
"Uhm, cewek di situ ...." Lidah Farel kaku. Ia seperti maling yang ketahuan mencuri! Reaksi apa yang akan Thalia tunjukkan jika Farel bilang itu adalah dirinya? Bagaimana Farel harus menjelaskannya? Apa dia akan dianggap penguntit?
"Siapa?" cecar Thalia yang tidak kunjung mendapat jawaban.
"Uhm, dia itu ...." Lagi-lagi otak Farel tidak mau bekerja.
"Apa jangan-jangan ini pacar kamu? Selama ini kamu punya pacar, Farel?" tukas Thalia yang membuat Farel memghampirinya dan merebut buku gambar itu.
"Pa-pacar? Aku gak punya pacar!" tekan Farel dengan suara agak bergetar. Thalia malah menatap lurus ke arahnya.
"Bohong!" tukas Thalia lagi.
"Terus, siapa? Kenapa kamu gambar cewek itu kalau bukan seseorang yang kamu su—"
"Itu kamu!" potong Farel yang langsung membuat Thalia diam seribu bahasa. Mata gadis itu membelalak.
"A-aku?" Tiba-tiba kepalanya jadi kosong. Dia tidak salah dengar? Cewek yang ada di buku gambar Farel adalah dirinya? Bagaimana mungkin? Bahkan ada lebih dari dua gambar dengan beberapa pose dan riasan wajah. Apa selama ini Farel memikirkannya?
Cowok berkacamata itu menunduk.
"Sorry, kamu pasti merasa aku kayak penguntit, tapi serius aku gak berniat kayak gitu sama sekali. Aku—" Ucapan Farel terhenti ketika tangan halus Thalia menyentuh pipinya dengan lembut. Bahkan gadis itu tersenyum.
"Kenapa? Kenapa kamu gambar aku?" tanya Thalia seraya menatap lembut ke arah Farel. Cowok berkacamata itu menggigit bibir bawahnya sambil menggenggam tangan Thalia yang menyentuh pipinya.
"Karena kamu cantik," ucap Farel yang membuat Thalia tertegun.
"Ca-cantik?" ulang Thalia agak malu, tetapi ia tidak bisa kabur dari mata Farel yang kini menatapnya lekat-lekat.
"Iya, uhm, kamu pasti bosan karena aku selalu bilang kamu cantik, tapi semenjak hari itu ... Semenjak kamu yang minta aku dandanin kamu, aku gak bisa lupain mata kamu, hidung kamu, pipi kamu ...." Tatapan Farel semakin dalam. "Bibir kamu ...."
Thalia menggigit bibir bawahnya, kenapa jantungnya malah berdebar saat Farel menyebut bibirnya. Gadis itu malah menelan salivanya tanpa melepas tatapannya dari Farel.
"Aku gak bisa lupain setiap inchi wajah kamu. Aku jadi suka berkreasi." Suara Farel mengecil, kini ia menunduk, tetapi masih menggenggam tangan Thalia.
"Maaf, aku udah menggunakan wajah kamu tanpa izin," sesal Farel.
Thalia menarik wajah Farel hingga sejajar dengan wajahnya.
"Kamu yakin merasa bersalah?" tanya Thalia yang langsung dapat anggukan kepala Farel. Gadis itu menggigit bibir bawahnya gemas, rasanya ia mau mencubit kedua pipi cowok ini.
"Kalau kamu mau ngelarang aku gambar wajah kamu, juga gak apa-apa. Aku akan berhenti," tutur Farel agak sedih.
"Kenapa?" tanya Thalia.
"Y-ya ... Siapa tahu kamu gak suka kalau aku gambar—"
"Aku suka, kok!" potong Thalia.
"Aku suka banget, tapi ...." Thalia menggantung kalimatnya.
"Tapi apa? Aku akan lakuin apapun supaya kamu maafin aku," penasaran Farel.
Thalia malah senyum-senyum sendiri.
'Ya ampun, padahal aku gak marah sama sekali. Justru aku senang. Tapi kayaknya aku jadi punya ide bagus,' batin Thalia.
"Uhm, begini Farel ..." Thalia mengelus pipi cowok berkacamata itu.
"Iya, apa?" cecar Farel.
"Kamu gak lupa, 'kan, kalau bulan depan, aku ulang tahun?"
Farel tertegun.
"Oh, iya. Kamu ulang tahun! Uhm, apa kamu mau hadiah? Hadiah apa yang kamu mau?" tanya Farel yang membuat senyum Thalia mengembang.
"Salah satu gambar ini," tunjuk Thalia pada buku gambar yang Farel pegang.
"Ga-gambar ini?"
"Hah? Pajang? Uhm, itu ...."
"Kalau kamu bisa kasih itu, kamu boleh gambar aku sepuasnya. Kamu juga boleh minta aku datang ke rumah kamu untuk kamu gambar. Gimana?"
Mata Farel terbelalak bersamaan dengan senyumnya yang mengembang.
"Ka-kamu serius?" tanya Farel agak tak percaya, tetapi ia langsung mendapat anggukan kepala Thalia.
"Terima kasih, Thalia!" seru Farel yang langsung memeluk tubuh gadis cantik itu, membuat Thalia kaget setengah mati. Farel melepaskan pelukannya sambil memberikan senyumnya yang super cerah.
"Aku ... Aku pasti akan membuat gambar terbaik buat kamu. Kamu gak akan kecewa!" ujar Farel bersemangat. Thalia sama sekali tidak pernah melihat senyum Farel yang secerah ini. Ini benar-benar anugerah.
"Uhm, ya sudah ... A-aku tunggu gambarmu, Farel—"
"Iya! Pasti!" sahut Farel girang.
Thalia jadi tertawa. Ia kembali mengelus pipi Farel dengan lembut.
"Kalau begitu, aku mau pulang dulu. Uhm ...." Thalia bergumam sambil senyum-senyum sendiri.
"Kembalilah ke sekolah jika perasaanmu sudah lebih baik. Oke?" ujar Thalia yang mendapat anggukan kepala Farel.
"Pasti, Thalia. Uhm, dan terima kasih sudah datang," ucap Farel lagi. Thalia hanya mengangguk.
"Uhm, aku antar kamu keluar," tawar Farel. Cowok itu pun mengantar Thalia dan menemaninya sampai Thalia dijemput supirnya.
...****************...
Thalia masuk ke kamarnya dengan girang. Setelah melepas sepatu dan kaos kakinya, ia langusng loncat ke tempat tidur dan membuka ruang obrolannya dengan Marina.
✉️"Marina, aku mau curhat!" tulis Thalia.
Tak selang berapa lama, Marina membalas pesan tersebut.
✉️"Curhat apa?"
✉️"Sebenarnya aku sekarang lagi deket sama seorang cowok >♡
✉️"Hah? Serius? Siapa?○_○"
✉️"Ada, deh. Nanti kalau udah official baru aku kasih tahu siapa cowoknya sama kamu dan kalian semua>♡
✉️"Oke-oke. Terus, sedekat apa, sih kalian? Kayaknya lu seneng banget, deh," singgung Marina.
✉️"Uhm ... gimana bilangnya, ya? Tahu, gak, Mar, selama ini ternyata dia suka gambar wajah aku dan dia gambar wajahku dengan versi cantik banget! Aku boleh, gak sih anggap kalau sebenarnya dia suka sama aku? Ya, ampun, mau pingsan rasanya!"
✉️"Hahaha:D kayakya, lu suka banget sama dia. Uhm, tapi bisa jadi, sih. Dia suka gambar?"
✉️"Iya! Dia suka banget gambar!"
✉️"Nah, kemungkinan besar dia suka sama lu, Thal! Biasanya kalau dia melibatkan lu dalam hobinya, itu berarti dia ada perasaan sama lu," ketik Marina yang membuat Thalia menjerit-jerit membacanya.
"Farel suka sama aku? Dia beneran suka sama aku?" monolog Thalia.
'Bibir kamu ... Aku gak bisa lupain setiap inchi wajah kamu ....' Thalia langsung menjerit lagi mengingat suara lembut Farel yang bicara padanya tadi.
"Ya ampun, jantungku bisa meledak kalau begini!" girang Thalia sambil menendang-nendang kasurnya.
Hingga sebuah notifikasi muncul lagi.
✉️"Thal, beneran, ya, kalau udah official dia nembak lu, lu harus kasih tahu kita semua. Gue penasaran, siapa cowok yang bisa ngalahin Kak Alan sampai bikin lu segininya, haha!"
Thalia menelan salivanya.
"Enggak, aku yakin, nanti mereka pasti mau nerima Farel! Asal Marina bisa nerima Farel, pasti Renata dan Vannessa juga bisa nerima Farel juga," ujar Thalia berusaha menenangkan dirinya.