengangkat kepalanya seraya melirik ke wajah Farel yang kini menaikkan kedua alisnya.
Cowok berkacamata itu langsung memalinhkan wajah sambil garuk-garuk kepala.
"Uhm, i-itu ... Yah ..." Farel sendiri bingung. Ia harus jawab apa.
"A-aku senang kamu datang," tutur Thalia yang membuat Farel langsung menoleh ke arahnya. Terlihat Thalia yang kini tersenyum dengan wajah yang bersemu merah. Mata Cowok Berkacamata itu. Apa maksud ekpresi wajah Thalia ini? Kenapa tiba-tiba jantungnya malah berdebar?